My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S3): Panti asuhan bunga matahari


__ADS_3

Valentina telah sadar dan sudah melewati masa kritisnya pada keesokan harinya. Emily sangat senang melihat putrinya perlahan-lahan mulai membaik.


" Ibu, di mana Ayah? Aku belum melihatnya sejak tadi."


" Ayah sedang sibuk, jadi tidak bisa datang."


"Aku ingin bertemu dengan Ayah. Aku merindukannya."


Emily menjadi sedih melihat Valentina menyayangi suaminya sebagai ayahnya. Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semua ini kepadanya. Valentina masih kecil untuk mengerti. Dipikiran Emily pernah terlintas di mana orangtua kandung Valentina, jika saja ia tahu, ia akan langsung mengembalikannya kepada orangtuanya. Sayangnya ia tidak tahu.


Emily hanya menemukan kalung dengan liontin hati bertuliskan namanya di leher Valentina sewaktu masih bayi. Caliope Alexandra. Ia langsung melepas kalung itu dan menyembunyikannya di mana suaminya tidak akan pernah menemukannya. Sudah saatnya ia mengembalikan kalung itu kepada Valentina, karena ada kemungkinan kalung itu akan menuntunnya kepada kekeluarga Valentina sebenarnya.


" Sabar saja. Pasti ketemu dengan Ayah."


Valentina mengangguk dan kembali tidur. Ia menghembuskan napas lega. Entah alasan apa lagi yang akan ia gunakan kalau Jerome tidak mau bertemu dengan Valentina lagi.


🧸🧸🧸


Keesokan harinya Fabian tiba di tempat parkir di gedung perusahaannya yang berada di lantai bawah sedang memakirkan mobilnya. Setelah keluar dari mobil, tiba-tiba saja ada seseorang memukulnya dari belakang sampai tidak sadarkan diri. Gilbert yang baru tiba, melihat Fabian tidak sadarkan diri, lalu Gilbert mendekati Fabian dengan perasaan panik dan mengguncang-guncang tubuh Fabian.


‘’Fabia...Fabian sadarlah. "


Gilbert terus memanggil-manggil namanya, tapi sia-sia Fabian tetap tidak sadarkan diri. Akhirnya Gilbert menelepon ambulan. Tidak lama kemudian kabar mengenai Fabian yang diserang ditempat parkir sudah tersebar luas diantara pegawai perusahaannya.


Miya yang sedang asik memasak di dapur, salah seorang pelayannya datang dengan terburu-buru ke dapur.


" Nyonya Miya."


" Ada apa, Edgar?"


" Saya baru saja mendapat kabar dari Tuan Gilbert, kalau Tuan Fabian tadi diserang dan dipukul sampai tidak sadarkan diri oleh seseorang yang tidak dikenal di tempat parkir."


Miya sangat terkejut ketika mendengar kabar tersebut.


"Benarkah itu, Edgar?’’


‘’Iya. Itu benar. Sekarang Tuan Fabian sudah dibawa ke rumah sakit dekat sini, dan masih belum ada kabar, bagaimana keadaannya sekarang."


Miya yang panik cepat-cepat pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Setengah jam kemudian Miya tiba di rumah sakit dan bertemu dengan Gilbert.


" Miya, akhirnya kamu datang juga."


" Bagaimana Fabian?" Apa dia baik-baik saja?’’


"Tenang Miya. Sekarang kamu jangan khawatir Fabian baik-baik saja, tidak ada luka yang serius."


"Benarkah dia baik-baik saja?’’


"Iya."


"Bolehkah aku menemuinya sekarang?"


" Tentu saja, tapi sekarang Fabian sedang tidur."


Miya segera masuk ke kamar di mana Fabian di rawat. Fabian sedang berbaring, lalu Miya mendekatinya, tidak terasa air mata sudah mengalir di wajahnya, kemudian cepat-cepat dihapusnya. Miya menatap Fabian dengan tatapan sedih dan pilu sekaligus lega, karena suaminya baik-baik saja. Ia tidak habis pikir siapa yang sudah menyerang suaminya?


"Kenapa hal ini bisa terjadi kepadamu? ‘’ kata Miya sambil membelai-belai wajah Masumi.


Akhirnya Fabian tersadar dan tersenyum melihat kedatangan Miya.


‘’Bagaimana keadaanmu?’’


"Sudah lebih baik. Kamu tidak usah mengkhawatirkan aku lagi,’’kata Fabian sambil menggenggam tangan Miya.


Fabian tersenyum jahil.


Fabian tiba-tiba menarik tangan Miya dan menariknya ke dalam pelukannnya, kemudian menciumya.


" Maaf sudah membuatmu cemas."


