
Fabian melangkah masuk ke kamar Miya dan menemukan gadis itu masih tertidur nyenyak. Ia mendekati tempat tidurnya, lalu mulai mengecupi bibir gadis itu.''Bangun pemalas!''serunya. Miya mengerjapkan matanya dan menemukan Fabian dengan senyuman cerahnya.''Pagi sayang!''
"Pagi!''
"Cepat bangun! Sebentar lagi sarapan pagi. ''Miya menuruti perintah Fabian dan menyuruh pria itu untuk pergi dari kamarnya. Tapi Fabian tetap duduk di tempat tidur gadis itu dan Miya menatapnya heran.
"Kenapa kamu tidak pergi? Aku mau ganti pakaian.''
"Aku ingin melihatmu ganti pakaian,''jawabnya dengan santai sambil merebahkan diri di tempat tidur, sedangkan matanya menatap Miya dengan jahil. Miya memasang wajah tidak suka dan membelalakan matanya.
"Dasar pria mesum. Cepat pergi!''seru Miya dengan nada suara tinggi.
"Apa kamu malu? Sebaiknya kamu tidak perlu malu lagi. Aku kan calon suamimu, lagi pula aku sudah tahu bagaimana tubuhmu, jadi kamu tidak perlu malu anggap saja aku tidak ada.'' Bibirnya melengkung ke atas memperlihatkan seringaian nakal untuk gadis itu.
Miya mendekati Fabian dengan cepat dan menarik tangannya memaksanya untuk bangun.''Aku ingin kamu pergi dari sini.''Matanya menatap Fabian dengan galak.
Fabian mendesah pasrah.''Baiklah-baiklah. Aku akan pergi. Hilang sudah kesempatanku untuk melihat pertunjukkan yang sangat menarik.''
"Kamu ini,''kata Miya dengan kesal sambil memukul dada Fabian.
"Aaaww....hentikan!''Fabian menangkap tangan Miya , lalu menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya dan langsung menciumnya, melumat bibir gadis itu. ''Aku akan segera kembali, jadi cepatlah berpakaian.''
Sebelum pergi Fabian mengecup kening Miya dan keduanya terkejut melihat Mary Jane di pintu saat pelayan itu datang membawakan sarapan pagi membuat Miya salah tingkah dan malu.''Pagi nona Miya! Saya membawakan sarapan pagi untuk Anda.''
"Simpan saja di meja! Aku akan berganti pakaian dulu.''Miya cepat- cepat masuk ke dalam kamar mandi .
Setelah Miya masuk ke kamar mandi, Fabian mendekati Mary Jane yang tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi .''Apa kamu sudah menjahitkan kancing kemejaku?''
__ADS_1
"Su...sudah selesai. Saya sudah menyimpannya di kamar Anda.''
"Terima kasih.''
Fabian keluar dari kamar Miya dengan wajah senang dan berjalan sambil bersiul.''Kamu terlihat sangat senang sekali. Pasti karena gadis itu,''kata seseorang membuat Fabian terkejut.
"Ternyata kamu Joshua.''
Joshua tersenyum sinis.''Gadis itu sudah membuatmu benar-benar jatuh cinta. Tidak aku sangka.Aku tidak mengerti apa yang membuatmu begitu tertarik kepadanya. Dia sama sekali bukan wanita tipemu. Tidak begitu cantik, tidak anggun dan tidak feminim. Sepertinya kamu sudah gila dengan mencintai gadis itu.''
"Aku memang sudah gila, karena mencintai Miya. Sebaiknya kamu juga segera menikah!'' Fabian menepuk bahu Joshua dengan lembut.
"Aku tidak akan menikah,''jawabnya dengan suara tajam.
"Jangan berkata seperti itu . Suatu hari nanti kamu akan jatuh cinta lagi atau jangan-jangan kamu masih mencintai wanita itu.'' Fabian memicingkan matanya dan menatapnya penuh curiga.
Wajah Joshua tiba-tiba terlihat muram.'Itu bukan urusanmu,''jawabnya dingin. Joshua kemudian pergi dan Fabian mengikutinya dari belakang.
"Aku tahu itu.''Joshua berjalan cepat meninggalkan Fabian di belakangnya. Fabian sedih memandangi punggung sepupunya.''Ku harap dia akan benar-benar melupakan wanita itu,''gumamnya.
Tidak lama kemudian Fabian kembali dan menemukan Miya telah menyelesaikan sarapan paginya bersama Adelina. Sekilas ia mengecup Maya sebelum Fabian membawanya pergi dari kamarnya dengan tergesa-gesa.Mary Jane hanya terdiam melihat pemandangan itu.''Kami pergi dulu,''seru Fabian.
"Hati-hati di jalan!''Adelina melambaikan tangannya.
Fabian membawa Miya ke bukit yang penuh hamparan bunga. Mereka berdua menghabiskan sisa siang itu di sana sambil menikmati makan siang mereka.
"Fabian.''
__ADS_1
"Apa?''
"Paman Joshua terlihat menakutkan. Dia selalu memandang dingin kepadaku. Sepertinya dia tidak suka kepadaku.''
Fabian tersenyum.''Jangan pedulikan dia! Joshua memang seperti itu. Dia tidak membencimu. Percayalah! Nanti juga kamu akan terbiasa dengan sikap dinginnya itu.''Miya mengangguk mengerti, lalu Fabian mengenggam tangan Miya .
***
Hari-hari telah berlalu sudah saatnya bagi Miya dan juga Fabian kembali ke New York, karena hari libur kuliahnya telah berakhir. Miya tengah sibuk membereskan barang-barangnya di bantu oleh Mary Jane. Miya merasa senang, karena Fabian akan kembali ke Castalia mansion bersamanya. Meskipun hari yang ia lalui disini begitu singkat, tapi sudah banyak hal yang terjadi. Sekarang ia sudah menjadi tunangan Fabian Baskerville.
"Sebelum kita kembali ke New York besok, saya ingin mengajak Anda kesuatu tempat,''kata Mary Jane tiba-tiba. Miya menatap pelayannya yang terlihat gugup.
''Ke suatu tempat?''ulang Miya dengan tatapan heran kepada pelayannya.
"Sebenarnya sejak kita datang kemari , saya ingin mengajak Anda ke suatu tempat, tapi selalu tidak ada kesempatan.''
"Baiklah.''Miya tersenyum kepada Mary Jane dan keduanya meninggalkan kamar.
Fabian menggerutu kesal ketika ia tidak menemukan Miya di mana pun. Ia keluar kastil untuk mencari Miya. Partama ia mendatangi halaman belakang dimana gadis itu selalu menghabiskan waktu di sana dan Miya tidak ada di sana, lalu ia mencarinya ke istal, danau dan kolam renang, tapi Miya tetap tidak ditemukan di mana pun."Kemana dia?''gumamnya kesal. Fabian kembali dengan wajah cemberut .
"Kamu kenapa Fabian? Sepertinya suasana hatimu sedang tidak bagus,''kata Blinda dari arah belakangnya. Fabian membalikkan badannya."Aku tadi melihatmu dari luar dengan wajah cemberut.''
"Aku mencari Miya sejak dari tadi, tapi aku tidak menemukannya.''
"Jadi itu penyebabnya. Kamu merindukan Miya?''goda Blinda. Wajah Fabian merona merah.
"Tadi aku melihat Miya dan Mary Jane pergi. Tapi aku tidak tahu kemana mereka pergi.Mereka pergi lewat belakang kastil.''
__ADS_1
"Aku akan mencari mereka.''
"Aku ikut denganmu.'' [ ]