MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
24. Grup Chat Keluarga


__ADS_3

Radit menghela napas kasar ketika sang pelamar pulang. Echa mengusap lembut pundak Radit


"Itu wasiat, Ba."


Radit mengangguk. Dia tahu itu. Dia hanya tidak enak hati kepada pria yang notabene adalah sahabatnya. Teman sejawatnya ketika berada di Melbourne.


"Pasti ada rencana indah yang telah Papa, Papih, dan Kakek siapkan untuk anak kita."


Radit hanya tengah memikirkan satu hal. Apakah putrinya mampu menerimanya? Dia takut putrinya memberontak dan berimbas pada psikis dan memunculkan trauma baru.


.


Sedangkan Rangga masih dibuat bingung oleh ucapan keluarganya. Dia masih belum menemukan jawaban atas apa yang dipertanyakan keluarganya.


"Kenapa diam aja?" Keluarga Aksa berkata dengan sangat kompak dan Rangga berkedip dengan cepat.


"Apa sih maksud kalian?"


Rangga yang kebingungan baru bisa membalas ucapan mereka. Kini mereka yang kebingungan.


"Emang kamu gak buka grup keluarga?" Riana sudah membuka suara. Rangga pun menggeleng.


"Pantes planga plongo," kesal Agha.

__ADS_1


"Buka dulu deh, Kak." Sang adik yang posesif malah menyuruh Rangga untuk membuka pesan grup.


"Nanti aja deh."


"SEKARANG!"


Semuanya kompak menjawab. Rangga pun tercengang. Baru kali ini keluarganya itu bisa kompak berkata seperti itu.


"Iya. Aku matiin dulu videonya."


Rangga masih berpikir sebelum membuka chat grup keluarga. Seketika matanya melebar ketika melihat sebuah foto dirinya dan juga Aleena yang menjadi bahan ghibahan keluarga besar Wiguna, Addhitama, dan juga Juanda.


"Siapa yang ngambil gambar ini?"


"Iya." Suara Aleena sudah terdengar.


"Coba buka pesan grup keluarga deh."


Aleena sedikit terkejut. Feeling-nya mengatakan hal yang tidak mengenakkan. Tanpa pamit dia menyudahi panggilan dari Rangga dan langsung memeriksa pesan grup keluarganya. Aleena terlihat syok. Tubuhnya sedikit lemas.


"Kerjaan siapa ini?"


Tangannya masih menarik layar membaca satu per satu bahan ghibahan keluarganya. Dia menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Kenapa bisa begini?" Aleena frustasi sendiri. Dia ingin menyembunyikan hubungannya, tapi malah terekspose di awal hubungannya dengan Rangga.


Berkali-kali Rangga menghubungi Aleena, tapi tak kunjung ada jawaban. Dia semakin merasa khawatir. Sudah pasti Aleena marah akan hal tersebut. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa bisa terjadi seperti itu. Padahal, tidak ada yang mencurigakan di sana.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Rangga. Dia bingung harus berbuat apa sekarang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Dia mencoba untuk menghubungi Aleena lagi. Hasilnya tetap sama.


Dia memutuskan untuk ke rumah yang dihuni oleh Reksa, Aleena dan juga Khairan. Tak dia hiraukan hari sudah malam. Dia tidak ingin Aleena marah kepadanya karena dia juga tidak tahu siapa yang menyebar foto tersebut.


Panggilan masuk dari sang ayah pun tak dia hiraukan. Rangga memilih terus melangkahkan kakinya menuju rumah Aleena. Untung saja rumah tersebut tidak terlalu jauh dari hotel di mana dia tinggal.


Rangga menarik napas terlebih dahulu sebelum meminta ijin masuk kepada para bodyguard yang tengah berjaga di rumah itu. Setelah dirasa tenang, dia pun menghampiri salah satu dari bodyguard tersebut. Bodyguard yang tadi menemani Aleena jalan bersamanya.


"Maaf, saya ingin bertemu dengan Aleena." Rangga berkata dengan sangat sopan.


"Sudah malam. Rumah ini tidak menerima tamu lewat dari jam sepuluh malam."


.


Di lain negara ada seseorang yang tengah tertawa ketika melihat foto yang baru dia terima. Lengkungan senyum indah terukir di wajah tampannya.


"Bisa diandalin juga ternyata," gumamnya.


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2