My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S3): Pertemuan pertama


__ADS_3

Sementara itu Valentina bersama dengan temannya yang bernama Clara pergi ke klub drama pada jam istirahat. Saat itu klub drama sedang ramai banyak para anggota klub yang sedang berlatih untuk pementasan nanti. Valentina melihat Erika yang sibuk melatih murid-muridnya. Dia berlari ke arahnya sambil tersenyum.’’Bu guru,’’sapanya sambil menepuk punggungya.


"Valentina kamu datang juga ke sini."


"Apa aku menganggu?’’


"Sebenarnya iya, tapi itu tidak masalah."


"Ini,’’kata Valentina sambil menyerahkan selembar kertas pada Erika.


"Jadi kamu diizinkan untuk masuk ke klub ini?’’


"Benar. Ibuku sudah menyetujuinya."


"Kalau begitu selamat bergabung." Erika mengacak-acak rambutnya.


"Oh ya kenalkan ini temanku Clara."


"Halo Bu guru Roberts! Aku sudah mendengar banyak dari Valentina tentang Anda."


"Oh ya."


Lalu Erika melirik ke arah Valentina.‘’Memangnya Valentina mengatakan apa tentang diriku?’’


"Valentina bilang kalau , baik, dan juga suka akting."


Erika tersenyum.’’Jadi itu yang dikatakan oleh Valentina, apa dia tidak mengatakan yang lain lagi?’’


"Tidak ada. Hanya itu saja."


Erika masih memandanginya dengan tatapan bergantian ke arah Valentina.’’Apa kalian masih ingin berada di sini?’’


Valentina dan Clara menganggukan kepalanya.


"Kalian berdua duduklah di sana,’’kata Erika.


Tangannya menunjuk ke arah kursi yang berjejer di samping jendela. Mereka berdua duduk di sana memperhatikan mereka latihan sampai istirahat siang berakhir.Sebelum pergi ke kelas mendekati Erika.


"Bu guru,’’panggil Valentina sambil menarik-narik pakaian Erika.


’’Ada apa?"


"Dekatkan kepala Bu guru. Aku ingin membisikkan sesuatu."


Setelah kepalanya sejajar dengan Valentina, ia mulai membisikkan sesuatu.


"Bu guru, apa aku boleh ikut bergabung dalam pementasan drama nanti?’’


"Saat ini belum. Pertama aku harus melatihmu dulu."


"Kapan Anda akan melatihku berakting?’’tanya Valentina dengan mata yang berbinar-binar.


"Besok.Bagaimana?’’


"Hmmm. Baiklah,’’jawab Valentina dengan wajah senang.


Erika kembali melatih murid-muridnya berakting dan Valentina dengan temannya memperhatikan mereka semua latihan.Tidak lama kemudian bel berakhirnya istirahat siang telah dibunyikan.


"Bu guru kami berdua harus kembali ke kelas. Sampai jumpa!’’


"Sampai jumpa besok!"


🧸🧸🧸


Fabian dengan wajah sendu tiba dikantornya di sana ada banyak pekerjaan yang menanti untuk diselesaikannya. Dia ingin sekali meyelesaikan semua pekerjaannya agar dia segera mengambil cuti untuk berlibur bersama keluarganya. Setelah dia memeriksa beberapa dokumen, perasaanya mulai jenuh , dia pun membanting dokumen yang sedang dipegangnya ke atas meja, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Pandangannya kembali menerawang dan dalam pikirannya kembali terlintas tentang kejadian itu.


‘’Ada apa? Kelihatannya kamu sangat terkejut dengan kedatangkanku. Aku sudah mengetuk pintu berkali-kali," kata Gilbert sambil memberikan beberapa dokumen lagi untuk ditanda tangani oleh Fabian.


" Aku memang terkejut."


"Maaf. Dari tadi aku perhatikan seperti ada yang menganggu pikiranmu."


" Ini mengenai kejadian kemarin malam."


" Ah aku mengerti."


Fabian menatap Gilbert. " Apa kamu percaya semua perkataan Nenek kemarin malam, bajwa putriku masih hidup hanya dengan mendekap pakaiannya?"


" Menurutmu bagaimana?"


" Kenapa kamu jadi balik bertanya. Aku ingin minta pendapatmu."


" Aku antara percaya tidak, tapi setelah dipikir-pikir dunia ini penuh misteri begitu juga orang-orang yang tinggal di dalamnya. Tanpa kita ketahui ada beberapa orang yang mempunyai bakat khusus."


