
Miya terbangun dan merasakan beban tubuhnya menjadi berat. Saat matanya sudah benar-benar terbuka, gadis itu terkejut melihat pamannya berbaring di sampingnya dan mendapati dirinya tengah dipeluk erat . Ia memandangi pamannya yang masih terlelap tidur, memperhatikan wajah tampannya yang nampak kekanak-kanakan di saat tidur. Miya tertegun sebentar. Ini bukan saatnya mengagumi ketampanan wajah pamannya . Rasa amarah mulai berkecamuk di dadanya. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Fabian,lalu dipukulnya pria itu dengan bantal.
‘’DASAR LAKI-LAKI KURANG AJAR. AYO BANGUN! ‘’ Fabian meringis kesakitan mendapat pukulan bertubi-tubi dari Miya. ‘’Miya, Stop!’’
Fabian masih berusaha menahan pukulan bantal dengan kedua tangannya.’’Stop!...Stop!’’
Miya berhenti, napasnya pendek-pendek menahan amarah. ‘’Sudah puas memukulku?’’tanya Fabian dengan nada kesal.
‘’Belum." Miya kembali memukulnya.
‘’Sudah hentikan!’’
Fabian segera meraih bantal itu dan melemparkannnya kesamping. Miya masih melemparkan tatapan marah pada pamannya. ‘’Kenapa paman tidur disini?’’
‘’Aku salah masuk kamar,’’jawab Fabian dengan senyuman nakal.
‘’Aku tidak percaya. Pasti paman sengaja masuk ke kamarku iya kan?"
Seulas senyum samar tersungging dibibirnya.’’kalau itu benar memangnya kenapa?’’
‘’Dasar laki-laki kurang ajar,’’seru Miya dengan suara kesal. Pukulan bantal kembali melayang ke arah pamannya. ‘’Turun dari tempat tidurku!’’
‘’Baik. Aku pergi. Kamu terlihat sangat seksi ketika sedang tidur, sayang.’’
" Apaaaa?"
Tatapan Fabian melihat ke arah tubuh Miya yang hanya terbalut oleh pakaian tidur tipis yang memperlihatkan keindahan tubuh gadis itu dengan tatapan penuh hasrat. Secara refleks Miya menutupi dirinya dengan tangan,lalu menyelimutinya dengan selimut.Wajahnya merona merah. Miya memicingkan mata dan menatap curiga pamannya.’’Apa yang sudah paman lakukan padaku?’’
‘’Aku tidak melakukan apa-apa padamu. Aku hanya tidur sambil memelukmu."
‘’Dasar paman kurang ajar." Miya kembali melemparkan bantalnya ke arah Fabian.
‘’SEKARANG PERGI DARI KAMARKU!’’
‘’Miya sayang, kenapa kau jadi semarah itu? Aku tidak melakukan apa-apa padamu hanya berbaring tidur di sampingmu hanya itu saja atau jangan-jangan kau tidak pernah tidur dengan seorang pria?’’goda Fabian. Miya terdiam.
’’Iya aku memang belum pernah tidur dengan pria mana pun. Apa paman sekarang puas,’’jawabnya dengan nada kesal. Fabian tersenyum penuh arti, lalu tertawa keras. ‘’Kenapa paman tertawa? Tidak ada yang lucu disini." Miya mengucapkan itu dengan wajah cemberut.
‘’Kau begitu jujur Miya, sayang." Lalu Fabian mendekat mulai menaiki tempat tidur lagi dengan mata seorang predator yang siap memangsa korbannya, gadis itu langsung mundur masih sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.’’Pa..paman mau apa?’’tanya Miya ketakutan.’’Jangan mendekat!’’
Senyum nakal dan menggoda tersungging disudut bibir Fabian.’’Kalau kamu terus-terusan mundur kau bisa jatuh."Miya melihat ke belakang dan sudah berada di tepi tempat tidurnya. Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah. Napasnya tercekat ditenggorokan, ketika wajah pamannya semakin mendekat. Jantung gadis itu berdebar-debar tidak karuan. Fabian mengulurkan tangannya dan mengelus pipi Miya dengan lembut dan sorot matanya menjadi lembut dan teduh,ditariknya Miya ke dalam pelukannya.’’Kamu memang my Miya dan selamanya akan tetap seperti itu,’’katanya dalam suara serak dan berat.
