
Sejam sebelum makan malam tiba, Fabian telah kembali ke mansionnya disambut oleh kepala pelayannya.
‘’Apa Miya sudah pulang?’’tanyanya kepada Mary Jane saat pelayan itu lewat di depannya.
‘’Iya tuan Fabian . Nona Miya sudah pulang. Tadi di antar pulang oleh seorang pria."
Seketika wajah Fabian menjadi kaku dan dingin.‘’Seorang pria?’’
‘’Iya kalau tidak salah namanya Sebastian. Teman kuliahnya."
‘’Oh begitu. Kau boleh pergi."
Fabian menaiki tangga dengan cepat. Perasaan cemburu memenuhi hatinya. Ia tidak rela jika Miya harus dekat-dekat dengan pria lain meskipun itu hanya temannya. Ia berhenti ketika melewati pintu kamar Miya, di pandanginya pintu itu, lalu ia menghambur masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
‘’Kyaaaaaaaaaaaaa........’’teriak Miya.
Fabian langsung berdiri terpaku melihat Miya menutupi tubuhnya tanpa pakaian dengan selimut. Gadis itu menatap jengkel kepada pamannya.
‘’Maafkan aku. Aku kira kau tidak sedang berganti pakaian,’’kata Fabian dengan nada penuh penyesalan.
‘’Sekarang berbaliklah!’’
Tanpa perintah dua kali Fabian segera membalikkan badannya dan Miya cepat-capat berpakaian. ‘’Aku sudah selesai berpakaian."
Fabian perlahan membalikkan badannya dan mendapati Miya berkacak pinggang menatap marah pamannya. ‘’Kenapa paman tadi tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk?’’tanyanya dengan suara tegas.
‘’Aku kan tadi sudah minta maaf."
‘’Paman tahu kalau paman ini benar-benar menyebalkan selalu membuatku kesal dan marah."
Fabian tersenyum tipis, lalu mendekati Miya. ‘’Meskipun kau marah , kau masih terlihat sangat manis."
Miya mencibir, lalu ia memandang curiga kepada pamannya.’’ Apa paman tadi melihatnya?’’
Fabian tersenyum miring . ‘’Iya sayangnya aku sudah melihat semuanya. Tubuhmu cukup bagus juga meskipun badanmu agak kurus." Wajah Miya langsung memanas. ‘’Ini kedua kalinya aku melihat tubuhmu." Ada kilauan nakal di sorot matanya. Miya menelan ludah merasa gugup. Fabian menyentuh dagu gadis itu dengan jari tangannya membuat Miya menatap ke arahnya. Tanpa peringatan Fabian mengecup dan menyapukan bibirnya dengan lembut pada bibir gadis itu. ‘’Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan pria lain,’’ucapnya dengan suara dingin.
Miya masih merasa linglung setelah dicium olehnya untuk kesekian kalinya dan ia sekilas dapat memandang mata biru jernih milik pamannya yang terasa menenangkan seakan-akan tidak akan pernah bosan untuk memandangnya sampai kapan pun. Fabian kemudian pergi tanpa mengatakan apa pun, tapi sebelum pergi pria itu itu masih sempat memandang Miya sekali lagi dengan pandangan yang menyiratkan banyak hal dan Miya masih berdiri terpaku ditempatnya, tapi kemudian ia membalikkan badan lagi.’’ Gelang itu sangat cocok untukmu." Fabian tersenyum lebar, lalu mengedipkan matanya dan Miya dapat mendengar tawanya yang keras di luar kamarnya.
Miya menyentuh bibirnya yang masih terasa lembap. Sekali lagi Fabian berhasil mencuri ciuman darinya dan itu membuatnya kesal setengah mati. Di lemparnya bantal ke arah pintu sambil mengumpat. Miya merutuki dirinya sendiri betapa bodohnya ia selalu digoda dan dipermainkan oleh pamannya. Entah sudah wanita keberapa ia di goda oleh pamannya, Miya mendesah pasrah.
Tengah malam Miya terbangun dan samar-samar ia mendengar suara piano dari ruang musik di lantai dua. Alunan musik mengalun dengan indah, tapi alunan musik itu entah bagaimana menggambarkannya terkesan menyedihkan, tanpa disadari ia meneteskan air matanya. Ia turun dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya perlahan. Di sepanjang lorong begitu sangat sepi hanya cahaya temaramnya lampu membuat lorong itu sedikit terang.
