My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S2): Liburan


__ADS_3

Lalu mereka pergi ke tempat golf di mana salah satu kenalannya bernama Christian Graham, sering menghabiskan waktu luangnya dengan bermain golf.


"Halo Tuan Graham apa kabar?’’


"Aku baik. Sudah lama kita tidak bertemu. Aku dengar akhir-akhir ini kesehatanmu kurang baik."


"Anda benar kesehatanku memang sedang kurang baik. Tidak lama lagi aku akan menyerahkan semua pekerjaan dikantor pada anakku. Oh ya, kenalkan ini Fabian. Dia adalah calon penerusku."


"Fabian. Senang bisa bertemu Anda,’’kata Fabian sambil mengulurkan tangannya.


Mereka berdua bersalaman. Andrew hanya tersenyum.


"Kamu anak yang sangat tampan. Ayahmu begitu mempercayaimu untuk menjadi calon penerusnya."


"Aku akan berusaha dengan segala kemampuanku."


"Pasti kamu akan menjadi direktur yang sangat hebat. Aku percaya itu."


"Terima kasih."


" Tuan Baskerville, anak Anda kelihatannya akan menjadi seorang direktur yang akan disegani oleh banyak orang."


"Tentu saja karena aku mendidik dia supaya dia dapat meneruskan dan mengembangkan perusahaanku."


" Fabian, bagaimana kalau kita bermain golf sama-sama?’’


" Baiklah."


Fabian dan Tuan Graham bermain golf dengan serius sampai matahari mulai terbenam, kemudian mereka mengakhiri permainan golf mereka dengan hasil Fabian memenangkan permainan.


"Permainan golfmu bagus. Aku kalah darimu. Siapa yang mengajarimu?’’


"Tidak ada yang mengajariku. Aku belajar sendiri."


"Kamu memang hebat,"katanya sambil menepuk punggung Fabian.


Tuan Graham menjauh dari Fabian dan berbicara dengan asistennya. Andrew mendekati Fabian dan berjalan di sampingnya.


"Sepertinya Tuan Graham menyukaimu. Itu bagus. Aku ingin kamu membina hubungan yang baik dengannya. Mungkin suatu hari nanti kalian akan saling membutuhkan."


"Baik."


Fabian dan Andrew berjalan mendekati Tuan Graham.


" Kami mau permisi pulang."


"Baiklah, tapi kalian boleh pulang setelah makan malam denganku. Bagaimana?’’


"Baiklah. Aku terima undangan makan malam Anda."


Mereka meninggalkan lapangan golf dan menuju restoran yang masih berada di kawasan lapangan golf. Pelayan restoran mengantarkan mereka ketempat duduk dan mereka mulai memesan makanan.


" Fabian, sekarang kamu kelas berapa?’’


"Aku baru saja lulus."


"Benarkah? Itu bagus."


"Fabian lulus dengan nilai terbaik."


"Hebat. Pasti Anda sangat bangga pada Fabian, benarkan?’’


"Tentu saja karena dia satu-satunya anak laki-lakiku yang aku punya."


Tidak lama kemudian makanan datang dan mereka langsung menyantapnya.


"Makanan ini enak sekali,’’kata Tuan Glimer tiba-tiba.


"Iya memang enak. Tapi masakan di rumahku lebih enak, karena kami mempunyai koki terbaik," kata Andrew


"Benarkah? Kalau begitu kapan-kapan aku harus mencicipi masakan koki yang ada di rumah Anda."


"Tentu saja dengan senang hati. Pasti Anda akan ketagihan setelah mencicipi masakan koki kami."


‘’Hahahahaha....’’


"Aku dengar sekarang Kenndrick Industries sedang memperluas bisinis mereka. Mereka memang hebat dan aku dengar kalau mereka adalah saingan terberat Anda, Tuan Baskerville."


"Itu benar. Mereka adalah saingan terberat keluargaku."


Akhirnya mereka menyelesaikan makan malam mereka dan mereka berpamitan untuk pulang.


💔💔💔


Bulan April telah tiba. Fabian membuka pintu jendela kamarnya. Angin musim semi langsung berhembus masuk kedalam kamarnya. Langit pun sangat cerah.


Tok...tok....tok....


"Masuk!’’


"Maaf tuan. Mobil sudah siap."


"Terima kasih. Aku akan turun sebentar lagi."


"Baik."


