
Setelah selesai makan siang Hans dan Hannah pergi ke makam Zelda Carson, cucu Hans. Di pemakaman, Hans meletakkan satu buket bunga Daisy di batu nisan Zelda.
" Kakek datang lagi. Bagaimana kabarmu? Kakek sangat merindukanmu dan berharap kamu berada bersama kakek sekarang."
Hans memghapus air matanya dengan lengan kemejanya. Ia teringat kejadian 35 tahun yang lalu yang menewas hampir seluruh keluarganya.
Pada saat itu Hans, putra, menantu, dan cucu kembarnya, Zelda dan Charlotte sedang berlibur di villa keluarga mereka yang berada di Lancester, Inggris. Saat itu musim salju. Hans sangat menyayangi cucu kembarnya. Charlotte, wanita yang ceria, memiliki vitalitas, dan semangat yang tinggi. Ia juga dapat menularkan energi semangatnyaa kepada orang-orang di sekelilingnya, sedangkan Zelda, wanita pendiam, tidak pandai bergaul, dan kutu buku. Ia selalu menjadi murid terpintar di sekolahnya dan di kampusnya.
Suatu hari saat mereka sedang melakukan pesta barbeque, Charlotte membawa seorang pria tampan dan memperkenalkannya sebagai kekasihnya. Tentu saja hal itu membuat semuanya terkejut, karena selama ini Charlotte tidak pernah mau menjalin hubungan dengan pria mana pun meski usianya sudah menginjak 20 tahun saat itu.
" Ini Joseph Coldwell, kekasihku dan dia juga seorang pangeran," kata Charlotte yang membuat mereka terkejut.
" Ibu tidak tahu kalau kamu sudah punya kekasih."
" Joseph teman kuliahku. Kami berdua saling mencintai dan kami memutuskan untuk menjalin hubungan."
Tanpa diketahui oleh siapa pun, Zelda juga jatuh cinta kepada Joseph saat Charlotte mengenalkan pria itu kepadanya saat itu. Zelda merasa iri, karena Charlotte bisa mendapatkan pria baik, penuh perhatian, dan setampan Joseph. Liburan di villa keluarga yang berlangsung selama seminggu dilalui dengan gembira dan menyenangkan.
Sebelum akhirnya tragedi itu terjadi. Zelda dan Charlotte memutuskan tinggal di villa di hari terakhir mereka liburan sebelum mereka pulang keesokan harinya, karena kakek dan orangtua mereka akan pergi ke salah satu rumah temannya yang tidak berada jauh dari villa.
Pagi itu Zelda sedang membaca buku di pinggir jendela sambil menikmati sinar matahari pagi yang masuk melalui kaca jendela, sedangkan Charlotte berlutut di depan perapian, mengambil arang dari perapian dan memasukannya ke ember kaleng, lalu mengambil kayu bakar di samping perapian dan meletakkannya di dalam perapian. Api mulai menyala dan seketika menghangatkan ruangan.
Charlotte duduk di sofa dekat jendela menikmati secangkir coklat panas. Ia menatap saudara kembarnya yang sedang serius membaca sebuah novel.
"Zelda,"panggil Charlotte.
"Hmmm."
"Apa kamu menyukai Joseph?"
Zelda langsung menatap adiknya.
"Kenapa kamu tanyakan itu?"
"Aku hanya ingin tahu saja. Aku tahu kamu suka kepadanya. Selama 4 hari Joseph berada di sini, kamu selalu memandangnya dengan penuh cinta. Aku bisa melihatnya."
" Maafkan aku. Seharusnya aku tidak jatuh cinta kepadanya. Itu salah. Aku tidak akan merebut Joseph darimu. Dia milikmu."
" Terima kasih."
" Di hati Joseph hanya ada kamu. Tidak ada aku."
" Kami berdua sudah sepakat akan menikah lima tahun lagi."
" Lama sekali kenapa tidak menikah setelah kalian berdua lulus kuliah?"
" Karena ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan Joseph yang berkaitan dengan negaranya. Kamu tahu kan kalau dia seorang pangeran."
" Aku tahu. Kamu seperti Cinderella disukai oleh seorang pangeran tampan. Kamu sangat beruntung."
" Awalnya aku tidak tahu kalau dia seorang pangeran."
" Apa Joseph akhirnya memberitahumu?"
"Iya waktu dia menyatakan cintanya kepadaku."
Wajah Charlotte merona merah. " Selama ini tidak ada satu pria pun yang berhasil membuatku jatuh cinta selain Joseph."
