
"Ibu, jangan percaya kata-katanya."
"Tapi Raina."
"Sebaiknya kita menunggu penjelasan masalah ini dari Ayah,’’ujar Raina.
"Silahkan saja, kalau perlu kamu boleh meneleponnya sekarang."
Miya pun segera menghubungi Fabian, tapi teleponnya tidak aktif. ’’Fabian tidak bisa dihubungi,’’kata Miya.
"Apa yang aku katakan ini benar. Untuk apa aku jauh-jauh datang ke sini kalau aku berniat membohongimu."
"Fabian tidak akan mungkin mengkhianatiku , aku percaya kepadanya,’’katanya sambil berderaian air mata, walaupun hatinya mulai meragukannya.
"Baiklah Miya, terserah kamu saja. Aku sudah menyampaikan maksud kedatanganku ke sini."
Arya meminum minumannya dan berlalu pergi.’’Permisi!’’
Miya jatuh terduduk di kursi sambil menangis. Raina perlahan-lahan menepuk bahunya pelan. ’’Sudah Bu, jangan menangis dan jangan percaya kata-katanya. Dia memang jahat. Aku heran kenapa dia masih terus saja menganggu kalian berdua."
"Raina, apa yang harus Ibu lakukan? Sekarang aku sudah tidak tahu lagi siapa yang harus kupercaya."
"Ibu."
Malam harinya ketika Miya sudah terlelap tidur, Raina berhasil menghubungi Fabian.
"Ayah, cepatlah Anda pulang! Ayah harus segara menyelesaikan masalah Ayah dengan Ibu."
"Apa maksudmu?’’
"Ayah akan tahu kalau Ayah sudah pulang nanti. Saat ini Ayah jangan dulu menghubungi Ibu, biarkan dia tenang dulu."
"Apa telah terjadi sesuatu?’’tanya Fabian curiga.
"Benar dan hanya Ayah yang dapat menyelesaikan masalah ini."
"Aku mengerti."
"Maaf aku harus segera pergi sepertinya Ibu terbangun."
"Baiklah. Ayah akan secepatnya pulang."
Pembicaraan mereka terputus dan Raina melihat Mkya yang berusaha untuk mengambil air minum.
"Biar aku saja."
"Terima kasih. Kamu tadi dari mana?’’
"Mencari minuman hangat."
Miya menyerahkan kembali gelasnya pada Rei.
"Sekarang tidurlah kembali!’’
Raina membantu Miya menyelimutinya. ’’Selamat malam!’’
"Malam Raina!"
Raina akhirnya pergi ke kamarnya.
🧸🧸🧸
Fabian menutup teleponnya dan merasakan kecemasan dalam dirinya. Disaat dia sangat merindukan istrinya dan ingin mendengar suaranya, Miya tidak mau bicara dengannya.
‘’Apa yang terjadi denganmu, sayang? Kenapa tidak ingin bicara denganku? Apa kamu marah padaku karena aku pergi? Tidak. Pasti bukan karena itu Mkya marah, pasti karena hal lain."
Fabian sibuk dengan pikirannya mencari-cari alasan kenapa Miya marah kepadanya.’’Mungkinkah Miya sudah mengetahui masalahku dengan Arya? Apa Arya sudah berbicara dengannya. Ini tidak mungkin, dia sudah berjanji akan memberikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya kepada Miya."
Jantungnya berdetak semakin keras dan Fabian mulai terlihat sangat gelisah. Bagaimana ini? Apa aku harus segera kembali, tapi pekerjaanku disini belum selesai masih ada waktu seminggu lagi."
Fabian duduk dipinggir tempat tidur, dia memandangi foto istrinya dengan wajah sedih dan pilu.’’ Aku benar-benar sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu. Aku mohon jangan marah padaku, kamu harus percaya padaku, sayang. Aku tidak pernah berpikiran sedikit pun untuk mengkhianatimu."
Empat hari berlalu, telepon Miya berdering dan ia melihat Fabian memanggilnya, tapi Miya tidak menghiraukannya.
"Ibu, tidak mau menjawabnya?’’
"Untuk apa?’’
Raina menghela nafas. ‘’Mungkin Ayah sedang mencemaskan Ibu sekarang. Selama ini Ibu selalu menolak bicara dengannya. Mau sampai kapan Ibu? Kalau Ayah pulang mau tidak mau Ibu akan sering bertemu dan bicara juga dengannya. Ibu masih marah dengannya ya?’’
