MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
41. Jembatan Penghubung


__ADS_3

Aleena kembali ke ruang perawatan Rangga dan di sana Rangga sedang berbincang dengan Agha. Agha yang sangat peka sama halnya dengan Rangga segera mengakhiri perbincangannya.


"Aku ganggu, ya?"


"Enggak kok, Na." Agha menjawab ucapan dari Aleena. Dia menepuk pundak Aleena dengan begitu lembut.


"Rawat pangeran tidur ini," kelakar Agha sambil menunjuk ke arah Rangga. Sang kakak hanya tertawa dan Aleena belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sepupunya tersebut.


"Kak, Mas pulang, ya." Rangga mengangguk.


"Tapi, Mas--"


Aleena mencekal tangan Agha. Ada rasa cemas yang wajahnya tunjukkan. Agha hanya tersenyum.


"Daddy tidak akan ke sini. Mas jamin."


Ada kelegaan di hati Aleena dan dia menatap ke arah Rangga dengan senyum yang penuh arti.


"Puas-puasin deh tuh melepas rindu." Agha malah tertawa terbahak menandakan dia sangat puas meledek kakaknya.


Sedangkan Rangga sudah memelototinya begitu juga dengan Aleena. Axel hanya menggelengkan kepala melihat tiga orang di depannya itu.


"Bang, mending kita ngopi yuk." Agha malah menarik tangan Axel menjauhi dua orang yang sedang kasmaran tersebut.


Sekarang, di ruang perawatan itu hanya tinggal Rangga dan juga Aleena. Rangga sudah menggenggam tangan Aleena dengan sangat erat.


"Aku masih gak menyangka jika kamu ada di sini." Aleena tersenyum dan mulai mengusap lembut punggung tangan saatsang kekasih.


"Aku sangat cemas, Mas. Apalagi wajah Mas sangat pucat dan tak kunjung sadar." Rangga malah tersenyum dan dia malah menarik tangan Aleena ke bibirnya. Dia mencium lembut punggung tangan Aleena.


"Setiap Mas sakit pasti Mas akan diberi obat seperti itu agar Mas cepat pulih."


"Kenapa Mas harus memaksa? Mas itu bukan robot."


"Mas ingin membuktikan kepada kamu jika Mas tidak memiliki hubungan apa-apa dengan perempuan itu. Juga, Mas tidak ingin membuat kamu sedih." Bagaimana Aleena tidak luluh jika belum ada sehari bersama Rangga dia diperlakukan sangat manis oleh lelaki yang sedari dulu Sudah mengejarnya.


"Mas tidak ingin membuat kamu lari dari Mas lagi. Mas bisa gila, Sayang."


Sepasang kekasih itu benar-benar tengah melepas rindu. Aleena benar-benar merawat Rangga dengan penuh cinta dan sayang. Menyuapi Rangga hingga mengelap tubuh kekasihnya itu.


"Mas pesenin makan, ya. Kamu belum makan, Sayang." Aleena menggeleng. Dia memainkan tangan Rangga.


"Aku masih kenyang, Mas. Melihat kamu seperti ini saja rasa laparku hilang."


"Gombal!" Rangga mencubit gemas pipi Aleena hingga Aleena mengaduh manja.


Banyak cerita dan tawa yang ada di ruang perawatan Rangga. Senyum dan tawa Aleena sangat lepas seperti beban dan masalah yang ada di hidupnya hilang seketika. Rangga melihat jikalau Aleena sudah menguap.


"Tidurlah!"


Rangga menepuk bed yang dia tempati agar Aleena tidur di sana. Akan tetapi, Aleena menggeleng dan dia menunjuk ke arah sofa empuk yang ada di dalam kamar perawatan tersebut.

__ADS_1


"Tidur di sini aja, Sayang. Mas masih punya iman yang kuat kok."


Aleena memukul lengan Rangga dan itu membuat Rangga terbahak dengan begitu keras. Pada akhirnya, Aleena pun naik ke atas ranjang pesakitan yang Rangga tempati. Ranjang itu memang sangat lebar dan muat untuk dua orang.


"Tidur, ya." Rangga sudah mengecup kening Aleena dengan sangat lembut. Aleena pun memilih melingkarkan tangannya di atas perut Rangga dan itu membuat Rangga teramat bahagia.


Ketika tengah malam tiba, pintu kamar terbuka dan seseorang yang sudah membuka pintu sedikit terkejut karena di kamar perawatan laki-laki itu ada perempuan yang tidur bersama di atas bed pesakitan pasien. Posisi dua orang itupun terlihat begitu dekat karena saling memeluk satu sama lain. Sebuah lengkungan senyum terukir di sana Orang itu sedikit tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Namun, ini nyata dan dia mengurungkan niatannya untuk masuk dan memilih mencari seseorang.


.


Wajah cerah Aksa tunjukkan di pagi hari yang cerah juga. Kedua anak Aksa dan juga istrinya menatap bingung ke arah Aksa yang tidak seperti biasanya.


"Daddy gak kesambet 'kan." Aksa malah mengacak-acak rambut putra pertamanya hingga membuat Agha berdecak kesal.


