
Miya berada di sebuah ruangan di mana dokter sedang berusaha untuk menyelamatkan hidup Miya. Dokter mengatakan Miya keracunan yang berasal dari coklat yang dimakannya. Anna Marie terisak menangis disamping Edgar .’’Kasihan nona Miya. Apa tuan Fabian masih belum dapat dihubungi?’’
‘’Belum. Mungkin tuan Fabian sedang sibuk dengan pesta yang dihadarinya. Semoga saja ia cepat kembali ke rumah’’. Anna Marie hanya mengangguk sedih, kemudian pelayan itu menghampiri Mary Jane yang sedang berdiri di depan ruangan yang tertutup di mana Miya sedang diperiksa oleh dokter , memperhatikannya dengan ekspresi datar. Sejak Miya ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri pelayan itu tidak bicara sama sekali, menangis pun tidak. Anna Marie menoleh ke belakang dan hanya menerima gelengan kepala dari Edgar. Pelayan itu kembali menjauh dan kembali duduk di sampingnya.
Hujan rintik-rintik turun ketika mobil yang dikendarai Fabian mulai memasuki halaman mansion pada pukul 10 malam. Sebelum turun dari mobilnya , ia menyandarkan tubuhnya di kursi sebentar, gurat-gurat lelah terlihat jelas di wajahnya. Ia membayangkan mandi dengan air hangat malam ini akan terasa nikmat dan akan membuat tubuhnya menjadi segar kembali. Pria itu sudah tidak ingin memikirkan lagi kejadian di pesta ulang tahun Isabella yang cukup menguras emosinya dan rasa bersalah kepada gadis itu.
Isabella begitu cantik dan anggun. Hampir semua mata tertuju kepadanya terutama para pria dan mereka memandang iri kepadanya, ketika Fabian mempunyai kesempatan berdansa dengannya. Setelah berdansa, gadis itu menolak dengan halus untuk berdansa dengan para pria lainnya dan yang membuatnya terkejut, Isabella dengan keberaniannya mengatakan kalau ia sudah jatuh cinta kepadanya .Sepanjang pesta berlangsung, gadis itu terus menempel kepadanya. Itu membuat Fabian merasa jengah.
Fabian mengakui gadis itu adalah gadis pemberani dan kuat juga keras kepala. Isabella mengingatkannya kepada adik sepupunya Blinda Chiara yang sudah lama ia tidak temui selama dua tahun terakhir ini yang sudah ia anggap sebagai adik perempuannya dan itu yang dirasakan Fabian terhadap Isabella, tapi gadis itu tidak mau menerimanya dan memaksanya supaya berusaha untuk mencintainya juga. Tujuan Fabian datang kesana selain untuk menghadiri pesta ulang tahun sekaligus untuk menolak perjodohannya dengan gadis itu. Tanpa di duga gadis itu menangis histeris ketika ia menolaknya, bahkan gadis itu tidak perduli jika Fabian mengatakan kalau ia sudah mempunyai wanita yang disukainya.
Isabella terang-terangan mengatakan, ia akan bersaing dengan adil dengan wanita yang Fabian sukai. Selama Fabian masih belum terikat pernikahan , ia akan terus berusaha mendapatkan hatinya meskipun pria itu sudah mengatakan kalau itu akan sia-sia, tapi Isabella tetap tidak peduli. Gadis itu tetap meminta izin Fabian untuk mendekatinya dengan tatapan penuh permohonan. Isabella sungguh keras kepala. Tidak ada gunanya berdebat dengannya. Akhirnya Fabian menyerah dan membiarkan gadis itu berbuat sesuka hatinya, karena Fabian yakin Isabella akan lelah dengan sendirinya dan akhirnya menyerah untuk menjauhinya.
Angin malam begitu dingin diiringi rintik-rintik hujan, ketika Fabian keluar dari mobil. Pria itu tersenyum ketika melihat ke arah kamar Miya yang gelap dan disangkanya Miyanya sudah terlelap tidur. Sambil bersiul ringan Fabian berjalan memasuki mansionnya. Seorang pelayan membukakan pintunya. "Selamat malam tuan Fabian! Kami sudah menunggu kedatangan Anda dari tadi,’’kata pelayan yang bernama Petrick wakil kepala pelayan dengan wajah cemas.
‘’Menanti kedatanganku?’’tanyanya heran.’’Memangnya ada apa?’’
‘’Nona Miya masuk rumah sakit."
‘’Apaaaa?’’serunya terkejut.’’Apa yang terjadi dengannya?’’tanyanya panik.