"Benar. "
"Lalu apa yang akan Ibu lakukan jika Ayah pulang? Apa Ibu akan bersikap tidak perduli seperti ini? Ibu jangan marah dulu kepadanya siapa tahu apa yang dikatakan Arya itu bohong. Miya terdiam memikirkan perkataan Raina.
"Entalah,kalau apa yang dikatakan Arya benar , aku tidak bisa memaafkannya. Itu artinya dia sudah mengkhianati cintaku dan aku akan bercerai dengannya."
"Lalu bagaimana dengan di rumah? Itu juga anak Ayah."
"Anak-anakku akan tetep bersamaku. Fabian tidak boleh mengambilnya dariku. Tidak boleh."
"Sepertinya aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi,"kata Raina.
🧸🧸🧸
Fabian akhir kembali pulang setelah hampir dua Minggu pergi. Ia segera pergi menemui Miya.
"Raina, di mana Ibumu?"
"Ada di kamar? Sepertinya Ibu sangat marah kepada Ayah."
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Temui saja Ibu, nanti Ayah akan tahu sendiri."
"Baiklah."
Fabian menaiki tangga dengan langkah cepat. Clarie mendekati Raina.
"Aku yakin akan ada pertengkaran besar antara mereka. Semoga mereka akan cepat berbaikan. Aku kesal Ayah sudah bertindak bodoh dalam hidupnya dengan tidur dengab wanita lain,"kata Clarie kesal.
"Aku yakin mereka bisa mengatasi masalah mereka sendiri."
Di luar terjadi badai salju lagi dan Raina merasa lega, Ayahnya telah kembali pulang sesaat sebelum badai salju datang.
🧸🧸🧸
Arya yang sedang berada disebuah cafe setelah pergi dari Castalia mansion terkejut ketika ada seorang pria yang dikenalnya menghampirinya.
"Hai Arya! Kita bertemu lagi di sini."
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi, Rafael."
Rafel kemudian duduk di sampingnya. Arya melirik Rafel yang sedang melihat daftar nrnu makanan. Pria itu pembawaannya sangat tenang. Ia bertemu dengannya beberapa hari yang lalu di sebuah taman, lalu ingatannya melayang saat mereka pertama kali berjumpa.
"Sepertinya Anda sedang bersedih."
Suara pria itu terdengar begitu lembut dan menyejukan bagi Arya seolah-olah suaranya mengandung sebuah sihir. Entah kenapa Arya menjadi terasa lebih tenang berada di samping pria asing. Dia pun menceritakan masalahnya kepada pria itu.
"Jadi ini semua karena masalah cinta. Kehidupan cinta Anda memang sangat rumit. Sebaiknya relakan saja pria yang tidak mencintaimu pergi jauh."
:Aku tidak ingin berpisah dengannya, karena aku mencintainya. Dia cinta pertamaku. Sebelumnya aku sudah memiliki kekasih, tapi aku tidak mencintainya."
"Tapi dia tidak mencintai Anda."
"Ini semua karena wanita itu,’’katanya dengan tatapan marah.’’Seandainya dia tidak ada pasti Fabian akan mencintaiku."
"Sepertinya Anda begitu membenci wanita itu."
"Aku memang sangat membencinya. Dia sudah merusak kebahagian dan impianku untuk hidup dengan pria yang aku cintai."
Arya kemudian menangis. Pria itu memberikan sapu tangannya kepada Arya.’’Ambilah!’’
Arya tmengambil sapu tangan pria .’’Terima kasih."
"Saranku adalah lupakan saja orang itu.Tidak baik hidup dalam kesedihan dan dendam."
Pria itu tersenyum lembut dan Arya terhenyak.’’Terima kasih sudah mau mendengarkan masalahku. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa menceritakan semua ini pada Anda."
"Mungkin itu karena Anda mempercayaiku."
Pria itu kembali tersenyum dan membuat Arya merasakan desiran aneh di dadanya, lalu Arya membalas senyumannya.’’Ternyata kamu lebih cantik kalau sedang tersenyum."
"Apa Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat pucat?’’tanya Arya
"Aku baik-baik saja."
Pria itu hanya tersenyum.
’’Sebaiknya aku pulang. Senang bisa bertemu dengan Anda di sini. Sampai jumpa!’’
Arya berlalu pergi tanpa mengatakan apa pun lagi. Ia masuk ke dalam taxi.
’’Jalan!’’perintahnya.