Fabian menghela napas panjang. " Aku sempat putus asa untuk bisa menemukan putriku. Miya juga kembali kecewa dan sedih setelah Nenek tidak tahu keberadaanya, karena Nenek satu-satu harapannya untuk bisa menemukan jejak Caliope. Dari awal aku tidan terlalu banyak berharap."


" Bagaimana keadaan Miya sekarang?"


" Sekarang sudah lebih baik, meskipun ia selalu menutupi kesedihannya."


" Jangan berhenti berharap! Aku percaya Caliope masih hidup."


Gilbert meninggalkan ruangan sambil membawa dokumen-dokumen yang sudah ditanda tangani.


🧸🧸🧸


Wylon Kerr duduk dengan wajah sedih . Daun-daun kering yang berguguran mulai berterbangan, karena tertiup oleh angin kencang.’’Tuan Kerr, sebaiknya kita masuk. Udara sudah semakin dingin."


"Kita pulang  saja."


Pelayanya mendorong kursi rodanya.’’Menurutmu siapa yang telah mengunjungi Aine. Di sana ada bunga Daisy yang belum terlalu layu,’’tanya Wylon tiba-tiba.’’Apa menurutmu itu Jerome?’’


"Itu tidak mungkin Tuan Jerome,’’jawab pelayannya.


"Iya, kamu benar. Mana mungkin Jerome datang mengunjunginya. Dia kan telah....’’


Mata Wylon kembali terlihat sedih dan tidak mampu menuruskan kata-katanya lagi. Pelayannya hanya diam saja, dia tahu apa yang dirasakan oleh Tuannya. Rasa kehilangan orang-orang yang terdekat dengannya pastilah sangat menyakiti hatinya dan membuatnya sangat sedih.


"Tuan Wylon Kerr,"panggil seorang wanita.’’


"Benar. Kalau tidak salah Anda adalah Nyonya Hessel."


"Benar. Senang bisa bertemu dengan Anda lagi di sini. Sudah lama aku tidak melihat Anda datang kemari. Aku kira Anda tidak akan pernah datang kemari lagi. Kapan Anda datang dari Haiti?"

__ADS_1


" Kemarin sore. Hari ini aku ingin mengunjungi Aine."


"Aku mengerti."


"Oh ya apakah akhir-akhir ini ada seorang pria yang mengunjunginya?’’


"Ada."


" Siapa?’’


" Tuan Jerome Hunt."


"Jerome?’’tanya Wylon terkejut. Wanita itu menganggukan kepalanya.


" Memangnya ada apa? Sepertinya Anda terkejut sekali."


" Yang saya tahu Jerome Hunt, suami Aine sudah meninggal, karena kecelakaan."


" Tapi Tuan Jerome baik-baik saja."


" Apa Anda tahu di mana dia tinggal?"


" Sayangnya, saya tidak tahu."


" Nomor telepon?"


" Saya punya kartu namanya. Saya akan ambilkan dulu."


Nyonya Hessel membuka laci meja dan memberikan kartu nama kepada Wylon.


"Terima kasih. Nyonya Hessel, saya permisi dulu."


🧸🧸🧸


Emily masuk ke dalam rumahnya.’’Aku pulang!’’


Suasana rumah terlihat sepi seperti biasanya. Valentina masih di sekolah ,sedangkan suaminya masih berada di kantornya . Emily langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat sebentar.


Tidak lama kemudian Valentina pulang dan melihat Emily sedang berada di taman.


"Ibuuuu,’’teriaknya.


" Kamu sudah pulang!"


" Iya."


"Sekarang pergi ke kamar dan ganti pakaian. Apa hari ini ada tugas sekolah?"


" Ada."


" Segera kerjakan ya."


" Iya.


Valentina segera pergi ke kamarnya. Beberapa menit kemudian Emily membawa camilan untuk Valentina yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya.


" Bagaimana sekolahmu hari ini?’’


" Apa kamu sudah memiliki banyak teman."


" Iya."


" Bagus."


" Segera selesaikan tugas sekolahmu ya."


Valentina mengangguk dan Emily keluar dari kamar.


🧸🧸🧸


Hari sudah menjelang sore hari, Mikan membawakan  beberapa kue untuk Valentina di kamarnya.


‘’Makanlah kue ini. Aku harus kembali bekerja."


"Baik."


Valentina memakan kuenya, lalu duduk di tepi tempat tidur. Tangan kirinya mengambil kotak musik pemberian dari orang yang tidak dikenalnya. Dibukanya kembali kotak musik itu.