Pria itu perlahan-lahan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Miya yang nampak menggoda di matanya.’’Pa...paman,’’bisiknya. Fabian melihat ketakutan di sorot matanya, dijauhkannya tubuh gadis itu. Miya mendesah lega. Seringai kecil muncul di sudut bibir pria itu. ‘’Biarkan aku mencumbumu sekali saja,’’goda Fabian. Mata gadis itu membelalak lebar.
‘’Apa paman bilang? Paman memang benar-benar sudah gila mau mencumbuku. Paman memang pria mata keranjang, hidung belang , penggoda wanita. Cepat pergi sana!’’
Miya mendorong pamannya sekuat tenaga supaya menjauh darinya.
‘’Baiklah. Aku akan pergi jadi jangan marah lagi. Kau tahu ketika kamu marah pun tetap manis."
‘’Dasar paman kurang ajar." Miya menggeram marah, lalu kembali melemparkan bantalnya, ketika Fabian akan membuka pintu kamar. ‘’Aku tunggu di ruang makan setengah jam lagi, jadi cepatlah berpakaian,’’ujar Fabian sebelum menutup pintu kamar. Tidak lama kemudian suara tertawa keras terdengar membuat gadis itu semakin kesal.
Miya berusaha menenangkan dirinya. ‘’Dasar paman kurang ajar,’’umpatnya dalam hati. Miya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pamannya. Baru beberapa hari ia tinggal dengan pamannya, pria itu sudah bersikap kurang ajar padanya. Miya mendesah pasrah, beginilah resikonya tinggal dengan seorang pria tampan, penggoda dan perayu wanita.
Di kamarnya Fabian merasa jengkel, ketika melihat banyak sekali undangan pesta untuknya di tengah kesibukannya bekerja. Tapi sepertinya ia tidak bisa mengabaikan satu undangan pesta penting untuknya yang datang berasal dari keluarga O’Brian untuk merayakan pesta ulang tahun putri mereka yang ke-19 tahun dan juga gadis yang sudah dijodohkan untuknya. Ia tidak bisa menolak untuk tidak datang ke pesta ini, karena keluarga O’Brian adalah salah satu partner bisnis terbesar keluarganya, selain itu Anna dan Henry O’Brian adalah sahabat ibu dan ayahnya sejak mereka masih menjadi mahasiswa. Ia diwajibkan untuk menjaga hubungan baik dengan mereka dan mungkin ini akan menjadi pertemuan pertamanya dengan Isabella. Fabian menghela napas kemudian meraih jasnya yang tersampir di kursi dan keluar kamar dengan terburu-buru.
Di ruang makan Fabian nampak jengkel, ketika Miya tidak muncul-muncul untuk sarapan pagi bersamanya. Berkali-kali ia melihat jam tangannya sudah lebih dari setengah jam, Miya belum juga muncul.’’Kemana dia?’’tanyanya dengan suara tidak sabaran, lalu ia memanggil salah satu pelayannya untuk melihat Miya di kamarnya.
Tidak lama kemudian pelayan itu kembali dan mengatakan kalau Miya sudah tidak ada di kamarnya dan sudah pergi. Fabian nampak marah dan kesal. Ia harus segera menaklukan gadis itu secepatnya tekadnya dalam hati, karena Miya bukan tipe wanita yang mudah ditebak dan dijinakkan. Selain itu yang membuat Fabian semakin tertarik adalah saat bersamanya ia tidak pernah merasa bosan tidak seperti ketika ia bersama teman kencannya selama ini . Mau tidak mau Fabian harus mengakui tanpa ia sadari sebagian jiwanya sudah ia berikan kepada gadis itu sehingga ia semakin tidak rela untuk melepaskannya pergi jauh dari sisinya.
♪♪♪♪
Miya mendesah lega ketika telah sampai di kelasnya. Ia tidak ingin bertemu dengan pamannya untuk sementara waktu . Ia masih kesal dengan kelakuan pamannya yang tidak sopan masuk ke kamarnya dan tidur bersamanya, kalau Fabian berpikir ia akan jatuh ke dalam pelukannya maka pamannya salah besar.
__ADS_1
‘’Kau kenapa? Wajahmu terlihat cemberut."
‘’Ternyata kau Bella. Aku tidak apa-apa. Saat ini aku sedang merasa kesal dengan seseorang."
