My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S2): Curahan Hati Leonard


__ADS_3

Leonard memandangi gelas kosong dengan pandangan sendu disebuah cafe. Istrinya, Raina lebih memilih tinggal bersama orangtuanya. Sebenarnya ia sangat menyesal sudah menyakiti perasaan Raina, tapi kebencian dihatinya sudah mengalahkan rasa cintanya kepada Raina.


" Maaf sudah membuatmu lama menunggu," kata Francis, sahabat Leonard.


" Tidak. Kamu datang tepat waktu. Maaf sudah memintamu datang menemuiku di sini. Aku tahu pasti kamu sedang sibuk."


"Itu tidak masalah."


" Aku berpisah dengan istriku."


" Yang benar saja. Bukannya kalian baru menikah,"seru Francis tidak percaya.


" Benar. Aku yang sudah membuat Raina pergi dariku."


Francis mendesah panjang. Kedua tangannya ditautkan di atas meja.


" Seharusnya kamu tidak menikah dengan Raina hanya untuk balas dendam."


"Aku tahu."


" Kamu tahu, tapi kamu masih tetap menikah dengannya."


" Awalnya aku pikir aku bisa mencampakannnya begitu mudah setelah aku menikah dengannya, tapi..."


" Tapi kenapa?"


" Aku jatuh cinta kepadanya."


" Jadi itu masalahnya."


" Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


" Kamu harus melupakan dendammu dan meminta istrimu untuk memberikan kesempatan lagi untukmu."


" Aku tidak bisa."


" Kamu akan kehilangan Raina untuk selamanya."


" Tapi aku tidak ingin kehilangan dia."


" Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu pikirkan. Di sisi lain kamu mencintai Raina dan di sisi lainnya lagi kamu membencinya. Kalau terus seperti ini akan membuat hidupmu menderita."


" Apa aku harus membatalkan sumpahku untuk membalas dendam dan hidup bahagia bersamanya begitu?"


" Iya, jika kamu menginginkannya. Kenapa kamu tidak mencari tahu kebenarannya."


" Kebenaran apa?"


" Kebenaran tentang Raina. Siapa tahu istrimu bukan kekasih adikmu. Di dunia ini setiap orang memiliki nama yang sama."


" Ibunya Raina pernah mengatakan itu kepadaku."


" Lalu kenapa tidak segera mencari kebenaran itu."


" Karena aku pikir sebuah foto cukup membuktikan kalau istriku adalah kekasih adikku."


" Ya Tuhan, Leonard. Kamu hanya mengandalkan bukti sebuah foto yang belum tentu benar. Foto bisa saja menipu."


" Kamu benar. Aku tidak berpikir sampai ke sana mungkin karena hati dan pikiranku sudah dibutakan oleh rasa marah dan benci. Aku akan mencari kebenarannya lalu aku akan menemui Raina lagi."


" Bagus. Ayo kita bersulang demi kebahagiaanmu."


" Cheers."


💔💔💔


Raina memandangi hujan dari jendela kamarnya. Satu Minggu telah terlewati sejak ia pulang dari rumah sakit dan sekarang ia merindukan suaminya. Hatinya kembali terasa sakit mengingat di hati suaminya tidak ada cinta untuknya. Raina kembali menangis.


Sementara itu Fabian yang sedang bicara dengan Miya tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Raina di tengah guyuran hujan deras.


" Katakan kepadanya aku tidak ingin bertemu dengannya," kata Fabian kepada Edgar.


" Baik Tuan Fabian."


" Wanita itu benar-benar sudah gila," kata Fabian.


"Apa yang terjadi?"tanya Miya tak mengerti.


Fabian kemudian menceritakan pertemuannya dengan Raina di kantornya beberapa hari yang lalu.


" Aku tidak percaya wanita itu seberani itu."


" Aku takut kalau kamu akan disakiti olehnya."


Miya mengelus wajah suaminya.


"Kamu tidak perlu cemas. Aku akan baik- baik saja."


Hati Fabian masih tetap tidak merasa tenang sebelum wanita itu berhenti mengganggu istri dan keluarganya.


Edgar datang lagi dengan wajah cemas.


"Ada apa lagi?"


" Wanita itu jatuh pingsan."


"Apaaa?"seru Fabian terkejut.


Fabian langsung melihat ke layar monitor dan Raina tidak sadarkan diri di depan gerbang rumahnya. Mau tidak mau ia harus menolongnya.


" Suruh beberapa pelayan untuk membawanya masuk."


