My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S2): Melarikan diri


__ADS_3

Charlotte berlari dan terus berlari. Kakinya sudah terasa sakit dan ia juga sudah sangat kelelahan. Tubuh rentanya sudah tidak kuat lagi untuk terus berlari. Ia pun memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan kembali perjalanan.


Di dalam pikirannya sekarang hanya ada satu tujuan, yaitu menemui seseorang yang dapat membantunya. Ia harus segera ke sana sebelum mereka akan menangkapnya lagi. Charlotte kembali meneruskan perjalanannya lagi dan berusaha menghentikan mobil di jalan untuk dimintai menumpang sampai tujuan.


Setelah beberapa kali ditolak, akhirnya Charlotte mendapatkan tumpangan di mobil bak terbuka. Ia sungguh sangat berterima kasih. Hari telah menjelang sore ketika mereka sudah mendekati kota. Charlotte pun turun dan berjalan kaki menuju sebuah apartemen tua dipinggiran kota. Ia mengetuk pintu yang berada di lantai 5. Seorang pria setengah baya membukakan pintu. Matanya membelalak terkejut.


"Charlotte,"serunya terkejut.


" Hai Dave!"


" Ayo masuklah!"


Pria yang dipanggil Dave itu segera pergi ke dapur untuk membawakan teh hangat.


" Aku tidak akan menyangka kamu akan datang kemari. Sebenarnya apa yang terjadi?"


" Aku melarikan diri dari penjara istana."


" Sudah kuduga. Michael dan Lewis tidak mungkin membiarkanmu pergi begitu saja."


Dave memperhatikan Charlotte dari atas sampai bawah." Kamu berantakan sekali."


"Aku sudah tidak lagi mempedulikan penampilanku lagi sejak aku dipenjara."


" Aku benar-benar turut prihatin atas musibah yang menimpamu dan keluargamu."


"Terima kasih."


Charlotte kembali menyesap tehnya.


" Apa mereka tahu di mana aku tinggal?"


" Tidak. Mereka tidak tahu. Di mana istri dan anak-anakmu?"


" Istriku sedang ke supermarket dan anak-anakku masih di sekolah."


" Maaf kalau kedatanganku sudah menganggu kalian."


" Kamu tidak menganggu. Aku senang kami bisa ada di sini dan berhasil lari dari cengkeraman Michael. Untuk sementara waktu kamu bisa tinggal di sini."


" Terima kasih."


" Dulu kalian sudah banyak membantuku. Sekarang giliranku untuk membantumu."


"Apa istrimu tidak akan keberatan?"


" Aku tidak keberatan sama sekali," kata Luna, istri Dave yang baru saja pulang dari supermarket.


" Hei Luna, sudah lama kita tidak bertemu."


Charlotte memeluk Luna. Ia begitu senang bisa bertemu kembali dengan teman-teman lamanya. Dave adalah sahabat suaminya dan dia juga adalah mantan penasihat hukum Joseph, sedangkan Luna dulunya adalah mantan pelayan pribadi Charlotte sejak menikah dengan Joseph. Keduanya diusir dari istana setelah Joseph meninggal dan mereka sudah menjadi teman baik dan orang kepercayaannya.


" Aku senang kamu baik-baik saja. Selama ini kami sangat mencemaskanmu. Kami kira sudah tidak ada harapan lagi kamu akan bebas."


"Aki juga mengira begitu. Aku hanya mengambil kesempatan untuk melariakan diri. Seharusnya aku lakukan bertahun-tahun yang lalu. Mungkin aku terlalu pengecut dan tidak punya keberanian untuk melakukannya."


" Dan akhirnya kami memiliki keberanian itu," kata Dave.


" Benar."


" Bagaimana dengan putramu, Jodan?"


" Aku rasa hidupnya sudah aman sekarang. Sebenarnya aku pun tidak tahu apa Jodan masih ada di sana di mana terakhir kali aku meninggalkannya."


" Sebenarnya kamu meninggalkan Jodan di mana?"tanya Luna.


" Di panti asuhan. Maaf aku tidak bisa mengatakan di mana."


" Aku mengerti,"kata Luna.


" Lebih baik kalian tidak tahu. Aku tidak ingin melibatkan kalian lebih jauh lagi."


" Aku akan memasak maksn dulu. Kalian mengobrol saja dulu."


Luna pergi ke dapur membawa kantong belanjaan.