Valentina kembali memperhatikan setiap detil kotak musik itu dan dia melihat ada sambungan dibagian bawahnya. Dia berusaha membukanya dengan cara di putar dan akhirnya bagian bawah kotak musik itu terbuka, lalu dari dalamnya keluar selembar kertas dan terjatuh ke lantai.


Valentina memungutnya yang ternyata adalah sebuah foto. Foto seorang wanita dan pria yang sedang bergandengan di tengah salju.


"Siapa mereka? Apa pria ini adalah suaminya?"


Valentina membalikkan fotonya dan terdapat tulisan di foto itu. Perlahan-lahan Valentina mulai membacanya.


Miya dan Fabian Baskerville


Valentina kembali memandangi foto itu sekali lagi. Sebelum akhirnya dia kembali menyimpan foto itu ditempatnya semula.


🧸🧸🧸


Miya terlihat begitu terkejut melihat Fabian berdiri di depannya. Miya menatapnya dengan penuh kerinduan setelah seharian pria itu pergi bekerja. Begitu pun juga Fabian. Keduanya terdiam tidak mampu berkata apa pun yang mereka lakukan hanyalah saling memandang satu sama lain. Fabian berjalan mendekati Miya, lalu memeluknya.


" Tidak biasanya kamu pulang cepat."


Miya melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 4 sore.


" Aku menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat, karena aku ingin segera berada di rumah."


" Apa kamu mencemaskanku, karena sejak kemarin malam aku selalu terlihat murung?"


" Salah satunya iya."


" Sekarang aku sudah tidak apa-apa."


Miya selalu terlihat gugup setiap kali mendapat tatapan tajam Fabian di mana tatapan itu seolah menembus jantung dan jiwanya. Mereka berdua kembali terdiam. Beberapa saat mereka  saling berpandangan. Keduanya tidak berbicara, tapi bahasa tatapan mereka telah berbicara.


"Hari ini kamu terlihat cantik,’’puji Fabian.


Wajah Miya langsung merona merah dan merasakan wajahnya menghangat. Fabian meletakan satu tangannya di wajah Miya. Sentuhan tangan Fabian di wajahnya kembali membuat hati Miya berdesir dan kehangatan menyelimuti dirinya. Fabian tersenyum.


" Aku ingin kamu berjanji satu hal kepadaku."

__ADS_1


" Apa?"


" Jangan pernah pergi dariku!"


Fabian kembali memeluknya.


🧸🧸🧸


Emily berada di kamarnya mengenang masa lalunya saat pertama kali bertemu dengan Jerome. Saat itu ia baru saja pata hati, karena calon suaminya mencintai wanita lain.


Beberapa tahun yang lalu


Angin musim gugur sudah membuat tubuhnya merinding kedinginan. Emily duduk disebuah bangku taman yang mengarah ke kolam besar.’’Aku harus mencari cara untuk memisahkan mereka berdua,’’ujarnya dalam hati. Berkali-kali dia menghapus air matanya.


"Anda tidak apa-apa nona?’’tanya seorang pria tampan dari belakang.


Emily langsung menoleh dan pandangannya terlihat kabur oleh genangan air mata, sekali lagi dia menghapus air matanya dan terlihatlah dengan jelas seorang pria berdiri di depannya.’’Boleh aku duduk di sini?’’


"Tentu saja."


"Sepertinya Anda sedang bersedih, pasti ada masalah yang besar sampai membuat Anda bersedih seperti ini."


Suara pria itu terdengar begitu lembut dan menyejukan bagi Emily seolah-olah suaranya mengandung sebuah sihir. Entah kenapa Emily menjadi terasa lebih tenang berada di samping pria asing. Dia pun menceritakan masalahnya kepada pria itu.


"Jadi ini semua karena masalah cinta. Kehidupan cinta Anda memang sangat rumit. Sebaiknya relakan saja Anda berpisah dengan tunangan Anda itu."


"Aku tidak ingin berpisah dengannya karena aku mencintainya. Dia cinta pertamaku."


"Tapi dia tidak mencintai Anda."


"Ini semua karena gadis itu,’’katanya dengan tatapan marah.’’Seandainya dia tidak ada pasti tunanganku akan mencintaiku."


"Sepertinya Anda begitu membenci gadis itu."


"Aku memang sangat membencinya. Dia sudah merusak kebahagian dan impianku untuk hidup dengan pria yang aku cintai."


Emily kemudian menangis. Pria itu memberikan sapu tangannya kepada Emily. ’’Ambilah!’’


