My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
46. Rencana Joshua


__ADS_3

Tokyo


Satu bulan telah berlalu sejak ia meninggalkan Castalia mansion .Di hari sabtu yang cerah Miya duduk di bangku di bawah bunga Sakura yang sedang bermekaran di halaman rumahnya sambil membaca novel. Sesekali ia mendongkakkan kepalanya ke langit hanya untuk melihat cerahnya langit. Bibir mungil gadis itu melengkung ke atas. Tersenyum.


"Maaf nona Anda di panggil oleh ayah Anda,''kata salah seorang pelayan rumahnya. Miya mengangkat salah satu alisnya.


"Baiklah.'' Miya segera berjalan menuju rumahnya mengikuti pelayannya. Gadis itu terlihat heran ketika dilihatnya ada sebuah mobil sedan hitam terpakir di halaman depan rumahnya.''Siapa yang datang ya?''gumamnya. Miya segera masuk ke dalam rumah tidak ingin berlama-lama memikirkan siapa yang datang bertamu ke rumahnya. Miya terus mengikuti pelayannya yang akan membawanya kepada ayahnya. Pelayan itu membuka pintu untuknya ketika telah sampai di ruang tamu terbuka menghadap taman.''Nona Miya sudah datang.''


"Suruh masuk!''


Miya muncul dari belakang pelayannya dan ia terkejut melihat tiga orang yang dikenalnya berada di sana. Gadis itu terkesima dengan pemandangan yang ada di depannya. Di sana ada Adelina, Blinda dan Cedric sedang menikmati teh hijau hangat.''Apa yang kalian lakukan disini?''Rasa terkejutnya masih nampak terlihat jelas di wajahnya. Silih berganti ia menatap ayahnya dan kepada mereka bertiga.


"Masuklah!''Miya langsung duduk di samping Adelina.


"Kapan kalian datang?''


"30 menit yang lalu,''tukas Cedric.


"Kenapa kalian datang kesini tanpa memberitahuku?''


"Kami datang untuk memberimu kejutan." Adelina tersenyum misterius.


"Apa hanya kalian bertiga saja yang datang?''


"Hanya kami bertiga saja,''kata Blinda sambil mengedipkan matanya.


"Aku tidak menyangka kalian akan benar-benar akan datang kesini.''


"Kami sudah merindukanmu. Selama satu bulan ini kamu tidak pernah menghubungi kami. Kami kira terjadi sesuatu yang buruk denganmu, jadi kami datang untuk menjengukmu sekalian pergi berlibur dan juga sekalian menjemputmu kembali ke New york. Kamu sudah bolos kuliah selama 1 bulan. ''Blinda tersenyum sama misteriusnya dengan Adelina.


"Aku tidak bolos hanya ambil cuti kuliah. Aku tidak bisa tinggal di Castalia mansion lagi. Aku berencana mencari apartemen di sana."


"Kamu akan tinggal di apartemenku."


"Benarkah? Terima kasih."


"Karena kami sudah ada disini. Kamu harus mengajak kami jalan-jalan,''kata Cedric dengan senyuman nakalnya.


"Tentu. Apa kalian ingin jalan-jalan sekarang. Ini sudah sore. Sebaiknya besok saja.''


"Ide bagus,''jawab Cedric dan yang lainnya pun menyetujuinya.


"Sepertinya kalian berempat akan melewatkan waktu yang sangat menyenangkan di sini,''kata Ayahnya yang sejak dari tadi diam mendengarkan percakapan mereka.


🎵🎵🎵🎵


Miya membantu Adelina dan Blinda membereskan barang-barang bawaannya. Mereka berdua akan tidur dalam satu kamar. Blinda yang telah selesai membereskan barang bawaannya masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Tinggalah Miya dan Adelina yang masih membantu membereskan barang-barangnya, karena jumlah barang yang di bawa bibinya lebih banyak dari Blinda.


"Apa dia bahagia?''tanya Miya tiba-tiba.


"Siapa?''

__ADS_1


"Fabian.''


"Oh. Iya dia bahagia. Kamu tidak perlu khawatir.''


"Baguslah. Aku turut senang mendengarnya.''


"Apa kamu merindukannya?''


"Eh..ti...tidak,''jawab Miya berbohong padahal hatinya memang sangat merindukan pria itu, sangat merindukan kehadirannya disini.


Adelina memberikan senyuman penuh pengertian.''Kalau kamu memang merindukannnya tidak perlu kamu sembunyikan. Tanpa perlu mengatakannya aku sudah tahu kamu merindukan Fabian.'' Wajah Miya merona merah tersipu malu. "Apa kau masih mencintainya?''