"Dave, apa kamu masih menyimpan paspor lamaku?"


"Aku masih menyimpannya dan juga buku tabunganmu."


" Terima kasih. Sekarang aku butuh pasporku dan buku tabunganku. Aku harus pergi ke Amerika."


"Amerika?"


"Benar. Aku ingin menemui seseorang yang sudah lama tidak aku temui."


" Baiklah. Aku akan mengambilkannya dulu."


Dave pergi ke kamarnya dan ia menunggu di ruang tamu dengan gelisah. Setelah ini ia tidak akan merepotkan mereka lagi.


"Ini paspor dan buku tabunganmu."


" Terima kasih, Dave. Sepertinya pasporku perlu pembaharuan."


" Aku akan membantumu membuat paspor baru."

__ADS_1


"Sebaiknya kamu segera membersihkan diri. Luna akan memberikan pakaiannya untukmu."


Setelah Charlotte membersihkan dirinya dan anak-anak Dave pulang, mereka pun makan malam bersama.


💔💔💔


"Apa kalian bilang?"teriak Michael kepada pelayannya dan juga penjaga penjara.


" Kalian membiarkam Charlotte melarikan diri. Kalian benar-benar tidak becus,"kata Lewis kesal.


"Maafkan kami!"kata penjaga penjara. " Ratu Charlotte mengancam Laura dengan pisau. Aku takut sampai ia membunuhnya."


"Charlotte tidak akan berani membunuh Laura. Dia hanya mengancam saja," ujar Michael kesal.


Pelayan dan penjaga itu tertunduk.


"Sekarang kalian boleh pergi," kata Michael.


" Apa yang harus kita langsungkan sekarang?"


" Kita mencarinya."


"Kemana kita akan mencarinya?"


" Aku yakin Charlotte akan menemui anaknya dan dia akan menjadi petunjuk kita untuk menemukan Jodan. Saat itulah kita akan menangkap mereka berdua."


"Bahkan kita tidak tahu kemana Charlotte pergi."


"Apa kamu lupa secara diam-diam aku sudah memasang alat pelacak di cincin pernikahannya dan Charlotte tidak pernah melepaskan cincinnya itu, karena ia sangat mencintai suaminya."


" Bagaimana kalau dia sekarang sudah menyadari ada alat pelacak dicincinnya?"


Michael tersenyum dengan percaya diri.


" Kita akan buktikan apa Charlotte masih memakai cincinnya atau tidak."


Michael pergi ke meja kerjanya dan mengambil ponselnya yang terletak di atas meja. Ia mulai menyalakan alat pelacak diponselnya. Senyuman senang mengambang di wajahnya.


"Lihatlah! Ia masih memakai cincinnya dan tidak menyadari ada alat pelacak di cincinnya itu."


" Kakak hebat. Bagaimana kakak memasangnya?"


" Sejak aku pertama memasukkannya ke penjara, aku pernah memaksa lepas cincinnya."


" Sekarang wanita itu ada di mana?"


" Dia masih berada di Luxemburg."


" Apa kita akan pergi ke sana?"


" Charlotte pasti akan terkejut kita bisa dengan mudah menemukannya." Lewis tersenyum senang.


💔💔💔


Raina dan Leonard telah kembali berada di kamar mereka di mansion Clemonte dengan perasaan bahagia yang memuncak. " Aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu."


Tatapan mata Leonard begitu penuh cinta dan hangat. Raina berdetak semakin kencang dan melingkarkan tangannya di leher suaminya dan semakin menekan tubuhnya ke tubuh suaminya. Rasa sangat menyenangkan selalu ia rasakan setiap kali memeluk suaminya dengan sangat intim. Raina dengan sengaja menggesekkan tubuhnya membuat Leonard melenguh dan mendesah penuh kenikmatan. Tangan Leonard memeluk tubuh Raina semakit erat.


Leonard mencium dahi Raina, kedua matanya, pangkal hidung, kedua pipinya, lalu memainkan bibir Raina dengan menggigit bibir bawahnya. Leonard mengecupnya berulang kali. Ia merasakan kelembutan dan manisnya bibir istrinya yang membuatnya menginginkan lebih.


Erangan demi erangan lembut muncul dari keduanya. Lidah Leonard masuk lebih ke dalam lagi. Bibirnya terus menjelajahi mulut Raina. Desahan istrinya membuat Leonard semakin bergairah dan membuatnya mabuk kepayang.