Miya pergi menuju ruang masik dan alunan musik terdengar semakin jelas, tapi ketika sudah sampai di depan pintu , alunan musik sudah tidak terdengar lagi. Miya mendorong pintu yang sedikit terbuka dan ia melihat pamannya sedang berdiri memandang keluar jendela sambil memegang gelas minuman. Matanya menerawang jauh . Fabian membalikkan badan dan pria itu menatap Miya dengan sorot matanya memancarkan rasa cinta untuk gadis itu. Miya terhenyak melihat pamannya yang terlihat sangat tampan dengan pakaian tidurnya dibawah cahaya bulan. Fabian meletakan gelasnya di meja , menyuruh gadis itu duduk.
‘’Kenapa kau tidak tidur?’’tanya Fabian dengan suara lembut.
‘’Tadi aku mendengar alunan musik dari ruangan ini."
‘’Apakah permainan musikku membangunkanmu?’’
‘’Sebenarnya tidak." Fabian kemudian tersenyum, lalu ia berdiri di depan perapian memandang lukisan istrinya dengan tatapan menyedihkan.
‘’Istri paman sangat cantik."
‘’Clarissa memang wanita yang sangat cantik, tapi sayangnya penampilan dalamnya tidak secantik penampilan luarnya. wanita ini sudah mengkhianati hatiku dan kepercayaanku . Sejak saat itu aku menutup hatiku dan tidak ingin percaya lagi dengan cinta. Tahun demi tahun aku melewati hidupku dengan kesedihan dan bersikap dingin terhadap siapa pun. Sampai sekarang aku masih belum memaafkannya."
Pandangan mata Fabian menjadi gelap. Ada kemarahan dan kebencian di dalam sorot matanya. Pria itu membalikkan badannya dan berjalan mendekati Miya, lalu duduk disampingnya. ‘’Setelah bertemu denganmu aku berubah. Kamu sudah membuat hidupku memandang dari persepsi yang berbeda dan hidupku mulai lebih berwarna." Fabian memeluk Miya membuat gadis itu kembali terkejut dengan sikap pamannya. Ia berusaha untuk melepaskan diri, tapi Fabian semakin erat memeluknya.
‘’Aku mohon biarkan aku memelukmu sebentar saja." Miya akhirnya membiarkan pamannya memeluknya setelah mendengar suara pamannya yang sarat permohonan. Secercah senyuman terpantul di sorot kedua matanya, ketika Fabian kembali menatap Miya. Gadis itu duduk terpaku menatap sepasang mata azure milik pamannya yang seakan menghipnotis dirinya. ‘’Terima kasih,’’ucap Fabian selembut beledu. ‘’Sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Aku akan mengantarmu." Fabian menarik lengan Miya dengan lembut. Genggamannya begitu kuat dan hangat. Miya tidak protes atau bersikap melawan hanya menuruti pamannya ketika pria itu mengantarnya kembali ke kamar.
‘’Sekarang pergilah tidur kalau tidak ingin besok bangun kesiangan." Miya mengangguk, lalu berkata,’’ Selamat malam!’’
♪♪♪♪
‘’Apaaaa? Kamu memasukkan Sebastian ke dalam tugas kelompok kita?’’seru Isabella, ketika ia sudah sampai di kelas keesokan paginya.
‘’Memangnya kenapa? Apa kamu tidak suka jika Sebastian bergabung dengan kita?’’
__ADS_1
‘’Bukan begitu."
‘’Sebastian bilang padaku kalau kalian adalah teman masa kecil dan kalian bersahabat. Sebastian juga bilang sikapmu padanya berubah akhir-akhir ini. Memangnya ada apa? Apa ada yang salah dengannya?’’
Isabella terdiam . Ragu-ragu ia menatap Miya. ‘’Aku menolak cintanya."
‘’Bukan berarti persahabatan kalian ikut hancur kan."
‘’Iya juga sih, tapi sejak aku tahu kalau Sebastian mencintaiku , aku jadi sedikit canggung berada dekat dengannya tidak sebebas dulu."
‘’Sebastian adalah pria yang tampan dan juga baik."
‘’Sebastian memang pria yang sangat baik dan perhatian."