" Lain kali kamu harus lebih berhati-hati."


Wajah Miya nampak cemberut.


" Iya, sayang."


Miya melepaskan diri dari pelukan suaminya dan duduk di sampingnya, lalu membelai-belai wajah Fabian. Ia begitu mencintai laki-laki yang berada dihadapannya sekarang. Fabian dapat merasakan sentuhan hangat setiap jari Miya di wajahnya, kemudian ia mengambil tangan istrinya, dibelainya lalu diciumnya. Fabian menghapus air mata yang menetes dari mata Miya dengan lembut .


"Jangan menangis, kalau kamu menangis akan membuatku sedih."


" Aku kira aku akan kehilanganmu selamanya."


Fabian kembali menarik Miya ke dalam pelukannya lagi dan Miya dapat merasakan detak jantung pria yang dicintainya.


Selama Fabian di rawat di rumah sakit, Miya selalu menemaninya setiap hari rajin dan setelah di rawat selama 3 hari, akhirnya Fabian di perbolehkan pulang dan disambut oleh Clarie dan Jonathan.


" Aku senang Ayah sudah pulang," kata Clarie sambil memeluk ayahnya.


" Selamat datang, Ayah!"kata Jonathan.


" Apa Ayah sudah sembuh?"tanya Clarie.


" Iya. Ayah sudah sembuh."


Clarie kembali memeluk ayahnya.


🧸🧸🧸


Keesokan harinya Gilbert datang menjenguk Fabian. " Bagaimana kabarmu?"tanya Gilbert.


Mereka sekarang sedang berada di kamar Fabian.


" Aku baik. Besok lusa, aku sudah kembali bekerja. Apa ada masalah di kantor selama aku tidak masuk?’’


"Tidak ada . Hanya saja pekerjaaanmu di kantor sudah menumpuk."


"Oh ya, apakah kamu sudah mengetahui siapa orang yang sudah menyerangku?’’

__ADS_1


"Aku masih tidak tahu siapa pelakunya,sekarang pihak yang berwajib sedang menyelidiknya."


" Menurutmu siapa pelakunya?"tanya Fabian.


Gilbert mengangkat kedua bahunya. " Entahlah. Mungkin saingan bisnismu."


Fabian nampak berpikir." Itu mungkin saja."


🧸🧸🧸


Satu Minggu kemudian, Valentina diperbolehkan pulang. Emily datang untuk menjemputnya. Ia menyadari Valentina memasang wajah sedih.


" Ada apa?"


" Kenapa Ayah sama sekali tidak datang ke sini untuk menemuiku?"


Emily tersenyum sedih. Ia terpaksa harus berbohong kalau ayahnya sedang pergi ke luar kota.


" Ibu sudah katakan, Ayah sedang pergi ke luar kota dan hari ini Ayah juga pulang. Kamu bisa bertemu dengannya."


Wajah Valentina kembali berseri bahagia. Ia tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya. Sesampainya di rumah, Valentina langsung mencari ayahnya. Ia berlari kepelukan ayahnya.


" Ayaaah. Aku merindukan Ayah."


Jerome memasang sikap dingin dan mendorong Valentina menjauh." Jangan peluk-peluk aku lagi!"jawabnya dengan suara ketus membuat Valentina menjadi muram dan sedih.


" Kenapa?"


" Karena kamu bukan anakku."


" Jerome," tegur Emily.


" Kenapa Ayah berkata seperti itu?"


" Karena kamu memang bukan anakku. Tanyakan pada Ibumu," kata Jerome kesal.


Valentina menghampir ibunya dan menangis. Emily menghapus air matanya dengan jari-jari tangannya.


" Yang dikatakan oleh Ayahmu benar. Sebenarnya kamu bukan anak kami."


" Kalau aku bukan anak kalian, aku anak siapa?"


" Ibu tidak tahu siapa Ayah dan Ibumu yang sesungguhnya. Ibu mendapatkanmu dari seseorang."


" Jadi karena aku bukan anak kalian, Ayah sudah tidak sayang lagi padaku."


" Maafkan Ibu."


Emily memeluk Valentina dengan erat, lalu membawanya ke kamar, lalu ia memberikan kalung kepada Valentina.


" Ini kalung milikmu dan sepertinya orangtuamu yang sesungguhnya yang memberikan kalung itu kepadamu."


Valentina memperhatikan kalung itu.


" Kalung ini sangat bagus."


Emily memasangkan kalung itu.


" Jangan sampai kalung ini hilang ya, karena mungkin kalung ini bisa menemukan Ayah dan Ibumu sesungguhnya."


"Aku mengerti. Apa Ibu masih sayang kepadaku?"


"Tentu saja Ibu sayang kepadamu."