Pelayannya pergi dan menutup pintu kamar. Fabian masih berdiri di balkon kamarnya menghirup udara pagi di musim semi.


"Semoga cuaca hari ini sangat cerah, sehingga liburan kami akan menyenangkan,"gumamnya.


Fabian mengambil tasnya di atas tempat tidur dan turun ke bawah.

__ADS_1


"Kamu akan pergi sekarang?’’


"Iya ayah."


"Hati-hati di jalan," kata ibunya.


Fabian telah tiba di bandara dan melihat Gilbert sedang berbicara dengan Clarissa.


"Halo Gilbert, Clarissa!’’


Gilbert langsung memeluk Fabian.


"Apa kabar kalian berdua?’’


"Aku baik-baik saja,’’Kata Gilbert.


"Aku juga baik,’’kata Clarissa.


"Fabian, sahabatku tercinta bagaimana kabarmu?’’


"Aku baik."


"Kenapa kamu tidak menghubungiku selama seminggu ini?’’


"Maaf. Aku sangat sibuk."


"Sudah kuduga."


"Yang lainnya mana. Apa mereka belum datang? Sebentar lagi tiba waktunya untuk check in."


"Sepertinya belum, tapi Tuan Jhonson sudah datang. Sekarang dia sedang pergi ke toilet."


Beberapa menit kemudian murid lainnya datang secara bersamaan dan Tuan Jhonson juga sudah kembali dari toilet.


"Maaf kami datang terlambat."


"Syukur kalian datang tidak begitu terlambat. Fabian, cepat kamu absen mereka satu persatu,’’kata Tuan Jhonson.


"Baik."


Fabian mulai mengabsen teman-teman sekelasnya dan semua temannya sudah datang, kemudian mereka masuk check in.


Setelah menunggu mereka masuk ke pesawat. Fabian dan Gilbert duduk di kursi ke empat dari depan di sebelah kanan, sedangkan Clarissa duduk di belakang Fabian dan Gilbert. Selama dalam perjalanan Fabian terus membaca buku novel berjudul The Dante Club, sedangkan Gilbert tidur . Setelah menempuh perjalananan yang cukup lama, akhirnya mereka tiba di Los Angeles.


Setengah jam kemudian mereka tiba di hotel yang dikelilingi oleh gunung dan juga hutan. Pemandangan disekitar hotel sangat indah. Udara segera selalu berhembus. Setelah Tuan Jhonson chek in dan membagikan nomor kamar pada murid-muridnya. Fabian dan Gilbert mendapatkan kamar yang sama. Sebenarnya Gilbert memaksa Tuan Jhonson agar dia dan Fabian tidur dalam satu kamar, karena sepertinya tidak ada murid laki-laki yang tidak ingin tidur sekamar dengannya.


"Kita beruntung mendapatkan kamar dengan pemandangan yang sangat bagus. Bahkan aku bisa mencium bau pohon dan tanaman lain disini,"kata Gilbert.


Fabian masih sibuk membereskan barang-barangnya dan tidak menghiraukan Gilbert.


"Fabian, lihat itu!’’


Dilihatnya Fabian sedang berbaring di tempat tidur. Gilbert menarik lengan Fabian dengan paksa, tapi Fabian menepisnya dan tidak mau bangun.


Gilbert terus menarik lengan Fabian dan akhirnya Fabian menyerah dan mengikuti Gilbert ke balkon.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu tunjukkan kepadaku."


"Lihat itu!’’


Fabian bingung apa yang ditunjukkan Gilbert dengan jari telunjuk mengarah ke atas.


"Aku tidak lihat apa-apa."


"Perhatikan tanganku. Lihat diatas bukit tinggi itu. Kau lihat di sana ada sebuah mansion putih yang menjulang tinggi."


"Iya aku lihat. Memangnya ada apa dengan mansion itu? Tidak ada yang aneh dengan itu."


"Ah kamu ini. Menurut yang aku dengar di sini ada mansion putih mewah dan katanya pemilik mansion itu adalah pembuat boneka yang mirip dengan manusia dan merupakan kerajinan tangan yang terkenal di sini. Apa kamu ingin membelinya satu?"


‘’Aku tidak ingin membeli boneka. Aku tidak tertarik."


Fabian membalikkan badannya dan berbaring lagi di tempat tidur. Gilbert juga kemudian berbaring ditempat tidurnya.


💔💔💔


Gilbert melihat Fabian yang sedang memandang langit-langit kamar dengan pandangan kosong.


