
Aleena mendudukkan dirinya di kursi pantry setelah membuat teh manis panas. Tubuhnya mendadak lemas. Badannya sudah sangat tak karuhan..Keringat dingin pun mulai bercucuran. Tiba-tiba tubuhnya mendadak seperti ini.
"Efek lembur dan gak bisa tidur semalam," gumamnya. Ya, semalam dia tidak dapat tidur. Pikirannya berkelana ke sana ke mari. Bayang wajah Rangga pun terus menari-nari. Dia bisa terlelap ketika menjelang pagi.
Aleena sengaja menghabiskan teh manis yang dia buat terlebih dahulu sebelum dia kembali ke ruang kerjanya. Dia melihat ada senyum sang pipo di sana. Menatapnya dengan wajah yang sangat berseri. Sang kakek datang seperti memberikan sebuah isyarat baik dengan senyum yang terus mengembang.
"Pipo," ucapnya pelan. Namun, seketika kepalanya pusing. Dia memijat kepalanya.
Dia melihat ke arah jam tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Tiga jam lagi waktunya untuk keluar kantor.
"Kuat ya, Na. Jangan tumbang."
Setengah jam dia berada di pantry, akhirnya Aleena beranjak dari sana. Dia membawa teh manis hangat lagi untuknya dia minum nanti. Baru saja masuk ke ruangannya, rekan kerjanya membuat Aleena mematung seketika.
"Kamu disuruh ke ruang Pak direktur."
"Sekarang?" tanya Aleena. Rekannya itu mengangguk.
Aleena menghela napas berat Wajah pucatnya mulai terlihat. Dia meletakkan teh manis hangatnya di atas meja. Menyusun pekerjaan yang sudah selesai. Barulah dia menuju ruang direktur. Baru beberapa langkah menuju ruang direktur, suara rekannya membuat Aleena menggelengkan kepala.
"Na, awas jantungan!"
"Ganteng banget soalnya."
Aleena hanya tersenyum kecil. Sebelum dia mengetuk pintu, Aleena menarik napas panjang terlebih dahulu. Dia menyiapkan mental untuk bertemu dengan direktur hantu. Ketika dia mengetuk pintu, suara dari dalam menyambutnya. Tangan Aleena pun mulai menekan gagang pintu tersebut. Dia melihat seorang pria tengah fokus mencari sesuatu di rak di belakang meja kerjanya.
Aleena yang sedikit gemetar mulai mendekat dengan langkah pelan. Punggung direktur utama itu sangat indah, juga potongan rambut belakangnya sangat rapi membuat Aleena tersenyum kecil.
"Apa direktur itu memang tampan?" Begitulah batinnya berkata.
Ketika dia tengah tersenyum, direktur utama itu menoleh dan seketika tubuhnya limbung dan Aleena sudah ada di lantai.
Wajah cemas direktur utama sangat kentara. Dia membawa sekretarisnya ke rumah sakit terdekat. Salah satu petinggi perusahaan menghampiri sang direktur. Dia mengatakan sesuatu.
"Biar kami saja yang di sini. Bapak bisa--"
"Tidak!" Tegas dan sangat jelas.
"DIA TANGGUNG JAWAB SAYA!"
Petinggi perusahaan itu mulai menelan ludah ketika mendengar bentakan dari seorang direktur utama yang memiliki sopan santun luar biasa. Ada sisi lain yang tidak dia ketahui dari seorang direktur utama yang sangat tampan itu.
Suara pintu IGD terbuka. Seorang dokter keluar dan direktur utama dengan langkah lebar melangkahkan kaki menuju sang dokter. Wajahnya sudah sangat serius meminta penjelasan lebih dalam dari dokter.
"Pasien hanya kelelahan dan sering lambat makan. Jadinya, dia drop seperti itu."
"Apa itu parah?" Dokter tersenyum. Lalu, menggelengkan kepala.
"Dia hanya butuh istirahat. Setelah itu dia juga boleh pulang."
"Tidak," sahut sang direktur.
"Bawa dia ke ruang perawatan vvip. Sebelum dia dinyatakan sembuh seratus persen jangan ada yang berani menyuruhnya untuk keluar dari rumah sakit ini."
Petinggi perusahaan pun tercengang mendengar perkataan sang direktur. Dia menatap bingung ke arah pria muda tersebut. Dahinya sedikit mengkerut.
"Tidak ada bantahan!"
Direktur tampan itu seakan tahu apa yang ingin petinggi itu katakan. Dia langsung mematahkan perkataan yang belum.juga terucap darinya. Mau tidak mau petinggi itu mengikuti apa yang diinginkan oleh sang direktur.