‘’Nona Miya keracunan makanan dan sekarang kondisinya tidak baik. Kami berusaha untuk menghubungi Anda, tapi ponsel Anda selalu tidak aktif."
Fabian merasa saat itu juga jantungnya serasa berhenti berdetak dan pikirannya kosong seolah jiwanya melayang entah kemana. Ia pun langsung pergi lagi tidak mempedulikan hujan yang mulai deras . Tiba di rumah sakit Fabian masih mengenakan pakaian pestanya. Di sana ia melihat Edgar ,kedua pelayannya dan juga Gilbert sedang duduk. Mereka berempat langsung berdiri ketika Fabian datang. ‘’Di mana Miya? Dimana dia?’’tanya Fabian dengan linglung.
Gilbert menatap sahabatnya dengan pandangan sedih. Ia tahu Fabian begitu mencintai Miya . "Tenang Faby . Miya ada di dalam . Dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawanya,’’ jawab Gilbert. Wajah Fabian menjadi pucat.
‘’Apa yang terjadi dengannya?’’tanya Fabian dengan suara berat dan lirih.
‘’Nona Miya keracunan coklat,’’jawab Anna Marie sambil menghapus air matanya yang tidak mau berhenti.’’Saya menemukan nona Miya tergeletak di lantai kamarnya,’’katanya kemudian sambil menangis terisak. Fabian menatap pelayannya dengan pandangan tidak percaya. Tubuhnya terasa lemas dan jalanannya pun menjadi sempoyongan .
__ADS_1
Gilbert membantunya duduk . Ia berdoa dan berharap tidak terjadi hal buruk kepada Miya, kalau tidak ia yakin sahabatnya ini akan menjadi gila. Baru saja Fabian mengenal cinta lagi rasanya tidak adil jika harus kehilangan cintanya sekali lagi.
Ruangan pemeriksaan terbuka. Dokter dan perawat keluar. Fabian langsung berdiri dan mencengkeram kedua tangan dokter.’’Bagaimana keadaannya? Apa Miya baik-baik saja?’’tanyanya dengan tidak sabaran.
"Miya sekarang baik-baik saja, tapi keadaannya sekarang masih lemah. Untung segera dibawa ke sini kalau telat mungkin nyawanya tidak tertolong lagi."
Fabian bernapas lega. ‘’Terima kasih." Lalu dokter itu pergi.
‘’Syukurlah nona Miya tidak apa-apa,’’kata Anna Marie dengan perasaan senang dan lega sambil menghapus air matanya.
Miya terlihat tenang dan nampak damai dalam tidurnya. Kamar itu hening hanya terdengar suara dari monitor memantau detak jantungya. Fabian menatapnya pilu, lalu ia duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur. "Aku akan menemaninya disini. Kalian pulanglah!’’
‘’Baik . Tuan Fabian. Saya akan segera menyuruh seseorang untuk mengantarkan pakaian ganti untuk Anda."
‘’Terima kasih Edgar." Edgar mengajak Anna Marie dan Mary Jane untuk pulang. Sebelum meninggalkan kamar, Mary Jane sekali lagi melihat Miya masih dengan tatapan datar dengan sorot matanya yang tidak terbaca.
‘’Aku juga akan pulang. Sampai jumpa besok,’’kata Gilbert. Fabian hanya mengangguk. Sekarang hanya tinggal mereka berdua. Fabian meraih tangan Miya, menciumnya dan membawa erat di wajahnya. Ia menyesal tidak bisa melindungi gadis yang dicintainya."Cepat bangun, sayang! Aku merindukanmu. Aku rindu suaramu dan teriakanmu dan juga merindukanmu, ketika kau marah-marah padaku. Itu lebih baik dari pada melihatmu diam seperti ini. Cepatlah sembuh, sayang!" Fabian menciumi tangan Miya. Ia beranjak dari kursinya, lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Miya dengan pelan dan selembut mungkin ia mengecup bibirnya.
♪♪♪♪
Perlahan-lahan Miya membuka matanya meskipun masih pusing. Gadis itu memergoki pamannya tertidur dikursi sambil memegangi tangannya. Ia tidak ingat, apa yang telah terjadi dengan dirinya. Ia hanya ingat akan bersiap-siap pergi ke pesta ulang tahun Isabella, lalu makan coklat dan setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi dan sekarang ia menyadari berada di rumah sakit.