‘’ Seharusnya kamu senang bisa dicintai olehnya atau jangan-jangan kamu sudah ada orang yang kau suka."
‘’Benar. Aku kan sudah pernah mengatakannya kepadamu. Aku melihatnya disebuah pesta tanpa sengaja. Dia sangat tampan lebih tampan dari Sebastian tentunya . Aku hanya melihatnya dari jauh waktu itu tidak berani mendekatinya apa lagi memperkenalkan diriku." Isabella kemudian tersenyum lebar. ‘’Kau tahu ternyata pria itu adalah pria yang akan dijodohkan oleh orang tuaku. Aku sangat senang. Ini seperti mimpi. Awalnya aku menolak perjodohan ini, tapi setelah melihat fotonya ternyata dia adalah pria yang aku lihat di pesta waktu itu dan aku langsung menerima perjodohan ini. Pada saat ulang tahunku aku akan berkenalan dengannya. Aku sudah tidak sabar menunggu hari ulang tahunku besok malam. Kau harus datang , nanti aku akan mengenalkannya padamu."
‘’Baik. Aku pasti datang." Miya tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk mengetahui siapa pria yang sudah mencuri perhatian dan hatinya Isabella. Miya teringat dengan Sebastian dan ia menjadi merasa kasihan kepadanya.
‘’Kau boleh ambil Sebastian kalau mau,’’ucap Isabella cuek.
‘’Hah? Kau sudah gila ya. Aku tidak akan ambil Sebastian, karena aku tidak mencintainya. Dia kan sukanya sama kamu, bella."
‘’Mungkin sekarang kamu tidak mencintainya, tapi suatu saat pasti kau mencintainya. Sekarang aku sudah punya calon suami,’’kata Isabella dengan senang.
‘’Kau ini...’’kata Miya dengan gemas. ‘’Apa calon suamimu mencintaimu?’’
Isabella langsung terdiam, lalu ia tertunduk sedih. ‘’Aku tidak tahu, tapi aku akan membuatnya mencintaiku."
Miya memandang temannya . Andaikan Isabella tahu kalau Sebastian begitu mencintainya. Miya menghela napas panjang. Dilihatnya Sebastian dari kejauhan sedang memandang ke arah Isabella dengan tatapan mendamba.
♪♪♪♪
Fabian dan Gilbert keluar dari mobil di depan sebuah rumah bergaya Eropa berlantai tiga. Baru saja mereka akan mengetuk pintu, pintu itu terbuka dan dari dalam muncul James Kenndrick langsung menatap benci ke arah Fabian. James pun pergi dengan kekesalannya. ‘’Aku rasa dia baru mendapat penolakan pembelian pancost shipping dari Mr. Felton,’’ucap Gilbert.
‘’Kalian sudah ditunggu oleh Mr. Felton di dalam,’’kata seorang pelayan pria yang sudah berdiri di depan mereka. Fabian dan Gilbert mengikuti pelayan itu. Mr. Felton berada di ruang kerja dan tersenyum ramah kepada mereka. ‘’Silahkan duduk!’’
‘’Aku dengar dengan jelas."
‘’Dia bilang , dia tidak menjual Pancost shipping karena aku membelinya dengan harga tinggi. Dia bilang perusahaanku lebih pantas mendapatkannya dari perusahaan manapun. Menurutmu apa maksudnya?’’
‘’Entalah. Aku tidak tahu."
‘’Ini sungguh aneh. Tapi yang penting aku sudah mendapatkannya,’’katanya dengan wajah gembira.
‘’Kita harus merayakan hal ini. Bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke sebuah klub, lalu kita pergi ke diskotik pasti disana terdapat banyak wanita-wanita cantik. Saat ini kau perlu bersenang-senang sedikit,’’tawar Gilbert dengan penuh antusias.
‘’Terserah padamu. Tapi aku tidak ambil bagian dengan wanita-wanita cantiknya. Oh ya aku telah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan banyak wanita dan aku juga sudah tidak berhubungan lagi dengan Helena."
‘’Benarkah? Itu hebat sekali."
‘’ Meskipun pada awalnya Helena menolak, tapi setelah dijelaskan akhirnya dia mengerti. Aku sudah tidak ingin lagi menjadi seorang playboy."
