
Aleena merasa sangat tidak tenang karena sedari tadi panggilannya tidak dijawab oleh Rangga. Dia takut ayahnya mengatakan sesuatu yang membuat Rangga pergi menjauh darinya. Dia akan menjadi gila jika itu terjadi.
"Mas, jawab dong panggilan aku. Jangan buat khawatir kayak gini."
Aleena menghela napas berat ketika panggilannya masih tetap tidak dijawab. Dia pun mendudukkan diri di tepian tempat tidur. Pikiran jelek sudah bersarang di kepalanya. Dia melihat ke arah jam dinding. Sudah jam sebelas malam. Seharunya Rangga sudah sampai di rumah. Aleena memilih untuk menghubungi Agha. Sepupunya itu pasti tahu.
"Mas gak tahu, Na. Mas lagi belajar."
Begitulah seorang Gavin Agha Wiguna. Dia menunjukkan wajahnya yang sudah kelelahan dan mata yang sudah lima Watt.
"Coba tengokin sebentar ke kamarnya, Mas."
Ingin rasanya Agha menolak perintah Aleena, tapi dia tidak tega. Akhirnya dia keluar kamar menuju kamar sang kakak. Dia mengetuk pintu kamar Rangga, tapi tidak ada jawaban. Dia pun memberanikan diri untuk menekan knop pintu. Ternyata tidak ada siapa-siapa di sana.
"Kayaknya Kak Rangga belum pulang. Kamarnya masih kosong." Agha berkata sambil menguap. Anak itu sudah sangat kelelahan dan ingin segera rebahan. Kekhawatiran Aleena semakin menjadi. Dia hanya menghela napas kasar untuk kesekian kalinya.
Aleena ingin turun ke lantai bawah, tapi dia takut kepada ayahnya. Dia menimbang-nimbang dan akhirnya dia memutuskan untuk turun dengan alasan air minum di kamarnya sudah habi jika sang ayah masih ada di lantai bawah.
Tibanya di dapur, Aleena mencoba untuk memeriksa ruang keluarga. Ternyata sudah tidak ada orang di sana. Lampu di tempat itupun sudah mati. Itu tandanya Rangga sudah pulang. Pikiran Aleena semakin was-was.
"Kemana kamu, Mas?"
Aleena kembali ke kamarnya dan terus menghubungi Rangga. Namun, tak kunjung ada jawaban dari kekaksihnya. Sungguh perasaan Aleena sudah tidak enak. Dia ingin menghubungi sang Tante, tapi ini sudah larut.Dia juga tidak enak jika nanti sang Tante menjulukinya sebagai wanita posesif.
"Mas, tolong jawab panggilan aku."
Aleena bermonolog sendiri. Dia sungguh sangat mengkhawatirkan Rangga. Dia mencoba terus menghubungi Rangga hingga dia terlelap.
Usapan lembut di ujung kepala membuat Aleena segera membuka mata. Dia berharap itu adalah Rangga. Namun, itu adalah ibunya yang tengah membelai lembut rambut lurus Aleena seperti waktu dia kecil dulu.
"Bangun, Kak. Sudah siang." Aleena hanya mengangguk. Echa tersenyum melihat putrinya. ada kelegaan di hati Echa ketika mengetahui jika suaminya sudah merestui hubungan Aleena dengan Rangga.
"Kak, langsung ke ruang makan, ya."
"Iya, Bu."
__ADS_1
Selesai mencuci muka, Aleena turun ke lantai bawah dan langsung menuju ruang makan. Tubuhnya menegang ketika dia melihat sang kekasih sudah berbincang akrab dengan sang ayah juga adik iparnya. Aleena menggisik matanya. Takutnya dia salah lihat.
"Kakak Na, kenapa berdiri di situ?"
Tiga pria yang tengah berbincang pun mulai menoleh. Mereka menatap ke arah Aleena dan ada sebuah senyum yang begitu tulus dan manis terukir di wajah seorang pria yang dia khawatirkan sedari semalam.
"Sarapan, Kakak Na." Suara sang ayah sudah terdengar. Aleena pun mengangguk. Mata Rangga masih tertuju pada kekasihnya yang terlihat cantik walaupun dengan bare face (wajah bantal).
Aleena pun melangkahkan kaki menuju meja makan dan Rangga sudah menarik kursi untuk Aleena duduki. Itu membuat orang yang ada di sana mengulum senyum. Radit merasa tidak salah memberi restu kepada anak angkat dari adik iparnya.