Leonard kemudian mengalihkan perhatiannya ke samping leher istrinya. Napasnya memburu di dekat telinga Raina. Erangan lembut kembali terdengar ketika Leonard menyesap bukit kembar Raina dan tangan suaminya menyelip di antara kedua paha Raina dan jari-jarinya perlahan memasuki kelembutan istrinya. Hal itu memicu gairah dalam diri Raina.


Raina tidak dapat berhenti menggeliat dalam dekapan suaminya. Leonard kembali mengecup bibir istrinya dengan rakus. Ketika ia menarik diri, Leonard menatap wanita dalam dekapannya dengan pandangan penuh gairah dan cinta. Bibi Raina merah dan merekah akibat kecupan-kecupan panas yang ia berikan. Raina terlihat begitu cantik di matanya.


Leonard memisahkan kedua kaki Raina dan merintih saat tangan suaminya kembali bergerak di kelembutan Raina. Respon Raina membuat Leonard gila. Ia kemudian menembus masuk ke dalam tubuh istrinya. Napasnya terengah-engah merasakan perasaan luar biasa, ketika kewanitaan, Raina memeras setiap senti gairah di seluruh tubuhnya dan itu membuat Leonard mengigil oleh kenikmatan.


Leonard merasakan Raina lebih mengencang, mendengar istrinya meneriakkan namanya. Leonard kembali menancap dalam untuk terakhir kalinya dan melepaskan desah penerimaan ketika ia menumpahkan benihnya ke dalam tubuh Raina, lalu ia menghentikan gerakannya dan tersenyum. Ia menutup mulut istrinya dengan bibirnya, lalu Raina memeluk suaminya, merasakan aman dan nyaman. Keduanya tersenyum bahagia.


💔💔💔


Satu minggu telah berlalu sejak Charlotte tinggal dengan Dave dan Luna. Ia sudah tidak sabar pergi ke Amerika untuk mencari anaknya. Ia duduk termenung dipinggir jendela memikirkan apa yang akan ia lakukan ketika akan bertemu dengannya.


" Apa kamu sedang memikirkan anakmu?"tanya Dave.


" Iya. Aku sangat merindukannya. Sejak ia dilahirkan aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Bahkan aku tidak tahu seperti apa wajahnya. Apa hidupnya bahagia?"


" Dia pasti baik-baik saja."


" Mungkin Jodan akan membenciku, karena aku meninggalkannya di panti asuhan."


" Dia akan mengerti, jika tahu alasannya."


Charlotte mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela, berharap suaminya berada di sini bersamanya.


" Apa menurutmu mayat yang terbakar itu ada kemungkinan bukan Joseph?"


" Itu Joseph."


"Kamu yakin sekali."


" Aku mengenali jam yang ia pakai dan juga cincin pernikahannya."


"Aku juga mengenali jam dan cincin yang ia pakai. Aku masih berharap Joseph masih hidup."

__ADS_1


"Aku mengerti perasaanmu. Aku juga berharap ia belum meninggal."


Di luar apartemen Dave, dua pria sedang mengawasi apartemen itu.


" Charlotte ada di dalam ," kata Lewis


"Kita hanya bisa mengawasinya sekarang."


" Kalau kamu mau, kamu bisa menangkapnya kembali."


" Tidak sekarang sebelum dia menuntun kita kepada anaknya."


" Terserah kamu saja. Menurutmu dengan siapa ia tinggal di sana?"


" Dave Gordon."


" Jadi dia tinggal di sana. Menarik."


Michael terus memandangi apartemen dengan memicingkan matanya. Tatapannya tajam seperti elang yang tidak ingin mangsanya kabur lagi. Ia yakin Charlotte akan menyerahkan diri lagi kepadanya saat anaknya ada di tangannya.


Keesokan harinya Charlotte berpamitan kepada Dave dan Luna.


"Terima kasih atas pertolongan kalian kepadaku."


" Kamu adalah teman kami, jadi tanpa lamu minta pun, kami akan menolongmu," kata Dave.


" Dave benar," kata Luna.


Charlotte memeluk Luna dan Dave.


" Hati-hati di jalan! Segera hubungi kami, jika kamu sudah tiba di Amerika," ujar Dave.


"Tentu saja. Aku akan sangat merindukan kalian," kata Charlotte.


"Kami juga," kata Luna.