" Fabian kenapa kamu tidak terima saja perasaan Clarissa. Dia itu mencintaimu. Dia cantik dan juga baik. Menurutku kalian adalah pasangan yang sangat serasi."


" Kamu benar dia cantik dan juga baik, tapi aku tidak mencintainya. Jantungku tidak berdetak kencang saat berada di dekatnya. Aku tidak merasakan getar-getar cinta dengannya."


"Sepertinya kamu tidak ada waktu untuk memikirkan cinta saat ini. Di otakmu sudah dipenuhi oleh pekerjaan "


"Bukan begitu. Hanya saja aku masih belum menemukan belahan jiwaku yang sebenarnya."


"Belahan jiwa? Apa kamu percaya dengan itu?"


"Iya. Belahan jiwaku mungkin sekarang berada disuatu tempat yang keberadaanya belum aku ketahui. Kalau sudah saatnya aku bertemu pasti akan bertemu. Meskipun aku harus menunggunya selama bertahun-tahun."


"Ternyata kamu percaya tentang keberadaan belahan jiwamu.


"Kamu suka dengan Clarissa?’’


Wajah Gilbert langsung merona merah dan terlihat gugup. Fabian tersenyum nakal.


"Kalau dilihat dari sikapmu dan cara kamu memperhatikannya, aku rasa kamu memang menyukainya. Apa yang akau katakan salah?’’


"A..a..aku tidak menyukainya."


"Ayolah Gilbert jangan bohong. Akui saja kalau kamu menyukainya. Apa kamu tidak berani mengakuinya, karena dia menyukaiku?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa kalau aku menyukainya?’’


"Tentu saja tidak apa-apa. Kenapa kamu harus minta izin kepadaku dulu, kamu bebas untuk mencintainya."


"Aku yakin dia akan langsung menolakku begitu aku menyatakan perasaanku padanya, karena dia jelas-jelas mencintaimu."


Tok....tok....tok...


"Fabian...Gilbert."


"Tuan Jhonson,’’kata mereka bersamaan.


Fabian dan Gilbert langsung bangun dan Gilbery membukakan pintu dan guru mereka masuk ke dalam.


"Sekarang waktunya kita jalan-jalan. Fabian kamu ketua rombongan bersiap-siaplah. Aku tunggu kalian di bawah."


"Baik,’’kata mereka bersamaan lagi.


Fabian dan Gilbert sudah berada di lobi hotel. Tuan Jhonson dan teman-temannya sudah menunggu. Fabian melihat Clarissa. Dia memakai celana selutut dan kaos berwarna abu-abu di padu dengan kardigan lengan panjang yang sewarna. Dia terlihat sangat cantik .Masumi melihat Gilbert terus memperhatikan Clarissa.


"Gil, Clarissa terlihat sangat cantik hari ini,’’bisik Fabian ditelinga Gilbert.


Wajah Gilbert langsung memerah.


"Aku tahu. Tapi kelihatannya dia terus memperhatikanmu,’’bisik Gilbert sedih.


"Aku akan memberikan kesempatan untuk kalian berdua. Aku akan menghilang sebentar dari kalian supaya kalian bisa berduaan."


"Terima kasih."


Fabian dan Clarissa mulai memandu teman-temannya jalan-jalan di Los Angeles. Menaiki gunung yang tidak terlalu tinggi dan melihat pemandangan alam dari sana. Mereka istirahat dan makan siang di sana. Fabian, Clarissa, dan Gilbert makan bersama di satu tempat. Fabian menyadari kalau Clarissa selalu mencuri-curi pandang pada dirinya.


"Hei Fabian, Emika kalian dengar tidak?’’


"Dengar apa?’’kata Fabian heran.


"Suara tadi."


"Suara?’’kata Fabian masih menatap Gilbert heran.


"Iya suara apa yang kamu maksud. Aku tidak mendengar apa-apa,’’kata Clarissa.


‘’Suara jeritan seseorang. Apa kalian tidak mendengarnya?’’


"Kam jangan membuatku takut, Gil’’kata Clarissa sambil merapatkan diri pada Fabian.


Fabian merasa tidak nyaman Clarissa terus merapat pada tubuhnya apa lagi tangannya memeluk lengannya dengan kuat.


Aku benar-benar mmendengarnya."


"Mungkin itu hanya suara angin,’’kata Fabian dengan suara dingin.