Apa pun yang sudah terjadi dengan dirinya , Miya sangat berterima kasih kepada pamannya, karena sudah mencemaskannya dan mau menjaganya meskipun pamannya adalah pria kurang ajar yang pernah ditemui olehnya, tapi Miya yakin pamannya memiliki hati yang sangat baik. Diam-diam Miya mulai menyukai perhatian tidak lazim pamannya itu. Fabian tersenyum mesra, ketika melihat Miya sudah bangun keesokan paginya.’’Bagaimana keadaanmu, Miya sayang?’’tanyanya lembut sambil membelai keningnya sedangkan tangan satunya tetap mengenggam erat tangan gadis itu.
‘’Sudah lebih baik."Miya tersenyum . Senyuman Miya membuat pria itu terhenyak, karena itu senyuman termanis dan terindah yang diberikan Miya kepadanya. Diciumnya tangan gadis itu.’’Syukurlah. Kau sudah merasa baikan." Fabian bangkit dari kursinya, dikecupnya kening gadis itu. ‘’Kami semua sangat mencemaskanmu. Terutama aku." Ditatapanya gadis itu dengan pandangan sendu.
"Apa yang terjadi denganku?’’
"Kau tidak ingat?’’Miya menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
‘’Tidak."
"Anna Marie menemukanmu tergeletak di lantai kamar. Kau keracunan coklat."
"Coklat?’’
"Iya. Coklat yang kau makan ada racunnya dan untungnya Anna Marie cepat menemukanmu kalau tidak mungkin kau sudah..... mati."Fabian mengatakannya dengan suara tercekat.
"Coklat itu adalah coklat yang aku terima kemarin . Paman juga hampir memakan coklat itu. Kalau paman ikut memakan juga pasti paman juga akan keracunan. Untung waktu itu Mary Jane melarang paman untuk memakannya."
Lalu keduanya seakan tersadar oleh sesuatu.’’Mary Jane,’’kata mereka bersamaan. Fabian memicingkan matanya mencurigai sesuatu.
"Pasti Mary Jane tahu sesuatu tentang ini. Sebentar lagi aku akan pulang dan menanyainya,’’kata Fabian.
"Seharusnya aku tidak memakan coklat sembarangan apa lagi coklat itu tidak jelas asal usulnya,’’ucap Miya penuh penyesalan.
Terdengar ketukan dan seorang pelayannya datang membawakan pakaian ganti untuk Fabian. "Terima kasih, Bernice." Pelayan itu mengangguk. Fabian langsung masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Setelah Fabian tidak ada. Pelayan yang bernama Bernice dari bagian dapur mendekati Miya.
"Bagaimana keadaan Anda nona Miya?’’
"Sudah lebih baik."
"Syukurlah! Kami semua begitu panik kemarin malam." Tiba-tiba Bernice terlihat sangat kesal. "Kenapa bisa ada orang yang ingin membunuh Anda. Ini sungguh keterlaluan. Kalau saja saya tahu siapa yang menemukannya saya akan mencekiknya." Miya hanya tersenyum lemah.
Fabian dengan cepat sudah berpakaian rapih dan tersenyum kepada Miya ketika ia melihat gadis itu. Tanpa diketahui oleh Fabian hati Miya menghangat dan hatinya berdesir . Gadis itu mendesah dalam hati seandainya pamannya bukan orang yang menyebalkan pasti akan sangat menyenangkan.
"Bernice, tolong jaga Miya! Aku mau pulang setelah itu aku akan kembali lagi kesini."
‘’Baik."
__ADS_1
Fabian menghampiri Miya. ‘’Aku sudah memberitahu orang tuamu tentang keadaanmu dan mereka akan datang kemari secepatnya."Fabian kemudian mengecup keningnya.’’Aku pergi."Miya mengangguk dan memperhatikan pamannya menghilang dari balik pintu.
Sekali lagi Miya mendesah mulai ada perasaan aneh yang dirasakan olehnya saat berciuman dan bersentuhan dengan Fabian yang sangat ingin ia abaikan akhir-akhir ini yaitu perasaan indah di hatinya yang tidak dapat ia mengerti. Setiap Sentuhan Fabian di tubuhnya membuat dirinya merasa nyaman dan hangat dan ia menyukainya. Jatuh cinta. Gadis itu mengeleng-gelengkan kepalanya.Ia tidak boleh jatuh cinta kepada pamannya, karena ia masih merasakan ketakutan dalam hatinya kalau nanti ia akan kembali di khianati oleh seorang pria .Selain itu paman Fabian terlarang untukknya dan tidak mungkin memilikinya [ ].