‘’Pasti Helena kecewa. Dia kan wanita terlama yang berhubungan denganmu sepanjang yang aku tahu. Sayang sekali jika kau harus melepaskan gelar itu yang sudah kau pegang selama bertahun-tahun."
‘’Kalau kau mau kamu boleh mangambilnya dariku."
Gilbert terkekeh. ‘’Aku tidak menginginkannya. Rupanya Miya sudah membuatmu mampu berhenti menjadi seorang playboy. Tidak ku sangka kau sangat mencintai gadis itu."
‘’Iya itu benar. Aku sendiri juga tidak pernah menyangka hal ini." Fabian hanya tersenyum, lalu mereka masuk ke dalam mobil.
♪♪♪♪
‘’Apa Anda tidak akan menyesal telah menjual Pancost shipping kepada mereka,’’tanya seorang pelayan kepada Mr. Felton yang sedang berdiri di depan jendela memperhatikan Fabian dan Gilbert.
Mr. Felton tersenyum. ‘’Aku sangat yakin. Mereka akan mengurus hasil kerja kerasku selama ini dengan baik. Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama dan selain itu, ini juga sebagai ucapan terima kasihku kepada gadis itu."
__ADS_1
‘’Gadis itu?’’
‘’Seorang gadis dari keluarga Baskerville yang telah menolongku kemarin.’’Pelayan itu mengangguk mengerti.
♪♪♪♪
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Miya tengah dipusingkan masalah cinta teman-temannya yang rumit. Ia sudah terlanjur berjanji kepada Sebastian untuk menolongnya, tapi ia tidak menyangka akan menjadi serumit ini. Miya turun dari mobilnya dan dengan langkah cepat masuk ke dalam mansion, langsung menuju kamarnya. Awalnya gadis itu tidak memperhatikan sekeliling kamarnya, lalu ia menangkap sesosok seseorang yang sedang bersandar di jendela dengan tangan terlipat di dada dan melemparkan senyuman menggoda ke arahnya.
Miya memperhatikan pamannya di bawah pantulan matahari sore melalui kaca jendela kamarnya . Rambutnya masih sedikit basah dan ia memakai celana jeans dan kaus polo yang warnanya senanda. Kedua tangannya yang kekar terlihat sangat jelas, lalu wajahnya yang terpahat sempurna menjadi nilai tambah untuk ketampanannya. Pesona pamannya sungguh sangatlah berbahaya.
‘’Paman Fabian, apa yang sedang paman lakukan di kamarku?’’
Fabian berjalan mendekati Miya dengan tersenyum.
‘’Menunggumu pulang,"jawabnya singkat.
‘’Kenapa?’’
‘’Karena aku sangat merindukanmu." Fabian berjalan semakin mendekat menutup jarak diantara mereka.
‘’Pa...paman mau apa?’’
Fabian tersenyum nakal .’’Mau menciummu."Miya sontak mundur menghindari pamannya, tapi Fabian semakin mendekat dan keseimbangan tubuh gadis itu hilang, karena salah satu kakinya tersandung tas yang ia simpan di lantai. Tubuhnya mulai limbung dan kepalanya akan terantuk ke meja. Fabian dengan gerakan refleks yang cepat mengulurkan tangan dan menangkapnya sebelum tubuh Miya terjatuh ke lantai dan membiarkan tubuh Miya menimpa dirinya ketika terjatuh. Lengan Fabian melingkari tubuh Miya dengan kokoh dan protektif.
Dalam keadaan terkejut, Miya menatap Fabian dan jantungnya berdetak sangat cepat . Aroma khas mint pamannya kembali tercium.
‘’Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?’’tanya Fabian dengan wajah cemas. Miya yang masih shock hanya mengangguk. Fabian bernapas lega.
‘’Bagaimana dengan paman?’’
‘’Aku baik-baik saja."
Fabian masih memeluk Miya. Tubuh Miya sangat lembut dan sangat pas menempel di tubuhnya, sehingga Fabian enggan untuk melepaskan pelukannya di tubuh gadis itu. Pria itu sudah mendekatkan bibirnya ke bibir Miya hendak menciumnya dan tepat saat itu pintu kamar terbuka dan Mary Jane masuk. Terkejut melihat posisi keduanya yang tengah berpelukan di lantai. Miya dan Fabian langsung berdiri.
