
Langkah Rangga terhenti ketika di depan mobil yang menjemput rombongan kru pesawat. Dia masih menggenggam tangan Aleena. Sedangkan Aleena menundukkan kepala karena malu berada di depan rekan kerja Rangga.
"Saya mau menyelesaikan urusan saya dulu." Rangga berkata dengan mata yang melirik ke arah Aleena si sampingnya.
Rekan kerja Rangga pun menganggukkan kepala. Mereka sangat mengerti masalah apa yang akan diselesaikan oleh Rangga dengan wanita yang ada di sampingnya itu.
"Have fun, ya."
Sang kapten malah mengijinkan dengan senyum lebar. Baru kali ini dia melihat Rangga yang sangat bahagia hingga membuat dia ikut merasakan kebahagiaan yang Rangga rasakan.
"Kopernya biar kita yang bawain," ujar salah satu pramugari.
Rangga tersenyum dan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Aleena. Mereka pun pergi meninggalkan Rangga dan Aleena.
"Mereka sudah pergi."
__ADS_1
Aleena perlahan menegakkan kepalanya. Dia mulai menatap ke arah Rangga dengan tatapan tidak nyaman.
"Tegakkan kepala kamu di depan siapapun," titah Rangga. "Kamu hanya boleh menundukkan kepala di depan kedua orang tua kamu."
Perkataan Rangga membuat hati Aleena terenyuh. Sikap lembut dan baik Rangga masih tetap sama. Anak yatim piatu itu dididik sangat baik oleh ibu panti hingga memiliki attitude yang luar biasa. Inilah yang tidak dimiliki oleh Kalfa maupun Khairan.
Rangga tersenyum dan mengusap lembut pipi putih Aleena. Dia tak mengatakan apapun, hanya memandang Aleena sangat dalam begitu juga Aleena yang masih menatap Rangga dengan penuh kehangatan. Tanpa Aleena sadari tangannya melingkar di pinggang Rangga dan wajahnya berada tepat di dada bidang Rangga.
Tubuh sang co-pilot itu menegang. Jantungnya berdegup sangat cepat dan itu mampu Aleena rasakan. Tangan Aleena malah semakin erat memeluk tubuh Rangga. Lelaki berstatus anak yatim piatu itu memejamkan matanya sejenak dan dia mulai membalas pelukan Aleena. Terlihat jelas bagaimana perasaan mereka berdua.
Namun, ada tubuh yang menegang ketika melihat perempuan yang dia cintai berpelukan dengan lelaki lain. Ada rasa cemburu di hatinya. Ada rasa marah yang sudah memenuhi kalbu. Dia ingin melangkahkan kaki menuju Aleena, tapi dicekal oleh Reksa.
Khairan mulai menatap ke arah Reksa. Lelaki yang tiga tahun di bawahnya itu tersenyum. Dia menggelengkan kepala pelan. Khairan hanya menghela napas kasar.
"Kenapa ucapan bocil ini ngena banget ke hati?"
__ADS_1
Dia melihat lagi ke arah Aleena dan Rangga yang masih berpelukan. Nyeri di hatinya terasa begitu nyata. Namun, melihat Aleena merasa nyaman membuat Khairan ikut senang. Selama dia mengenal Aleena, dia tidak pernah melihat Aleena senyaman itu dengan lelaki.
"Apa kamu mencintai dia, Na?"
"Apa aku harus mengikhlaskan kamu? Membiarkan hatiku menangis di pojokan untuk kesekian kalinya."
Di lain negara, Axel tersenyum bahagia melihat foto yang dikirimkan oleh Reksa. Hatinya sangat lega.
"Papa, sekarang Aleena sudah memeluk orang yang tepat," gumamnya pelan. Dia menghela napas kasar dengan tangan yang menggenggam cangkir kopi. Tubuhnya dia sandarkan di kursi meja makan.
"Bang Axel, jagalah dan temani Aleena seperti Papa menjaga dan menemani Daddy Gio."
Sebuah kalimat yang masih Axel ingat sampai sekarang. Pesan terakhir sebelum sang ayah, yakni Remon yang meninggalkannya dan juga Acel untuk selamanya. Kini, ucapan Daddy Gio ikut berputar di kepalanya sebelum kakek dari Aleena itu pergi ke Sydney dan menutup mata di sana.
"Tolong jaga dan temani Aleena sampai dia menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Daddy Gio sangat sayang kepada Aleena, Xel. Daddy sangat tahu bagaimana berbedanya Aleena dengan para adiknya. Hati Aleena itu sangat rapuh karena terlalu lembut. Hanya kamu yang dapat Daddy percaya. Daddy yakin kamu akan selalu tahu apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh Aleena Karena kamu pernah mencari tahu perihal cucu Daddy itu 'kan. Itu semua kamu lakukan karena kamu menyukai Aleena."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...