
"Terserah kau saja, tapi yakin itu cinta,’’kata Jude tersenyum dan meminum susunya.
Jude melihat ke arah Adelina, tubuhnya menegang dan juga pucat dan matanya mulai berkaca-kaca.’’Adelina, kamu baik-baik saja?’’tanya Jude cemas, tapi Adelina tidak menjawab. Jude menguncang-guncang lembut tubuhnya.’’Adelina...Adelina."
"Jude."
"Kamu sudah membuatku cemas saja."
"Kamu kenapa lagi?’’tanya Ayaka.
"Aku...aku baik-baik saja. Aku mau pergi ke kamarku dulu,’’katanya gugup sambil meletakan gelas susunya di meja.
"Adelina, habiskan dulu susumu."
Adelina terus saja berjalan ke kamarnya tanpa menghiraukan perkataan Jude. Ayaka dan Jude saling menatap bingung.
Adelina menutup pintunya dan bersandar di pintunya. Air mata mulai mengalir di wajahnya.’’Jatuh cinta-tidak aku tidak mungkin jatuh cinta kepada Edward. Dia pria dingin yang tidak berperasaan, jadi aku tidak mungkin jatuh cinta padanya. Itu tidak mungkin."
Adelina terduduk dan menangis ditahan. Sepanjang sisa hari itu Adelina mengurung diri di kamar dan sepanjang malam itu pula Adelina sulit untuk memejamkan matanya. Di kedua matanya masih terlihat jejak-jejak air matanya. Adelina pun dapat tertidur ketika waktu sudah menunjukkan jam 3 pagi.
Keesokan paginya Adelina bangun pagi-pagi sekali. Jude terlihat sibuk di dapur sedang membuat sesuatu dan aroma manis menguar keseluruh ruangan. Adelina duduk di kursi meja makan dan Jude memberikan makan pagi untuknya.
"Kemarin malam kamu kenapa? Kalau ada yang sedang menganggu pikiranmu, kamu bisa bercerita padaku, mungkin aku akan dapat membantumu."
"Maaf. Sudah membuat kalian cemas, tapi aku sekarang baik-baik saja."
"Cepat habiskan makanmu dan cepat berganti pakaian, bukannya hari ini kamu masih ada latihan. Bagaimana latihanmu, apakah semuanya berjalan lancar?’’
"Semuanya berjalan lancar, semua yang terlibat dalam pementasan ini sedang giat berlatih." Jude hanya bisa tersenyum.
"Jude."
"Apa?’’
"Di wajahmu ada tepung terigu. Di sini,’’katanya sambil menunjukan ke arah pipinya sendiri.
"Jude mulai membersihkannya dengan sebelah tangan, karena satu tangannya sibuk memegang adonan kue.
Tidak membutuhkan waktu lama Adelina sudah berpakaian rapi dan siap untuk pergi.’’Aku pergi."
"Hati-hati di jalan!"
Adelina menganggukan kepalanya. Udara dingin masih menyelimuti Tokyo dan jalanan bertambah licin dan juga basah. Adelina menggigil kedinginan. Seluruh tubuhnya gemetar.
Sebelum pergi ke tempat latihan, Adelina pergi ke kantor Edward. Dia berdiri di luar gedung dan menatap ke atas di mana kantornya berada. Tatapan matanya terlihat sendu dan Adelina kembali berjalan. Setengah jam kemudian ia telah berada di tempat latihan di sana masih terlihat sepi hanya ada dua orang pemain yang sudah datang.
Adelina masuk ke kamar ganti dan dia masih belum mempercayai perasaannya sekarang kalau dia telah jatuh cinta pada Edward. Pria yang dibencinya dan sekarang dicintai olehnya.’’Kenapa hal ini bisa terjadi, kenapa aku harus mencintai orang seperti dia, aku benar-benar tidak mengerti,’’gumamnya.
🧸🧸🧸
Alana telah tiba di kantor dan dia terkejut ketika melihat sebuah kotak kaleng bulat yang dihiasi pita perak telah berada di meja kerjanya.
"Apa ini ya? Kenapa bisa ada disini?’’
Alana mengambilnya dan beberapa saat dia mengamatinya, lalu meletakannya kembali ketempat semula.’’Mungkin hadiah dari seseorang."
Alana keluar setelah menyimpan beberapa dokumen di meja .
Tidak lama Edward telah datang.’’Pagi, Tuan Edward!"
‘’Pagi!’’
"Semua dokumen yang ada minta sudah saya letakan di atas meja."
"Terima kasih."