Sekali lagi Emily memeluk Valentina dengan erat, karena sebentar lagi ia tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Emily menghapus air matanya.


" Dengarkan Ibu baik-baik! Di mana pun Ibu berada, Ibu akan selalu menyayangimu. Apa kamu mengerti."


Valentina mengangguk.


" Mulai besok kamu tidak bisa tinggal di sini lagi."


" Tapi kenapa?"


" Ayahmu tidak menginginkanmu tinggal lagi di sini."


Valentina menangis terisak-isak dan air matanya keluar dengan deras. " Kenapa Ayah jadi jahat kepadaku?"


" Maafkan Ayahmu ya. Jika kamu sudah besar pasti kamu akan mengerti dan maafkan Ibu juga, karena tidak bisa menjagamu dengan baik."


" Nanti aku akan tinggal di mana?"


" Kamu akan tinggal di panti asuhan sampai ada orang yang mau mengadopsimu."


" Aku tidak ingin pergi."


" Ibu juga. Andai saja kamu bisa tetap di sini. Ibu akan sangat senang. Sekarang tidurlah. Ini sudah malam."


Valentina mengangguk. Emily mengecup keningnya." Selamat malam!"


Emily meninggalkan kamar Valentina dan mematikan lampunya. Ia kemudian pergi ke kamarnya dan menemukan suaminya sedang berbaring di tempat tidur sambil membaca koran.


" Apa dia sudah tidur?"


" Sudah. Apa kamu tidak bisa mengubah keputusanmu untuk memgizinkan Valentina tetap tinggal di sini?"


" Tidak,"jawabnya tegas.


Emily menghembuskan napas panjang berharap suaminya berubah pikiran dan tetap mengizinkan Valentina tinggal di sini. Semua itu hanya tinggal harapan.


Keesokan paginya, Emily dan Jerome mengantarkan Valentina ke pantai asuhan bunga matahari. Emily nampak sedih melihat kesedihan di wajah Valentina. Ia keluar dari kamarnya dengan mengendong tas ransel dan memeluk boneka Teddy Bearnya. Kepalanya tertunduk tidak berani memandang Jerome yang selalu memasang wajah tidak suka kepadanya.


" Apa kamu sudah siap?"tanya Emily.


Valentina mengangguk. Emily menuntunnya berjalan masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan ke panti asuhan tidak seorang pun yang bicara. Valentina memandang keluar kaca mobil dengan wajah sedih. Emily hanya bisa pasrah dengan keputusan suaminya. Ia berharap keputusan yang ia ambil benar.


Mereka tiba di panti asuhan Bunga Matahari setelah menempuh perjalanan selama 2 jam dari New York. Valentina turun dari mobil dengan perasaan yang sangar berat.

__ADS_1


" Ayo!"kata Emily.


Mereka kemudian bertemu dengan kepala panti asuhan Bunga Matahari bernama nyonya Marie Harper.


" Ini Valentina," kata Jerome.


Nyonya Harper memperhatikan Valentina secara seksama.


" Dia anak yang sangat cantik. Saya yakin akan ada keluarga lain yang ingin mengadopsinya."


" Ibu aku tidak ingin berada di sini. Aku ingin tetap bersama Ibu saja."


Emily mengusap rambut Valentina dengan lembut. Ia berusaha tersenyum meskipun hatinya sakit dan sedih. " Mereka akan merawatmu dengan baik dan kamu akan memiliki teman yang banyak di sini. Kamu tidak akan merasa kesepian di sini. "


" Tapi tetap saja tidak ada ibu di sini."


Valentina mulai menangis. Emily memeluknya dan berusaha menenangkannya. " Semuanya akan baik-baik saja."


Emily mengecup kening Valentina sebagai ciuman perpisahan untuknya. " Kamu harus jadi anak yang baik dan tidak boleh nakal."


" Aku akan jadi anak yang baik."


" Bagus."


" Sudah waktunya kita pergi," kata Jerome.


" Selamat tinggal!"


Valentina melihat kepergian ibunya dengan wajah basah penuh air mata, lalu ia mengejar ibunya.


" Ibuuuu. Jangan tinggalkan aku !"


Kepala panti asuhan dan pengurus panti yang lain mencoba menahannya.


" Ibuuuu."


Emily hanya bisa memandangi Valentina yang berteriak memanggilnya dari dalam mobil.


" Anak itu akan baik-baik saja, jadi jangan menangis lagi."


Jerome melajukan mobilnya meninggalkan panti asuhan. Emily melihat Valentina masih menangis dari kaca spion mobil. Ia merasa bersalah telah meninggalkannya di sana, tapi ia tidak punya pilihan. " Selamat tinggal!"gumamnya.