"Iya,''jawabnya dengan suara pelan.


"Kalau kakakku mendengarnya pasti senang. Kamu tahu dia tidak pernah berhenti mencintaimu.'' Wajah gadis itu tambah semakin panas. Ia bahagia pria itu masih mencintainya. Miya tersenyum dalam hati, tapi sayang ia sekarang sudah tidak mungkin lagi bersamanya. Wajahnya kembali muram .


Adelina meraih tangan Miya, lalu berkata dengan lembut,''Semuanya akan baik-baik saja. Suatu hari nanti kalian akan dapat bertemu kembali.''


"Kalau bertemu dengannya lagi pasti akan sulit untuk melepaskannya lagi. Lebih baik seperti ini. Aku senang kalau dia juga bahagia.'' Adelina memeluk Miya sambil mengusap punggungnya berusaha menenangkan Miya yang sudah mulai menangis.


🎵🎵🎵🎵


Pagi hari menjelang siang Miya bersama dengan Adelina , Blinda dan Cedric telah berada di tengah pusat perbelanjaan. Mereka pergi dari satu butik ke butik lain, dari satu mall ke mall lain. Mereka belanja begitu banyak sehingga Miya kewalahan membantu mereka membawakan barang belanjaan. Bahkan mereka juga membelikan berbagai macam barang yang cukup mahal untuknya mulai dari sepatu, pakaian, tas sampai perhiasan. Miya sempat menolaknya, tapi mereka bertiga terus memaksanya untuk menerimanya.


Miya berhenti sebentar di depan sebuah butik gaun pengantin. Ia berdiri terpaku di depan etalase butik yang memajang berbagai macam gaun pengantin. Miya terpesona oleh keindahan gaun-gaun itu. Gadis itu tersenyum miris dapatkah suatu hari ia akan dapat memakai salah satu dari gaun tersebut. Meskipun ia dapat memakainya siapa yang akan menjadi mempelai prianya.


"Kamu suka dengan gaun-gaun itu?''tanya Adelina mengejutkan Miya dari lamunannya.


"Mungkin sebentar lagi kamu akan segera memakainya.'' Miya langsung menoleh kebelakang menatap bibinya dengan wajah bingung.''Ayo sebaiknya kita pergi. Blinda dan Cedric sudah berada di cafe untuk makan siang.'' Adelina menunjuk sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari butik tersebut. Miya mengangguk kembali mengikuti bibinya menuju cafe dimana Blinda dan Cedric sedang menunggunya.


Setelah selesai berjalan-jalan rasa lelah nampak jelas di wajah mereka. Miya kemudian tersadar suasana rumah terlihat ramai dan sibuk. Para pelayan terlihat hilir mudik, lalu ia menghentikan seorang pelayan wanita yang sedang membawa setumpuk selimut bersih.''Apa yang terjadi disini?''


"Kita kedatangan tamu?''


"Tamu?''


"Iya nona.''


"Siapa lagi yang datang?''


"Tamu penting tuan.''Miya mengernyitkan dahinya. Apa yang terjadi dengan rumahnya dari kemarin rumahnya kedatangan banyak tamu tidak seperti biasanya. Miya mengizinkan pelayannya pergi dan ia pun pergi ke kamarnya ingin segera membersihkan diri, karena dirinya sudah terasa lengket.


Miya yang telah selesai membersihkan diri berjalan-jalan sebentar di kebunnya melihat bunga yang ia tanam beberapa hari yang lalu. Matahari sore bersinar dengan hangat. Ia senang melihat bunga yang ditanamnya tumbuh subur."Akhirnya aku menemukanmu.''Suara yang begitu dikenalnya terdengar. Miya cepat membalikkan badannya."Kamu...''


"Halo Miya!''


"Paman Joshua. Apa yang kamu lakukan disini?''Joshua tersenyum geli melihat keterkejutan gadis itu dengan kedatangannya.


"Tentu saja untuk menemuimu.''


"Sejak kapan kamu ada di sini? Dan untuk apa menemuiku?''

__ADS_1


"Sejak tadi siang. Apa kamu tidak ingin bertemu denganku?''


"Bukan begitu. Hanya saja aku terkejut kamu datang ke rumahku.''


Kedua sudut bibir Joshua melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman lebar.'' Aku sudah jauh-jauh datang kesini untuk menemuimu dan aku tidak ingin perjalananku ke sini sia-sia,''katanya tanpa ada basa basi lagi.


