
Miya menutup pintu kamarnya dengan kesal , lalu berbaring di tempat tidurnya dan ia benci harus dihadapkan kepada situasi ini. Miya menatap kosong ke langit-langit kamarnya ingin sekali mempercayai setiap perkataan pamannya tadi, tapi sulit sekali. Sekarang ia di pusingkan oleh kedatangan Ryusuke yang tiba-tiba memintanya untuk kembali .
Besok paginya Miya bangun kesiangan dengan wajah kusut dan lesu, karena ia baru bisa tidur menjelang subuh memikirkan bagaimana cara menghadapi kedua pria itu yang sekarang membuat hidupnya pusing. Cepat-cepat ia turun dari tempat tidurnya, berjalan mondar mandir tidak karuan di kamarnya mengambil pakaian , membereskan tas, balik lagi ke lemari lupa membawa pakaian dalam. Mary Jane datang membawakan sarapan pagi. Pelayan itu heran melihat kesibukan Miya .
Mary Jane mendapat tatapan jengkel dari Miya .’’Kenapa kamu tidak membangunkan aku? Biasanya kamu selalu membangunkan aku pagi-pagi. Hari ini aku pasti akan datang terlambat ke perkuliahan."
"Maafkan saya nona Miya. Saya tadi tidak tega membangunkan Anda yang sedang tidur nyenyak, lagi pula hari ini adalah hari Sabtu dan hari ini tidak ada perkuliahan."
Miya terdiam sebentar dan baru menyadari kalau hari ini hari libur. Ia mendesah lega.’’Seharusnya kamu mengatakannya dari tadi."Mary Jane hanya tersenyum.
Setelah berpakaian rapi dan sarapan pagi di kamarnya, Miya turun dan suasana mansion begitu terlihat sepi di pagi itu. Pamannya pun tidak terlihat batang hidungnya sedikit pun. Miya mendesah kenapa juga ia harus mempedulikan keberadaan pamannya sekarang.
Suara bel pintu yang menggema membuatnya terkejut dan Edgar langsung menuju pintu depan dan kepala pelayan itu mendekati Miya yang berada di kaki tangga utama.’’Seorang pria yang bernama Ryusuke ingin bertemu dengan Anda." Miya membelalakkan matanya tidak percaya.
"Apaaa?’’
Miya segera melihat ke monitor di dekat pintu dan benar saja Ryusuke berada di depan sedang menunggunya.
"Apa Anda akan menerimanya atau tidak?’’
"Suruh dia masuk! Suruh dia menemuiku di ruang tamu."
"Baik."
Di ruang tamu Miya duduk dengan sesantai mungkin menunggu kedatanga Ryusuke. Ia ingin tahu apa yang di inginkannya sampai datang ke sini. Tidak lama Ryusuke akhir muncul dengan senyuman cerianya dan ia memberikan Miya sebuket mawar merah untukknya. "Selamat pagi, Miya chan!’’sapanya.
Miya langsung berdiri begitu Ryusuke muncul ." Pagi! Ada apa datang ke sini pagi-pagi?’’tanya Miya ketus, tapi Ryusuke hanya tersenyum dan dengan cepat ia berjalan ke arahnya dan langsung memeluk Miya membuat gadis itu terkejut.
"Karena aku merindukanmu, sayang."
"Lepaskan aku, Ryu!’’
"Tidak. Sebelum kamu mengatakan kau mau berkencan denganku hari ini."
‘‘Aku tidak ingin kencan dengan siapa pun." Ryusuke menatap Miya dengan dingin, lalu melepaskan pelukannya.
‘‘Kenapa kamu jadi begini? Kamu sudah banyak berubah."
‘‘Ryu, apa kamu masih ingat apa yang aku katakan kemarin?‘‘
__ADS_1
‘‘Tentu. Aku masih ingat. Kamu mengatakan kalau kamu tidak ingin kembali kepadaku, tapi aku tidak ingin mempercayainya."
‘‘Bagus kalau kamu masih ingat. Sekarang pulanglah ke Jepang, karena aku tidak ingin berurusan lagi denganmu,‘‘ucap Miya dengan sinis.
‘‘Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?‘‘
‘‘Iya. Harus berapa kali aku mengatakannya kepadamu,‘‘ucapnya kesal, sedangkan Ryusuke menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
Ada sembrurat rasa marah dan kecewa di mata coklat Ryusuke.‘‘Pasti ada pria lain kan? Katakan!‘‘teriaknya sambil mencengkeram kedua bahu Miya dengan kencang dan gadis itu meringis kesakitan.
‘‘Tidak ada pria lain."Ryusuke berjalan menjauh menghadap jendela dan Miya memegangi bahunya yang masih kesakitan sambil menatap Ryusuke yang terlihat sedih. Perasaan kecewanya sangat terlihat jelas di wajahnya.
‘‘Aku kira selama ini kamu masih mencintaiku dan kita dapat memulainya lagi dari awal, tapi ternyata aku salah." Ryusuke membalikan badannya dan kembali berdiri berhadapan dengan Miya dengan tatapan penuh rasa bersalah .’’ Ini salahku telah membiarkanmu pergi dariku. Maafkan aku."
‘‘Aku sudah memaafkanmu."
‘‘Apa tidak ada kesempatan lagi untukku?‘‘
‘‘Tidak. Maaf."
Ryusuke mengepalkan kedua tangannya.‘‘Aku mengerti. Apa kau mau menemaniku berjalan-jalan dan makan siang bersamaku? Ini permintaan terakhirku. Aku mohon." Ryusuke menatap Miya dengan tatapan penuh harap. Selama sesaat Miya ragu dan ia pun mengabulkannya. Ini akan menjadi kencan terakhirnya dengan Ryusuke dan tidak ada salahnya.