Edward terkejut ketika dia mendapat sebuah hadiah yang sudah terletak di atas mejanya.’’Apa ini?’’
Edward membaca kartu kecil yang terselip di pita dan membacanya
Untuk Edward Hilton
"Dari siapa ya?’’
Edward segera membukanya dan di dalamnya dia melihat beberapa kue jahe berbentuk orang-orangan. Edward tersenyum dan mulai memakannya.
"Kue ini ternyata enak juga."
Edward kemudian mengambil lagi kue itu untuk yang ke tiga kalinya. Alana datang dengan membawakan secangkir kopi panas.
"Kamu tahu siapa yang memberikan kue ini padaku?’’
"Ternyata isinya adalah kue jahe. Saya tidak tahu siapa yang mengirimkannya, ketika saya datang hadiah itu sudah ada di meja Anda. Aku rasa yang memberikannya adalah seoarang wanita."
"Wanita? Menurutmu siapa?’’
"Kalau itu aku tidak tahu, mungkin salah satu penggemar Anda."
"Kamu ini ada-ada saja. Alana, ambilah! Kue ini sangat enak."
__ADS_1
"Terima kasih."
Alaba mulai memakannya.’’Anda benar kue ini memang enak."
Alana keluar dari ruangan dan Edward tampak senang menikmati kue jahenya.
🧸🧸🧸
Adelina dan Kazumi telah berada di ruang latihan. Pak Hiroshi menepukkan tangannya.’’Berhenti!’’
Adelina dan Kazumi mendekati Pak Hiroshi terlihat kelelahan di wajah mereka berdua.
"Bagus, aku senang kalian bermain piano dengan bagus hari ini, aku puas. Sekarang istirahatlah!’’
Adelina dan Kazumi keluar ruangan membuka bekal makanannya yang dia bawa dari rumah. Kazumi melihat Adelina yang terlihat sedih lalu menghampirinya.’’Apa ada yang sedang menganggu pikiranmu?’’
"Saat ini memang ada yang menganggu pikiranku, tapi mungkin aku akan melupakannya."
Adelina kembali memakan makan siangnya kembali. Kazumi hanya menatap Adelina bingung. Setelah makan siang mereka kembali latihan.
Edward yang berada di kantornya terus menatap kaleng yang berisi kue jahe, dia berusaha untuk mencari jawaban siapa sebenarnya orang yang telah memberikan kue itu padanya, tapi dia tidak punya gambaran sama sekali. Dia menyimpan kue itu dilaci mejanya. Rencana pertunangannya dengan Naomi membuatnya sedikit sibuk. Dia berharap kalau ada pilihan, dia tidak ingin melakukan pertunangan ini, tapi ayahnya sudah mendesaknya supaya acara pertunangannya segera dilakukan, bahkan kedua keluarga sudah bertemu dan mereka sudah menetapkan hari pertunangannya dengan Naomi Minggu depan tanpa sepengetahuan dirinya.
Ingatannya kemudian kembali pada Adelina.’’Aku merindukanmu dan ingin bertemu denganmu, apa aku salah ,jika suatu hari aku mengharapkan kamu membalas cintaku."
Edward berdiri dan mengambil jasnya yang tersampir dikursinya , lalu bergegas keluar.
"Alana, aku akan keluar dan mungkin aku tidak akan kembali ke kantor, jika ada hal penting, kapan pun kamu boleh menghubungiku."
"Baik."
Edward mengemudikan mobilnya ke tempat kuliah Adelina. Rasa rindunya pada gadis itu sudah tidak tertahankan olehnya. Setidaknya sebelum bertunangan dengan Naomi, dia ingin bersama dengan Adelia.
Edward berjalan ke ruang klub dan dia melihat Adelina sedang latihan. Dia mengintip latihan dari balik pintu.Dia membuka pintu dan tatapan semua orang mengarah kepadanya. Mereka langsung menghentikan latihan mereka dan semuanya terkejut dengan kedatangannya terutama Adelina. Jantungnya berdebar tidak karuan. Adelina menegang di tempatnya dan tidak bergerak apa lagi saat Edward menatapnya dengan tajam.
"Aku ke sini untuk meminta izinmu, supaya Adelina bisa ikut pergi denganku hari ini."
"Tapi kami sedang ada latihan sekarang, apa tidak bisa menunggu sampai latihan ini selesai."
"Tidak. Aku tidak bisa menunggunya."
Pak Hiroshi hanya bisa mendesah.
"Adelina, kemarilah!’’panggil Pak Hiroshi.
