MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
47. Sikat Gigi


__ADS_3

Suara deru mesin terdengar. Aksa yang masih menunggu sang putra segera membukakan pintu untuk Rangga yang pulang tengah malam. Dia sudah berdiri di ambang pintu dan Rangga tersenyum ke arahnya. Aksa belum bisa memastikan apakah itu senyum bahagia atau sebaliknya.


"Bagaimana?"


"Daddy tenang aja."


Dahi Aksa mengkerut mendengar jawaban dari Rangga. Dia semakin menatap lekat ke arah sang putra. Rangga tersenyum. Lalu, dia menunduk sebentar. Barulah dia berucap, "aku memiliki saingan."


Decakan yang keluar dari mulut Aksa. Ternyata sang kakak ipar masih memikirkan perihal jodoh yang telah disiapkan oleh ayahnya siapkan.


"Saingan kamu hanya sebuah angin."


Kini, Rangga yang menukikkan kedua alisnya. Dia semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.


"Perihal perjodohan Aleena Daddy memang sudah mendengar."


"Kenapa Daddy gak bilang sama aku?" Rangga mulai bertanya karena menurutnya ini adalah hal penting untuknya.


"Untuk apa?" balas Aksa.


"Daddy Gio tidak akan pernah salah menjodohkan Aleena dengan lelaki. Beliau juga pasti akan menjodohkan Aleena dengan lelaki yang dia kenal bukan lelaki dari antah berantah."


Rangga masih mendengarkan. Namun, di hati kecilnya ada secuil ketakutan. Dia takut jikalau lelaki yang dijodohkan dengan Aleena lebih baik darinya.


"Daddy sangat tahu bagaimana Daddy Gio dalam bertindak dan mengambil keputusan.


Rangga mengangguk. Dia juga percaya kepada sang ayah yang memang sangat mirip dengan kakek dari Aleena.


"Kamu jangan insecure. Kalau kamu memang cinta dan ingin serius dengan Aleena, inilah saatnya kamu berjuang lebih keras lagi." Untuk kedua kalinya Rangga mengangguk.


"Satu hal lagi, ayahnya Aleena itu akan menyerahkan semua keputusannya kepada Aleena. Dia tidak akan pernah memaksa putrinya."


.


Aleena masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya perihal dirinya yang sudah dijodohkan dengan seseorang oleh sang pipo.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Ketika dia baru mendapatkan kebahagiaan, sebuah kabar mengejutkan dia terima. Ingin rasanya dia berkata tidak, tapi ini adalah permintaan dari sang pipo. Orang yang sangat dia sayangi.


Rangga pun sama sekali tak menghubunginya dan itu membuat dia sedikit takut. Dia takut jika rasa sakitnya akan terulang lagi. Menunggu Rangga menghubunginya hingga menjelang pagi itulah yang dilakukan Aleena. Dia tidak enak jika harus menghubungi Rangga terlebih dahulu.


Adzan subuh berkumandang barulah Aleena tidur. Matanya sudah tidak kuat lagi untuk begadang. Radit dan Echa sudah membangunkan Aleena. Namun, dia masih terlelap dengan begitu damainya. Ketika dibangunkan pun dia hanya menggeliat saja.


"Kakak Na, ayo sarapan."


"Duluan saja, Bu. Kakak Na masih ngantuk."


Aleena menaikkan lagi selimut ke atas tubuhnya. Dengkuran halus pun terdengar dan itu membuat Echa menggelengkan kepala. Echa melirik ke arah ponsel sang putri yang sedari tadi menyala. Gambar hati lah yang menghubunginya. Echa sangat tahu siapa itu. Namun, dia tidak ingin merusak privasi putrinya. Biarkan si hati merah itu terus menghubungi Aleena.

__ADS_1


Radit sedikit cemas karena dia takut Aleena marah kepadanya karena kejujurannya jika Aleena sudah dijodohkan dengan pria yang dia sendiri belum tahu siapa.


"Sepertinya anak itu tidak bisa tidur semalam." Echa mencoba untuk menyimpulkan. Rasa bersalah mulai bersarang di benak Radit.


"Tumbenan amat Pipo sedikit mengatur kehidupan cucunya," ucap Aleesa sambil memakan buah karena jika pagi perutnya akan mual.


"Nah itu," balas Radit. "Sedikit aneh sih."


Radit pun tidak ingin mempercayainya, tapi di surat itu tertulis jelas jika itu permintaan ayah mertuanya karena dia sangat tahu jika mendiang ayah mertuanya sangat menyayangi Aleena. Beliau juga mengutuk lelaki manapun yang menyakiti ketiga cucunya.


"Apa Baba sudah mencari tahu? Takutnya itu hanya surat wasiat bodong soalnya gak tertera nama si lelaki yang akan dijodohkan dengan Kakak Na."


"Peretasan data Pipo itu sulit," sahut Restu. "Data yang disembunyikan oleh Pipo itu seperti memiliki tujuh lapis perlindungan. Sulit untuk ditembus. Beda halnya dengan Uncle yang masih ada celah untuk diretas." Restu sudah menjelaskan.


Perihal retas meretas dan membongkar rahasia dia salah satu orang yang bisa melakukan itu. Namun, untuk meretas apapun dari seorang Giondra Aresta Wiguna itu sangat sulit.


.


Hati Rangga mulai cemas ketika panggilannya tidak dijawab oleh Aleena. Dia sangat takut jika kekasihnya itu marah. Apalagi semalam dia tidak langsung mengabari Aleena karena kondisinya sedikit drop dan mengharuskan dia untuk langsung mengistirahatkan tubuhnya.