‘’Siapa orang yang sudah berhasil membuatmu kesal pagi-pagi begini?’’
‘’Ah itu...pokoknya seseorang yang begitu menyebalkan."
‘’Pasti orang itu begitu menyebalkan sehingga kamu terlihat begitu cemberut."
‘’Benar. Orang itu sangat menyebalkan rasanya aku ingin mencincang dia,’’jawab Miya penuh emosi. Isabella hanya tersenyum melihat kekesalannya.
‘’Biar aku tebak . Apa orang yang sudah membuatmu kesal adalah seorang pria?’’
‘’Benar. Dia adalah seorang pria yang paling menyebalkan yang pernah aku temui."
‘’Dia kekasihmu?’’
‘’Bukan. Tentu saja bukan."Miya menyangkalnya dengan keras. Isabella tersenyum maklum padanya, lalu ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
‘’Ini adalah undangan pesta ulang tahunku. Datanglah! Aku akan sangat senang jika kau datang. Jadi sekarang jangan cemberut terus."
‘’Pasti aku akan datang. Terima kasih Bella."Miya begitu antusias, ketika melihat isi undangan itu. Sebuah pesta yang menyenangkan sudah terbayang dibenaknya. Sesekali Miya melirik ke arah temannya yang begitu terlihat cantik dan anggun. Kadang ia merasa iri dengan kecantikan yang dimiliki oleh teman barunya.
‘’Tanganmu kenapa? ‘’tanya Bella ketika gadis itu menyadari ada beberapa goresan di tangannya.
‘’Ah bukan apa-apa."Miya langsung menyentuh tangannya. Ia teringat akan kejadian tadi pagi sebelum pergi kuliah. Dari kaca mobil , ia melihat seorang kakek sedang berjalan sempoyongan terlihat sakit. Miya langsung turun dari mobilnya dan tepat saat Miya mendekatinya , kakek itu terjatuh dan Miya pun ikut terjatuh menahan beban tubuh kakek itu. Ia merasa senang, ketika kakek itu telah sadar di rumah sakit .
♪♪♪♪
Gilbert langsung mencegat Fabian di depan perusahaannya ketika pria itu baru turun dari mobilnya.
’’Ada apa?’’tanya Fabian dengan mimik wajah serius seperti biasanya.
‘’Baiklah."
Ucapan selamat pagi untuknya diberikan oleh para pegawainya, ketika Fabian mulai masuk ke gedung kantornya. Pria itu hanya menanggapinya dengan senyuman.
Fabian langsung duduk dikursinya ketika sampai di kantornya dan menatap Gilbert minta penjelasan. ‘’Katakan ada apa?’’tanya Fabian tidak sabaran.
‘’Aku rasa. Kita telah berhasil mendapatkan Pancost shipping,’’jawab Gilbert dengan suara setenang mungkin.
Senyuman lebar merekah diwajahnya. ‘’Benarkah? Perusahaan perkapalan terbesar Pancost telah berhasil kita dapatkan?’’tanya Fabian gembira.
‘’Benar. Sepertinya kita telah berhasil membujuk Mr. Felton untuk menjualnya kepada kita dengan harga yang sangat tinggi."
‘’Ini bagus sekali. Bagus. Aku sudah mengincarnya sejak lama ketika Mr. Felton berencana menjualnya. Ayah pun sangat menginginkannya dan aku berjanji untuk mendapatkannya. Akhirnya dia menyetujui harga yang aku tawarkan kepadanya."Wajah Fabian berbinar bahagia. Impian ayahnya dan dirinya memiliki perusahaan perkapalan terbesar di New York akhirnya dapat terwujud. Fabian tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Sekarang janjinya kepada ayahnya telah terpenuhi.
‘’Tentu saja dia akan menerima tawaranmu. Harga yang kau tawarkan sangat tinggi. Dengan uang itu Mr. Felton dapat menikmati hari tuanya dengan bahagia. Sayang sekali dia tidak memiliki seorang pewaris. Oh ya, bagaimana makan malammu bersama Miya kemarin?’’
‘’Kau ingin tahu saja. Semuanya berjalan lancar. Miya sangat cantik kemarin malam dan aku hampir saja menciumnya di depan umum. Aku juga bertemu dengan James saat pulang makan malam.:
‘’James? Dia bicara apa padamu?Apa dia masih membencimu?’’