Tak banyak obrolan di sana. Aleena pun menikmati sarapannya dengan wajah datar. Itu membuat Rangga meraih tangan Aleena yang ada di bawah meja. Sontak Aleena menoleh dan menukikkan kedua alisnya. Rangga malah menautkan jari-jemarinya ke sela jari jemari Aleena.
"Jam berapa penerbangannya, Ngga?"
Aleena terkejut dan langsung menatap penuh tanya ke arah Rangga. Namun, Rangga malah menatap ke arah Radit sambil menjawab pertanyaan dari ayah pacarnya.
"Jam delapan, Om."
"Siap-siaplah, Kakak Na." Sang ibu menimpali ucapan dari Rangga dan itu membuat Aleena kebingungan.
"Kamu akan liburan bersama Rangga."
.
Aleena masih menekuk wajahnya ketika mereka berada di mobil menuju bandara. Bukannya dia tidak senang bisa liburan bersama Rangga. Namun, dia masih kesal karena semalam Rangga sama sekali tak.mebjawab telepon darinya. Padahal dia sangat mengkhawatirkan lelaki yang masih setia mencintainya itu.
"Sayang," panggil Rangga. Wajah Aleena masih tidak berubah.
Dia masih kesal karena sang kekasih sudah membuatnya sangat was-was semalam. Aleena bagai patung bernapas sekarang.
"Sayang."
Rangga terus memanggil Aleena. Dia pun sudah menggenggam tangan Aleena.
"Maaf. Semalam ponselku ketinggalan di dalam mobil." Rangga tahu apa yang memuat Aleena terdiam seperti itu. Masih tak ada jawaban dari Aleena. Dia malah melihat ke arah kaca jendela mobil. Dia sudah tidak ingun mendengar penjelasan dari pria di sampingnya tersebut.
__ADS_1
"Sayang, jangan marah dong." Rangga pun mulai merengek.
Rangga menghela napas kasar. Benar kata temannya jika wanita sudah marah itu akan sulit untuk diajak baikannya. Kini, dia merasakannya.
Tibanya di bandara Aleena menukikkan kedua alisnya ketika melihat seseorang yang tinggi, berbadan tegap sudah ada di sana dengan jaket hitam yang melekat di tubuhnya juga topi yang sudah dia gunakan.
Aleena berlari meninggalkan Rangga dan menghampiri Axel dengan senyum ceria. Axel mengusap lembut rambut Aleena dan dengan sengaja dia merangkul lengan Axel di depan Rangga.
"Entar piaraan kamu marah," bisik Axel.
"Biarain aja."
Axel malah tertawa dan mereka berdua malah jalan terlebih dahulu dan itu membuat Rangga berdecak kesal. Dia mengejar Aleena dan Axel. Menarik Aleena dengan sedikit kasar hingga rangkulan tangannya pada Axel terlepas. Rangga langsung meraih tangan Aleena dan dia lingkarkan di tangannya. Tak dia hiraukan mata Aleena sudah protes.
"Kamu itu pacar aku." Tegas sekali ucapan dari Rangga. Dia pun memberikan tatapan maut kepada Aleena hingga Aleena tak bisa melepaskan tangannya pada lengan Rangga. Axel hanya menggelengkan kepala.
Mereka bertiga masuk ke dalam pesawat. Awalnya Aleena merasa biasa Karena perjalanan mereka hanya ke Jogja. Menikmati hari akhir sebelum Rangga kembali mengudara dan Aleena kembali ke Australia. Ketika dia hendak duduk, dia merasakan hal yang tak biasa. Dia menoleh ke arah belakang, depan dan samping. Namun, tak ada yang aneh di sana.
Rangga mulai menarik tangan Aleena hingga Aleena mulai duduk di samping Rangga. Melihat wajah sang kekasih mulai berbeda, Rangga langsung bertanya. Aleena hanya menggelengkan kepala. Akan tetapi, perasaan Aleena sangat tidak tenang. Dia yang tidak ingin terlalu menempel kepada sang kekasih memilih merangkul lengan Rangga dengan begitu erat.
"Kamu kenapa, Sayang?"
Aleena tak menjawab. Dia malah memejamkan matanya di pundak Rangga dan itu membuat Rangga tersenyum. Tak segan dia mengecup ujung kepala Aleena.
"Mas, jangan tinggalin aku."
"Gak akan, Sayang."
Ada tangan yang mengepal keras ketika melihat kedekatan Aleena dan Rangga. Dadanya sudah berdegup sangat habat menandakan dia sangat marah.. Dadanya pun sudah turun naik. Ingin rasanya dia menghampiri kursi itu.
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1