"Baiklah. Saya akan mengurus administrasinya."
"Tidak perlu," tolak direktur lagi.
"Saya masih mampu membayar biaya perawatannya."
Pria itu meninggalkan petinggi perusahaan. Dia semakin bingung dengan sang direktur itu. Apa memang begitu sikapnya? Selalu bertanggung jawab kepada semua pegawainya. Atau hanya kepada sekretarisnya saja? Banyak spekulasi yang muncul dan itu membuat tanda tanya besar di kepalanya.
Setelah selesai melakukan pembayaran. Sang direktur kembali lagi ke depan ruang IGD. Menunggu Aleena dipindahkan ke ruang perawatan dengan masih ditemani oleh petinggi perusahaan. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya wajah penuh kecemasan yang tidak bisa direktur utama itu hilangkan.
Aleena pun mulai dipindahkan ke ruang rawat vvip. Dia belum tersadar juga. Namun, wajahnya sudah tidak terlalu pucat seperti tadi. Ada kelegaan di hati pria tampan itu. Dia terus menatap ke arah Aleena. Dua petinggi perusahaan yang ada di sana pun disuruhnya untuk pulang setelah Aleena berada di ruang VVIP.
"Tapi, Pak--"
Tatapan tajam muncul di wajah pria itu. Dua petinggi itupun mulai mundur dan masih bersarang tanya yang begitu besar. Ada apa sebenarnya?
Direktur utama Sudah menarik kursi ke samping ranjang pesakitan Aleena. Dia terus menatap Aleena dengan wajah sendu. Hatinya sakit melihat Aleena terbaring lemah seperti ini. Namun, matanya tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis Aleena. Rasa sakit itu semakin menjalar dan hanya hembusan napas kasar yang keluar.
Satu jam berselang, dia yang hanya bisa menatap Aleena kini mulai memberanikan diri untuk menggenggam tangan putih tersebut. Dia mengusap lembut punggung tangan itu. Kemudian membawa punggung tangan itu ke pipinya.
"Apa ini akan menjadi pertanda baik?" gumamnya. Tangannya satunya pun mulai mengusap lembut rambut Aleena yang hitam.
Direktur tampan itupun memejamkan matanya sejenak. Punggung tangan Aleena masih ada di pipinya.
"Apa aku harus menjadi orang jahat? Membuang cincin yang kamu pakai." Berkata dengan mata yang terpejam. Merasakan kesakitan yang mendalam.
Ketika dia membuka mata, Aleena sudah menatapnya. Sontak mata mereka terkunci dan ada bulir bening yang menetes di sana.
"Na," panggilnya.
Aleena tak bisa berkata. Bulir bening sudah menetes di ujung matanya. Dia hanya bisa memandang wajah yang ada di hadapannya. Wajah yang sangat dia rindukan. Wajah yang belum hilang dari ingatan.
"Aku mimpi bertemu dengan dia, Pipo. Aku mimpi dia ada di depanku sekarang."
Suara Aleena begitu bergetar dan itu membuat pria di hadapannya segera memeluk tubuhnya. Air mata di ujung pelupuk mata Aleena semakin deras mengalir.
"Kamu tidak mimpi, Na. Ini aku Rangga."
Tangis Aleena pun pecah. Dia benar terisak. Dia menangis dengan raungan kecil. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasakan betapa pilunya tangisan itu.
"Kenapa kamu datang lagi, Ngga? Kenapa?" tanya Aleena dengan suara yang lemah.
__ADS_1
"Aku ingin melupakan kamu. Aku ingin buang wajah kamu agar hilang dari ingtanku dan aku ingin--"
Bibir Aleena dibungkam dengan kecupan manis. Kecupan yang tak membuatnya menolak. Kecupan yang membuatnya memejamkan mata karena betapa mesranya orang itu mengecupnya. Tubuhnya ingin menolak, tapi hatinya akan merasakan ketenangan ketika bibir itu menyentuh bibirnya.
Menikmati sesuatu yang sudah lama tak mereka lakukan. Dorongan setan membuat mereka melakukannya walaupun sekarang mereka Sudah menjadi mantan.
"Aku akan melepas cincin di jari manis kamu karena hanya aku yang boleh memiliki kamu."
Rangga, dialah direktur utama RAP corporate. Mantan pilot itu kembali mengecup bibir Aleena dan tangan satunya sedang mencoba melepaskan cincin yang ada di jari manis Aleena. Kemudian, cincin itu dia masukkan ke dalam saku celana.
