
Perban di wajah Jodan pun dibuka. William dan Daniel merasa tidak sabaran dengan hasilnya. Setelah dokter selesai melepas perban di wajah Jodan, William sangat senang dengan hasilnya. Wajah Jodan sekarang sama dengan wajah Leonard.
"Luar biasa," seru William dengan wajah senang.
Daniel yang melihatnya merasa tidak percaya. Ia seperti melihat Leonard hidup lagi.
" Andre dan Silvia tidak akan menyadari bahwa Leonard adalah Jodan," kata William.
" Semoga saja, Ayah."
William mendekati Jodan yang sedang memandang cermin. Anak itu masih tidak percaya melihat wajahnya sendiri.
" Apa ini benar-benar aku?"tanyanya sambil memegangi wajahnya.
" Ya. Itu kamu. Mulai sekarang namamu adalah Leonard dan kami akan memanggilmu dengan nama itu."
" Leonard,"gumamnya.
" Selamat datang, Leonard!"kata William.
Satu minggu kemudian Jodan yang sekarang sudah berubah nama jadi Leonard pulang dari rumah sakit. Kedatangannya di mansion Clemonte membuat para pelayan terkejut, karena Leonard telah hidup kembali dalam wujud anak lain.
Awalnya Jodan belum terbiasa orang-orang memanggilmya Leonard, tapi setelah satu bulan berlalu, ia pun sudah terbiasa dengan panggilan itu. Selama ia tinggal bersama keluarga Clemonte, hidup Jodan merasa bahagia. Semua orang baik kepadanya, menyayanginya, dan mencintainya.
Jodan merasa takut dan gugup ketika William memberitahunya, orangtua angkatnya akan segera kembali besok lusa. Selama ini William menyuruh Jodan belajar bersikap seperti Leonard dan William juga memberitahunya tentang makanan kesukaan Leonard dan makanan yang tidak disukainya.
"Bagaimana kalau mereka tahu kalau aku bukan Leonard?"
" Sudah kukatakan berulang kali percayalah mereka tidak tahu."
Jodan mengangguk.
Hari kedatangan Andre dan Silvia pun datang. Mobil yang membawa mereka telah tiba di mansion. Jodan dan William menunggu mereka di depan pintu. Para pelayan juga menyambut kedatangan mereka.
" Selamat datang kembali Tuan Andre dan Nyonya Slivia!"seru para pelayan.
William memeluk putranya dengan suka cita setelah satu tahun mereka tidak bertemu.
" Aku senang Ayah sehat-sehat saja,"kata Andre.
Andre kemudian melihat Leonard di belakang William.
"Halo, sayang!"
"A-ayah."
Andre memeluk Leonard dengan penuh kerinduan. William tersenyum. Putranya tidak tahu itu bukan putranya. Rencananya berhasil. Andrew memperhatikan Andre yang sedang memeluk Jodan dan ia menghembuskan napas lega.
" Ayah sangat merindukanmu. Lihat kamu sudah besar sekarang. Ayah benar-benar sangat merindukanmu."
"Aku juga sangat merindukan Ayah."
Silvia yang sudah menahan kerinduan kepada Leonard langsung memeluknya, lalu menciumi wajahnya.
" Ibu sangat merindukanmu."
" Aku juga sangat merindukanmu, Ibu."
Silvia menghapus air matanya. " Kamu sudah besar. Apa kamu bersikap baik selama ini?"
" Aku selalu bersikap baik."
Silvia tersenyum. "Bagus." Silvia sekali lagi mencium kening Leonard.
" Aku ingin menyampaikan kabar baik kepada kalian,"kata Andre. Ia menggenggam tangan istrinya, lalu memandang Silvia sesaat.
" Kabar baik apa?"tanya William.
"Silvia sekarang sedang hamil," kata Andre.
Semua orang terkejut.
" Selamat untuk kalian berdua," kata William senang.
" Terima kasih, Ayah!"kata Silvia.
"Selamat ya. Aku senang kalian akan mempunyai anak lagi. Sudah waktunya Leonard mempunyai adik," kata Andrew.
" Terima kasih!"kata Andre.
" Apa kamu senang akan memilik adik?"tanya Silvia kepada Leonard.
" Aku sangat senang."
Silvia memeluk Leonard.
" Sebaiknya kita masuk ke dalam," kata William.
Mereka pun masuk dan rahasia mereka akan tetap tersimpan untuk selamanya itulah yang dipikirkan William pada saat itu.