"Atuhlah, ini rambut udah rapi begini." Riana dan Ghea hanya tertawa.


"My, pulang sekolah Adek mau jenguk Kak Rangga."


Agha yang sedang menikmati nasi goreng tersedak dan membuat kedua orang tuanya menatapnya dengan bingung. Begitu juga dengan Ghea.


"Mas, kenapa sih?" Ghea heran dengan tingkah sang kakak yang aneh.


"Jangan jenguk Kak Rangga." Sontak Aksa menatap tajam ke arah putranya. Agha yang merasa ditatap seperti itupun terdiam seketika. Dia bingung harus menjelaskan apa.


"Kenapa?" tanya Ghea dengan dahi yang mengkerut.


"Iya, kenapa, Mas?" Kini, sang ibu pun ikut bertanya.


"Rangga masih harus bed rest. Jadi, belum ada yang boleh ganggu dia."


Jika, sang ayah sudah berkata seperti itu sudah dipastikan tidak akan ada pertanyaan lain yang akan terlontar dari mulut Ghea dan juga Riana.


Sebelum berangkat ke sekolah, Aksa memanggil sang putra dan dada Agha pun berdegup dengan sangat cepat. Ada rasa takut di hatinya sekarang. Apalagi tatapan sang ayah sangat tajam..


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari Daddy?" Agha hanya bisa menelan ludahnya. Dia bingung harus menjawab apa.


Aksa semakin menatap lekat ke arah sang putra yang sama sekali tak berani menatapnya. Telapak tangannya sudah dingin karena takut jika sang ayah akan marah. Dia sangat tahu bagaimana marah dari ayahnya.


"Maafkan Mas, Dad."


.


Axel sudah membawakan Aleena sarapan dan itu membuat Rangga sedikit cemburu karena begitu perhatiannya Axel kepada kekasih hatinya itu.


"Makasih banyak, Bang." Axel mengangguk dan seulas senyum Aleena berikan untuk Axel.


Axel yang menyadari bahwa Rangga cemburu sudah memberikan kode kepada Aleena. Segeralah Aleena menoleh ke arah Rangga yang sudah memasang wajah datar.


"Mas--"


Tak ada jawaban dari Rangga dan itu membuat Axel menggelengkan kepala. Dia pun menghela napas kasar dan memilih pergi meninggalkan Rangga dan Aleena.

__ADS_1


"Dasar dua manusia bucin," dengkus Axel pelan.


Baru saja keluar dari kamar perawatan Rangga, Axel dikejutkan dengan kehadiran seseorang. Tubuh Axel pun menegang.


.


Di kamar perawatan, Aleena terus meyakinkan Rangga. Cemburunya seorang Rangga ternyata sangat seram.


"Mas," panggil Aleena. Dia sudah memegang lengan sang kekasih. Wajah Rangga masih sangat datar dan itu membuat Aleena harus sabar.


"Mas, jangan marah dong."


Aleena masih tetap membujuk Rangga yang masih membeku.


"Bang Axel cuma aku anggap sebagai kakak lelaki aku," jelasnya. Lagi-lagi Rangga masih terdiam.


"Mas--"


Bujukan dan rengekan Aleena sama sekali tak digubris oleh Rangga hingga membuat Aleena menyerah. Terdengar hembusan napas kasar dari mulut Aleena.


"Ya udah, kalau Mas masih marah karena cemburu kayak gini lebih baik aku kembali ke Sydney."


Rangga langsung menatap ke arah sang kekasih dengan begitu tajam. Sedangkan wajah Aleena terlihat amat serius.


"Di sini juga malah diginiin 'kan."


Aleena hendak pergi, tapi Rangga langsung mencekal tangan Aleena dan menariknya hingga terduduk di tepian ranjang pesakitan. Memeluknya dari belakang.


"Jangan pergi." Rangga sudah meletakkan dagunya di bahu sang kekasih.


"Mas masih ingin dirawat sama kamu."


Aleena membalikkan tubuhnya. Dia menatap lekat wajah Rangga. Wajah yang datar kini berubah sendu.


"Jangan cemburu pada Bang Axel. Berkat Bang Axel lah aku bisa ke sini tanpa diketahui keluarga aku." Tangan lembut Aleena sudah mengusap pipi putih Rangga.


"Dia seperti jembatan penghubung untuk kita berdua, Mas." Kalimat lembut itu membuat Rangga luluh. Cemburunya menguar begitu saja..


"Hug me, Sayang." Aleena malah tertawa, tapi dia langsung mengikuti apa yang diinginkan oleh Rangga. Memeluk tubuh Rangga dengan begitu erat.


"Kan kalau begini Mas-nya aku," kelakar Aleena dengan senyum yang begitu lebar.


"Kamu juga sayangnya Mas." Mereka pun tersenyum bahagia berdua.


"Ehem!"


Deheman seseorang dengan cukup keras membuat tubuh keduanya menegang. Apalagi Rangga dan Aleena sangat tahu suara siapa itu.


...***To Be Continue***...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2