" Aku tahu itu. Aku harap kalian bahagia. Dan apa kamu percaya kepadanya Joseph akan memegang janjinya untuk menikah denganmu lima tahun lagi?"
"Aku percaya."
Suara ketukan keras di pintu membuat mereka saling pandang.
" Menurutmu siapa yang datang? Tidak mungkin kakek dan orangtua kita sudah kembali."
"Sebaiknya kita lihat siapa yang datang,"saran Charlotte.
Zelda berjalan menuju pintu lebih dulu diikuti Charlotte dari belakang. Mereka berdua terkejut mendapatkan keponakan jauh mereka berada di depan pintu.
" Fabian,"seru Zelda.
"Halo Bibi Zelda dan Bibi Charlotte.
Zelda yang sudah nampak gemas melihat Fabian yang saat itu masih berumur 8 tahun langsung mencubit pipi montoknya.
" Kenapa kamu bisa berada di sini?"tanya Charlotte.
" Kebetulan aku sedang berada di sekitar sini. Ayahku ada keperluan bisnis di sini, jadi aku dan Ibu ikut Ayah ke sini, lalu aku dengar kalian sedang berlibur di sini, jadi aku memutuskan mengunjungi kalian di sini."
" Dengan siapa kamu datang?"tanya Zelda.
" Bersama dengan sopir."
" Orangtuamu?"
" Mereka sedang menemui klien bisnis."
" Ayo masuklah!"kata Zelda.
Charlotte langsung menyediakan susu dan macam-macam kue. Setelah mereka berbicara panjang lebar, Fabian tertidur pulas di sofa depan perapian. Zelda dan Charlotte pergi ke kamar masing-masing dan mereka juga tertidur.
Fabian terbangun, karena mencium bau asap. Ia kaget api sudah membakar gorden.
" Bibi Charlotte, Bibi Zelda ada kebakaran .Tolong!"teriak Fabian.
Asap semakin tebal dan api dengan cepat merambat ke seluruh lantai satu. Fabian mulai batuk-batuk hebat. Ia bermaksud menuju lantai atas untuk memanggil kedua Bibinya, tapi api sudah menghalangi jalannya. Fabian pun keluar sambil berteriak minta tolong.
"TOLONG! TOLONG!"
Sebuah mobil silver berhenti di depan villa. Kakek, orangtua Zelda dan Charlotte keliar dari mobil. Mereka terkejut melihat kepulan asap tebal dari lantai bawah.
" Ya Tuhan," seru kakek Hans.
" Di mana Charlotte dan Zelda?"tanya Hugh, ayah Zelda dan Charlotte.
__ADS_1
" Mereka masih ada di dalam," kata Fabian sambil menangis tersedu-sedu.
Jesslyn langsung pingsan mendengar kedua anaknya masih ada di dalam. Hans dan Hugh langsung mengangkat dan membaringkannya di bangku, lalu tubuhnya diselimuti oleh jas suaminya.
" Fabian kenapa kamu masih ada di sini?"tanya Hans.
" Aku kebetulan sedang berada di sini bersama orangtuaku."
Hugh memutuskan untuk menerobos masuk untuk menolong Charlotte dan Zelda. Hans yang memgetahui itu mencoba melarangnta."
" Hugh, jangan masuk! Itu terlalu berbahaya."
Hugh tidak mendengarkan larangan ayahnya dan tetap menerobos masuk ke dalam villa. Sekarang api sudah mulai menyebar ke lantai atas. Beberapa menit kemudian, seseorang keluar dari villa dengan terbatuk-batuk.
" Zelda dan ayah..."kata Charlotte sambil menangis.
" Ada apa dengan mereka?"
" Zelda meninggal, karena menyelamatkanku dari balok kayu yang jatuh, lalu ayah datang dan mencoba menyelamatkanku untuk keluar, tapi ayah terkepung api dan membakar tubuhnya saat mendorongku keluar. Mereka meninggal gara-gara menyelamatkanku."
Hans jatuh terduduk di bangku. Fabian menangis semakin kencang. Tidak lama pemadam kebakaran datang. Orangtua Fabian pun datang.
" Kamu tidak apa-apa?"tanya Rosalie, ibunya Fabian.
Fabian memeluk ibunya. " Aku tidak apa-apa."
" Apa yang terjadi?"tanya Andrew, ayahnya Fabian.
Fabian kemudian bercerita apa yang terjadi pada saat ia bangun tidur.
" Syukurlah kamu baik-baik saja," kata ibunya.