💔💔💔
" Jadi namamu dulu adalah Jodan?"tanya Raina setelah suaminya selesai bercerita.
"Benar."
" Apa pada akhirnya orangtuamu tahu bahwa kamu bukan Leonard yang sebenarnya?"
" Tidak. Mereka tidak tahu sampai kematian mereka."
"Apa kamu tahu di mana orangtuamu sebenarnya?"
"Aku tidak tahu di mana mereka, karena aku tidak ada keinginan mencari mereka. Lagi pula aku sudah tidak peduli lagi apa mereka masih hidup atau tidak."
"Mungkin orangtuamu meninggalkanmu di panti asuhan ada alasannya."
" Alasannya mungkin aku menjadi beban mereka."
"Tidak ada salahnya kan kamu mencari mereka. Apa kami tidak merasa penasaran siapa orangtuamu dan di mana mereka?"
" Kadang aku memang penasaran siapa orangtuaku sebenarnya dan di mana mereka dan kenapa mereka meninggalkanku di panti asuhan. Satu-satunya petunjuk tentang keluargaku adalah liontin ini."
Leonard menunjukkan liontin yang terpasang di lehernya kepada Raina.
__ADS_1
"Liontin ini bagus sekali dan sepertinya ini emas asli."
" Ini memang emas asli."
Raina memperhatikan gambar burung elang yang terukir di liontin suaminya.
"Sepertinya keluargamu bukan orang biasa."
" Menurutmu begitu?"
"Iya."
Leonard memperhatikan liontinnya." Mungkin kamu benar."
Terdengar ketukan di pintu.
" Masuk!"
" Apa Ibu menganggu kalian?"
"Tentu saja tidak."
"Ada yang ingin ibu bicarakan dengan kalian."
Raina dan Leonard saling pandang.
💔💔💔
Luxemburg
"Kita harus menemukan anak itu?"kata seorang pria berumur 60 tahun bernama Michael.
"Sekarang anak itu sudah berumur 30 tahun,"kata pria bernama Lewis.
"Charlotte benar-benar tidak mau buka mulut. ke mana ia membawa pergi anak itu."
" Kenapa tidak kembali menanyainya mungkin wanita itu akan memberitahu di mana anaknya berada,"ujar Lewis.
" Kamu memang benar."
Michael dan Lewis menuju penjara bawah tamsh istana. Keadaan penjara itu ssngat lembab dan bau apak. Penerangannya remang-ramang. Mereka menuju penjara yang berada di ujung lorong. Di dalam penjara seorang wanita berumur 55 tahun yang sedang berbaring di tempat tidur kecil.
"Bangunlah Charlotte!"
"Paman Michael."
" Aku ingin kamu mengatakan di mana anakmu, Jodan berada."
"Aku tidak tahu," kaya Charlotte dengan suara lemah.
" Aku tahu kamu bohong. Mau sampai kapan kamu akan terus tutup mulut soal keberadaan anakmu itu."
Charlotte bangun, lalu duduk di tempat tidur. Wajahnya yang kusut menatap tajam lurus kepada pamannya yang sudah ia anggap sebagai ayahnya, tapi keegoisan dan keambisiusan sang Pamanlah yang membuat Charlotte kini membencinya, bahkan pria itu tega menyakiti keluarga yang dikasihinya.
" Sampai aku mati."
"Ayolah Charlotte! Katakan di mana dia! Aku janji kepadamu setelah mengatakan Jodan ada di mana, aku akan membebaskanmu dari sini."
"Aku sudah lelah terus-terusan seperti ini. 30 tahun sudah berlalu. CEPAT KATAKAN DI MANA JODAN," teriaknya.
"Pergilah!"
Michael membuka pintu penjara dan ia membawa Charlotte keluar.
"Andai saja kamu mau diajak bekerja sama, aku tidak perlu melakukan ini."
Michael membawanya ke ruang penyiksaan. Kedua tangan Charlotte diikat ke atas, lalu Lewis mencambuknya. Terdengar jeritan kesakitan ke seluruh penjara bawah tanah dan juga ke seluruh istana.
" Katakan di mana dia?"
" Bunuh saja aku"
Charlotte meringis kesakitan setiap kali cambuk mengenai tubuhnya. Darah mulai meneters dari punggunggunya.
"Kamu benar-benar keras kepala."