"Masa angin punya suara. Coba pejamkan mata kalian dan dengarkan baik-baik."


Mereka bertiga memjamkan mata dan memasang telinga baik-baik dan tidak lama kemudian  terdengar suara jeritan panjang dan keras. Semua teman-temannya yang sedang makan siang terlonjak kaget.


"Apa itu?’’kata salah satu murid perempuan.


Mereka semua langsung berdiri dan mencari asal sumber suara tadi, kemudian jeritan terdengar lagi. Jeritan itu terdengar sangat menyakitkan.


"Fabian lihat itu. Aku yakin suara itu berasal dari mansion putih itu."


Dari atas bukit Fabian dapat melihat jelas  mansion putih itu . Mansion itu dikelilingi oleh pohon spruce , pohon wisteria yang bermekaran dan memiliki pagar gerbang putih yang sangat tinggi dan halamannya teratur dengan sangat rapi. Fabian tidak percaya kalau jeritan tadi berasal dari mansion itu. Menurutnya mansion itu tidak seseram yang dikatakan oleh orang-orang. Memang tempatnya sangat jauh dari rumah-rumah penduduk disekitar sini.Para murid terlihat ketakutan.


"Anak-anak tenang. Kalian jangan takut,’’ kata Tuan Jhonson berusaha menenangkan muridnya.


"Aku pernah dengar cerita kalau di sini ada mansion seram dan sering terdengar jeritan-jeritan dan katanya mansion itu berhantu,’’ kata salah satu murid laki-laki.


"Hiiiiiiiiiiiii........’’ kata mereka bersamaan.


Fabian mendekati mereka .


"Mana ada hantu di siang hari begini. Kalian jangan berpikir yang macam-macam."


"Kalau bukan hantu apa ?’’


"Mana aku tahu. Mungkin itu hanya jeritan orang yang kesakitan."


"Temanku yang tinggal di sini pernah mengatakan pada tengah malam suara jeritan itu terdengar sangat jelas sekali dan ada beberapa mobil yang menuju ke mansion itu, karena penasaran temanku pergi ke mansion itu dan melihat mereka berpakaian aneh. Mereka memakai jubah hitam dengan penutup kepala. Seperti orang yang akan melakukan ritual."


"Ritual yang seperti dilakukan oleh penyihir?’’kata Gilbert yang sangat antusias mendengar cerita teman perempuan di kelasnya.


"Iya. Seperti itulah. Aku tidak tahu apa itu benar atau tidak. Aku hanya mendengarnya dari temanku."


" Mansion itu tempat tinggal seorang pengerajin bonekan terkenal di sini,"kata Gilbert.


Fabian kembali melihat mansion itu denga tatapan keingintahuan. Ia lalu mengambil teropong yang ada ditas ranselnya.


" Fabian, apa yang kamu lihat di sana?’’


"Aku lihat ada sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan pintu gerbang dan dari mobil itu keluar seorang kakek tua dan seorang gadis cantik dan wajahnya terlihat pucat. Gadis itu sepertinya masih duduk di SMU.


Mereka berdua masuk dan gadis itu terlihat ketakutan ketika akan memasuki mansion itu.Pintu masuk terbuka. Di sana ada seorang pembantu yang sudah tua menyuruh mereka masuk dan mereka hilang di balik pintu itu."


‘’Tamu? Siapa yang mau bertamu ketempat yang seram itu," kata Clarissa


"Mana aku tahu,"jawab Fabian. " Ah mungkin mereka mau membeli boneka atau tamu dari pembuat boneka itu."


"Sebaiknya kita pergi dari sini,’’kata Fabian kepada teman-temannya.


"Kamu benar sebaiknya kita pergi dari sini dan kita pergi ketempat yang lebih menyenangkan."

__ADS_1


Mereka dengan cepat membereskan barang-barang mereka. Fabian kembali memandu mereka mengunjungi tempat-tempat lainnya. Di sepanjang jalan bunga-bunga wisteria bermekaran dan kelopak bunganya berguguran tertiup angin. Pemandangan yang indah.


Akhirnya mereka berhenti ditempat tujuan akhir perjalanan mereka. Mereka pergi kesebuah danau. Di sana banyak orang. Ada yang menancing, ada yang berperahu atau hanya duduk-duduk saja disekitar danau. Danau itu dikelilingi oleh pohon wisteria yang sedang bermekaran dan bunganya berjatuhan ke danau. [ ]


__ADS_2