
Miya terkagum-kagum melihat lembah yang dihiasi oleh berbagai macam bunga yang ia lihat, ketika berkuda bersama dengan Fabian. Bunga-bunga narcisus ada di mana-mana mungkin ada ribuan. Tidak ketinggalan bunga bluebells yang mengelilingi danau. Ada sebuah perahu usang yang tertambat di pinggir danau. Miya memejamkan mata, menghirup udara segar yang membawa aroma bunga.
"Aku dan nyonya Clarissa sering pergi kesini dan berperahu disini. Tempat ini tidak banyak berubah.'' Pandangan Mary Jane menerawang jauh ke danau ada sinar kerinduan dimatanya.''Nyonya Clarissa sangat menyukai tempat ini karena tempat ini begitu tenang.''
Miya membuka matanya.'Tempat ini memang sangat indah. Terima kasih sudah mau menunjukkan tempat indah ini kepadaku.''
"Nona Miya tidak perlu berterima kasih kepadaku. Sebenarnya aku membenci nyonya Clarissa.''
"Eh...''Miya nampak sangat terkejut. Senyuman seringai muncul di wajah Mary Jane.
"Aku iri kepadanya. Nyonya Clarissa selalu mendapatkan yang ia mau termasuk tuan Fabian.''Miya masih memandangi pelayannya dengan tatapan bingung.''Aku yang membunuh nyonya Clarissa.''
"Kenapa kamu mengatakan itu?''ucapnya tidak percaya.
"Karena aku memang telah membunuhnya. Saat itu ketika terjadi pertengkaran antara nyonya Clarissa dan tuan Fabian, aku melihat semuanya, tapi mereka tidak tahu keberadaanku disana. Aku bersembunyi dan memperhatikan semua yang terjadi. Aku melihat tuan Fabian mendorong nyonya Clarissa sampai terjatuh dan membentur sebuah meja sehingga guci yang berada di atas meja menimpa kepalanya. Tuan Fabian dan ibu mertuanya begitu panik. Aku tahu tuan Fabian tidak sengaja mendorong nyonya Clarissa, kemudian mereka pergi meminta pertolongan, lalu aku keluar dari tempat persembunyian dan mendekatinya. Pada saat itu nyonya Clarissa masih hidup dan sempat meminta tolong padaku. Tapi aku membunuhnya.''
Jantung Miya berdetak semakin kencang. Ia sungguh tidak percaya Mary Jane yang baik akan sejahat itu.''Aku tidak percaya.''
"Nona Miya harus percaya padaku kalau aku telah membunuh nyonya Clarissa.''Miya masih terlihat tidak percaya.''Kamu bohong. Aku tidak percaya. Mana mungkin kamu membunuhnya,''ucapnya dengan suara tercekat.
"Tapi aku sudah melakukannya. ''
"Kenapa kamu membunuhnya?''
Tubuh Miya gemetar dan tidak ingin mempercayai semua yang dikatakannya. Mary Jane, pelayannya adalah seorang wanita baik bukan wanita jahat.
"Sederhana saja, karena aku membenci nyonya Clarissa. Dia sudah merebut tuan Fabian dariku. Aku mencintainya sejak lama bahkan sebelum tuan Fabian bertemu dengan nyonya Clarissa dan juga kamu. Kalian berdua telah merebutnya dariku. Aku membenci kalian berdua,''teriak Mary Jane kemudian.
"Tapi bagaimana itu bisa terjadi?"
"Aku mengenal Fabian saat dia masih kuliah di Manhattan dan saat itu umurku seumur denganmu. Aku telah jatuh cinta kepadanya dan dia menerimaku sebagai kekasihnya. Kami berpacaran selama 4 tahun. Aku senang dia menerimaku sebagai kekasihnya, tapi karena keluargaku harus pindah ke kota lain, aku jadi jarang bertemu dengannya. Tuan Fabian memtusan hubungan kami, karena aku jarang menghubunginya. Aku benar-benar mencintainya dan tidak bisa melupakannya. Saat itu aku sangat marah kepadanya. Setelah bertahun-tahun aku bertemu lagi dengannya sebagai Mary Jane.''
Miya terlihat semakin bingung .
Pelayan itu menyunggingkan senyuman."Aku mengalami kecelakaan dan wajahku menjadi rusak karena terbakar. Aku melakukan operasi plastik dan merubah wajahku."
"Apaaaa?''
"Namaku adalah Jeanette Walcott."