Lewis kembali mencambuknya lagi dan lagi. Michael menyuruh Lewis berhenti mencambuknya setelah Charlotte sudah tidak sadarkan diri. Mereka berdua kembali membawanya ke penjara.
" Sepertinya Charlotte tidak akan mengatakan apa pun kepada kita. "
" Aku tahu. Dia begitu keras kepala."
"Apa yang sebaiknya kita lakukan?"
"Aku terpaksa akan mencoba mencarinya sendiri. Seharusnya ini sudah aku lakukan sejak dulu sejak anak itu masih hidup."
Mereka berdua meninggalkan penjara tanah. Charlotte yang pura-pura pingsan membuka matanya. Sekarang ia mulai cemas jika pamannya akan menemukan Jodan.
💔💔💔
" Apa yang dikatakan Ibu serius?"tanya Raina.
"Benar."
Raina langsung memeluk ibunya. " Selamat ya Bu!"
"Terima kasih, sayang!"
" Aku tidak percaya. Aku akan memiliki adik lagi."
"Ibu juga tidak percaya akan punya anak lagi."
"Ayah benar-benar hebat."
"Aku dan Raina aja belum punya anak. Ibu dan Ayah sudah akan mempunyai anak lagi," kata Leonard.
" Kalau begitu kamu harus berusaha lebih keras lagi membuat Raina hamil," kata Miya.
Keduanya tersipu malu dan wajahnya merona.
" Apa Ayah sudah tahu?"
" Belum tahu."
__ADS_1
"Kapan Ibu akan memberitahunya?"
"Malam ini. Ibu akan memberikan kejutan untuknya."
"Ayah pasti benar-benar terkejut. Aku sudah tidak sabar lagi."
Malam harinya saat Fabian baru pulang dari kantor, Miya menyambut kedatangannya. Fabian mendapati sebuah balon berwarna kuning dan di bawahnya ada sebuah kertas yang diikat ketika Fabian telah berada di kamarnya. Di kertas itu ada tulisan :
Kamu akan menjadi seorang ayah lagi
Fabian langsung menatap istrinya.
"Ini. Apakah kamu ....?"
" Iya. "
"Jadi kita akan punya anak lagi?"tanyanya tidak percaya.
Miya mengangguk senang. Fabian langsung memeluk istrinya, lalu berteriak," AKU AKAN MENJADI AYAH LAGI."
Fabian mengendong Miya dan menciumi wajahnya. "Terima kasih, sayang!"
"Apa kamu senang?"
" Kenapa kamu tanyakan itu? Tentu saja aku senang."
Fabian mengelus dan mengecup perut istrinya." Ayah sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganmu."
Raina dan Leonard menghambur masuk ke kamar dan memberikan ucapan selamat sekali lagi kepada orangtuanya.
"Sepertinya Ibu susah berhasil membuat kejutan untuk Ayah," ujar Raina.
" Itu berkat kalian juga. Ide kalian untuk memberitahu kehamilan Ibu berjalan dengan sukses."
"Jadi kalian sudah bekerja sama rupanya,"kata Fabian. Ia pun memeluk istri dan anaknya dengan perasaan bahagia yang meluap.
💔💔💔
Charlotte bangun dengan meringis kesakitan, ketika salah seorang pelayan membuka penjara untuk mengobati luka-luka di punggung Charlotte atas perintah Michael.
Setiap kali pelayan itu membersihkan luka, Charlotte harus menahan rasa perih yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasa perihnya ini tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya saat ia harus kehilangan suami tercintanya dan juga anaknya.
Setelah ia menikah dengan Joseph, Michael berusaha untuk membunuhnya suaminya. Pria itu sudah mengincar nyawa Joseph sebelum menikahnya dengannya hanya saja pada waktu itu, Michael belum memiliki kesempatan itu untuk membunuhnya.
Niat busuk Michael perlahan-lahan mulai terbongkar ketika orangtua Joseph meninggal. Michael, sepupu Joseph menginginkan tahta kerajaan. Ketika Ayahnya meninggal, Josephlah yang akan menjadi Raja menggantikan ayahnya. Awalnya Charlotte tidak mencurigai semua kecelakaan yang terjadi kepada suaminya itu ulah Michael.
Suatu hari Charlotte mendengar kabar mobil yang ditumpangi suaminya jatuh ke jurang dan suaminya dinyatakan meninggal terbakar dalam mobil, karena para polisi menemukan mobilny terbakar dan di dalamnya ada seorang pria yang mirip dengan ciri-ciri suaminya.