🧸🧸🧸


Nancy salah satu pelayan yang bekerja di panti asuhan bunga matahari sedang membersihkan setiap sudut kamar anak-anak mulai dari menggosok lantai sampai membersihkan debu. Ia melihat Valentina berada di kamarnya dan sedang duduk di tempat tidur miliknya sambil memeluk boneka Teddy Bear.


Satu kamar diisi oleh 4 orang anak dan Valentina mendapatkan tempat tidur yang berada di pinggir jendela. Sejak kedatangannya ke panti asuhan, ia selalu menyendiri di kamar. Nancy merasa kasihan kepada gadis itu telah dibuang oleh keluarga angkatnya.


" Bergabunglah dengan anak-anak yang lain dan bermainlah bersama mereka!"


"Aku tidak ingin bermain dengan siapa pun."


Nancy menghela nafas. " Baiklah. Terserah padamu saja."


Nancy kembali memggosok lantai sampai mengkilat. Di luar Valentina mendengar suara tawa anak-anak yang sedang bermain. Ia sama sekali tidak ada keinginan untuk bermain dengan mereka. Sejak Valentina tinggal di sini, ia tidak lagi bersekolah di sekolah lamanya. Ia merindukan teman-teman sekolahnya dan juga Erika, ibu gurunya.


Nancy yang telah selesai membersihkan kamar, meninggalkan Valentina sendirian di kamar. Pelayan itu bertemu dengan salah satu pengurus panti di luar kamar dan langsung sedikit menundukkan kepalanya.


" Selamat pagi, Nona Cooke!"


Arya Cooke terkenal sebagai pengurus panti yang galak di panti asuhan Bunga Matahari. Semua anak-anak takut kepadanya. Kegalakannya semakin menjadi pada anak-anak yang dianggapnya sangat menyusahkannya, setelah kepala panti asuhan pergi ke luar kota selama satu minggu dan mempercayakan semuanya kepada Arya.


" Pagi, Nancy! Apa anak itu masih ada di kamar?"


" Iya."


Arya mendesah kesal. " Anak itu benar-benar menyusahkanku."


Nancy mencemaskan Valentina yang kemungkinan akan mendapatkan kemarahan Arya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, lalu cepat-cepat pergi.


Arya masuk ke dalam kamar dan menemukan Valentina sedang termenung di tempat tidur. Ia menatap kesal pada Valentina.


" Mau sampai kapan kamu akan terus-terusan menyindiri di kamar. Orang tuamu angkatmu sudah membuangmu ke sini dan mereka tidak akan pernah kembali untuk menjemputmu. Kamu sekarang bukan seorang nona besar lagi, sekarang kamu adalah anak yang dibuang. Kamu sudah tidak memiliki apa apa pun atau siapa pun."


Valentina menatap Arya dengan perasaan takut.


" Sekarang keluarlah dari kamar!"


" Aku tidak mau. Biarkan aku di sini saja!"


" Kamu anak baru di sini dan sudah berani melawan perintahku," hardik Arya dengqn suata keras.


Mata Valentina berkaca-kaca hendak menangis. Arya mencekal tangannya dan menyeretnya dari tempat tidur.


"Lepaskan aku!"seru Valentina.


Arya tidak mempedulikan permintaan Valentina. Wanita itu terua menyerer Valentina keluar kamar sampai ruang bawah tanah.


" Kamu akan tetap berada di sini sampai makan malam tiba. Ini sebagai hukumanmu, karena sudah berani melawan perintahku."


Ketakutan Valentina semakin menjadi melihat ruangan gelap dan ia menangis.


" Aku tidak mau di sini. Aku mohon."


" Kamu akan tetap di sini."


Valentina memegang lengan Arya. " Aku takut, jangan tinggalkan aku!"


Air mata Valentina sudah mengalir deras dan menangis terisak-isak. Arya terlihat tidak peduli dan ia mendorong Valentina sampai terjatuh, lalu cepat-cepat pergi dan mengunci pintu.


" Keluarkan aku!"teriak Valentina sambil memukul-mukul pintu.


Arya meninggalkan ruangan bawah tanah dan ia bertemu dengan Nancy di dapur yang nampak cemas.


" Nona Cooke, saya mohon jangan menghukum Valentina di sana. Kasihan."


Arya memandang Nancy dengan tatapan marah." Apa aku juga perlu mengurungmu di bawah sana? Jadi jangan ikut campur atau aku akan memecatmu. Kerjakan kembali tugasmu."

__ADS_1


Arya berjalan dengan langkah gemulai meninggalkan dapur. Di wajahnya tersungging senyuman kepuasan. Sejak kedatangan Valentina, Arya sudah tidak menyukainya. [ ]


__ADS_2