
Isabella menepuk bahu Miya yang sedang melamun di halaman belakang kampusnya pada jam istirahat siang membuat gadis itu tersentak kaget.
''Apa yang sedang kau lamunkan? Apa tentang Fabian?''
Miya menghela napas.''Benar. Kemarin malam dia memintaku jadi kekasihnya.''
''Benarkah?Itu bagus. Kamu harus menerimanya.''
''Tapi ....''
''Tapi kenapa?''
Isabella melihat keragu-raguan di mata Miya.
''Apa paman Fabian benar-benar mencintaiku?''
''Itu tidak perlu diragukan lagi. Fabian memang sangat mencintaimu. Kenapa kamu sulit sekali mempercayai kalau dia mencintaimu.''
''Entahlah.''
Isabella mengenggam tangan Miya.''Sebaiknya mulai sekarang kamu harus sedikit demi sedikit mempercayainya. Coblah untuk mencintainya! Tidak ada salahnya, kan. Kalau kamu menolaknya, kamu akan menyesalinya. Aku yakin Fabian adalah seorang pria yang baik meskipun aku belum mengenalnya begitu lama. Dia memang playboy tapi itu dulu sebelum ia mengenalmu. Beberapa terakhir ini Fabian tidak pernah di gosipkan terlihat berjalan dengan seorang wanita mana pun.''
''Apa kamu masih mencintainya?''tanya Miya.
__ADS_1
''Aku memang mencintainya, tapi sekarang aku sudah mulai bisa menerima kalau Fabian tidak akan pernah mencintaiku sampai kapan pun, karena kamulah satu-satunya wanita yang dia cintai. Aku memang sedih mengetahui hal itu. Impianku untuk menjalani hidup dengannya hancur, ketika aku tahu dia mencintaimu dan aku marah kepadamu akan hal itu. Tapi setelah lama aku memikirkannya apakah aku akan hidup bahagia dengan pria yang tidak pernah mencintaiku dan jawabannya sudah benar-benar jelas ada di depan mataku. Aku tidak akan bahagia. Aku memang bisa memiliki tubuhnya, tapi tidak dengan hati dan jiwanya, karena dia sudah memberikannya kepadamu. Aku memang sangat sedih, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ini memang sulit, tapi aku akan berusaha untuk melupakan perasaanku kepada Fabian. Sekarang aku sudah merelakan Fabian untukmu, jika kamu menolaknya, aku akan marah lagi kepadamu dan akan kembali mengambil Fabian darimu.'' Isabella menatap Miya dengan tatapan mengancam.
''Bella, aku jadi merasa bersalah kepadamu.''
''Jangan pernah bersalah kepadaku, karena kamu memang tidak pernah berbuat salah kepadaku.'' Seperti teringat sesuatu Bella mengeluarkan sebuah majalah dari dalam tasnya dan dengan cepat ia membuka halaman yang di inginkannya.''Lihatlah!''
Miya mengambil majalah dari tangan Isabella. Di sana ada gambar pamannya yang sedang tersenyum dan terlihat sangat tampan. Wanita mana pun pasti akan tergila-gila kepadanya.
''Bacalah! Di sana Fabian mengatakan kalau ia sudah memiliki wanita yang di sukainya dan ia ingin segera menikahi wanita tersebut. Fabian memang tidak menyebutkan siapa wanita itu, tapi aku tahu siapa wanita yang Fabian maksud yaitu kamu.''
''Aku tidak tahu apa harus merasa senang atau tidak.''
''Mengenai mantan pacarmu, apa kamu masih mencintainya?''
''Itu bagus,''seru Isabella.''Aku tidak rela melihat Fabian bersedih melihatmu kembali ke mantan pacarmu. Jangan pernah takut kamu akan tersakiti lagi, karena Fabian sangat mencintaimu.''
Miya masih serius membaca artikel tentang pamannya seolah tidak mempedulikaan perkataan Isabella.''Aku harus pergi. Kamu bisa membawa pulang majalah itu. Sampai jumpa besok.''Miya menganggukan kepalanya tanpa mengalihkan matanya dari majalah .