‘‘Terima kasih Miya chan."
Miya mengangguk dan langsung pergi menuju kamarnya. Lima menit kemudian Miya telah kembali muncul di ruang tamu. Tepat saat mereka akan keluar, Fabian berdiri di anak tangga paling atas menatap keduanya dengan tatapan sedingin es dan matanya mengikuti setiap langkah mereka menuju pintu keluar. Sekilas Miya melihatnya dengan masih perasaan kesal, lalu ia memalingkan wajahnya dan bergelayut manja ke lengan Ryusuke.
Edgar memberi salam ketika di lihatnya Fabian menuruni tangga. Pandangan matanya masih tertuju pada pintu yang sudah tertutup dengan pandangan matanya yang kelam. Hati Fabian tidak rela melihat Miya akan pergi ke pelukan pria lain meskipun tidak ingin mengakuinya bahwa Miya mungkin saja masih mencintai Ryusuke . Ia sungguh bodoh mengharapkan Miya akan membalas cintanya. Gadis itu tidak pernah mencintainya.
Ia akan merelakan Miya bersama Ryusuke, jika itu membuat gadis itu bahagia. Kali ini ia harus merelakan cintanya pergi selamanya dari hidupnya . Apa ia bisa melakukannya? Apa ia sanggup jika harus kehilangan Miya selamanya? Fabian menghela napas panjang. Ia sudah tahu jawabannya kalau ia tidak akan sanggup melakukannya. Sepertinya ia harus berusaha lebih keras untuk mendapatkannya. Fabian melihat jam tangannya hendak akan pergi menyusul Miya dan Ryusuke, tapi suara Edgar menahan kepergiannya.
"Maaf tuan Fabian ada telepon dari nyonya Rosalie."
"Ibu? Berikan teleponnya padaku." Edgar segera memberikannya dan Fabian langsung berjalan menuju ruang keluarga. "Ini Aku."
"Apa benar kamu sudah membatalkan pernikahanmu dengan Isabella?’’tanya ibunya dengan suara marah.
"Itu benar."
"Tapi kenapa? Ibu kira selama ini hubungan kalian baik-baik saja. Kamu sudah membuat malu ibu dan ayahmu. Baru saja orang tua Isabella yang mengatakannya kepada ayahmu dan ayahmu sangat marah."
__ADS_1
"Maafkan aku, tapi aku tidak mencintainya dan tidak akan pernah bisa c
"Sayang sekali. Padahal kami mengharapkan kamu akan segera menikah kembali atau jangan-jangan kamu berencana untuk tidak menikah lagi."
"Aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai."
"Apa sekarang kau sudah memilikinya?’’
Fabian tersenyum tipis.’’Kalau sudah waktunya aku akan memberitahu kalian semua dan aku akan membawanya kepada kalian." Fabian mendengar desahan pasrah ibunya dari seberang telepon.
‘‘Baiklah ibu mengerti dan ibu akan bicara dengan ayahmu."
‘‘Terima kasih, Bu."
‘‘Bagaimana keadaan Miya sekarang?‘‘
‘‘Miya baik-baik saja."
‘‘Syukurlah. Ibu belum sempat untuk menemuinya di sana dan ibu ingin sekali bertemu dengannya. Faby, pastikan Miya ikut denganmu saat pertemuan keluarga nanti dan apa kau tahu kakak sepupumu Joshua juga akan hadir."
‘‘Tentu. Aku tahu. Joshua sudah memberitahukan kedatangannya kepadaku dan Miya dipastikan akan ikut denganku."
‘‘Baiklah. Ibu tunggu kedatangan kalian." Fabian mematikan teleponnya, ketika Edgar datang memberitahunya ada seorang kurir mengantarkan bunga untuknya. Fabian nampak bingung tidak biasanya ada seseorang yang mengantarkan bunga untuknya.
‘‘Suruh kurir itu masuk!‘‘
‘‘Baik tuan Fabian."
Edgar sudah menerima bunga itu, lalu memberikannya kepada Fabian. Satu buket bunga lily yang membuatnya tersentak kaget.‘‘Terima kasih Edgar." Kepala pelayan itu membungkuk lalu pergi.
Fabian membaca kartu yang terselip di antara bunga tulip dan kartu itu tercium bau parfum almarhum istrinya. Fabian kemudian membacanya dengan pelan.
Halo Fabian! Masih ingat aku? Aku akan segera datang menemuimu
Fabian mengernyitkan dahinya. Bingung. Berkali-kali ia membolak-balik kartu itu untuk mengetahui siapa yang mengirimnya. Jantungnya berdetak kencang." Tak mungkin, jika Clarissa yang mengirimnya. Dia sudah meninggal,"gumamnya.
Fabian kemudian dikagetkan oleh suara pesan masuk dari ponselnya dengan cepat ia membacanya. Pesan itu berasal dari sekretarisnya Gilbert untuk menyuruhnya segera menemui Patricia Latimer di sebuah restoran yang berada tidak jauh dari central park. Patricia adalah salah satu putri dari partner bisnisnya Stephen Latimer . Dia mewakili ayahnya untuk mentanda tangani sebuah kontrak kerja sama penting pembangunan hotel di kawasan Brooklyn. Ia hampir saja melupakan pertemuan itu, jika Gilbert tidak mengingatkannya melalui pesan.
Selama ini Fabian tidak pernah melupakan janji penting yang dibuatnya. Gara-gara masalah Ryusuke yang mencoba kembali mendekati Miya, ia melupakan pertemuan pentingnya dengan klien. Ia segera bergegas pergi ke kamarnya dan berganti pakaian. [ ]
__ADS_1