Setelah puas melepas dahaga panjang, Rangga masih tetap berada di samping Aleena dengan tangan yang terus menggenggam tangan Aleena.
"Kamu istirahat, ya." Rangga mengecup kening Aleena dengan begitu dalam.
Rangga, dia menjadi manusia jahat sekarang. Persetan dengan julukan itu. Dia sudah lama sabar. Sekarang dia ingin egois. Terlebih wanita yang dia cintai pun tak merasa risih bahkan tak menolak ketika Rangga melakukan hal yang manis kepadanya.
"Aku akan bertanggung jawab atas semuanya, Na. Aku janji."
.
Keesokan paginya senyum hangat Rangga tunjukkan ketika Aleena membuka mata. Wajah Rangga sudah sangat segar. Juga rambutnya masih terlihat basah.
"Gimana? Lebih baik?" Aleena mengangguk.
Rangga mengecup dahi Aleena dengan begitu mesra. Dia mulai duduk di samping ranjang kesakitan Aleena. Tangannya pun menggenggam erat tangan pasien tersebut.
"Aku ingin pulang."
Kalimat yang sanga jelas dijawab dengan gelengan kepala tegas. Rangga menatap dalam wajah Aleena.
"Sebelum kamu sembuh total, kamu gak akan aku kasih ijin keluar dari rumah sakit."
"Tapi, Ngga--"
"Gak ada nego-negoan." Lugas sekali ucapan dari Rangga. "Aku gak mau ngeliat kamu sakit."
Aleena hanya terdiam. Wajah sedihnya mulai terlihat. Rangga mulai mengusap lembut pipi Aleena.
"Aku kayak begini karena aku sayang sama aku. Aku gak mau ngeliat orang yang aku sayang terbaring lemah. Kamu gak tahu 'kan bagaimana paniknya aku ketika ngeliat kamu pingsan kemarin?"
Wajah Rangga sangat serius. Perkataannya pun tidak terdengar dibuat-buat.
"Jadi, tolong nurut dulu, ya." Kelembutan tutur kata Rangga membuat Aleena mengangguk patuh.
Di perusahaan RAP corporate, rekan kerja Aleena masih terlihat cemas. Pasalnya hari ini Aleena tidak masuk kerja setelah kemarin dia dibawa oleh direktur utama karena pingsan. Zayn, wajah cemasnya terlihat sangat jelas. Dia menunggu direktur utama datang, tapi sampai siang tak ada jua.
"Di mana Aleena dirawat? Di mana alamat rumahnya?"
Aleena adalah karyawan yang sangat misterius. Dia tidak memberitahukan rumahnya kepada rekan manapun. Dia seakan menutup akses tentang dirinya. Zayn hanya menghela napas kasar.
Salah satu petinggi masuk ke ruangan di mana ruang direktur berada. Salah satu rekan Aleena memberanikan diri untuk bertanya perihal keberadaan Aleena.
"Dia sedang menjalani pemulihan." Hanya itu yang dikatakan.
"Untuk sementara waktu Aleena tidak bisa diganggu." Petinggi itupun pergi dan membuat rekan kerja Aleena yang lain harus menelan rasa kecewa.
Kembali ke rumah sakit. Rangga fokus pada benda segiempat miliknya. Sedangkan Aleena sudah duduk di atas ranjang pesakitan.
"Ngga," panggil Aleena. Sedangkan yang memiliki nama sama sekali tak menyahuti.
"Ngga." Panggilan kedua keluar dari mulut Aleena. Lagi-lagi dia tidak menggubris.
"Rangga!" Ketiga kalinya Aleena sedikit berteriak.
"Aku gak akan nengok ketika kamu memanggil namaku tanpa embel-embel." Rangga mulai menimpali tanpa menoleh. Itu membuat Aleena mendengkus kesal.
"Mas," panggil Aleena kemudian. Rangga mulai tersenyum. Jujur, dia sangat merindukan panggilan tersebut.
Laptop yang ada didepannya segera dia tutup dan dia menghampiri Aleena dengan senyum mengembang.
"Kenapa, Sayang?"
"Ih, apaan sih?" Wajah Aleena mulai merona mendengar panggilan sayang dari Rangga.
Rangga malah tertawa ketika melihat wajah Aleena yang memerah. Dia duduk di samping ranjang kesakitan Aleena. Menatap Aleena dengan penuh cinta.
"Tas aku--"
"Sudah Mas amanin." Aleena pun bisa bernapas lega. Dia mulai menengadahkan tangannya kepada Rangga. Meminta tasnya.
