
Pertunangan Aleena dan Rangga sudah diketahui keluarga besar. Rangga pun tak segan untuk mengenalkan Aleena kepada tiga sahabatnya. Namun, Aleena belum mau Rangga gandeng ke acara penting kantor di mana dia harus bertemu dengan para kolega bisnis sang calon suami.
"Nanti aja, Mas. Kalau udah sah."
Itulah jawaban Aleena setiap kali dia diajak pergi ke sebuah acara oleh Rangga. Dia tidak suka keramaian dan menjadi pusat perhatian. Mau tidak mau Rangga harus menuruti Aleena. Dia pun takut jika banyak yang menginginkan Aleena ketika dia membawa Aleena ke acara. Aleena cantik, sudah pasti banyak yang mengincar calon istrinya tersebut.
Mereka berdua sudah mulai mempersiapkan pernikahan sesuai dengan keinginan Aleena. Sederhana, tapi ngena. Itulah yang Aleena inginkan. Rangga yang hampir setara dengan Restu Ranendra perihal harta tidak akan pernah keberatan. Segala keinginan Aleena akan dia wujudkan.
Kabar pernikahan Aleena dan Rangga pun sudah sampai ke telinga seorang perempuan yang sudah lebih dari enam bulan asyik menjadi manusia bipolar. Dia akan mengurung diri di kamar dengan bulir bening yang terus mengalir di kala dia sendiri.
🎶
Aku tersungkur menunduk meraung
Dan tiada siapa bisa merasakan
oh sakitnya ... hati ini
Jika kau tak mampu memberiku senyum
__ADS_1
Usah kau hadirkan kedukaan
Oh biarlah hidupku dengan caraku
Kepala perempuan itu menunduk begitu dalam. Dia hanya bisa memeluk kedua lututnya. Sakitnya masih terasa sampai saat ini hingga bulir bening tak henti menetes.
"Bodoh!" Dia memakai dirinya sendiri.
.
Sapaan dari seseorang membuat langkahnya terhenti. Ketika dia berada di tempat kerja, dia akan menjadi pribadi yang ceria dan penuh tawa. Seperti hidupnya baik-baik saja.
"Selamat pagi juga, Pak." Senyum pun mengembang di bibirnya.
Sang manager tempatnya bekerja akan memberikan quotes setiap hari kepada dirinya jika mereka bertemu. Seakan pria yang seusia ayahnya itu tahu apa yang tengah dia rasakan. Jika, sudah begitu si wanita itu hanya akan terdiam. Menatap teduhnya sorot mata yang begitu penuh kasih.
Setiap kali bertemu dengan manager tersebut ada rasa hangat. Juga pria tersebut seakan tengah menuntunnya untuk keluar dari zona kesakitan yang belum bisa dia lawan.
"Kamu anak baik. Hanya saja langkahmu salah. Manusiawi kok kamu melakukan kesalahan."
__ADS_1
Tiba-tiba matanya mulai panas dan berembun. Kalimat sederhana, tapi sangat menusuk ulu hatinya. Ditambah senyum penuh ketulusan pria itu berikan.
"Kamu hanya butuh pundak untuk bersandar dan dada untuk menangis. Kamu itu tidak terlalu kuat menahan semuanya sendirian. Semakin hari kamu itu semakin rapuh. Kamu memerlukan penopang agar kamu bisa kembali berdiri tegak lagi."
Tes.
Air mata menetes begitu saja. Dia merindukan sang ayah. Dia merindukan pelukan hangat tangan kekar yang akan selalu menjaga dirinya. Sungguh, melihat pria itu dia seperti melihat ayahnya. Tanpa dia duga pria itu memeluknya. Mengusap lembut rambutnya dan hangatnya sama seperti kasih lembut sang ayah.
"Tidak semuanya bisa kamu pendam sendiri. Ada kalanya, kamu juga butuh teman untuk bercerita. Beban yang kamu pikul itu terlalu berat."
Tangisnya pun semakin menjadi. Si pria dapat merasakan betapa beratnya beban yang tengah perempuan itu pikul. Beban batin itulah yang paling berat.
"Menangislah! Keluarkan semuanya. Walaupun tidak sepenuhnya menghilangkan rasa sakit dan sedihmu, tapi setidaknya itu akan membuat sedikit beban kamu menguar."
Selama enam bulan hidup dalam keterpurukan, kesedihan dan kesakitan. Hari ini dia mendapat sebuah pelukan yang sangat menghangatkan. Seperti pelukan dari orang yang amat dia rindukan. Namun, tak berani dia menemui orang tersebut karena sekarang dia menganggap jika dirinya adalah aib keluarga.
Lima menit berada dalam pelukan pria yang menjadi manager di tempatnya bekerja, hatinya mulai sedikit lega. Tangisnya pun perlahan mulai reda. Sang manager itu mulai melepaskan pelukannya. Menatap hangat dan penuh sayang ke arah perempuan yang sesuai dengan sang anak.
"Mulai saat ini, panggil saya Ayah."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...