MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
78. Ujian Sebelum Pernikahan


__ADS_3

Di empat hari menjelang pernikahan, Aleena yang tengah sibuk melakukan fitting baju terakhir hanya seorang diri dikarenakan Rangga ada rapat dadakan di mana tidak bisa diwakilkan. Dia dikejutkan dengan kehadiran seorang polisi yang mencarinya.


"Apa benar dengan Nona Aleena Addhitama?"


Aleena terdiam sejenak. Dia menatap bingung ke arah polisi yang tidak muda dan juga tidak tua. Dia terlihat sangat bingung karena tiba-tiba seorang polisi ada di hadapannya.


"Saya hanya ingin meminta kepada Anda untuk datang ke rumah sakit."


Dahi Aleena kini mengerut. Dia berpikir sejenak. Siapa yang sakit? Semua anggota keluarganya sehat semua. Pertanyaan di dalam kepala Aleena terjawab sudah ketika polisi itu menunjukkan sebuah foto kepada dirinya. Mimik wajahnya seketika berubah.


"Tahanan bernama Kalfa Putra Satria hampir meregang nyawa karena percobaan bunuh diri yang dia lakukan pagi tadi."


Aleena masih terdiam. Tak merespon apapun. Namun, mimik wajahnya terlihat begitu berbeda setelah sang polisi mengatakan hal tersebut. Matanya masih tertuju pada sosok yang tengah terbaring lemah di atas ranjang pesakitan.


"Satu hal yang dia inginkan, yakni ingin bertemu dengan Anda. Maka dari itu, saya ingin mewujudkan keinginannya karena kondisinya sudah sangat lemah." Aleena masih terdiam.


"Apakah Anda mau ikut saya?"


Axel yang ditugaskan untuk menemani Aleena hanya memperhatikan cucu dari sahabat ayahnya itu. Dia tidak akan mencampuri urusan Aleena sekaligus ingin tahu apa yang akan Aleena jawab. Axel menunggu jawaban dari Aleena.


"Dia bilang, jika Anda pengobat dari segala rasa sakitnya. Maka, tolong sembuhkan tahanan tersebut agar proses penahannya berlanjut kembali."


Diamnya Aleena membuat bingung Axel dan juga polisi tersebut. Aleena bagai patung bernapas. Sedangkan isi kepala Aleena yang sebenarnya dia tengah bingung dengan apa yang harus dia putuskan. Dia bukan manusia kejam, tapi merasakan trauma yang tak berkesudahan yang diakibatkan oleh lelaki berengsekkk itu membuatnya ingin menjadi manusia paling kejam sedunia. Namun, mendengar kata pengobat membuat hatinya sedikit terenyuh.

__ADS_1


"Haruskan aku pergi ke sana? Melihat dia?"


Bergelut dengan hati dan pikirannya sendiri itulah yang sedang dia lakukan. Dia juga memikirkan bagaimana perasaan Rangga nantinya jika dia menemui Kalfa. Dia harus menimbang banyak hal.


"Nona, bagaimana?" Polisi itu mulai mendesak Aleena hingga akhirnya Aleena mengangguk. Sontak mata Axel melebar.


"Mampoes!"


Axel terus menggelengkan kepala ketika mengetahui jika Aleena akan mudah luluh seperti itu. Benar kata orang jika menjelang pernikahan pasti ada saja cobaannya. Dia hanya berharap jika Rangga tidak akan mengamuk. Sekarang Axel sangat tahu bagaimana sikap asli Rangga. Tidak jauh berbeda dengan ayah angkatnya.


Baik Axel maupun Aleena tidak ada yang membuka suara ketika mobil sudah melaju ke arah rumah sakit di mana Kalfa dirawat. Mereka sama-sama diam. Aleena sangat tahu jika Axel tidak suka dengan keputusannya. Axel memang tidak banyak bicara, tapi air mukanya sangat jelas kentara bagaimana dia tidak suka dengan sesuatu.


"Aku tidak mungkin menjadi orang yang kejam, Bang." Axel tak menjawab sama sekali perkataan Aleena.


Tibanya di rumah sakit, Aleena tidak masuk sendirian ke ruang perawatan Kalfa. Itu atas permintaan Aleena secara pribadi karena masih ada trauma yang belum sepenuhnya hilang. Senyum tulus Kalfa berikan ketika Aleena datang. Sedangkan Aleena hanya bersikap biasa bahkan tak membalas senyum Kalfa.


Sudah lama mereka tidak bertemu, tapi sayangnya yidak ada rasa rindu sma sekali yang Aleena rasakan untuk lelaki buruk itu.


"Na, aku masih sangat sayang sama kamu. Aku masih sangat cinta sama kamu. Tolong tunggu aku dan batalkan pernikahan kamu."


Dia berbicara langsung pada tujuan utamanya. Persetan dengan Axel yang berada di sana juga. Axel mematung ketika mendengar ucapan gila Kalfa dengan tatapan sangat tajam. Dia masih sangat yakin jika Aleena masih mencintainya. Nyatanya sekarang Aleena datang ke rumah sakit atas permintaannya.


"Aku sangat yakin jika kita bersatu kamu akan lebih bahagia dibandingkan sama dia karena kamu tisak sepenuhnya mencintai dia. Iya 'kan."

__ADS_1


Kalfa berkata dengan sangat percaya diri sekali. Mendengar itu semua mimik wajah Aleena mulai berubah. Senyum tipis pun terukir di wajah Aleena yang semakin ke sini semakin cantik


"Berandai-andai itu murah kok dan gak ada yang larang. Malah sangat indah melebihi pemandangan alam."


Jawaban yang membuat Axel menyunggingkan senyum sangat tipis dan nyaris tak terlihat. Di dlam hatinya dia tertawa dengan sangat keras.


"Na, sungguh aku sangat mencintai kamu. Aku sangat menyayangi kamu, Na.. Sungguh."


Wajah Kalfa sudah sangat serius. Dia pun menatap dalam manik mata cantik milik Aleena. Tangannya pun sudah mulai mau menyentuh tangan perempuan yang pernah dia sakiti itu.


"Aku ingin--"


"Sayang."


Axel mulai mundur ketika mendengar suara itu. Juga Aleena dan Kalfa yang menoleh ke arah pintu. Langkah lebar mulai terlihat. Tangan Kalfa yang sedikit lagi akan menyentuh tangan Aleena harus menggantung begitu saja. Apalagi Rangga yang sudah mendekat kepada Aleena.


Kalfa melihat dengan sangat jelas rengkuhan dari tangan Rangga di pinggang Aleena. Serta kecupan yang begitu hangat dan penuh cinta yang Rangga berikan di kening Aleena. Sungguh dada Kalfa sangat sesak pada saat itu juga.


"Maaf, aku--"


Bungkaman bibir yang Rangga lakukan membuat mata Aleena melebar. Sedangkan Axel memalingkan wajahnya dan Kalfa terlihat sangat syok. Apalagi bungkaman itu berubah menjadi sebuah permainan yang memabukkan tepat di depan mata Kalfa.


"Siyalan!"

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2