"Sampai jumpa!"


Charlotte keluar dari apartemen dan taxi yang akan membawanya ke bandara sudah menunggunya di depan apartemen. Kepergian Charlotte diikuti oleh Michael dan Lewis.


Taxi yang membawa Charlotte berhenti di depan bandara begitu pun juga mobil Michael.


" Dia mau pergi ke mana?"tanya Lewis.


" Entahlah."


Mereka berdua keluar mobil dengan terburu-buru mencari keberadaan Charlotte yang sedang dalam pemeriksaan imigrasi. Michael dan Lewis hanya bisa memperhatikan dari kejauhan, karena tidak bisa masuk ke dalam lagi.


Akhirnya mereka tahu kemana Charlotte pergi setelah melihat alat pelacak keesokan harinya.


" Charlotte pergi ke New York,"kata Michael.


" Apa mungkin Jodan ada di sana?"tanya Lewis.


" Mungkin saja. Besok kita akan pergi menyusulnya ke sana."


Lewis pun menyetujuinya.


Charlotte yang telah tiba di New York segera mengunjungi pantai asuhan di mana dulu ia meninggalkan bayinya, tapi apa yang apa yang dilihatnya sekarang membuatnya sangat sedih.


Gedung panti asuhan telah ditutup dan gedung itu sekarang tidak terurus dan sudah ditumbuhi oleh tanaman merambat.


" Anakku," gumamnya.


Charlotte tidak tahu lagi harus mencarinya kemana. Ia pun bertanya kepada orang-orang tentang panti asuhan malaikat kecil. Beberapa warga mengataka panti asuhan itu sudah ditutup 20 tahun yang lalu. Mereka juga tidak tahu kemana para pengurus panti asuhan dan anak-anak itu pergi.


Charlotte pergi dengan menelan kekecewaan. Satu-satunya petunjuk tentang meberadasn anaknya adalah panti asuhan itu. Ia pun berpikir ada kemungkinan Jodan sudah diadopsi oleh keluarga lain dan lagi-lagi Charlotte tidak tahu. Ia pun menangis dan merasa putus harapan untuk bisa bertemu kembali dengan anaknya.


Setelah tiba di apartemen yang ia sewa, Charlotte berbaring di tempat tidurnya, memikirkan kembali bagaimana cara ia menemukan anaknya. Keeseokan paginya, ia mulai kembali mencari anaknya dengan memasang iklan tertulis di koran yang isinya ia sedang mencari seorang anak bernama Jodan di panti asuhan malaikat kecil.


Charlotte berharap Jodan yang sudah dewasa membacanya atau ada keluarga yang mengadopsi Jodan membacanya. Hari demi hari telah berlalu, tidak ada orang yang menghubunginya, Charlotte kembali putus harapan. Ia sudah tidak tahu lagi kemana harus mencarinya lagi.


Michael dan Lewis yang sudah berada di New York beberapa hari yang lalu sempat membaca iklan di koran tentang Jodan.


" Jadi selama ini Charlotte memberikan Jodan ke panti asuhan malaikat kecil di New York,"gumam Michael.


" Sepertinya Charlotte kehilangan jejak anaknya,"kata Lewis.


" Sepertinya begitu."


"Apa kita akan tetap menunggunya atau kita tangkap kembali Charlotte?"


" Kita akan menunggunya,"kata Michael.


" Sudah satu minggu kita di sini dan Charlotte masih belum menemukan Jodan."


" Aku tahu dan kita harus sabar menunggu sampai Charlotte menemukannya."


" Semoga saja Jodan segera ditemukan, sehingga kita bisa menyingkirkan mereka secepatnya,"ucap Lewis.


" Kita juga harus menyingkiran istri dan anak-anak Jodan, jika anak itu sudah punya istri dan keluarga."


" Kakak benar. Kita harus memusnahkan keturunan Joseph supaya tahta jatuh ketanganmu."


Michael menghisap cerutunya sambil memikirkan cara untuk melenyapkan semua keturunan Raja Joseph. Sementara itu Charlotte tengah bersiap-siap pergi menemui seseorang yang sudah lama ia tidak jumpai. Setelah membereskan semua pakaiannya ke dalam koper, Charlotte masuk ke dalam taxi dan membawanya semakin menjauh dari apartemennya. Ia berharap suatu hari nanti keajaiban datang kepadanya. [ ]

__ADS_1


__ADS_2