‘’Ini tidak seperti yang kamu pikirkan,’’kata Miya.’’Tadi aku terjatuh dan paman menolongku."
‘’Itu benar,’’jawabnya membenarkan. Mary Jane menatap mereka silih berganti. Ia sudah tidak ingin tahu apa yang di lakukan oleh mereka berdua.
‘’Ini ada kiriman untuk Anda. Baru saja datang,’’kata Mary Jane.
‘’Untukku?’’
‘’Iya ini untuk Anda nona Miya." Miya segera membuka bungkusan itu dan isinya adalah sekotak coklat. Dibukanya coklat itu dan di dalamnya terdapat coklat dengan berbagai macam bentuk dan terlihat sangat enak. Fabian langsung merebut kotak coklat itu dari tangan Miya dan menelitinya.
‘’Dari siapa?’’tanyanya.
Miya segera membaca kartu yang terjatuh. Untuk Miya dari seorang teman. ‘’Tidak ada namanya." Fabian juga merebut kartu itu dari tangan Miya. ‘’Aneh. Kamu sama sekali tidak ada bayangan ini dari siapa?’’
‘’Sama sekali tidak tahu."
Fabian menaruh kotak coklat di meja. ‘’Sepertinya coklat ini enak. Boleh aku minta satu." Fabian langsung mengambil dan memasukannya ke dalam mulutnya.
‘’Jangaaaaannnn!’’teriak Mary Jane membuat Fabian dan Miya terkejut dan coklat yang dipegang Fabian langsung terjatuh. Mary Jane merasa malu telah berteriak dan pelayan itu langsung meminta maaf. ‘’Saya tidak bermaksud untuk berteriak tadi."
‘’Aku tidak tahu kenapa kamu tiba-tiba berteriak tadi.Tapi jangan lakukan lagi teriakanmu itu membuat jantungku hampir lepas."
‘’Baik tuan Fabian."
‘’Sekarang aku mau kembali ke kamarku untuk beristirahat." Sebelum pergi Fabian menyempatkan diri melihat Miya yang masih terlihat gugup dengan situasi mereka tadi. Fabian hanya dapat menahan tawanya.
♪♪♪♪
Akhirnya pesta ulang tahun Isabella telah tiba . Miya sudah berdandan rapi dan siap pergi, sekali lagi ia mematut dirinya di depan cermin , setelah yakin akan penampilannya, Miya meraih tasnya hendak pergi, tapi sebelum pergi ia mengambil coklat dan memakannya.
Fabian telah tiba duluan di rumah keluarga O’Brian kedatangannya tentu saja menyedot perhatian para tamu. Terutama para wanita. Fabian berjalan dengan cepat dan penuh percaya diri melewati para tamu yang berdesakan di ruangan pesta, tidak mempedulikan orang-orang yang berusaha untuk menyapanya. Ia akan menolaknya secara halus dengan senyumannya. Ia menghampiri Anna dan Henry O’Brian serta putri mereka Isabella. Menyalami mereka bertiga. Fabian mengecup tangan Isabella dan memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadanya.
Isabella begitu sangat gembira, ketika bertemu dengan Fabian. Matanya tidak pernah lepas dari sosoknya. Ketika Fabian mengajaknya untuk berdansa sebentar Isabella langsung menyambutnya dengan sangat senang. Di kejauhan Sebastian memandang mereka dengan pandangan sedih. Saingannya sungguh berat dan ia sudah merasa kalah telak. Ia tidak mungkin dapat menyaingi Fabian Baskerville. Sekarang ia paham kenapa Isabella bisa jatuh cinta kepadanya, kemudian matanya mencari sosok Miya, hanya dengannyalah ia bisa mencurahkan isi hatinya.
__ADS_1
Sementara itu di Castalia mansion , Anna Marie salah seorang pelayan bagian laundry menemukan Miya tergeletak dilantai dengan napas sesak, ketika ia bermaksud mengantarkan pakaian bersih. Spontan pelayan itu menjatuhkan pakaian yang dibawanya dan langsung mendekati Miya.
‘’Nona Miya, ada apa dengan Anda? Apa yang terjadi." Miya tidak menjawab , tidak lama kemudian gadis itu langsung tidak sadarkan diri. Anna Marie terlihat sangat panik dan mengguncang-guncang tubuhnya. Tapi Miya tetap tidak sadarkan diri [ ].