Brukkkk! Sebuah tas terlepas dari tangannya dan isinya berceceran keluar. Arya dengan sembarang memasukannya kembali ke dalam tas sampai akhirnya dia memungut sebuah sapu tangan. Dia membaca huruf inisial yang dijalin dengan benang berwarna emas di sisi sapu tangannya.’’R. M,’’gumamnya.
Arya kembali teringat dengan pria itu, ia baru menyadari kalau ia tidak tidak mengetahui namanya.Tanpa disadari, Arya menyunggingkan sebuah senyuman. Ia pergi ke dapur dan mencuci saputangan itu.
Suara bel rumahnya berbunyi, ia kemudian pergi dari dapur untuk melihat siapa yang datang. Ayahnya sudah membukakan pintu dan menyuruh tamu untuk masuk. Arya menghampirinya. Ia begitu terkejut melihat seseorang yang dikenalnya berada di rumahnya, begitu pun juga orang itu . Mereka berdua sama-sama terkejut.
’’Anda,’’kata mereka berdua bersamaan sambil saling tunjuk.
"Kalian sudah saling kenal?’’tanya Ayah Arya.
"Begitulah. Kami berdua saling kenal secara tidak sengaja,’’kata pria tampan itu.
"Kenapa Anda bisa ada disini? Apa Anda dan Ayah sudah saling mengenal?"
"Keluragaku dan keluargamu adalah teman lama. Aku sudah mengenal Ayahmu cukup lama. Dulu dia sering sekali berkunjung ke rumahku. Meskipun aku sudah kenal denganmu, tapi aku belum memperkenalkan diriku. Aku Rafael Mcfadden."
"Arya Cooke."
"Aku tidak pernah menyangka, kita akan bertemu lagi di sini."
"Aku juga tidak tahu kalau Anda dan Ayahku sudah saling kenal. Maaf, kalau kedatanganku sudah menganggu kalian bicara , jadi kalian berdua teruskan saja pembicaraan kalian. Permisi."
Itulah perkenalan Arya dengan pria bernama Rafael. Ia tidak tahu apa ia harus senang bisa bertemu dengan pria itu.
Keesokan harinya Arya menerima bunga satu pot bunga saat ia sedang membaca buku fi rumsh Ayahnya.
‘’Maaf nona Arya,"kata seorang pelayan perempuan sambil membawa satu pot bunga poinsettia warna merah.’’Ada kiriman bunga untuk Anda."
"Aku?’’
"Benar. Ini bunganya."
Pelayan itu segera memberikan bunga itu kepada Arya. ’’Permisi!’’
Arya memperhatikan bunga itu dan mengambil kartu yang terselip . Dari kartu itu tercium aroma parfum. Dia segera membacanya.
__ADS_1
Kepada Arya Cooke
Sejak pertama kali kita bertemu, kau sudah meracuni hati dan pikiranku. Bayang-bayang wajahmu selalu terbayang di kepalaku. Setiap kali aku mengingatmu, hatiku terasa sesak. Kaulah wanita pertama yang sudah mencuri hatiku.
Raffael Macfadden
Seketika wajah Arya memerah dan memanas.
"Dari siapa?’’tanya Ayahnya. Arya segera melipat kartunya.
"Bukan dari siapa-siapa. Ini dari temanku. Aku mau ke belakang dulu menyimpan ini. Permisi!’’
Arya kembali menerima bunga poinsettia. Sudah seminggu ini ia sudah menerima bunga itu. Dia senang ternyata ada orang yang memperhatikannya. Ini pertama kali bagi dirinya ada seorang pria yang memberikan banyak bunga untuknya, meskipun begitu ia tidak terlalu mempedulikannya. Saat ini Fabianlah yang yang sudah menjadi tujuan hidupnya. Dia masih belum merelakan Fabian pergi darinya.
Suara Rafael membawa alam sadar Arya kembali.
"Ada apa?"
"Kamu sedang memikirkan apa? Aku dari tadi memanggilmu."
"Tidak ada. Maafkan aku."
Pelayan cafe membawakan pesanan Rafael dan pria itu makan dengan lahap. Setelah makan malam , Rafel mengajaknya berjalan-jalan sebentar dan mereka menghabiskan waktu bersama di hari itu.
