
Di Castalia mansion, Miya berada di ruang bayi yang tidak pernah ditempati. Enam tahun telah berlalu, ia belum bisa bertemu dengan putrinya yang hilang. Hatinya masih terasa sakit dan sedih setiap kali mengingatnya. Semua pakaian dan barang-barang keperluan bayinya telah diberikan kepada bayinya Raina.
Tangan mungil menyentuh tangannya. Miya berbalik dan tersenyum lembut kepada gadis kecil dengam mata bulat dan pipi gemuk memandangnya.
" Nenek," kata gadis kecil itu. Awalnya Miya merasa aneh dengan sebutan baru yang melekat pada dirinya sekarang. Ia telah menjadi nenek muda diusianya yang ke 36 tahun.
" Halo, sayang!"
Miya membungkuk agar wajahnya sejajar dengan wajah gadis kecil itu. Ia mengelus rambutnya.
" Dengan siapa kamu datang?"
" Dengan Ibu."
" Di mana Ibumu sekarang?"
" Ada di bawah."
" Ayo kita temui ibumu di bawah!"
Gadis kecil itu mengangguk. Miya menuntun tangan kecil gadis itu menuju ke bawah.
" Nenek tadi sedang menangis ya."
" Nenek tidak menangis."
" Nenek jangan menangis ya, kalau nenek menangis, aku jadi ikut sedih."
" Iya, sayang."
Miya sekali lagi memandang gadis kecil yang berada di samping seandainya Caliope, putrinya masih hidup pasti ia sekarang seumuran Eloisa.
" Ibuuuu."
Eloisa berlari kepelukan ibunya begitu ia melihatnya.
" Sepertinya kamu sudah menemukan nenek ya."
Elois mengangguk. Rambutnya yang dikuncir dua bergoyang. Raina mendekati ibunya dengan wajah senang.
" Bagaimana kabarmu?"tanya Raina.
" Aku baik-baik saja. Aku tidak tahu, kamu akan datang bersama Eloisa hari ini."
" Aku sengaja tidak memberitahu Ibu , kalau kami akan datang. Aku ingin memberi kejutan pada Ibu."
"Aku senang kalian datang. Aku sudah merindukan Eloisa."
Mereka kemudian duduk di sofa dan Eloisa berada dalam pangkuan Miya. Gadis kecil itu sangat senang bisa bersama dengan neneknya dan Miya juga merasa senang dengan kehadiran cucu perempuan satu-satunya. Bagi Miya, Eloisa adalah penghibur dirinya dikala ia sedang sedih selain kedua anaknya yang lain yang sekarang sudah mulai beranjak dewasa.
" Kami akan menginap selama beberapa hari di sini, karena Leonard sekarang sedang pergi menemui orangtuanya di Luxemburg."
" Kenapa kalian tidak ikut?"
" Sebenarnya kami ikut, tapi Eloisa baru saja sembuh dari sakit demamnya, jadi Leonard memutuskan untuk pergi sendiri."
" Aku senang kalian bisa berada di sini menemaniku."
" Apa Ibu dan Ayah beluk mendapat kabar apa pun tentang keberadaan Caliope?"
" Sayangnya belum. Aku tidak tahu kemana Julius membawa Caliope. Semoga saja anakku masih hidup."
" Ibu jangan sedih lagi. Aku yakin Caliope masih hidup dan semoga ada keluarga baik yang nerawatnya."
Miya mengangguk. " Terima kasih."
🧸🧸🧸
Jerome berusaha menutupi keterkejutannya melihat Erika.
"Bagaimana sekolahmu tadi?’’tanya Emily.
"Baik, tapi aku baru mendapatkan seorang teman. Dia orangnya lucu dan sangat menyenangkan."
"Ibu senang mendengarnya."
"Aku senang Ibu dan Ayah datang. Aku kira ulang tahunku akan sangat sepi, tapi ternyata ada pesta kejutan untukku."
" Kami tidak mungkin melupakan hari ulang tahunmu dan kami menyiapkan kejutan pesta ulang tahunmu. Kamu suka?’’tanya Jerome.
"Aku suka."
Emily berdiri dan dia terkejut melihat seorang wanita asing. Valentina cepat-cepat memperkenalkannya."Ayah. Ibu. Ini Bu guru Roberts."
Erika berjalan mendekati mereka.’’Apa kabar Tuan dan Nyonya Hunt?’’
"Baik."
"Valentina mengundangku untuk makan kue."
" Jadi begitu,"kata Emily.
Jerome terus memperhatikan Erika dan Erika menyadari itu.
"Bu guru Roberts adalah salah satu guru di sekolahku."
"Oh ya. Kalau begitu selamat datang di rumah kami."
"Terima kasih."