" Paman Hans, apa paman baik-baik saja?"tanya Andrew.
"Aku baik-baik saja, tapi Zelda dan Hugh..."
Kakek Hans tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi. Setelah 2 jam, akhirnya api bisa dipadamkan dan mereka menemukan dua mayat terbakar. Satu ditemukan di lorong lantai dua dan satunya lagi ditemukan di dekat tangga.
Charlotte pingsan saat melihat mayat ayah dan saudara kembarnya hangus terbakar. Andrew dan Rosalie meneteskan air mata, sedangkan kakek Hans terdiam di samping Jesslyn yang masih pingsan. Tatapannya kosong.
💔💔💔
Dua minggu telah berlalu, keadaan Jesslyn semakin memburuk. Sejak mengetahui suaminya dan Zelda meninggal, Jesslyn tenggelam dalam kesedihan dan kesehatannya semakin menurun. Akhirnya Jesslyn meninggal satu minggu kemudian membiat Charlotte dan Hans semakin terpuruk dalam kesedihan.
Setelah pemakam Jesslyn, Andrew menawarkan Charlotte untuk tinggal bersamanya supaya ia bisa kembali melanjutkan kuliahnya. Hans setuju dan Charlotte pun menyetujuinya.
Selama tinggal di keluarga Baskerville, Charlotte perlahan-lahan bisa kembali tersenyum dan Fabian sangat menyayanginya yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri. Setelah 6 bulan Charlotte tinggal bersama keluarga Fabian, kakek Hans datang menjenguknya.
" Kakek Hans," seru Charlotte dengan wajah gembira dan langsung memeluk kakeknya.
" Sepertinya kamu baik-baik saja di sini."
" Aku baik-baik saja. Mereka sangat baik padaku. Bagaimana kabar kakek?"
" Aku merindukan kakek."
" Kakek juga merindukanmu."
" Terima kasih kakek mau datang menemuiku di sini."
" Itu karena kakek merindukanmu dan selain itu ada hal penting yang ingin kakek bicarakan denganmu."
" Hal penting apa?"
" Apa yang sebenarnya terjadi di villa itu pada saat kebakaran?"
" Kenapa kakek membahas itu lagi? Aku tidak ingin mengingatnya lagi."
Charlotte berubah jadi murung.
" Maaf kakek. Aku mengerti perasaanmu, tapi kakek ingin memastikan satu hal padamu."
" Memastikan apa?"
" Kalau kamu bukan Charlotte, tapi Zelda."
Tubuh Charlotte seketika menegang dan wajahnya menjadi kaku.
" Apa yang kakek katakan benar, bukan?"
" Ke-kenapa kakek berpikiran seperti itu kalau aku bukan Charlotte?"
" Kakek sudah mengenalmu sejak kecil dan kakek tahu mana Charlotte dan mana Zelda. Kakek bisa membedakan kalian berdua."
Charlotte menghembuskan napas panjang.
" Kakek benar. Aku bukan Charlotte, tapi Zelda."
" Jadi yang meninggal itu adalah Charlotte?"
" Iya."
" Sudah aku duga, karena sifatmu mirip Zelda dan kakek menduga kalau kamu adalah Zelda."
" Maafkan aku sudah membohongi kakek dan juga orang lain."
" Kenapa kamu harus berpura-pura menjadi Charlotte?"
" Sebenarnya aku tidak mau, tapi Charlotte yang memkasaku untuk melakukannya."
" Apa maksudmu?"
" Aku akan menceritakannya pada kakek."
6 bulan yang lalu
__ADS_1
Zelda terbangun dari tidurnya, karena mendengar suara teriakan Fabian dari bawah. Ia pun menyadari ada asap yang masuk ke dalam kamarnya. Zelda meloncat dari tempat tidur dan pergi menuju kanar Charlotte yang berada di sebelahnya. Pada saat ia membuka pintu kamarnya, asap sudah sangat tebal. Ia membuka pintu kamar Charlotte dan saudara kembarnya masig terlelap tidur.
Zelda membangunkan Charlotte.
" Zelda, ada apa? Kenapa banyak asap?"
" Tidak ada waktu kita harus segera keluar dari sini. Sepertinya villa terbakar."
" Apaaa?"
Charlotte dan Zelda keluar kamar, tapi asap sidah terlalu tebal dan mereka kesulitan bernapas. Mereka memyusuri lorong menuju tangga, tapi di tengah perjalanan sebuah terjatuh. Charlotte mendorong Zelda dan balok menimpa tubuh Charlotte.