Adelina pelan-pelan mendekatinya dan dia tidak berani menatap wajah Edward.Jantungnya semakin melompat tidak karuan saat dia sudah berada dekat dengannya.
"Tuan ini ingin mengajakmu keluar."
"Tapi bagaimana dengan latihannya?’’
"Hari ini kamu boleh pulang dan latihanmu hari ini cukup sampai di sini dulu. Sekarang kamu bersiap-siaplah untuk pergi dengannya."
"Baik."
Adelina segera melesat pergi ke ruang ganti dan dia mengelus dadanya dan menghembuskan nafas panjang. Sampai sekarang dia masih merasakan detak jantungnya yang masih berdetak kencang. Ada rasa senang keluar dari dirinya, karena dia akan pergi bersama dengan Edward.’’Seandainya dia tahu kalau aku mencintai’,’bisiknya dalam hati.
Adelina yang telah berganti pakaian mendekati Edward. Senyuman lembut merekah di wajah pria itu.’’Kamu sudah siap pergi denganku?"
Adelia menganggukan kepalanya.Tiba-tiba Edward meraih tangannya.’’Eh....’’
Seketika itu juga tubuh Adelina diselimuti oleh kehangatan yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya dan detak jantungnya yang sesaat sudah berirama normal, kembali berdetak dua kali lipat dari biasanya. Adelina merasa tubuhnya akan melemas, jika Edward terus menggengam tangannya.’’ Bisakah kamu melepaskan tanganku?’’
"Eh..iya tentu saja,’’katanya sedikit gugup.
Adelina masih dapat merasakan kehangatan tangan Edward di tangannya. Tangan yang kuat dan besar. Di dalam mobil tidak satu pun yang bicara. Sesekali Adelia melirik ke arah Edward yang serius mengemudikan mobilnya, tapi dia tidak berani menatapnya lama-lama, akhirnya dia hanya duduk diam.
Adelina masih dapat mendengar detak jantungnya sendiri dan bahkan dia tidak tahu kemana Edward akan membawanya pergi. Edward juga sesekali melirik Adelina dan dia menyunggingkan sebuah senyuman. Edward memarkirkan mobilnya dipelataran parkir sebuah taman hiburan.
"Kenapa Anda membawaku ke sini?’’
"Hari ini aku ingin bersenang-senang denganmu."
Akhirnya mereka masuk . Di sana mereka berdua mencoba semua permainan yang ada, bahkan Adelina mengajak Edward menaiki permainan yang membuat jantung berdebar-debar dan juga membuat kepala menjadi pusing.
"Ayo!Kita naik cangkir berputar,’’seru Adelina.
"Adelina, tidak bisakah kta beristirahat sebentar? Apa kamu tidak lihat aku sedang merasakan pusing setelah naik Rollercoster dan juga tornado tanpa henti. Biarkan berikan aku waktu sedikit untuk menghilangkan rasa pusingku."
"Baru naik dua permainan itu saja sudah lemas begitu."
"Kamu memang sangat punya semangat tinggi."
Edward duduk disebuah bangku dan akhirnya Adelina pun mengikutinya.
"Bagaimana kalau aku saja menaikinya sendiri?" Baru saja Adelina akan beranjak, Edward memegang tangannya."
"Jangan. Aku akan menemanimu, tapi sebelum itu aku akan membelikanmu minum dulu. Kamu tunggu disini jangan pergi kemana-mana."
"Baik. Aku akan tunggu di sini."
__ADS_1
Edward segera berlari mencari minuman dan lima menit kemudian telah membawa dua minuman kaleng jus jeruk. Adelina tidak melihat kedatangannya. Edward tersenyum lembut melihat Adelia yang sedang duduk menunggunya.
Rasa dingin segera menjalar keseluruh tubuh. Minuman dingin yang dibawa olehnya disentuhkannya ke leher Adelina.’’Edward."
"Ini minumanmu."
"Terima kasih."
"Aku perhatikan sejak dari tadi aku selalu melihat ke arah balon itu. Apa kamu menginginkannya, kalau kau mau aku akan membelikannya satu untukmu. Seperti anak kecil itu,’’goda Edward.
"Aku tidak mau. Aku bukan anak kecil lagi."
Bibirnya mengerucut dan wajahnya terlihat cemberut.
‘’Ha..ha..ha..ha....’’
Adelina melihat Edward dengan pandangan kesal kemudian memalingkan wajahnya.
"Kamu jangan marah."
"Anda sepertinya sangat senang yang selalu mengejek dan membuatku kesal."