‘’Tentu saja dia masih membenciku itu sudah pasti. Kau tahu, dia mengatakan aku seorang pembunuh dihadapan Miya."
‘’Apaaa....Dia memang sudah keterlaluan berkata seperti itu padamu apa lagi di hadapan Miya. Seharusnya orang itu tidak mengatakan hal itu. Apa pendapat Miya soal ini?"
‘’Miya tidak mengatakan apa pun dan saat ini aku tidak berniat untuk menjelaskan kepadanya, tapi perkataan James memang ada benarnya juga." Wajah Fabian yang semula senang kini kembali muram. Pertemuannya dengan James membuatnya kembali teringat masa lalunya yang ingin ia lupakan.
‘’Tidak. Jangan katakan itu. Aku tahu kau bukan seorang pembunuh."
‘’Tapi kenyataan itu benar. Aku telah membunuh istriku, Gil . Aku memang orang yang jahat."
__ADS_1
‘’Jangan anggap dirimu orang jahat. Ini semua karena kesalahan istrimu, jadi jangan salahkan dirimu lagi. Sudahlah kita jangan bicarakan itu lagi, itu akan membuat suasana hatimu bertambah buruk saja.’’
‘’Baiklah, aku juga tidak ingin membicarakan hal itu lagi. Gil, bisakah kamu mengatur pertemuanku dengan Mr. Felton . Aku ingin segera menyelesaikan pembelian Pancost shipping."
‘’Aku rasa besok siang adalah waktu yang tepat , bagaimana?’’
‘’Baiklah. Aku akan bertemu dengannya besok siang."
♪♪♪♪
Miya sedang memilah-milah tugas kuliahnya yang akan ia kerjakan di perpustakaan dan ia mendengus kesal, ketika melihat tugas-tugas kuliahnya begitu banyak. Tanpa ia sadari ruangan kuliah sudah terlihat sepi hanya ada enam orang termasuk dirinya yang masih berada dalam ruangan. Isabella sudah pulang duluan dengan terburu-buru ketika perkuliahan selesai.
‘’Namamu Miya, bukan?’’tanya seorang pria di sampingnya. Miya langsung menoleh dan menemukan seorang pria tinggi tegap dan tampan sedang menatap dirinya. Mata abu-abunya memperlihatkan kegelisahan.
‘’Iya . Aku Miya."
‘’Namaku Sebastian. Apa kamu ada waktu? Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." Miya mengernyit menatap pria yang ada dihadapannya dengan tatapan penuh tanda tanya.
‘’Baiklah. Apa yang kamu ingin bicarakan denganku." Sebastian kemudian duduk di samping Miya dan nampak sedikit gugup.
‘’Sepertinya kamu berteman baik dengan Isabella."
‘’Itu benar. Kenapa?’’
‘’Aku sahabatnya dan sudah jatuh cinta kepadanya."
‘’Hah?’’
Miya terkejut dan menatap pria yang di sampingnya dengan tidak percaya.
Sebastian lalu menceritakan semuanya kepada Miya sedetail mungkin tanpa ada yang terlewatkan. Pria itu bercerita kalau ia adalah teman masa kecilnya Isabella dan sudah jatuh cinta kepadanya sejak Isabella berumur 16 tahun dan perasaannya itu ia pendam selama tiga tahun. Akhirnya Sebastian mengatakan perasaannya pada gadis itu dua hari yang lalu, tapi Isabella menolaknya dan hanya menganggapnya sebagai sahabatnya dan yang membuatnya semakin sedih sekarang hubungan persahabatannya dengan Isabella tidak seperti dulu. Isabella selalu berusaha untuk menghindarinya. Sebastian mendesah panjang, ketika ia selesai bercerita.
Miya memperhatikan Sebastian dari bawah sampai ujung kepala menurutnya Sebastian pria yang tampan dan juga baik. Secara fisik nilainya cukup bagus. Miya memberikan nilai 8,5 untuknya dan tentu saja nilai 9 ia berikan untuk pamannya.
‘’Sekarang Isabella sedang jatuh cinta dengan seseorang , itu yang dia katakan dua hari yang lalu dan aku tidak tahu siapa pria itu. Apa kamu tahu siapa pria yang disukai Isabella sekarang?’’
