
Panggilan masuk ke ponselnya membuat seorang lelaki menukikkan kedua alisnya. Tidak biasa nama itu menghubunginya. Tangannya segera menjawab panggilan tersebut.
.Tanpa berbasa-basi orang yang ada di balik sambungan telepon mengatakan apa yang sudah terjadi. Sontak mata lelaki itu memerah menahan amarah. Tangannya mengepal dengan sangat kencang. Urat di pelipis kepalanya terlihat dengan begitu jelas.
"Aku akan booking tiket pesawat sekarang "
Lelaki itu segera mencari tiket pesawat yang jadwal keberangkatannya paling cepat. Tidak dipikirkan perihal harga, isi kepalanya dipenuhi oleh nama yang tadi disebutkan.
"Jam satu malam," gumamnya.
Lelaki itu segera berganti pakaian dan langsung keluar dari kamar dengan hanya membawa tas kecil. Dua orang yang masih sangat tampan dan juga cantik menatap lelaki itu dengan penuh keanehan. Pasalnya, lelaki itu baru saja tiba dan sekarang sudah rapih lagi. Bukan memakai pakaian dinas, melainkan pakaian santai.
"Mau ke mana?"
Pertanyaan sama yang terlontar dari dua mulut yang berbeda. Lelaki itu masih sempat menunjukkan senyum.
"Jepang."
.
__ADS_1
"M-mas--"
Lelaki yang memakai pakaian serba hitam juga bertopi hitam pun melangkahkan kakinya menuju Aleena. Air mata meluncur tanpa ijin ketika langkah kaki lelaki itu mulai mendekat. Jarak yang hanya sisa dua meter lagi antara mereka berdua malah terasa semakin menjauh ketika Aleena memundurkan langkahnya dengan menggelengkan kepala dengan pelan.
"Jangan dekati aku. Aku kotor."
Perkataan yang begitu lemah dan penuh kesedihan membuat hati lelaki itu sakit. Apalagi tangan Aleena sudah dikedepankan dengan posisi lurus dan berkata, "JANGAN DEKAT!"
Axel masih menitip ke arah Aleena. Dia pun merasakan betapa hancurnya Aleena sekarang ini. Kemudian, dia memandang ke arah lelaki yang masih menatap Aleena. Tanpa Axel duga, lelaki itu dengan cepat menarik tangan Aleena dan memeluknya dengan begitu erat. Tangis Aleena pun pecah.
Sekuat tenaga Aleena mencoba untuk memberontak, tapi lelaki itu sangat kuat menahannya. Tangannya mulai mengusap lembut belakang rambut Aleena.
"Tapi, aku--"
Rangga mulai mengendurkan pelukannya. Dia sangat sakit melihat Aleena seperti ini lagi. Kepala Rangga menggeleng dengan pelan. Tangannya mulai memegang dagu Aleena. Sebelumnya, dia sudah melirik ke arah Axel. Anggukan kecil Axel berikan.
Perlahan wajah Rangga mulai mendekat dan mencium mesra dan hangat Aleena yang membeku. Kecupan Rangga membuat rasa takut itu menghilang seketika. Dia malah memejamkan mata dan menikmati sesapan Rangga. Sedangkan Axel sedari tadi sudah membalikkan tubuhnya dengan senyum yang mengembang.
"Aku akan menghilangkan jejak si berengsek itu," busuknya pada Aleena. Mereka melanjutkan kegiatan mereka hingga pesawat itu mengudara.
__ADS_1
Aleena sudah tertidur dengan tangan yang merangkul mesra tangan Rangga. Kepalanya dia sandarkan di pundak Rangga. Berkali-kali Rangga mencium ujung kepala Aleena.
Kalimat sang ayah ketika dia hendak.oergu terngiang di kepalanya sekarang. Kalimat itu terus memutari pikirannya.
"Jika, wanita yang kamu sayang telah dijodohkan dengan orang lain karena sebuah permintaan dari keluarganya, apa kamu akan membiarkan wanitamu berjodoh dengan orang lain?
"Tidak, Dad. Aku akan berjuang dan membuktikan kepada keluarganya jika aku pantas untuk putrinya."
Rangga menjawab dengan sangat tegas dan percaya diri. Namun, sekarang dirinya sedikit goyah karena baru bisa mencerna ucapan sang ayah.
.
"Apa jangan-jangan Aleena sudah dijodohkan oleh Om Radit dengan orang lain?" gumamnya pelan karena tidak biasa mendengar ayahnya seperti orang yang pesimis.
Rangga berpikir sejenak dengan mata yang terus menatap wanita di sampingnya. Namun, dia juga sangat tahu bagaimana keluarga Aleena yang tidak seperti keluarga kolot yang bermain dengan jodoh menjodohkan.
"Lamarlah dia!"
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...