"Kamu tahu sejak aku mengenal denganmu, kamu sudah membuat hariku penuh dengan warna, seperti saat ini. Pada awalnya hari hariku terasa membosankan, tapi pergi bersamamu kali ini membuat hariku terasa menyenangkan."
Pandangan Edward terasa menjadi lebih lembut.
Adelina sama sekali tidak mengerti dengan pria yang sekarang duduk di sampingnya. Kadang-kadang dia bersikap baik padanya dan pada saat bersamaan dia selalu membuatnya kesal. Adelina juga kadang-kadang melihat sinar mata Edward yang terlihat kesepian.Tiba-tiba tangan Edward merebut minuman yang ada ditangan Adelina dan langsung meminumnya.
"Itu kan minumanku."
"Sekarang ini aku sangat haus. Nanti aku akan membelikan minuman lagi untukmu."
Edward terus saja meminumnya dan Adelia menyadari sesuatu wajahnya menjadi bersemu merah.
"Eh itu kan ciuman secara tidak langsung,’’pikir Adelina. Wajah Adelina semakin memerah.
"Ada apa denganmu?’’
"Aku baik-baik saja."
Edward beranjak dari kursinya dan meraih tangannya.
"Ayo! Kita naik cangkir putar itu."
Adelina hanya diam saja ketika tangannya berada dalam genggamannya. Iya Adelina menyukainya bahkan sangat menyukainya, lalu mereka berdua duduk. Cangkir itu mulai berputar . Pertama-tama cangkir itu berputar pelan . Lama-lama semakin kencang. Ketika akhirnya cangkir itu berhenti. Edaward dan Adelina merasakan pusing. Bahkan mereka berdua berjalan sempoyongan seperti orang yang mabuk.
"Kamu baik-baik saja kan?’’tanya Edward.
"Aku baik-baik saja. Sebaiknya kita duduk saja dulu di sana."
"Ada apa denganmu mungil? Tadi kamu sudah mencoba dua permainan yang cukup ekstrim dan sama sekali tidak merasakan pusing, tapi sekarang kamu merasakan pusing dan ingin muntah, karena telah menaiki cangkir putar yang menurutku bukan permainan yang ekstrim.
"Aku juga tidak tahu."
Setelah rasa pusing mereka hilang, mereka berjalan mencari permainan yang belum mereka coba. Tiba-tiba dari arah samping Adelia ada segerombolan anak-anak yang sedang berlarian dan menyenggol tubuh Adelina dan Adelina kehilangan kesimbangan tubuhnya sehingga dia pun terjatuh.
"Adelina,’’seru Edward panik.’’Kamu baik-baik saja?’’
"Aku baik-baik saja."
Lalu Adelina melihat tangannya terluka, karena tergores saat terjatuh tadi. Edward membantunya berdiri dan menutup luka itu dengan sapu tangannya. Kali ini Edward mengajak Adelina untuk menaiki carussel.
"Eh, kita akan menaiki ini?’’
"Iya, memangnya kamu tidak mau."
"Tapi kan ini untuk anak kecil. Aku malu."
"Kamu tidak perlu malu. Lihat banyak orang dewasa yang menaikinya."
‘’Itu kan ibu-ibu yang sedang menemani anaknya, lalu kita?’’tanya Adelina.
"Aku yang menemanimu naik. Anggap saja aku sedang menemanimu."
Edward segera menarik Adelia dan menaiki carussel. ’’Aku tidak mau naik ini."
"Sudahlah jangan menolaknya lagi. Aku ingin naik ini denganmu. Aku kan sudah menemanimu mencoba beberpa permainan yang ingin kamu coba, jadi tidak ada salahnya kan kamu menemaniku untuk mencoba naik ini denganmu."
"Baiklah."
Edward pun tersenyum.
"Ini sih bukannnya Anda menemaniku naik ini, tapi sebaliknya aku yang menemani Anda naik ini,’’gerutunya.
Tiba-tiba tubuh Adelina terasa ringan melayang diudara. Edward mengangkat tubuh Adelina dengan mudah dan mendudukannya di kuda-kudaan, lalu Edward naik dikuda-kudaan yang sama dengan Adelia.
"Kenapa naik kuda bersamaku? Di sana kan masih banyak kuda-kudaan yang kosong."
"Aku ingin naik kuda bersama denganmu,’’bisiknya.
__ADS_1
Wajah Adelina bersemu merah, lalu dia sadar orang-orang sedang memperhatikannya dan dia merasa malu.’’Orang-orang sedang melihat kita." [ ]