Saat malam tiba Miya menuruni tangga dan melihat pamannya berada di ruang keluarga sedang berdiri memandang keluar jendela sambil memegang gelas minuman. Matanya menerawang jauh kedepan entah apa yang sedang dipikirkannya. Fabian membalikkan badan dan pria itu menatap Miya dengan sorot matanya memancarkan rasa cinta untuk gadis itu. Fabian meletakkan gelasnya di meja, menyuruh gadis itu duduk. Miya merasa gugup di pandangi olehnya dan wajahnya memanas seketika.
"Apa yang paman pikirkan?''Senyum samar nakal menghiasi wajahnya.
''Aku sedang memikirkanmu. Aku tengah berpikir bagaimana jadinya kalau kamu tidak berada di sisiku sekarang. Hidupku akan terasa sepi kembali. Sejak kamu datang, tempat ini menjadi terasa hangat kembali, karena keceriaanmu dan senyumanmu telah menghangatkan hatiku dan tempat ini.''
__ADS_1
Wajah Miya merona merah, lalu membasahi bibirnya dengan gugup.''Apakah aku sangat berarti bagi paman?''tanyanya pelan hampir menyerupai bisikan.
"Tentu saja. Apa kamu masih meragukannya? Sudah kukatakan berkali-kali aku mencintaimu dan itu tidak akan pernah berubah.''
"Paman banyak memiliki kekasih.''
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menyakinkanmu dan membuatmu percaya kepadaku.Sekarang aku sudah tidak memilikinya lagi. Aku sudah memutuskan mereka semua demi dirimu. Saat ini dan untuk selamanya hanya kamu yang kuinginkan.''Wajah Miya memerah kembali dan disudut hatinya ia senang pamannya mengatakan itu. Miya menghela napas panjang, lalu berkata,'' Beri aku waktu untuk bisa mencintai paman. Ini tidak mudah bagiku untuk kembali mempercayai seorang pria.''
"Tentu saja. Aku akan memberimu waktu sebanyak mungkin.'' Senyuman nakal muncul di wajahnya. Fabian memeluk dan mencondongkan tubuhnya. Tanpa peringatan lagi langsung menekankan bibirnya di bibir Miya, lalu mengangkat wajahnya.
''Besok malam kamu ikut denganku ke pesta.''
''Tidak mau. Aku tidak begitu suka menghadiri pesta,''protes Miya.''Lagi pula kenapa paman harus mengajakku?''
''Karena aku perlu membawa pasangan ke pesta yang akan kuhadiri dan kamu sekarang adalah kekasihku. Tidak ada salahnya kan aku mengajakmu.''
''A..aku belum menyetujui untuk menjadi kekasih paman,''ucapnya gugup dan Miya berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Fabian, tapi usahanya sia-sia, lengan Fabian yang kuat semakin memeluknya dengan erat. Di tatapnya wajah Fabian. Pria itu sedang memandangnya dengan intens yang cukup tinggi yang sanggup membuat Miya terjerat masuk ke dalam pesonanya. Miya menelan ludahnya. Aaaarrgghh....kenapa pria ini selalu terlihat tampan dan mempesona erangnya dalam hati. Fabian semakin merapatkan tubuh Miya dengan tubuhnya dan gadis itu dapat merasakan debaran jantung Fabian yang semakin meningkat. Pamannya menatapnya dengan penuh gairah membuat Miya bersikap waspada.
Fabian mengelus wajah Miya dengan lembut.''Kamu akan menyetujuinya, Miya sayang.'' Seriangan nakal kembali muncul di wajahnya.''Dan aku ingin kamu datang bersamaku di pesta nanti. Aku tidak ingin mendengar penolakanmu lagi. Mengerti?''
Miya mendesah pasrah tidak ada gunanya ia menolak keinginan pamannya kalau pun ia menolaknya pasti pamannya akan menyeretnya untuk ikut dengannya.''Baiklah. Aku akan ikut denganmu.''
Fabian tersenyum senang.''Bagus. Kamu memang kekasihku yang sangat baik. Sekarang pergilah tidur! Aku tidak ingin kamu bangun kesiangan.'' Fabian dengan sayang mengelus kepalanya dan dengan enggan melepaskan pelukannya. Miya merasa lega terlepas dari pelukan pamannya. Tanpa di suruh lagi gadis itu langsung pergi ke kamarnya. Miya melihat ke belakang dan pamannya sedang menyeringai menggoda ke arahnya. [ ]
__ADS_1