"Ada di apartement Mas." Sontak Aleena memukul dada Rangga dan itu membuat Rangga tertawa. Ketika tangan Aleena hendak memukul Rangga kembali, tangan Rangga sudah mencekalnya dan menarik tangan itu ke dalam pelukannya.
"Ini seperti mimpi. Mas gak nyangka jika Mas bisa bertemu kamu lagi."
Mendengar itu membuat Aleena mengeratkan tangannya yang sudah melingkar di pinggang Rangga.
"Semesta yang sudah memisahkan kita dan sekarang semesta juga yang mempertemukan kita lagi." Aleena tak menjawab apapun ucapan Rangga. Dia pun berpikiran yang sama dengan Rangga.
"Ketika semesta begitu baik seperti itu, Mas gak akan menyiakan kebaikannya."
Aleena tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rangga. Dia mendongakkan kepala menatap Rangga dengan penuh tanya.
"Mas harus segera menikahi kamu."
Deg.
Aleena terkejut dengan perkataan Rangga. Tubuhnya seketika membeku. Dia menatap dalam wajah Rangga.
"Mas tahu kamu, Sayang," ucap Rangga. Dia mengecup singkat bibir Aleena.
"Kamu gak akan memberikan bibir ini kepada orang yang memang tidak benar-benar kamu cinta. Mas memang bukan yang pertama yang merasakan bibir kamu, tapi Mas yakin Mas adalah orang pertama yang menerima balasan sesapan hangat dari bibir kamu."
__ADS_1
Aleena membisu. Apa yang dikatakan oleh Rangga memang benar. First kiss yang Aleena miliki direnggut oleh lelaki bang sat dengan kasar. Namun, bibir Rangga mampu membuatnya merasakan nikmatnya sebuah sesapan penuh ketulusan dan kehangatan hingga membuat dia mampu membalasnya dan akan selalu menikmati apa yang bibir Rangga berikan. Bukan hanya hatinya yang tahu akan arti sebuah ketulusan. Bibirnya pun sangat peka kepada orang yang memang tulus sungguhan atau hanya karena sebuah nafsu belaka.
"Kita akan menikah. Mas janji itu."
.
Selama tiga hari di rumah sakit, sikap manis Rangga berikan. Rasa kesepian di hati Aleena mulai hilang. Kini, jarum infus sudah terlepas dari punggung tangannya. Dia tengah duduk di samping Rangga yang sedang fokus pada pekerjaannya.
"Mas," panggil Aleena.
"Ya."
"Mas beneran direktur utama RAP corporate?"
Selama dia sakit, Aleena tidak pernah bertanya perihal Rangga yang ada di ruang direktur. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan yang baru saja dia dapatkan dengan memikirkan perkejaan. Rangga menatap dalam wajah Aleena.
"Kamu gak percaya?"
"Bukan begitu, Mas. Tapi--"
"RAP corporate adalah perusahaan milik mendiang papa." Aleena sangat terkejut mendengarnya.
"RAP adalah singkatan dari nama panjang Mas. Rangga Ardana Prayoga."
"Prayoga?"
"Ya, itu nama besar keluarga Papa," jelasnya.
Rangga menceritakan semuanya perihal RAP corporate dan itu membuat Aleena bangga sekaligus tak menyangka dengan takdir seorang Rangga Ardana.
"Itulah alasan kenapa Mas berani menjanjikan sebuah pernikahan kepada kamu karena sekarang Mas lebih percaya diri. Mas bisa sejajar dengan keluarga kamu yang semuanya bukan orang sembarangan. Juga, Mas bisa berdiri sejajae di samping Kak Restu sebagai menantu Om Radit." Aleena tersenyum mendengarnya.
"Satu hal lagi, Mas bisa bersaing dengan calon suami kamu yang pengusaha itu dengan hati yang tidak insecure dan berlipat-lipat percaya diri yang Mas miliki sekarang."
Aleena tersenyum dan semakin erat memeluk tubuh Rangga. Semenjak cincin di jari manis dilepaskan oleh Rangga, beban di hati Aleena hilang seketika. Dia sangat bahagia bisa bersama Rangga kembali.
.
Pulang dari rumah sakit Aleena tidak langsung diantar pulang ke rumahnya. Melainkan dibawa ke apartment milik dari ayah Rangga. Ada ketakutan yang menjalar di hati Aleena.
"Aku bukan pria breng sek yang akan berbuat hal bodoh." Begitulah yang dikatakan oleh Rangga.
Aleena nampak takjub dengan apartment milik ayah dari Rangga. Sungguh sangat bagus sekali. Rangga sudah mendekat. Dia sudah berdiri di belakang Aleena dengan tangan yang sudah melingkar di depan dada wanita yang dia sayang. Bibirnya sudah mengecup leher Aleena dan itu membuat Aleena tersenyum. Tangan Aleena mengusap lembut pipi Rangga.