"Apa yang kamu inginkan dariku?''tanya Miya dengan penasaran yang tercetak jelas di wajahnya.


"Aku ingin kamu menikah denganku.''


Miya membelalakan matanya terkejut."Sudah aku katakan berulang kali aku tidak bisa menikah denganmu.''


"Kamu masih mencintai Fabian? Sebaiknya lupakan saja dia. Fabian tidak pantas mendapatkan cintamu. Dia terlalu pengecut untuk memperjuangkanmu. Dia lebih memilih menikah dengan Jeanette. Meskipun aku menyayanginya seperti adikku sendiri tapi aku sangat marah ketika aku tahu ia sudah menyerah untuk mendapatkanmu.''


"Jangan salahkan dia. Aku yang menyuruhnya untuk menikahi Jeanette.''


"Seharusnya ia menolak permintaanmu kalau ia benar-benar mencintaimu.''


"Fabian mencintaiku.''


"Kalau Fabian mencintaimu, kenapa ia tidak melarangku ketika aku mengatakan kepadanya kalau aku akan menikahimu?''


Selama beberapa saat Miya terdiam tidak tahu harus berkata apa.


"Itu karena Fabian tahu kalau dia tidak akan mungkin bersamaku, karena ia telah menikah dengan Jeanette.''


"Kamu juga berhak bahagia Miya. Jadi menikahlah denganku. Bagaimana? Aku tahu kamu tidak mencintaiku. Itu tidak masalah. Kamu masih membutuhkan waktu untuk melupakannya. Tidak ada salahnya kan menikah denganku. Aku akan berusaha untuk membahagiakanmu. Apa kamu tidak ingin mencoba mencintaiku? Mungkin suatu hari nanti kamu akan mencintaiku.''


Miya menatap lekat kepada Joshua, menatap matanya yang memancarkan keseriusannya untuk menikah dengannya. Sesaat ia merasa ragu-ragu. Joshua adalah pria yang baik meskipun dia selalu bersikap dingin. Apa yang dikatakannya memang ada benarnya. Dirinya dan Fabian sudah tidak mungkin bersama lagi. Mungkin suatu saat ia akan mencintai Joshua meskipun itu akan sangat sulit dilakukannya, karena ia tahu cintanya kepada Fabian sudah sulit untuk dilupakan. Miya menelan ludahnya, lalu memejamkan matanya ."Baiklah. Aku akan menikah denganmu,''jawabnya dengan berat hati.


Joshua tersenyum senang.''Terima kasih.''Pria itu langsung memeluk Miya dan sekali lagi senyuman mengembang di wajahnya.


🎵🎵🎵🎵


Sementara itu Fabian yang baru saja menyelesaikan sarapan paginya pergi ke halaman belakang mansionnya. Ia duduk di salah satu bangku besi panjang sambil memperhatikan Raina bermain bersama pengasuhnya. Fabian tersenyum mendengar tawa Raina hanya mendengarnya membuat hati Fabian merasa hangat dan damai. Angin musim semi yang sejuk menerpa tubuhnya. Matanya tiba-tiba sendu mengingat Miya. Ia merindukannya. Sangat merindukan gadis itu. Suara telepon mengejutkannya dan terdengar suara seorang pria dari seberang telepon


"Pagi Fabian! Aku rasa sekarang di di sana masih pagi.''


"Joshua.''


"Iya ini aku.''


"Kamu di mana sekarang?''


"Aku ada di Jepang menemui Miya.''Fabian langsung berdiri dan tubuhnya menegang.


"Kamu sudah bertemu dengannya?''


"Iya aku sudah bertemu dengan Miya dan apa kamu tahu aku sudah bicara dengannya dan dia telah menerima lamaranku.''Fabian tidak bisa menutupi rasa terkejutnya Miya menerima lamaran Joshua dan hatinya juga kini sudah dikuasai oleh rasa cemburu.


"Pokoknya kamu harus datang. Kalau kamu tidak datang itu artinya kamu sudah tidak mencintai Miya lagi,''lanjut Joshua marah. Sambungan telepon pun terputus. Fabian masih belum mempercayai kata-kata Joshua tadi. Miya akan menikah dengan Joshua kenyataan itu terdengar sangat lucu. Ia tidak dapat membayangkan gadis itu akan menjadi istri Joshua. Fabian berjalan mondar-mandir berusaha untuk menenangkan hatinya yang gelisah. Ini tidak boleh terjadi. Gadis itu tidak dapat menikah dengan Joshua. Miya bukan milik pria itu. [ ]

__ADS_1


__ADS_2