 Emily kemudian menuntun anaknya mendekati kue ulang tahunnya. Setelah bernyanyi selamat ulang tahun dan meniup lilinnya, Valentina memotong kue ulang tahunnya yang besar. Emily kembali mencium anaknya dan Valentina menyuapi kue pada ibu dan ayahnya .’’Terima kasih sayang!’’
Setelah meniup lilin dan memotong kue, Erika meminta izin pergi ke toilet. Tangan Erika ditarik oleh Jerome setelah keluar dari toilet.
" Apa yang kamu inginkan dariku?"
Erika nampak bingung.
" Apa maksudmu?"
" Kamu datang untuk membalas dendam padaku."
Erika tersenyum dipaksakan. " Aku sama sekali tidak ada niat untuk balas dendam lagi pada keluargamu, meskipun kamu dan keluargamu sudah menghancurkan keluargaku."
" Aku meminta padamu untuk mematahkan keluargaku. Selama ini aku mencarimu dan kakakmu kemana-mana."
" Sayangnya aku tidak bisa membatalkan kutukan yang menimpa keluargamu, karena bukan aku yang melemparkan kutukan itu kepada keluargamu, tapi kakakku yang melakukannya."
" Suruh kakakkmu untuk membatalkan kutukan ini."
" Kakakku sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu."
__ADS_1
Wajah Jerome menjadi sangat pucat. " Itu tidak mungkin,"serunya tidak percaya.
" Jika saja kamu tidak membakar rumah kami mungkin kamu dan keluargamu tidak akan terkena kutukan."
Jerome terduduk lemas.
" Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku tidak pernah berselingkuh dengan pria mana pun. Aku dijebak oleh pamanmu, Drogo."
" Apa maksudmu?"
" Pamanmu menggunakan sihir hitam untuk mengubah wajah pria lain mirip denganmu. Aku mengira pria itu kamu."
" Aku tidak percaya. Keluargaku tidak mempraktikan sihir."
" Kamu salah. Ayah dan pamanmu jahat, bahkan mereka juga yang sudah memfitnah ayahku mempraktikan sihir hitam. Mereja melakukan semua itu untuk menyingkirkan aku dari hidupmu."
" Aku tidak percaya."
" Ayah dan pamanmu gila harta. Dia ingin kamu menikah dengan Aine, karena keluarganya kaya. Gara-gara kamu terhasut oleh pamanmu itu, kamu membakar rumahku. Ibu dan adikku juga ikut terbakar."
" Maafkan aku."
" Aku sudah memaafkanmu."
"Terima kasih."
" Di mana Aine? Bukannya kamu sudah menikah dengannya."
" Aine meninggal."
" Maaf. Aku tidak tahu itu."
" Dia mati terbakar di rumah kami sendiri."
Erika membelalakan matanya.
" Setelah Aine, paman, dan ayahku. Sebelum mereka meninggal, paman memberitahuku kalau kakakmu sudah mengutuk keluarga Hunt. Aku langsung mencari kalian, tapi kalian sudah pergi entah kemana. Tak disangka kita akhirnya bertemu di rumahku dan kamu juga salah satu guru anakku."
" Aku terkejut kalau Valentina adalah anakmu."
" Ia akan bernasib sama seperti keluargaku. Sekarang harapanku sudah hilang agar terlepas dari kutukan ini."
" Maaf. Aku tidak bisa membantumu. Apa istrimu tahu tentang ini?"
" Emily sama sekali tidak tahu."
" Sebaiknya aku kembali kepada anak dan istrimu."
Erika memakan hidangan yang disediakan, lalu ia berpamitan untuk pulang.
"Sudah waktunya aku harus pergi."
" Terima kasih sudah datang," kata Valentina.
"Baiklah. Aku akan menyuruh Lincoln mengantarkanmu pulang," kata Emily.
Erika berjongkok dan mengecup pipi Rin.’’Terima kasih atas undangannya."
"Sama-sama Bu guru. Aku senang Bu guru bisa datang."
"Sampai jumpa besok di sekolah."
Erika pergi dengan diantarkan oleh Lincoln. Sebelum masuk ke dalam mobil, sekali lagi Erika memandangi rumah kediaman Hunt, lalu memandang langit sore.
🧸🧸🧸
" Kakek," serunya berlari ke dalam pelukan Fabian.
" Eloisa, kamu ada di sini."
Fabian mengecup pipinya dan menggendongnya.
" Selamat datang, kakek!"
Miya kemudian menyambut kepulangan Fabian dan mengecupnya di depan Eloisa. Raina juga menyambut ayahnya pulang.
" Ini suatu kejutan kalian berada di sini. "
" Iya Ayah. Kami sengaja tidak memberitahu kalian."
Fabian juga menemukan kedua anaknya yang lain, Jonathan yang sebentar lagi akan masuk kuliah, dan Clarie yang sebentar lagi kan masuk SMU. Mereka berdua sedang belajar bersama. Ia menghampiri mereka dan memberikan pelukan satu persatu untuk mereka.