"Kenapa?" Sang ayah sudah membuka suara ketika melihat wajah tak bergairah dari putranya tersebut. Rangga hanya tersenyum penuh keterpaksaan.


"Kak, pesan Mommy terus berjuang. Jangan pernah gentar karena Mommy sangat yakin jika akan ada hasil yang indah dari perjuangan yang tulus."


Bibir Rangga terangkat ketika mendengar perkataan dari sang ibu. Keluargnya kompak mendukungnya. Setelah sarapan selesai, Rangga memutuskan untuk pergi ke rumah Aleena. Dia ingin memastikan jika Aleena tidak marah padanya.


"Anterin Adek dulu!"


"Iya, Adek."


Kasta tertinggi di keluarga Aksara adalah Ghea. Dia adalah peluluh hati ketiga pria yang ada di rumah itu. Riana hanya menggelengkan kepala melihat sikap Ghea. Manjanya Ghea hanya pada saudara laki-laki di keluarga besar Wiguna dan Juanda.


Setelah mengantarkan Ghea dan dipalak oleh adiknya, barulah Rangga menuju rumah Aleena. Ketika dia sampai, ternyata mobil ayah dari Aleena sudah tidak ada. Hanya ada Restu dan Aleesa yang tengah bermesraan sebelum berangkat kerja.


"Ngapain lu masih pagi ke sini?"


Restu sudah menatapnya dengan tajam. Rangga hanya membalasnya dengan senyuman. Sudah biasa Restu bersikap dingin dan berkata ketus kepada Rangga. Di balik sikap suami Aleesa seperti itu ada kehangatan di hatinya. Rangga dapat merasakan itu.


"Kakak Na masih tidur."


Aleesa yang memeluk pinggang Restu mulai melaporkan. Rangga mengangguk dan dengan sopannya dia meminta ijin untuk masuk ke dalam.


"Masuk aja, Ngga. Gua gak bakal larang." Aleesa menjawab dengan seulas senyuman.


Sedari dulu Aleesa memang mengagumi sikap Rangga. Namun, dia sama seperti Restu akan selalu bersikap judes dan ketus kepada Rangga. Dia hanya menguji, ternyata diperlakukan seperti apapun Rangga tetap bersikap baik kepada dirinya.


Di dalam rumah, Echa sedikit terkejut karena sudah ada Rangga di rumahnya. Rangga mencium tangan calon ibu mertua dan langsung menanyakan keberadaan Aleena. Echa malah tertawa.


"Panggilan kamu gak kunjung dijawab, ya? Makanya ke sini."

__ADS_1


"Iya, Tante."


Lagi-lagi Echa tertawa. Wanita yang masih sangat cantik itu menatap lekat manik mata anak angkat dari adiknya itu.


"Boleh Tante bertanya sesuatu?" Rangga pun mengangguk.


"Jika, babanya Alena lebih merestui hubungan Aleena dengan lelaki yang dijodohkan oleh kakeknya, apa kamu akan mundur?"


"Tentu tidak, Tante." Lagi dan lagi ketegasan terpancar jelas di wajah Rangga.


"Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan restu dari Baba. Apapun akan aku lakukan karena aku yakin Aleena akan bahagia bersama aku." Senyum pun terukir di wajah Echa.


"Lambat laun Baba juga pasti akan tahu ketulusan dari cinta yang aku miliki untuk Aleena. Aku tidak akan pernah berbicara banyak ataupun meminta berlebih pada Baba. Cukup dengan sebuah tindakan nyata yang akan menjadi pembuktian cinta sesungguhnya."


Echa sangat bangga mendengar penjelasan dari Rangga. Semakin dewasa Rangga semakin matang. Di mata Echa, Rangga sama seperti Radit ketika muda. Tak banyak berkata, tindakan lah yang membuat ayahnya luluh padanya.


"Bangunkanlah, Aleena!" Echa menepuk pundak Rangga dengan senyum yang tak pernah pudar. "Bahagiakan dia."


.


Di kamar Aleena, Rangga terus melengkungkan senyum ketika melihat betapa damainya sang kekasih terlelap. Wajah polosnya Sangat cantik. Rangga tidak berani mengganggu tidur sang permaisuri cantiknya itu.


"Baba memang belum menjawab lamaran Mas ke kamu, tapi Bubu sudah mempercayakan kamu pada Mas." Tangannya membelai rambut Aleena dengan wajah yang sangat berseri.


Aleena pun menggeliat dan mencoba untuk membuka mata karena dia merasakan ada tangan yang berada di atas kepalanya.


"M-mas--"


"Morning, Sayang." Rangga mengecup kening Aleena dengan sangat dalam.


"Kok di sini?"


"Mas khawatir sama kamu karena panggilan Mas gak kunjung kamu jawab."


"Kapan Mas teleponnya?" Tangan Aleena sudah melingkar di pinggang Rangga yang tengah duduk di tepian tempat tidur.


"Dari abis subuh."


"Aku baru tidur jam segitu mah."


Rangga malah tersenyum mendengar jawaban dari Aleena dan melihat sisi lain dari Aleena yang begitu manja kepada dirinya ketika hanya berdua seperti ini.


"Mas, perihal perjodohan--"


"Mas gak peduli, Sayang. Siapapun yang akan dijodohkan dengan kamu akan Mas hadapi dan Mas akan bersaing dengannya."


Senyum Aleena pun mengembang. Begitu juga dengan Rangga. Dia menatap lamat wajah Aleena yang kini sudah tiduran di atas pahanya. Rangga mulai mendekatkan wajahnya dan deru napasnya sudah mulai Aleena rasakan.


"Aku belum sikat gigi, Mas."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2