Jeanette manarik napas panjang, lalu kembali melanjutkan ceritanya.''Aku mencari keberadaan Fabian dan melamar bekerja sebagai pelayannya. Dengan begitu aku bisa selalu dekat dengannya."
__ADS_1
Miya semakin terkejut dan tidak percaya.''Kenapa kamu tidak langsung mengatakan kepadanya bahwa kamu adalah Jeanette.''
" Aku takut Fabian akan menolakku, jika aku datang dan tiba-tiba mengatakan hal itu kepadanya, jadi aku menyamar sebagai Mary Jane. Aku berharap dia akan kembali mengenaliku, tapi dia masih tetap tidak mengenaliku."
"Tentu saja Fabian tidak mengenalimu, karena wajahmu sudah berubah."
"Ketika Fabian menjadikanku pelayan pribadinya, aku sangat senang sekali, tapi kesenanganku berakhir dengan munculnya nyonya Clarissa yang sombong dan manja. Aku tahu dari awal kalau nyonya Clarissa tidak benar-benar mencintainya. Dia hanya menginginkan kekayaan dan ketenaran menjadi istrinya tidak sepertiku yang benar-benar mencintainya. Fabian sangat bodoh jatuh cinta kepada nyonya Clarissa. Saat dia akan menikahinya, aku benar-benar marah, tapi saat itu aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku semakin membenci nyonya Clarissa, ketika Fabian menyuruhku menjadi pelayan pribadinya. Selama berada di sisi nyonya Clarissa, aku menjadi semakin mengenal dirinya. Tidak membutuhkan waktu lama aku menjadi pelayannya yang setia dan menjadi pelayan kepercayaaannya. Tidak segan-segan dia mengatakan kepadaku kalau ia tidak pernah mencintai Fabian. Waktu itu aku benar-benar marah dan ingin mencekiknya. Aku ingin dia mati dan menghilang dari kehidupan Fabian, kemudian keberuntungan berpihak kepadaku, karena pertengkaran hebat antara Fabian dan nyonya Clarissa , aku membunuhnya dan tidak ada yang tahu tentang itu. Saya membenturkan kepalanya dengan keras ke meja dan dia meninggal.''
Senyuman seringai jahat menghiasi wajah Jeanette yang dingin dan menakutkan. Miya belum pernah melihat ekspresi pelayannya yang seperti. Miya merasa tubuhnya mengigil dan gemetar ketakutan. Jantungnya bertalu-talu semakin kencang. Rasa marah pun menjadi tidak tertahankan.
"Karena perbuatanmu Fabian menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya kamu tidak membunuhnya, Fabian tidak akan merasa sebersalah ini. Kamu jahat.''Air mata telah membasahi wajahnya.
Jeanette kembali menatap Miya dengan dingin."Nyonya Clarissa pantas mendapatkannya, karena dia telah merebut tuan Fabian dariku dan dia tidak pantas menjadi istrinya hanya akulah yang pantas menjadi istrinya.''
"Kamu tidak pantas menjadi istrinya, karena kamu jahat,''teriaknya.
"Aku juga membencimu, karena telah merebut Fabian dariku. Seandainya kamu tidak pernah datang, Fabian tidak akan pernah mencintaimu. Kamu sama saja dengan nyonya Clarissa,''katanya dengan penuh dengan kebencian.
"Aku tidak sama dengan Clarissa. Aku benar-benar mencintainya,''protes Miya.
"Aku tahu kamu memang mencintainya, tapi aku tidak rela jika kalian berdua bersama, karena Fabian hanya milikku dan oleh sebab itu kamu harus mati.''
"Kamu sudah gila.''
"Aku menjadi seperti ini, karena kalian berdua dan aku tidak akan pernah memaafkan kalian. Kau harus mati.''Jeanette tengah bersiap akan menusukkan pisaunya pada Miya, tapi Miya berhasil menghindar.''Kamu tidak bisa lolos dariku,''serunya marah. Miya berusaha melawan ketika pelayan itu akan kembali menusuk dirinya. Miya dengan sekuat tenaga menahan pisau itu tepat di depan perutnya."Aku mohon hentikan ini. Aku akan memaafkanmu,''kata Miya dengan suara sedih.
"Kalau aku tidak bisa memiliki Fabian. Kamu juga tidak akan.'' Jeanette kembali berusaha membuat pertahanan Miya runtuh. Darah telah mengalir di tangan Miya.
Tanpa ragu lagi Miya kemudian menginjak kaki Jeanette dengan kuat sehingga pelayan itu merasakan kesakitan dan cepat-cepat Miya mengambil pisau yang terjatuh dan membuangnya ke danau. Jeanette nampak sangat marah. Ia pun mendorong Miya hingga terjatuh dan berusaha mencekiknya.''Mati kau!''seru Jeanette. Napas gadis itu mulai sesak hampir kehilangan napasnya.