" Ayah sudah pulang," kata Clarie.
" Iya. Baru saja. Sepertinya kalian sedang sibuk. Ayah tidak akan menganggu kalian lagi."
" Tunggu, Ayah!"panggil Jonathan yang sekarang tingginya sudah hampir menyamai tingginya. " Aku sudah memutuskan untuk kuliah di Harvard."
" Itu bagus. Ayah akan selalu mendukungmu."
" Terima kasih."
Jonathan kembali ke kursinya dan mengerjajan tugas sekolahnya, lalu Clarie mendekati ayahnya." Besok di sekolahku akan diadakan festival olahraga. Aku ingin Ayah dan Ibu datang ke sekolah. Ibu sudah setuju untuk datang."
" Ayah akan datang."
" Sungguh?
"Iya."
" Horeee."
Clarie langsung memeluk ayahnya dengan perasaan bahagia dan ia kembali belajar. Miya mengikuti Fabian ke kamar dan membantunya menyiapkan pakaian ganti. Tiba-tiba saja Fabian memeluknya dari belakang dan membenamkan wajahnya di leher istrinya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya sudah begitu ia kenal.
" Aku mencintaimu dan merindukanmu."
" Aku tahu. Sekarang lepaskan aku!"
" Tidak mau. Biarkan seperti ini sebentar saja!"
Miya membiarkan Fabian tetap memeluknya dari belakang. Senyum jahil muncul di wajahnya, lalu membalikkan tubuh Miya.
" Bagaimana kalau kita sekarang membuat anak lagi?"
Miya membelalakan matanya. " Me-membuat anak?"
" Iya."
Fabian mengedipkan matanya. Miya hendak protes, tapi Fabian sudah membekap mulut istrinya dengan mulutnya. Miya mengerang untuk protes, tapi akhirnya ia mengikuti keinginanan suaminya. Miya selalu tidak berdaya, jika Fabian menginginkan dirinya. Sentuhan-sentuhan cintanya di setiap inchi tubuhnya selalu membuatnya bahagia. Ia sangat beruntung memiliki suami yang begitu setia dan mencintainya, meskipun Fabian di masa lalu mempunyai riwayat sebagai seorang playboy.
🧸🧸🧸
__ADS_1
Valentina membawa hadiah-hadiahnya ke kamar di bantu oleh beberapa pelayan. Walaupun pesta ulang tahunnya hanya di rayakan oleh seluruh pelayan, Erika, ibu dan ayahnya, Valentina terlihat sangat senang. Di dalam kamar, Valentina segera membuka hadiah-hadiah yang diberikan oleh para pelayan dan juga dari keluarganyaa. Ia membuka hadiah pertama dari ibu dan ayahnya.
"Waaahhh. Bagus sekali."
Hadiahnya berupa sebuah album fotonya yang dikemas dalam album yang lucu dari sejak dia masih bayi sampai berusia 6 tahun, kemudian Valentina membuka hadiah-hadiah yang lainnya.
Jerome berdiri di balkon kamarnya menikmati udara sore hari yang terasa begitu sejuk di kulit. Angin mengibarkan rambutnya, sedangkan Emily masih berada di dapur. Tatapannya terlihat sedih mengingat masa lalunya yang sangat buruk.
Jerome jatuh terduduk di balkonnya dengan wajah yang sudah penuh air mata.
’’Maafkan aku. Maafkan aku. Seandainya waktu itu aku tidak membuat masalah pasti semuanya akan baik-baik saja. Erika maafkan aku."
Jerome dikejutkan oleh suara ketukan di pintu. Cepat-cepat dihapus air matanya.’’Masuk !’’
" Ayah."
Valentina berlari dan langsung memeluk Jerome. Ia mengusap-usap kepalanya dengan sayang.’’Ada apa?’’
" Ayah menangis ya?"
Jerome menutun Valentina duduk di kursi.
" Ayah baik-baik saja," kata Jerome dengan senyuman sedih.
Jerome memeluk Valentina dengan sangat erat seperti tidak ingin kehilangan anaknya. ’’Ayah, sayang padamu."
" Aku juga sayang Ayah." Valentina mengecup pipi Ayahnya , lalu tersenyum.
’Valentina, kamu memang anak yang sangat baik, aku sangat beruntung bisa memilikimu dan aku takut suatu hari nanti kamu akan pergi dari sisiku seperti anggota keluargaku yang lainnya. Ya Tuhan, aku mohon jangan jauhkan Valentina dari kutukan keluargaku bisik hatinya.
" Ini sudah malam sebaiknya kamu tidur. Besok kamu harus pergi sekolah."
Valentina mengangguk.
"Baiklah. Selamat malam!’’
"Malam!’’
Valentina pergi ke kamarnya.