Kematian Joseph tentu saja membuat Charlotte dan seisi istana menjadi sedih. Sehari setelah kematian suaminya, Charlotte mengetahui ia hamil. Kabar kehamilan itu membuat isi istana bahagia, karena akan ada penerus tahta.
Tanpa diketahui Charlotte, Michael tidak suka dengan dengan kabar kehamilan itu. Anak itu suatu hari akan menjadi penghalangnya untuk mendapat tahta Raja. Secara tidak sengaja Charlotte mendengar pembicaraannya dengan Lewis, adik Michael.
" Anak yang dikandung Charlotte harus mati."
Charlotte yang mendengar itu dibalik pintu sangat terkejut.
" Anak itu suatu hari akan menjadi Raja neneruskan tahta ayahnya dan aku tidak bisa mengambil tahta itu."
"Apa yang harus kita lakukan?"
" Kita akan membunuh anak itu setelah lahir dan aku akan menikah dengan ibunya. Jika anak itu hidup usahaku membunih Joseph akan sia-sia."
Charlotte yang mendengar semua itu sangat shock. Ia tidak mengira Michael tega melakukan itu. Ia pun pura-pura tidak tahu apa-apa selama menjalani kehidupannya di istana meskipun ia merasa was-was Michael akan menyakiti anaknya yang belum lahir sambil menjalankan tugasnya sebagai seorang Ratu .
Saat itu musim semi, ketika Charlotte akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia pun segera membawa anaknya pergi dari istana untuk menyelamatkannya. Ia pergi ke New York dan meninggalkan bayinya di panti asuhan.
Michael dan Lewis pada saat Charlotte melahirkan, mereka tidak berada di istana. Pada saat itu mereka berada di luar negeri untuk tugas negara. Saat mereka tahu Charlotte telah melahirkan dan bayi itu sudah tidak lagi bersamanya, mereka marah besar dan mengurung Charlotte di penjara bawah tanah.
Michael mengatakan kepada orang-orang bahwa Charlotte sakit keras dan untuk sementara ia yang mengambil tugas Charlotte. Ia juga mengatakan anak yang dilahirkan Charlotte meninggal.
Pelayan wanita yang sedang mengobati Charlotte mengatakan sesuatu yang mengejutkannya. " Tuan Michael dan Tuan Lewis sedang pergi ke luar kota. Beberapa menit yang lalu mereka baru saja pergi, " bisik pelayan itu.
Charlotte langsung menatap pelayan itu. " Tolong bantu aku melarikan diri dari sini."
" Itu tidak mungkin Yang Mulia."
" Aku mohon."
" Saya bisa dibunuhnya kalau mereka tahu, aku sudah membantu Anda melarikan diri."
" Kamu tidak perlu terlibat secara langsung."
" Saya tidak mengerti."
" Apa kamu percaya padaku?"
Pelayan itu memgangguk.
Charlotte langsung menyergap pelayannya dan mengancamnya dengan pisau di lehernya.
" Berteriaklah!"perintah Charlotte.
Pelayan itu mengangguk.
" Penjaga, tolong aku!"teriak pelayannya.
Tidak lama kemudian seorang penjaga penjara datang dan terkejut melihat pelayan istana telah disandera oleh ratunya sendiri.
" Buka penjaranya atau aku akan membunuhnya!"
Penjaga penjara itu terlihat kebingungan.
"Aku tidak main-main,"kata Charlotte marah.
" Turuti saja apa katanya," kata pelayan itu.
"CEPAT,"bentak Charlotte.
Penjaga itu ragu-ragu membuka pintu dan Charlotte bersama pelayan itu perlahan-lahan keluar menuju pintu keluar dari bawah tanah yang gelap dan pengap. Penjaga itu mengikutinya dari belakang dengan perasaan takut, Charlotte akan benar-benar membunuh pelayan itu.
Sesampainya di atas Charlotte membawa pelayan itu keluar istana yang sekarang tampak sepi hanya ada 5 orang pelayan yang berada di istana itu.
Setelah mereka berada di depan pintu gerbang, Charlotte melepaskan pelayannya dengan cara mendorongnya sampai terungkur jatuh. Sebelum pergi ia mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu melalui tatapannya. Charlotte langsung berlari meninggalkan istana tanpa menoleh lagi ke belakang. [ ]
__ADS_1