" Charlotte, bertahanlah!"
Charlotte menjerit kesakitan tertimpa balok yang terbakar. Zelda berusaha memadamkan api di balok dengan mantel tidurnya dan balok akhirnya padam.
Zelda berusaha untuk menyingkirkan balok, tapi tangannya ditahan oleh Charlotte.
" Pergilah! Kamu harus keluar dari sini."
Zelda menangis. " Aku tidak akan pergi dari sini dan meninggalkanmu di sini."
" Jangan bodoh!"teriaknya
" Tapi bagaimana aku bisa meninggalkanmu di sini."
" Dengarkan aku! Jika kita berdua meninggal siapa yang akan menikah dengan Joseph."
" Apa maksudmu?"tanya Zelda tidak mengerti.
" Aku tidak ingin membuat Joseph sedih, karena aku meninggal. Kamu harus menjadi Charlotte untuk menggantikan posisiku."
" Kamu bicara apa? Aku tidak mau."
" Aku mohon. Berjanjilah padaku kamu akan menjadi diriku dan menikah dengan Joseph."
" Aku bukan dirimu."
" Mereka tidak akan tahu, kalau kita bertukar posisi. Lagi pula aku sudah bisa tertolong lagi."
" Jangan bicara seperti itu! Aku akan cari bantuan."
Charlotte menggelengkan kepalanya.
" Aku sudah tidam kuat lagi. Aku mohon jadilah diriku. Ini permintaan terakhirku."
" Baiklah. Aku janji."
" Terima kasih."
Charlotte menghembuskan napas terakhirnya.
"CHARLOTTE."
Zelda menangis terisak-isak, lalu ia mendengar suara ayahnya.
" Ayah."
Hugh terpana melihat salah satu putrinya tidak bernyawa lagi.
" Zelda meninggal."
Hugh menghampiri Charlotte dan menangis di sampingnya, lalu ia menarik Zelda menuju pintu keluar. Setelah mereka menuruni tangga, api sudah mengepung mereka, Hugh mencari celah agar bisa melewati api. Ia pun mendorong Zelda dari lingkaran api yang mengepungnya dan melindungi Zelda dengan tubuhnya, sehingga tubuh Hugh terbakar.
"AYAH."
"Pergilah!"
Hugh berteriak kesakitan, karena tubuhnya terbakar.
Zelda yang sekarang menjadi Charlotte menatap kakeknya dengan penuh penyesalan.
" Maafkan aku."
" Kamu tidak perlu minta maaf. Kakek tidak menyangka, Charlotte begitu mencintai Joseph dan tidak ingin membuatnya sedih."
" Apa aku harus membuka identitasku sebenarnya?"
" Tidak perlu. Semua sudah terlanjur. Identitas Charlotte sekarang sudah menjadi milikmu dan Zelda sudah meninggal. Anggap saja begitu."
"Baiklah."
"Apa ada yg curiga kamu adalah Zelda?"
" Sepertinya tidak ada."
"Bagus. Ksmu harus menjaga rahasia ini baik-baik."
Zelda mengangguk.
" Kamu akan menjadi Charlotte selamanya."
Suara petir mengejutkan Hans yang masih memandang kuburan Zelda. Seharusnya yang tertulis di batu nisan itu bukan Zelda, tapi Charlotte.
" Kakek Hans, ayo kita pulang!"kata Hannah.
Hans mengangguk. Hannah menuntun Hans berjalan menuju mobil. Ia beruntung memiliki Hannah, cucu angkatnya yang mau merawatnya di masa tuanya. Ia merindukan Zelda, karena sudah 35 tahun ia belum bertemu dengannya lagi.
💔💔💔
Charlotte duduk di sofa di kamarnya. Ia memikirkan tentang siapa dirinya sebenarnya. Apakah ia harus memberitahu semua orang kalau ia sebenarnya adalah Zelda bukan Charlotte?
Nama Charlotte sudah melekat di dalam dirinya selama 35 tahun. Keluarganya mengenalnya sebagai Charlotte bukan Zelda, jika ia memberitahu kepada semua orang ada kemungkinan ia akan dituduh sebagai penipu dan pencurian identitas. Padahal ia tidak bermaksud begitu. Ia hanya memenuhi keinginan Charlotte dan memutuskan untuk tidak akan mengatakannya kepada siapa pun.
Charlotte teringat dengan Hans, kakeknya. Ia sudah lama tidak mendengar kabarnya. Kapan-kapan ia akan mengunjunginya. [ ]
__ADS_1