MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
Bonus Chapter


__ADS_3

Gaya kanguru membuat Aleena tak bisa bergerak. Sungguh badannya terlalu lemas karena banyak sekali cairan yang keluar. Sungguh dia hanya bisa pasrah. Aleena bagai kerja rodi, di mana sang suami hanya memberinya waktu lima belas menit untuk beristirahat. Kemudian, merealisasikan gaya cicak nemplok di dinding.


Jeritan kecil keluar dari mulut Aleena. di mana tubuhnya yang menempel di dinding disodok dari belakang. Pusaka jamur varises menancap penuh di dalam. Sungguh Aleena tak tahan. Apalagi denyutan hangat bisa dia rasakan dari si pusaka tersebut.


Lagi dan lagi Aleena pasrah. Dia tidak bisa melawan. Tenaganya sudah habis dan cairannya pun sudah semakin surut karena sedari tadi terus dia keluarkan karena sebuah rasa nikmat yang tak bisa digambarkan.


"Aarggh!!"


Erangan panjang keluar dari mulut Rangga. Bertepatan dengan itu tubuh Aleena sangat lemas dan nyaris pingsan jika Rangga topang.


"Sayang!"


Rangga meletakkan sang istri di atas tempat tidur yang berantakan. Wajah pucat istrinya nampak terlihat jelas. Ada rasa bersalah di hatinya. Dia sangat tahu Aleena kelelahan karena gempuran yang tak ada jeda darinya.


"Maaf."


"Aku lelah, Mas. Bawahku sakit, dan pu tingku perih."


Aleena mulai mengeluh. Rangga memeriksa si cokelat nikmat yang ada di gundukan putih, luka lecetnya semakin dalam. Kemudian, dia memeriksa bagian bawah istrinya yang masih terdapat susu kental manis yang baru dia keluarkan di dalam. Ketika tangannya mulai membuka belahan roti kukus segitiga yang mulus, terlihat lubang nikmat itu memerah. Sungguh Rangga merasa sangat berdosa.


"Besok kita ke dokter, ya." Aleena menggeleng.


"Wajar, ini malam pertama untuk kita, Mas."


Dalam kondisi seperti inipun Aleena masih berbicara dengan begitu lembut. Tidak menyalahkan suaminya. Dia sangat mengerti kenapa sang suami seperti itu kepadanya.


Rangga mencium dahi Aleena dengan sangat lembut. Kemudian, dia turun dari tempat tidur dan membuat Aleena menahan tangan sang suami.


"Mau ke mana?" Lemah, ucapan dari Aleena.

__ADS_1


"Ambil air hangat. Mas mau bersihin tubuh kamu biar nyaman tidurnya."


Aleena tersenyum. Dia sangat bahagia karena sang suami begitu perhatian kepadanya. Selalu meratukannya dari pacaran hingga sekarang. Rangga tersenyum ketika sang istri sudah terlelap dengan begitu nyenyak. Aleena pun sudah memakai baju tidur yang sudah Rangga pesankan sebelum mereka datang ke hotel.


"Makasih banyak, Sayang."


Di pagi hari, Aleena yang masih merasakan perih di bagian bawah perutnya tak mampu berjalan walau hanya ke kamar mandi. Dia tidak tega membangunkan sang suami yang masih terlelap. Perlahan dia mencoba untuk melangkahkan kaki diiringi ringisan.


"Sayang."


Rangga segera turun dari tempat tidur ketika melihat istrinya yang kesakitan. Aleena menatap ke arah Rangga.


"Aku ingin pipis."


Rangga langsung menggendong tubuh sang istri. Dia juga memandikan Aleena karena tidak tega mendengar ringisan kecil yang keluar dari bibirnya.


"Makasih, Mas."


Aleena terkejut ketika petugas hotel datang dan membawakannya kursi roda. Dia menatap ke arah sang suami.


"Mas, ingin makan di luar." Senyum Rangga tunjukkan.


"Mas, aku masih jalan." Rangga menggeleng.


"Mas mau menebus kesalahan Mas. Jadi, ijinkan Mas untuk jadi pelayan untuk istri cantik Mas ini."


Aleena tersenyum bahagia. Dia memeluk tubuh suaminya dan membubuhkan kecupan manis di bibir Rangga.


Rangga nampak bahagia mendorong kursi roda yang diduduki oleh sang istri tercinta. Senyum Aleena pun mengembang dengan indahnya. Mereka bercanda kecil hingga suara anak kecil membuat Rangga berhenti mendorong kursi roda Aleena.

__ADS_1


"O-pap!"


Siapa lagi jika bukan Abang Er. Mereka berdua menoleh dan seketika langkah Abang Er terhenti ketika melihat sang Tante duduk di atas kursi roda.


"Onty-mam--"


Batita itu berlari menuju Aleena. Matanya sudah berair dan hidungnya memerah.


"Tenapa?" Suara Abang Er bergetar.


Aleena hanya tersenyum dan mengusap lembut pipi Abang Er. Dia memeluk tubuh kecil sang keponakan tampannya.


"Onty pigi, telus ini--"


"Salahkan O-pap kamu, Bang."


Suara Restu membuat Rangga melebarkan mata. Begitu juga dengan Aleena. Sontak Abang Er pun melepaskan diri dari pelukan ALeena. Menatap tajam ke arah sang paman.


"O-pap apain Onty?" Abang Er berkata dengan tatapan yang seram. Rangga tidak bisa menjawab dan hanya bisa diam.


"Dawab, O-pap!"


Restu hanya menahan tawa ketika pengantin baru itu mulai panik dan pucat. Sang putra terus merengek ingin mencari om dan tantenya hingga pada akhirnya dia bisa menemukan kebeasan Aleena dan da Rangga di hotel.


Abang Er mulai memeriksa leher sang Tante. Juga melihat tangan sang Tante yang sedari tadi menutup bagian bawah perutnya. Abang Er mulai menarik tangan Aleena yang dia letakkan di atas bagian in-timnya. Ringisan sangat kecil mampu Abang Er dengar.


"O-pap didit inina Onty, ya?" tunjuknya pada bagian bawah perut Aleena yang berbentuk segitiga.


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


Semoga bisa mengobati rasa penasaran kalian ...


__ADS_2