"Hentikan!''teriak Fabian. Perkelahian keduanya berhenti. Miya dan Jeanette langsung berdiri . Penampilan mereka nampak berantakan. Fabian menatap marah kepada Jeanette. Miya masih terbatuk-batuk akibat cekikan dari pelayannya.''Sayang, kamu tidak apa-apa?''Miya mengangguk pelan.''Syukurlah!''Fabian mendekati pelayannya dan berdiri di hadapannya.
"Aku begitu mempercayaimu, tapi sekarang kamu sudah mengkhianatiku kepercayaanku dan aku tidak akan pernah memaafkan akan hal ini."Kenapa kamu melakukan itu Mary Jane?''tanya Fabian marah.
Jeantte tertawa sangat keras."Jadi kamu sekarang masih belum mengingat siapa aku?''tanyanya.
"Apa maksudmu?''
"Perhatikan aku baik-baik Fabian. Aku adalah Jeanette Walcott.''
__ADS_1
Fabian nampak terkejut. Di kepalanya terlintas seorang gadis muda dengan senyuman cerah di wajahnya.''Jeanette?''
"Akhirnya kamu ingat aku.''
"Tapi wajahmu berubah. Apa yang terjadi denganmu?"
"Aku mengalami kecelakaan dan aku melakukan operasi plastik."
"Aku turut prihatin. Aku sungguh tidak tahu."
"Sampai sekarang aku masih mencintaimu. Apa kamu mau kembali kepadaku?"
"Maafkan aku."
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"
Fabian terdiam dan merasa bersalah. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk membayar kesalahan masa lalunya yang telah menyakiti perasaan Jeanette. Rasa kasihannyalah yang menjadi Jeanette seperti sekarang. "Sebenarnya aku tidak pernah mencintaimu. Aku menerimamu sebagai kekasihku, karena aku merasa kasihan. Maafkan aku. Seharusnya dari awal aku tidak menerima perasaanmu. Apa kamu bunga Lily?"
"Iya. Akulah bunga Lily. Akhirnya kita bertemu juga."
Miya yang berdiri di belakang Fabian tidak mengerti maksud pembicaraan mereka.
"Sayang sekali kuda itu tidak berhasil melemparkanmu dan membuatmu mati. Mobil itu juga tidak berhasil menabrakmu sampai mati.''
"Jadi kamu yang melakukannya?"tanya Miya tak percaya.
"Aku menyuruh seseorang untuk menabrakmu dan aku juga telah memasang paku di sepatumu supaya Misty kesakitan dan hilang kendali."
"Dia telah membunuh Clarissa,''bisik Miya. Fabian langsung menatap Miya tidak percaya.
Mary Jane jatuh terduduk sambil menangis terisak-isak. Fabian mendekati Miya yang gemetar ketakutan.''Semuanya akan baik-baik saja. Apa kamu terluka?''tanya Fabian cemas sambil memeriksa seluruh bagian tubuh Miya dan ia menemukan tangan Miya terluka parah.
"Aku baik-baik saja hanya goresan pisau.'' Miya meringis kesakitan.
"Goresan pisau apa. Lukamu sangat parah. Tanganmu perlu di jahit, tapi syukurlah kamu baik-baik saja.''
Fabian menarik Miya kedalam pelukannya membelakangi Jeanette. Gadis itu membenamkan wajahnya di dada Fabian. Tanpa disadari oleh keduanya, Jeanette sudah berdiri dengan memegang sebuah balok kayu yang entah dia dapatkan dari mana langsung memukul kepala Fabian dengan berlinangan air mata.'' KAU TIDAK AKAN BISA BERSAMA DENGAN MIYA,''teriaknya. Pria itu langsung ambruk dan menimpa Miya sehingga gadis itu ikut terjatuh. Darah menetes deras dari kepala Fabian, seketika itu juga Miya menjerit dengan keras antara kengerian dan kesedihan.
Jeanette langsung membuang balok kayu dan duduk berlutut di depan Fabian.''Maafkan aku,''katanya pelan.''Ini semua salahmu. Kamu yang memaksaku melakukan ini kepadamu''ucapnya di sela isak tangisnya. Miya yang shock langsung jatuh pingsan.
''Fabian...''
__ADS_1
Itulah kata terakhir yang diucapkan Miya sebelum kegelapan menyelimutinya.[ ]