Awalnya Emily terlihat ragu mengambil sapu tangan pria itu, tapi akhinya dia mengambilnya.’’Terima kasih."


"Saranku adalah lupakan saja orang itu.Tidak baik hidup dalam kesedihan dan dendam."


Pria itu terlihat sendu.’’Anda jangan sepertiku hidup dalam kesedihan dan dendam. Seharusnya nona tidak hidup dalam kesedihan."


Pria itu tersenyum lembut dan Emily terhenyak.’’Terima kasih sudah mau mendengarkan masalahku. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa menceritakan semua ini pada Anda."


"Mungkin itu karena Anda mempercayaiku."


Pria itu kembali tersenyum dan membuat Emily merasakan desiran aneh di dadanya, lalu ia membalas senyumannya.


’’Ternyata kamu lebih cantik kalau sedang tersenyum."


Wajah Emily merona merah. Ia mengakui setelah bicara dengan pria asing yang ada di sampingnya perasaannya merasa lebih baik.


"Apa Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat pucat?’’tanya Emily.


"Aku baik-baik saja."


Haaaacciiihhhh.


‘’Maaf,"ujar Emily sambil mengosok-gosok hidungnya.


Pria itu hanya tersenyum.


’’Sebaiknya aku pulang, hari sudah semakin sore dan udara di luar sudah semakin dingin. Senang bisa bertemu dengan Anda di sini. Sampai jumpa!’’


Emily berlalu pergi tanpa menoleh lagi ke belakang.


🧸🧸🧸


Malam berganti hari, fajar menyusup masuk ke dalam kamar bagaikan hantu dengan perlahan dan ragu-ragu, tapi semakin kuat seiring memudarnya kegelapan dari hitam ke abu-abu sebelum menyinari kamar untuk menyingkap partikel debu yang berterbangan dan sosok Emiily yang sedang tertidur.


Sinar matahari menyentuh pipinya yang terlihat pucat, Emily terbangun kemudian tertidur lagi.Tidurnya terlihat gelisah dan lebih banyak bergerak sampai akhirnya terbangun sepenuhnya ke dunia nyata. Samar-samar dilihatnya seorang pelayan mendekatinya.’’Selamat pagi Nyonya!’’


"Pagi!’’


" Di mana suamiku?"


" Tuan Jerome sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali katanya ada rapat penting."


Emily beranjak dari tempat tidurnya. Tidak lama kemudian ia kembali dengan wajah yang segar, lalu menyantap makan paginya bersama Valentina. Setelah Valentina pergi ke sekolah, Dia menyalakan TV di kamarnya, lalu ia kembali berbaring di tempat tidur mengenang masa lalunya lagi bersama Jerome. Pria yang sudah merebut hatinya


Beberapa tahun yang lalu


"Maaf Nona Emily,’’kata seorang pelayan perempuan sambil membawa satu buket bunga mawar putih.’’Ada kiriman bunga untuk Anda."


"Aku?’’


"Benar. Ini bunganya."


Pelayan itu segera memberikan bunga itu kepada Emily.’’Permisi!’’


Emily memperhatikan bunga itu dengan penuh perhatian dan mengambil kartu yang terselip. Dari kartu itu tercium aroma bunga . Dia segera membacanya.


Kepada Emily


Sejak pertama kali kita bertemu, kamu sudah mencuri hatiku. Aku selalu memikirkanmu setiap detik. Bayang-bayang wajahmu selalu hadir. Jika kamu mengizinkan, aku ingin menjadi kekasihmu.


Jerome Hunt


Seketika wajah Shiori memerah dan memanas.


"Dari siapa?’’tanya ayahnya. Emily segera menyimpan kartu disaku celanya


"Bukan dari siapa-siapa. Ini dari temanku. Aku mau ke belakang dulu menyimpan ini. Permisi!’’


Hari berikutnya ia kembali menerima bunga mawar putih. Sudah dua Minggu ini Emily menerima bunga itu. Dia senang ternyata ada orang yang mencintainya. Ia senang ada seorang pria yang memberikannya bunga setiap hari.


Emily mendapat kartu undangan untuk makan malam dari Jerome pada hari dan jam yang sama. Di kartu itu juga tertulis,


Jangan tutup hatimu untuk orang lain, berikan kesempatan untuk dirimu untuk dicintai.


Emily hanya memandangi kartu undangan itu , lalu melemparnya ke tong sampah. [ ]

__ADS_1


__ADS_2