"Mas."
"Hem." Rangga meletakkan dagunya di bahu Aleena. Dia memejamkan matanya untuk sejenak. Merasakan aroma tubuh Aleena yang menjadi candu untuknya.
"Ketika di kantor, bersikaplah biasa kepadaku." Seketika mata Rangga terbuka. Dia mulai membalikkan tubuh Aleena dan menatapnya dengan penuh tanya.
"Aku gak mau mereka semua tahu hubungan kita. Aku gak mau, Mas."
"Kenapa?" Rangga meminta penjelasan.
"Aku ingin profesional dalam bekerja."
"Ya udah. Besok Mas akan pecat kamu."
"Mas!" Mata Aleena pun melebar.
"Loh kenapa? Mas tidak akan mempekerjakan calon istri Mas. Lebih baik kamu di rumah dan terima transferan masuk dari Mas."
"Enggak mau, Mas. Enggak mau!"
Akhirnya, Rangga yang mengalah. Dia menuruti apa yang diinginkan oleh Aleena. Aleena seperti biasa akan berangkat kerja dengan berjalan kaki. Ternyata Axel sudah pulang ke Indonesia lagi ketika dirinya jatuh pingsan.
Kedatangan Aleena membuat semua rekan kerjanya menghampiri Aleena. Berbondong-bondong pertanyaan Aleena dapatkan. Aleena hanya menjawabnya dengan kalimat sederhana sebuah dihiasi senyuman.
Zayn yang baru datang sedikit terkejut melihat Aleena sudah masuk kerja lagu. Dia segera menghampiri Aleena.
"Na, kamu udah sehat?" Tangan Zayn sudah memegang tangan Aleena. Itu membuat orang yang ada di ruangan itu menjadi riuh.
Sedangkan seseorang yang baru saja datang sudah melipat kedua tangannya dengan tatapan sungguh tak bersahabat. Deheman pun keluar dari mulutnya dan membuat semua orang yang berada di sana menoleh. Aleena melebarkan mata melihat siapa yang datang. Mereka yang tengah berkumpul pun mulai mundur dengan teratur.
Langkah derap kaki membuat hati Aleena berdegup tak karuhan. Apalagi tatapan pria itu sangat tidak bersahabat.
"Ke ruangan saya." Perintah itu sangat menyeramkan di telinga Aleena. Tubuhnya seketika menegang. Dia sangat yakin jika atasannya itu melihat Zayn memegang tangannya.
"Kenapa direktur itu berubah menjadi menyeramkan?"
"Mungkin kurang sajen."
Candaan itu tak membuat hati Aleena tenang. Dia meletakkan tasnya terlebih dahulu barulah dia masuk ke ruangan direktur utama. Baru saja sia masuk, suara pintu terkunci terdengar dan membuat Aleena syok bukan main. Rangga sudah menatapnya dengan sangat tajam dan itu membuat Aleena takut. Dia mencoba untuk mundur dengan pelan hingga dia membentur meja kerja sang direktur utama dan itu membuat Rangga dengan mudah mengunci tubuh Aleena..
"Mas itu gak yang seperti Mas--"
Bibir Aleena terbungkam ketika Rangga menyerang bibirnya. Kedua tangan Rangga sudah berada di pipi Aleena. Keganasan Rangga membuat Aleena tak bisa berkutik. Namun, perlahan berubah menjadi kelembutan yang membuat Aleena pun ikut terbuai.
Mereka berdua pun mulai menjauhkan wajah mereka dan mengambil napas. Mata Rangga maupun Aleena masih saling tatap.
"Mas--"
Rangga mulai menarik tangan Aleena menuju suatu tempat yang ada di ruangannya. Itu membuat Aleena merasa takut untuk kesekian kalinya. Ada ruangan beristirahat di sana. Dia takut jika Rangga akan dikuasai oleh emosi dan berimbas pada kebeja Tan yang seharunya tidak dia lakukan. Aleena terus merapalkan doa. Dia benar-benar takut sekarang ini. Pasalnya, orang pendiam itu lebih menyeramkan ketika marah. Ingin rasanya Aleena menggunakan tangan Rangga, tapi genggaman tangan Rangga sangat kuat. Berhentilah Rangga di depan sebuah pintu yang tertutup. Dibukanya pintu kamar mandi tersebut.
"Bersihkan tangan kamu karena Mas gak mau ada jejak lelaki itu di tubuh kamu."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
.
__ADS_1
.