Beberapa hari kemudian Arya sudah tahu kepulangan Fabian dari seseorang yang ia bayar untuk mengawasi kediaman Fabian dan istrinya. Ia buru-buru naik taksi. Rafael yang akan mengunjungi rumah orangtua Arya, melihat Arya pergi terburu-buru, sedangkan di luar salju turun dengan lebat.
"Mau kemana dia?’’
Rafael mengikuti taxi yang membawa Arya. Taksi yang membawa Arya berhenti disebuah mansion berwarna putih berlantai tiga. Rafael memperhatikan gerak-geriknya.
"Mansion siapa ini?’’
Rafael berjalan mendekati rumah itu dan melihat papan nama di pagar rumah tersebut. Cepat-cepat Rafael masuk dan ia mengatakan ingin bertemu dengan pemilik mansion ini, setelah menunggu, ia diizinkan masuk. Rafael masuk ke dalam mansion dan baru saja ia akan memginjakkan kaki di pintu depan yang terbuka lebar, ia dapat mendengar pertengkaran dari dalam rumah.
Rafael mengintip di jendela rumah, di dalam sana dirinya dapat melihat seorang pria, wanita, dan juga Arya. "Kalau tidak salah itu kan...."
"Miya dengarkan penjelasanku dulu,’’teriak Fabian sambil memasang wajah memohon.
"Aku tidak mau mendengarnya, bagiku semuanya sudah jelas, kamu sudah mengakui kalau bayi Arya adalah anakmu."
"Tapi ini bukan seperti yang kamu sangka."
Rafael berdiri mematung, tidak percaya dengan pendengarannya.’’Arya mengandung anak dari Fabian.Ini tidak mungkin. Aku kira Arya...."
Rafael mengeleng-gelengkan kepalanya.’’Aku harus mendapat penjelasan dari Arya sekarang juga." Salju turun semakin deras dan angin kencang segera berhembus.
"Fabian, lepaskan aku jangan sentuh aku lagi."
"Miya, aku mohon dengarkanlah! Aku akan menjelaskan semua ini padamu."
"Apa lagi yang ingin kamu jelaskan? Semuanya sudah jelas, kamu pengkhianat."
"Miya, aku mohon kamu jangan salah paham dulu , ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Aku pergi !’’
"Miyaaaa....tungguuu!’’
Arya menahan tangan Fabian.
"Fabian, tinggalah denganku, aku sangat membutuhkanmu. Jangan pergi ketempat wanita itu. Jangan cari dia!’’
"Lepaskan aku, Arya. Aku harus mencari Miya."
"Aku juga sangat membutuhkan dirimu, tinggalah denganku di sini. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu."
‘’Maaf. Aku tidak bisa."
"Fabiiiaaan. Tungguuuu!"
"Kenapa kamu mengikutiku? Pulanglah!’’
"Tidak mau."
"Di luar sangat dingin dan kamu bisa mati kedinginan."
"Aku tidak perduli."
Fabian menyeret Arya masuk ke mansionnya.
"Tunggu disini! Jangan pergi kemana-mana! Aku akan pergi mencari Miya."
"Fabiaaan."
Wajah Arya pucat ketika dilihatnya Rafael berada di depan mansion Fabian."Rafael."
"Kamu harus menjelaskan semua ini padaku. Sekarang juga!’’teriak Rafael.
Arya pun lari keluar menembus badai salju dan Rafael pun segera menyusul Arya.
Fabian terus saja berjalan menebus badai salju, dia sudah tidak lagi mempedulikan keadaan dirinya yang sudah kedinginan yang dia pedulikan sekarang hanya istri yang tidak diketahui nasibnya sekarang. Air matanya mulai membasahi wajahnya.
Pandangan di depan matanya semakin tidak terlihat, karena badai salju. Butiran-butiran salju menerapa wajahnya. ‘’Seandainya aku tidak melakukan kesalahan besar pasti Miya d akan bersama denganku saat ini ditempat yang hangat,’’katanya dalam hati.
Fabian menghapus air matanya dan melihat ke sekeliling. Tidak ada tanda-tanda sedikit pun dari Miya.’’Ya Tuhan selamatkan istriku."
"Miya...Miya...Miya...’’teriaknya berulang-ulang.
Di belakang Arya berusaha untuk mengejar Fabian diikuti oleh Rafael. "Arya, kembalilah!Cuaca semakin buruk dan keadaan di sini cukup berbahaya. Apa kamu mau mati kedinginan?’’teriak Rafael berusaha bersaing dengan kerasnya suara hembusan angin badai salju. [ ]
__ADS_1