My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
36. Mentari pagi


__ADS_3

Pagi harinya Miya terbangun dan terkejut melihat Fabian berada di pinggir tempat tidurnya tengah memandanginya dan tersenyum. Sejak Fabian pulang dari rumah sakit seminggu yang lalu, pria itu selalu berada di kamarnya setiap pagi menunggu Miya bangun. Senyumannya bagaikan mentari di pagi hari yang langsung menghangatkan hati Miya seketika.


''Pagi!''sapa Fabian.


"Pagi!''jawab Miya malu-malu.


"Cepat berpakaian! Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan .Ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu.''Miya mengangguk pelan.


Keduanya dikejutkan oleh suara ketukan dipintu dan Mary Jane muncul dengan membawakan sarapan pagi untuk Miya."Aku menunggumu di bawah satu jam lagi.''Fabian menunduk dan mengecup bibir gadis itu sekilas lalu pergi. Miya masih duduk ditempat tidurnya dengan wajah merona merah. Hatinya semakin menghangat setiap harinya. Mary Jane berdeham dengan keras. Miya merasa malu, lalu beranjak dari tempat tidurnya. Fabian hanya tersenyum melihatnya, lalu tatapannya beralih kepada Mary Jane."Kemejaku kancingnya terlepas. Bisakah kamu menjahitkannya untukku?''


"Tentu saja.''


"Ini kemejanya. Tolong segera di jahitkan!''


"Baik tuan Fabian.'' Fabian kemudian pergi .


Setelah membersihkan diri dengan cepat gadis itu kemudian mengenakan pakaiannya. Seperti biasa Mary Jane membantunya merapikan rambutnya. Miya menyadari sejak dari tadi pelayannya itu selalu memasang wajah tanda tanya kepadanya mengenai hubungannya dengan pamannya. Miya tersenyum.''Aku dan paman Fabian telah berbaikan kemarin. Sekarang aku sudah resmi menjadi kekasihnya,''kata Miya dengan wajah tersipu malu. Mary Jane nampak terkejut.


"Selamat!''ucapnya dengan suara datar. Setelah itu pelayannya tidak mengatakan apa-apa lagi sampai Miya selesai sarapan pagi. Miya tersenyum, ketika melihat bibinya Adelina datang dengan wajah ceria.''Pagi bibi Adelina!''

__ADS_1


"Pagi Miya! Mau pergi kemana?''


"Aku dan Fabian akan pergi berjalan-jalan.'' Miya menatap malu-malu kearah bibinya.


"Aku mengerti. Sepertinya jalan-jalan kalian tidak boleh aku ganggu tadinya aku ingin mengajakmu keliling kastil ini, tapi lain kali saja.Sebaiknya kamu segera turun mungkin Fabian sedang menunggumu.'' Miya mengangguk. Sebelum pergi Adelina melirik ka arah Mary Jane yang masih saja sibuk membereskan bekas sarapan pagi. Dahinya berkerut, lalu tatapan mereka bertemu membuat Mary Jane terkejut dan pelayan itu langsung menundukkan wajahnya.''Permisi!'' Mary Jane cepat-cepat pergi dari sana.


"Ada apa bibi Adelina?''


"Tidak ada apa-apa. Ayo kita pergi!''


Adelina kemudian memisahkan diri setelah melihat kakaknya di bawah tangga yang mengarah ke pintu depan. Fabian mengulurkan tangannya pada gadis itu dan mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Udara sejuk di pagi hari segera menyambut mereka. Aroma bunga yang terbawa angin menusuk hidungnya. Fabian membawa Miya ke sebuah bangunan kecil menyerupai sebuah rumah yang terletak di bagian belakang istal kuda. Pada awalnya Miya mengira bangunan itu memang sebuah rumah, tapi pikirannya salah, ketika Fabian mengajaknya masuk. Bau cat segera tercium begitu ia melangkahkan masuk ke dalam bangunan kecil itu . Berbagai macam lukisan berjejer di dinding dan di lantai ada beberapa canvas yang belum terpakai. Cat-cat untuk melukis memenuhi meja yang merapat kedinding. Ini sebuah studio untuk melukis pikir Miya.


"Ini yang ingin aku tunjukkan kepadamu,''seru Fabian. Pria itu membuka kain yang menutupi sebuah kanvas dan Miya terkejut melihat dirinya ada disana. Sebuah lukisan dirinya.


"Aku yang melukisnya.''


"Kamu?''kata Miya tidak percaya.''Aku tidak tahu kamu bisa melukis.''


"Melukis hanya untuk mengisi salah satu waktu luangku selain membaca tentu saja. Sejak aku berada di sini tidak ada kegiatan yang banyak aku lakukan, jadi aku mulai melukis lagi dan memutuskan untuk melukis dirimu.'' Miya tengah mengagumi lukisan dirinya ."Kamu menyukainya?''

__ADS_1


"Tentu saja.''


"Sejak aku masih kecil, aku suka melukis. Kadang-kadang aku melukis dengan salah satu sepupuku disini. Dia juga sangat suka melukis. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya mungkin sebentar lagi kamu akan bertemu dengannya.''


"Siapa nama sepupumu itu? Berarti dia juga salah satu pamanku bukan? Kamu tahu silsilah keluargaku membuat aku pusing dan aku tidak bisa menghafal semuanya dan mereka seperti orang asing bagiku.''


Fabian tertawa terkekeh.


"Namanya Joshua Adrian Waldgrave.''


"Paman Joshua,''ulangnya.''Kapan-kapan aku ingin bertemu dengannya.''


"Asal kamu tahu saja. Joshua orangnya dingin, berlidah tajam, dan juga sudah bertahun-tahun dia selalu menyendiri di rumahnya.''


Fabian duduk di sebuah sofa dan menyuruh Miya duduk di sebelahnya. Tangannya meraih tangan Miya. ''Aku senang kamu berada di sini bersamaku sekarang sebagai kekasihku.''Fabian memandang gadis itu penuh cinta.


Perlahan-lahan Miya tersenyum.''Aku juga.''


" Saat aku pertama kali bertemu denganmu, aku merasa langsung tertarik padamu. Padahal sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal ini setelah sekian lama. Saat itu aku mengabaikannya dan mengira itu hanya ketertarikan sesaat saja, tapi kenyataannya tidak. Ketika aku bertemu denganmu kembali, rasa tertarikku padamu jadi semakin kuat dan aku mulai mencintaimu. Aku tidak pernah mengira akan kembali jatuh cinta lagi setelah kisah cintaku yang pertama berakhir dengan tragis. "

__ADS_1


Fabian langsung memeluk Miya dan tanpa ragu menciumnya dengan segala perasaan yang ia miliki untuk gadis itu. Tidak ada seorang pun yang dapat memisahkannya lagi dari Miya. ''Aku mencintaimu dan ingin membuatmu hidup bahagia.''


Mata Miya berkaca-kaca hendak menangis karena bahagia. Ia memeluk dan membenamkan wajahnya di bahu Fabian. Miya sudah tidak ragu lagi kalau Fabian memang benar-benar mencintainya. Ia bisa merasakannya setiap kali Fabian menyentuhnya. Mereka terkejut mendengar suara ranting terinjak di dekat jendela. Keduanya segera memisahkan diri dan mencari asal suara tersebut, tapi tidak menemukan apa pun ketika membuka pintu. Mereka saling berpandangan dengan heran.[ ]


__ADS_2