" Baik."


"Semoga dia baik-baik saja," kata Miya.


Beberapa menit kemudian tiga orang pelayan membawa masuk Raina dan mereka membaringkannya di sofa. Fabian juga menyuruh pelayan wanita untuk mengganti pakaiannya.


Raina yang melihat keramaian di ruang tamu segera mendekatinya.


"Ada apa?"


" Tidak ada apa-apa. Hanya ada seorang wanita pingsan."


Raina yang penasaran berusaha melihat wajah wanita itu dan ia terkejut.


" Ini kan..."


" Apa kamu mengenalnya?"tanya Fabian.


" Tidak juga, tapi aku tahu siapa wanita ini."


"Siapa?"


" Wanita ini adalah istri dari Frank Lowell, teman Leonard."


"Apaa? Istri Frank Lowell?"


" Iya. Ayah. Aku hadir di pesta pernikahannya jadi aku tahu."


Fabian dan Miya saling pandang.


" Wanita ini mengaku kepada Ayah kalau dia belum menikah."


Raina mengerutkan keningnya nampak bingung.


" Kenapa dia mengaku masih lajang kepada Ayah?"


" Ayah tidak tahu. "


" Sebaiknya kita memberitahu suaminya," saran Raina.


" Kamu benar."


Edgar memberikan telepon kepada Fabian dan segera menghubungi Frank.


" Ini Fabian Baskerville. Istrimu ada di rumahku," kata Fabian setelah terdengar suara Frank.


" Raina ada di rumahmu?"


"Benar."


" Aku akan segera ke sana."

__ADS_1


Fabian menutup teleponnya. Tidak lama Raina telah kembali sadar. Wanita itu terkejut dikelilingi banyak orang.


"Akhirnya Anda sadar juga nyonya Lowell,"kata Fabian.


Raina terkejut Fabian sudah mengetahui nama keluarga suaminya.


" Suami Anda segera datang ke sini."


"Bagaimana kalian tahu tentang suamiku?"


" Aku yang memberitahu,"kata Raina.


" Kamu bukannya..."


" Iya. Aku datang ke pesta pernikahanku bersama Leonard."


" Ternyata kamu adalah anak perempuan Fabian."


" Benar."


" Aku tidak tahu kenapa kamu bisa sampai pingsan di depan gerbang."


" Aku datang ke sini untuk menemui Anda untuk membicarakan pernikahan kita."


Semua orang yang mendengarnya dibuat terkejut.


"Ayah berselingkuh dengan wanita ini?"tanya Raina tidak percaya.


"Bukan begitu. Ayah tidak pernah nemiliki hubungan apa pun dengan wanita ini."


" Yang dikatakan ayahmu benar."


"Ayah akan menceritakan semuanya nanti setelah Frank datang. Sudah saatnya masalah ini diluruskan supaya tidak ada salah paham lagi."


" Salah paham apa? Tidak ada salah paham. Kita berdua memang memiliki hubungan dan segera akan menikah setelah aku dan Frank bercerai." Raina tersenyum lebar.


Fabian sudah merasa ada yang aneh dengan Raina begitu pun juga dengan Miya.


"Apa mungkin wanita itu sudah gila?"bisik Miya ditelinga Fabian


" Mungkin saja."


" Dia bersikeras kalau kalian punya hubungan dan akan menikah."


"Aku tidak tahu kenapa dia berkata seperti itu."


Satu jam kemudian Frank datang dengan terburu-buru dan ia terlihat sangat cemas.


"Raina, kamu tidak apa-apa?"tanya Frank pada istrinya.


" Aku baik-baik saja. Mereka sudah menolongku."


"Terima kasih sudah menolong istriku," kata Frank pada Fabian dan Miya.


" Istrimu ditemukan pingsan di depan mansionku," kata Fabian.


"Syukurlah kamu baik-baik saja," ujar Frank.


Raina memeluk Frank dengan mesra seperti tidak terjadi apa-apa dan membuat semua orang menjadi bingung.


"Sebaiknya kalian berdua malam ini menginap di sini," kata Fabian.


" Kami tidak ingin merepotkan kalian."


"Sama sekali tidak."


"Baiklah. Terima kasih."


Fabian menyuruh pelayannya mengantar Raina ke kamarnya. Setelah Raina pergi ke kamarnya, Fabian kemudian menceritakan semuanya kepada Frank apa yang terjadi termasuk keinginan Raina ingin menikah dengannya.