🧸🧸🧸
" Apa yang kamu pikirkan?"tanya Fabian kepada istrinya yang sedang duduk melamun di langkan jendela kamar.
" Aku sedang memikirkan di mana orang yang bernama Julius Rogers itu berada? Apa pria itu masih hidup atau tidak. "
" Aku juga merasa penasaran tentang keberadaannya. Pria itu hilang begitu saja seperti ditelan bumi."
" Aku mencemaskan Caliope. Mungkin sekarang dia hidup di jalanan."
Fabian mendekati istrinya dan merangkul bahunya. " Jangan berpikiran yang buruk! Semoga saja anak kita tinggal dengan keluarga yang baik."
" Ini sudah 5 tahun. Tidak titik cerah keberadaan putri kita."
Fabian menghembuskan napas panjang. "Aku tahu. Segala cara sudah kita lakukan untuk mencari Julius dan Caliope, tapi kita tidak mendapatkan informasi apa pun tentang mereka."
" Juliuslah satu-satunya harapan kita untuk bisa menemukan Caliope."
" Sebaiknya kamu tidak perlu memikirkan ini dulu. Para polisi dan juga detektif yang aku sewa sampai sekarang masih mencari mereka. Aku juga sama sekali tidak mengerti kenapa Julius susah ditemukan."
" Mungkin saja dia sudah meninggal disuatu tempat.
" Aku tidak ingin memikirkan pria itu telah meninggal. Sebaiknya kita bersiap-siap pergi ke sekolah Clarie nanti terlambat."
Setengah jam kemudian mereka telah siap untuk pergi dan Clarie sudah pergi duluan ke sekolah. " Kami pergi dulu," kata Miya kepada Raina.
" Hati-hati di jalan!"
" Nenek, kakek, aku mau ikut."
" Eloisa, nanti saja," kata Raina.
" Aku ingin ikut,"rajuk Eloisa.
" Eloisa jalan-jalannya sama ibu saja ya. Kita beli es krim."
" Es krim?"
" Iya."
" Horee. Es krim. "
Fabian dan Miya mengecup pipi Eloisa. " Jangan nakal ya!" kata Fabian.
Eloisa mengangguk, lalu melambaikan tangannya ketika mobil yang membawa Fabian dan Miya pergi meninggalkan halaman mansion.
Sesampainya di sekolah Clarie, mereka langsung memcari Clarie. Banyak murid perempuan yang diam-diam mencuri-curi pandang pada Fabian dan mereka tersipu malu. Miya hanya bisa mendesah melihat suaminya mendapatkan banyak lirikan dari wanita. Ini sudah resiko, jika memiliki suami tampan dan mempesona, meskipun usia Fabian sudah menginjak 48 tahun.
Mereka menemukan Clarie di lapangan olah raga sedang melakukan pemanasan. Fabian dan Miya menghampirinya.
" Ayah, Ibu. Kalian sudah datang."
" Kami baru saja datang."
Clarie kemudian memperkenalkan orangtuanya kepada teman-temannya, setelah itu mereka berdua pergi.
Miya mendengar bisik-bisik teman Clarie." Ayahmu sangat tampan. Kamu beruntung sekalu mendapatkan Ayah seperti Ayahmu."
Miya yakin Fabian mendengarnya dengan jelas, tapi Fabian pura-pura tidak mendengarnya dan hanya tersenyum saja. Fabian merangkul pinggang istrinya untuk menyatakan kepemilikannya, jika ada pria yang coba-coba menggoda istrinya. Mereka duduk di bangku untuk menonton pertandingan olah raga.
Clarie mengikuti pertandingan olahraga lari estafet. Selama pertandingan dimulai Fabian terus-terusan berteriak untuk menyemangati putrinya.
" Ayo Clarie! Pasti kamu bisa."
Clarie memenangkan pertandingan dan Fabian sangat senang, lalu mereka segera menemuinya dan mengucapkan selamat.
" Kamu hebat. Selamat ya," kata Fabian dan Miya secara bergantian.
" Terima kasih."
" Kamu memang putri Ayah."
Fabian memeluk Clarie dengan erat. Setelah pemenang diumumkan, pihak sekolah mengadakan pertandingan olahraga sesama orang tua murid. Fabian dan Miya ikut serta dalam pertandingan. Mereka memilih pertandingan olahraga basket.
Selama pertandingan basket banyak orang yang menyemangati Fabian terutama para wanita dan Clarie juga turut menyemangati ayah dan ibunya Pertandingan pun berakhir -Grup Fabian dan Miya yang memenangkan pertandingan.
" Ayah dan Ibu hebat."
" Ayah dulu masuk tim basket dan selalu memenangkan pertandingan."
Fabian menyengir lebar.
__ADS_1
" Aku bangga kepada kalian."
Clarie memeluk orangtuanya. [ ]