‘’Maaf. Aku tidak tahu siapa pria itu. Meskipun aku sekarang adalah temannya, tapi Bella tidak pernah bercerita kepadaku. Dia hanya pernah bilang kalau dia sedang jatuh cinta dengan seseorang yang dia lihat di sebuah pesta, tapi dia tidak mengatakan siapa nama pria itu."
Sebastian terlihat kecewa.’’Oh begitu."
‘’Maaf. Aku tidak bisa membantumu."
‘’Kamu tidak perlu minta maaf. Tapi bisakah kau membantuku supaya aku lebih dekat lagi dengan Bella? Kau kan temannya." Sebastian menatap Miya dengan penuh permohonan .’’Bagiku hanya berada dekat dengannya dan menjadi sahabatnya sudah cukup untukku." Akhirnya Miya menyanggupinya, karena ia merasa kasihan kepada Sebastian.
Sebastian langsung meraih tangan Miya dan wajahnya langsung berbinar senang.’’Terima kasih Miya."
‘’Kalau kamu ingin lebih dekat lagi dengan Bella , kamu bisa bergabung ke dalam tugas kelompok kami. Aku masih kurang satu orang lagi. Itu pun kalau kamu belum masuk kelompok mana pun."
‘’Aku akan masuk ke kelompok kalian’’Tanpa pikir panjang lagi Sebastian langsung menyanggupinya. Sebastian terlihat begitu gembira dan gadis itu hanya menanggapinya dengan senyuman. Apa Sebastian begitu mencintai Isabella sampai-sampai pria itu sangat senang, ketika ia menawarinya masuk ke tugas kelompoknya. Seandainya itu benar, Isabella begitu beruntung bisa dicintai oleh Sebastian. Miya pun jadi penasaran siapa pria yang sudah berhasil mencuri perhatiannya.
♪♪♪♪
Sore hari Miya kembali ke mansion di antar oleh Sebastian, karena sopir yang biasa mengantar dan menjemputnya tiba-tiba merasa tidak enak badan. Awalnya Miya menolak, tapi Sebastian bersikeras untuk mengantarkannya pulang dan Miya pun menyetujuinya . Pintu gerbang yang menjulang tinggi yang di hiasi oleh huruf B besar mengayun terbuka. Mobil yang dikendari Sebastian perlahan-lahan memasuki halaman mansion.
Sebastian membukakan pintu untuk Miya dan mengulurkan tangannya untuk membantunya keluar dari mobil. ‘’Terima kasih,’’ucap Miya.
‘’Baiklah. Sebaiknya sekarang kamu masuk. Sampai jumpa lagi besok." Sebastian kembali masuk ke dalam mobilnya, lalu berlalu pergi.
Miya terkejut mendapati Mary Jane sedang berdiri di depan pintu masuk mansion. Raut wajahnya penuh rasa ingin tahu. ‘’Tadi saya mendengar suara mobil. Saya kira tuan Fabian telah kembali, tapi ternyata bukan."
‘’Tadi itu Sebastian. Teman kuliahku,’’jelas Miya. Mary Jane hanya mengangguk mengerti .
Miya masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Ia memejamkan matanya. Hari ini banyak kejadian yang tidak terduga yang terjadi pada dirinya. Perkenalannya dengan Sebastian dan juga kisah cintanya dengan Isabella dan sekarang ia harus terlibat dan di pusingkan dalam urusan cinta mereka. Miya menghela napas panjang. Sekarang ia mempunyai pekerjaan baru yaitu menjadi seorang cupid. Ini sungguh menggelikan bagaimana ia akan menjadi dewa cinta, jika urusan cintanya sendiri hancur berantakan.
__ADS_1
Tiba-tiba Miya teringat dengan hadiah yang diberikan pamannya yang belum sempat ia buka . Segera saja ia membuka laci meja yang berada di samping tempat tidurnya dan mengambil hadiahnya. Dengan tidak sabaran ia merobek kertas pembungkusnya. Sebuah kotak persegi panjang berwarna abu-abu berada ditangannya. Miya terkejut melihat isinya. Sebuah gelang yang sangat cantik dan ia membaca sebuah tulisan di dalam kotak itu. Plato eternity. ‘’Jadi nama gelang ini adalah plato eternity." Miya langsung memakai gelang itu dengan rasa senang.’’Ternyata paman baik juga mau membelikan aku sebuah gelang [ ].