Frank dan Raina yang nendengar cerita Fabian terkejut dan tidak percaya. Mau tidak mau Frank percaya setelah mendengar dari banyak saksi para pelayannya.


" Aku tidak tahu harus berkata apa. Raina adalah istri yang sangat baik dan lembut. Itu sebabnya aku sempat tidak percaya apa yang sudah kalian katakan."


" Apa selama ini istrimu tidak menunjukkan sikap aneh?"


" Sama sekali tidak."


" Ini sangat aneh," kata Miya.


"Apa yang ini coba kalian katakan kepadaku?"


" Maafkan aku. Aku rasa istrimu mengalami suatu gangguan jiwa,"ujar Fabian.


" Raina gila maksudmu?"


" Iya. Maaf kalau aku berpikir seperti itu, karena sikap istrimu itu sangat aneh."


" Aku mengerti. Aku akan bicara dengannya nanti dan maafkan istriku yang sudah membuat kalian tidak nyaman."


"Kita bicarakan ini lagi nanti sebaiknya kita makan malam dulu "


Frank pun menyetujuinya. Setelah makan malam, ia pergi ke kamar dan sudah mendapati istrinya terlelap tidur. Ia memandang sesaat Raina. Kata-kata Fabian masih terngiang di telinganya. Hatinya masih tidak percaya bahwa Raina sudah mencoba menggoda Fabian dan mengaku sebagai kekasihnya.


Keesokan paginya, Frank terbangun dan Raina sudah tidak berada ditempat tidurnya. Ia segera mencarinya di kamar mandi, tapi tidak ada. Frank keluar kamar dan mencari Raina di lantai bawah, tapi tidak ada tanda-tanda sosoknya. Ia bertemu Miya yang sedang membawa air minum.


" Pagi!"sapa Miya.


"Pagi!"


" Apa Anda melihat istriku?"


"Tidak."


" Kemana dia ya."


" Mungkin istrimu sudah kembali ke kamar."


" Mungkin saja."


Frank dan Miya sama-sama kembali ke kamar mereka masing-masing. Miya merasa heran melihat pintu kamarnya sedikit terbuka, karena ia ingat sudah menutup pintunya dengan benar.


Miya segera masuk kamar dan terkejut melihat Raina berada di tempat tidur bersama Fabian yang masih terlelap tidur.


" Apa yang kamu lakukan di sini?"teriak Miya.


Frank langsung mendatangi kamar Fabian setelah mendengar teriakan Miya.


" Ada apa?"


Frank terkejut melihat istrinya sedang memeluk Fabian yang sedang tidur. Fabian langsung terbangun mendengar teriakan Miya dan ia terkejut melihat Raina berada di tempat tidur.


Frank segera menyeret Raina dan mendapat perlawanan dari istrinya.


" Lepaskan aku!"


Fabian langsung memyingkir dari tempat tidur, lalu memeluk istrinya. Raina terlihat sangat marah dan mencoba menyerang Miya kalau saja Frank tidak menahan tubuh Raina dengan kuat.


" Jangan dekat-dekat suamiku!"teriak Raina pada Miya.


Miya menjadi ketakutan melihat Raina yang tiba-tiba mengamuk dan tidak bisa mengontrol emosinya.


" Fabian bukan suamimu. Akulah suamimu," seru Frank.


Raina yang mendengar teriakan ibunya langsung berlari ke kamar orangtuanya.


" Tidak. Kamu bukan suamiku."


" Kamu ini kenapa Raina? Kenapa jadi seperti ini?"


" Lepaskan aku!"


" Tatap aku!"


Frank memaksa istrinya untuk menatapnya, lalu ia seakan menyadari sesuatu. Matanya berkaca-kaca.


" Frank."


" Ya. Ini aku."


" Aku ada di mana?"


" Di kamar Fabian."

__ADS_1


Raina yang nampak kebingungan melihat ke sekeliling.


" Kenapa aku bisa ada di sini?"


" Kamu tidak ingat?"


Raina menggelengkan kepalanya.


" Sebaiknya kita keluar."


Raina mengangguk, lalu Frank membawanya kembali ke kamar.


" Kenapa wanita itu ada di kamar kita?"tanya Fabian.


" Aku juga tidak tahu."


" Apa kalian baik-baik saja?"tanya Raina.


" Kami baik-baik saja, " jawab Miya.


Clarie kemudian masuk ke kamar masih dalam keadaan mengantuk dan duduk dipangkuan Miya.


" Kenapa berisik sekali?"


Miya mengelus kepala Clarie dengan lembut.


