MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
68. Rahasia Besar


__ADS_3

Melihat data itu membuat Alwi tak berkutik. Dia menatap ke arah Aleena dengan tak percaya. Senyum yang berbeda Aleena tunjukkan. Alwi pun perlahan mundur dengan teratur. Itu membuat Aleena menghela napas lega. Untung saja semalam dia menghubungi Reksa. Meminta pada sahabat sapupunya itu untuk melakukan peretasan kepada Alwi.


Ketika mendapat semua data tentang paman Rangga tersebut, Aleena sempat syok. Dia tidak bisa berkata. Rangga menghubunginya semalam pun tak dia jawab. Dia benar-benar tidak menyangka. Data valid yang dia miliki belum Rangga ketahui. Jika, itu diketahui oleh Rangga sudah pasti Rangga tidak akan tinggal diam. Dia akan melakukan sesuatu yang akan membuat bulu kuduk berdiri. Hembusan napas lega pun terdengar. Aleena juga meminta kepada Reksa untuk tidak membocorkan hasil peretasan itu kepada Rangga.


Tibanya dia di kantor, Rangga pun baru tiba juga di sana. Aleena menyapanya dengan sebuah senyum. Dia memilih untuk berjalan terlebih dahulu. Akan tetapi, Rangga mulai melebarkan langkah dan mulai menggenggam tangan Aleena. Sungguh Aleena sangat terkejut dan menatap ke arah Rangga sembari mengkerutkan dahi.


"Mas gak suka kamu cuekin begini." Pelafalan kata demi kata penuh dengan penekanan.


"Ini di kantor, Mas," bisik Aleena sangat pelan.


Namun, Rangga tak memperdulikan. Dia menarik tangan Aleena dan membawanya menuju lift khusus untuk para petinggi. Ada beberapa karyawan yang melihat Rangga bersama Aleena, tapi mereka tak menaruh curiga.


Ketika pintu lift tertutup, Rangga mulai mengunci tubuh Aleena. Sontak Aleena pun menatap dalam wajah Rangga.


"Maaf--"


Sebuah bungkaman membuat Aleena tak meneruskan perkataan. Dia menikmati setiap sesapan lembut yang Rangga berikan.


"Mas, gak suka kamu cuekin begini, Sayang." Rangga berkata setelah memundurkan wajahnya. Aleena tersenyum, dan dia mulai menjinjitkan kakinya. Mengecup bibir Rangga dengan singkat.


"Love you, Mas."


Sekarang yang harus Aleena lakukan adalah menjaga mood dari sang kekasih. Bagaimanapun ada rahasia besar yang dia pegang. Dia tidak ingin membuat jiwa devil Rangga muncul. Apalagi semalam dia sudah mengatakan jika dia adalah anak Uncle Aksa. Aleena sudah tahu bagaimana kejamnya sang paman jika sudah bertindak dan itu pasti akan menurun kepada Rangga.

__ADS_1


Hari ini Rangga benar-benar anteng. Tak memanggil-manggil Aleena. Itu membuat Aleena merasa tenang. Para karyawan pun mulai bertanya.


"Na, tumben pak direk gak manggil-manggil." Aleena hanya tersenyum.


"Sajennya sudah lengkap." Mereka pun tertawa.


.


Ketika jam makan siang tiba, Aleena dikejutkan dengan Zayn yang sudah membawa buket bunga. Aleena nampak kebingungan Sedangkan rekannya yang lainnya mengulum senyum.


"Aih, nyalinya tinggi."


Aleena benar-benar tak mengerti. Kini, Zayn sudah memberikan sebuket bunga untuknya. Tubuh Aleena masih tidak merespon.


"Maukah kamu menjadi kekasihku?"


Aleena malah melihat ke arah pintu direktur. Dia takut Rangga keluar dari sana dan sebuah kemurkaan yang hadir yang akan dia berikan. Zayn benar-benar mananti jawaban dari Aleena. Bukan hanya Zayn yang menanti, teman Aleena pun menanti jawaban dari sekretaris direktur tersebut.


"Aku butuh jawaban dari kamu, Aleena. Supaya aku bisa mengatur diriku. Apakah aku akan terus mencintai kamu atau cukup berhenti sampai di sini."


Dalam sekali kalimat yang dilontarkan oleh Zayn. Aleena pun menghela napas kasar. Bukannya bimbang, tapi dia tidak enak untuk mengatakan.


"Punya modal apa kamu berani menembak sekretaris saya?" Sebuah kalimat tanya yang membuat nyali Zayn sedikit menciut.

__ADS_1


Aleena terkejut mendengar suara Barito dari sang direktur. Ketika dia melihat ke arah pintu ruang direktur, wajah sangar sudah diperlihatkan.


"Maaf, Zayn," ujar Aleena dengan begitu lembut.


"Aku sudah menjadi calon istri dari seorang lelaki yang sangat aku cintai. Lelaki yang selalu menjadikan aku ratu di hati juga hidupnya."


Tangan Aleena sudah mengeluarkan liontin yang tertutup kerah bajunya, Sebuah cincin yang menjadi liontin kalung. Wajah Zayn nampak kecewa. Berbeda halnya dengan wajah sang direktur utama yang kini sangat sumringah.


Sebuah penolakan yang pastinya membuat hati Zayn sakit. Namun, dia harus menerima karena sedari awal Aleena memang tidak pernah membalas perasaannya. Memberikan peluang pun tidak pernah. Hingga terkuak sebuah kenyataan yang tidak bisa dia elakkan.


Beda halnya dengan dua orang yang sudah ada di apartment untuk menikmati makan siang. Rangga sama sekali tak mau melepaskan pelukannya pada tubuh Aleena.


"Mas kira cincin yang Mas beri sudah kamu buang," tutur Rangga. Aleena tersenyum dan mulai membalikkan tubuhnya. Menatap wajah Rangga dengan sebuah senyum penuh makna.


"Aku masih menyimpannya dan masih memakainya."


Rangga tersenyum mendengarnya. Mengecup kening Aleena dengan sangat dalam.


"Mas," panggil Aleena.


"Kapan Mas mau melamar aku? Wanita juga butuh kepastian, Mas."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2