" Tidak ada apa-apa. Kamu bisa melanjutkan tidurmu lagi, karena hari ini adalah hari libur."


Clarie mengangguk dan kembali ke kamarnya.


" Wanita itu sudah benar-benar gila," kata Fabian kesal. " Tadi kalian lihat kan sikapnya itu."


" Aku sependapat dengan Ayah, " kata Raina.


" Aku juga," kata Miya.


" Aku akan bicara dengan Frank," kata Fabian.


Mereka makan pagi dalam keheningan dan suasana menjadi muram. Jonathan dan Clarie yang tidak tahu apa-apa merasa keheranan.


" Apa kalian baik-baik saja?"tanya Jonathan.


" Kami tidak apa-apa lanjutkan makan kalian."


Setelah sarapan pagi, mereka menemui Frank di kamar.


" Aku ingin bicara," kata Fabian.


" Aku juga."


Frank menutup pintu kamar.


" Bagaimana keadaan istrimu?"tanya Miya.


" Sudah lebih tenang. Sekarang dia sedang tidur."


" Syukurlah!"kata Miya.


" Sebaiknya kamu segera memeriksakan kondisi istrimu ke psikiater. Kami merasa ada yang salah dengannya."


" Sejak kejadian tadi, sepertinya ada yang salah dengan istriku. Sebentar lagi aku akan membawanya pulang dan menemui seorang psikiater."


" Aku harap istrimu tidak bertindak yang aneh-aneh lagi."


" Maaf pagi-pagi istriku sudah membuat keributan." Frank merasa bersalah.


" Lupakan saja! Dan aku harap kamu bisa menjaga istrimu dengan baik."


" Tentu."


" Jika kamu butuh bantuan, kamu bisa menghubungi kami."


" Terima kasih."


Fabian dan Miya masuk kembali ke dalam kamar. Sekarang tinggal Raina dan Frank berdua.


" Aku turut prihatin dengan keadaan istrimu."


Frank memandang Raina dengan sedih dan wajahnya terlihat lelah dan kusut. Raina menjadi sangat kasihan dan ingin sekali menghiburnya, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya.


" Terima kasih."


" Jangan sungkan, jika kamu membutuhkan bantuan."


Frank mengangguk.


"Raina, ada yang ingin aku katakan. Aku tahu mungkin apa yang aku katakan ini sudah tidak ada gunanya lagi."


" Ada apa? Kamu terlihat serius begitu."


" Dulu aku pernah mengatakan bahwa aku mencintaimu, bukan?"


" Iya."


" Sampai sekarang aku masih mencintaimu."


" Frank."


" Aku hanya ingin kamu tahu. Kita tidak ditakdirkan bersama, tapi aku senang bisa mengenalmu dan mencintaimu, meskipun aku tidak bisa memilikimu."


" Maafkan aku."


" Jangan minta maaf kepadaku. Kamu tidak salah. Boleh aku memelukmu untuk terakhir kalinya?"


"Tentu."


Frank memeluk Raina dengan erat.


" Terima kasih. Apa kita masih bisa berteman?"


" Tentu saja."


" Aku harus segera bersiap-siap. Sampai jumpa!"


" Sampai jumpa!"


💔💔💔


Mexico


Sara yang sedang menonton TV mendapat telepon dari kepolisan dan menyuruhnya untuk datang. Tanpa membuang waktu lagi, Sara langsung pergi.


Setelah tiba di kantor polisi, Sara diberitahu tentang keberadaan Raina.


" Jadi putriku sudah ditemukan?"


" Benar. Sekarang Raina, putri Anda berada di New York."


" New York?"


"Benar. Raina berada disalah satu daftar penumpang di pesawat tujuan New York 5 bulan yang lalu."


" Jadi selama ini putriku berada di New York."


"Benar."


Sara merasa senang dan lega.


"Terima kasih Tuhan."


Sara cepat-cepat pergi dan sesegara mungkin merencanakan kepergiannya ke New York. Ia sudah tidak sabar memberitahukan kabar baik ini kepada Alessandra dan Nathanial.


" Apa itu benar?"tanya Alessandra yang baru saja pulang bekerja.


" Polisi yang memberitahu Ibu."


" Kapan Ibu akan pergi ke sana?"


" Minggu depan."


" Apa aku dan Nathanial boleh ikut?"


" Tentu saja."

__ADS_1


" Aku akan mempersiapkan kepergian kita ke sana nanti." [ ]


__ADS_2