My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
26. Pesta dansa (2)


__ADS_3

Keesokan malamnya Miya menyibukkan diri dengan berdandan. Ia ingin tampil sebaik mungkin di acara pesta ulang tahun perusahaan klien pamannya. Wajahnya tiba-tiba memerah, ketika ia mengingat semua sikap pamannya kepadanya. Fabian dan Miya telah tiba di pesta dan kedatangannya tentu saja menjadi pusat perhatian para tamu. Semua mata memandang ke arah mereka membuat Miya merasa canggung. Tentu saja karena ia tidak terbiasa dengan semua perhatian ini mungkin pamannya telah terbiasa tapi tidak dengan dirinya. Di pesta itu hadir berbagai orang-orang penting dan juga orang-orang yang berasal dari kelas atas. Miya merasa dirinya bukan apa-apa di banding mereka.


Fabian seolah merasakan kecanggungan Miya, pria itu semakin erat mengenggam tangannya, lalu berbisik di telinganya yang membuatnya merinding.''Tenanglah!Tetaplah selalu bersamaku.''Miya mengangguk pelan, lalu Fabian melemparkan senyuman.''Kamu terlihat sangat cantik malam ini dan aku tidak suka melihat para pria yang ada di sini melihatmu dengan tatapan penuh kekaguman.''


"Seharusnya paman tidak mengajakku kesini.''


"Seharusnya begitu, jika saja aku tahu kalau para pria disini akan memandangimu seperti itu.''Fabian melingkarkan lengannya di pinggang ramping Miya.''Aku tahu kamu belum terbiasa dengan semua ini, tapi mulai sekarang kamu harus membiasakan diri untuk menghadiri pesta seperti ini denganku, karena sebentar lagi kamu akan menjadi istriku.''Miya langsung memelototi Fabian.


"Siapa yang mau jadi istrimu? Aku tidak mau,''protes Miya.


''Pasti kamu akan mau,''jawab Fabian dengan suara yang menggoda di telinganya.


Fabian berjalan dengan penuh percaya diri melewati para tamu yang ingin bicara dengannya, tapi selalu menolaknya secara halus dengan senyumannya. Selama mereka berjalan, Miya mendengar bisikan-bisikan dari para tamu undangan, ia tidak tahu apa yang mereka bisikan tentang ia dan pamannya dan tanpa sengaja sudut matanya menangkap seorang wanita dari kejauhan yang sedang memandang penuh damba kepada Fabian membuat Miya merasa jengkel.


Tidak lama kemudian akhirnya Fabian terlibat pembicaraan serius dengan beberapa kenalannya di pesta dan Miya sedikit terabaikan. Ketika ia melihat makanan, perutnya merasa lapar.Ia memandang keramaian pesta sambil menikmati makanan yang di bawanya, lalu ada seorang pria yang menghampirinya dan mengajaknya berdansa. Miya ragu-ragu untuk menerima ajakan berdansa, tapi ia juga tidak sanggup menolak permintaan dari pria tersebut yang sudah memintanya dengan sopan. Gadis itu menerimanya .


Selama berdansa Miya merasa canggung, karena sudah lama tidak berdansa, lalu ia melihat Fabian yang sedang menatapnya dengan tajam.Ada rasa tidak suka yang terpancar dari matanya. Gadis itu jengah terus ditatap oleh pamannya seperti itu.Ia pun kembali melanjutkan berdansa. Fabian terus mengawasi setiap gerakan Miya di pesta itu hanya gadis itu yang diperhatikannya. Fabian tidak peduli dengan wanita lainnya, hanya ada Miya dimatanya saat ini. Seorang pria telah mengajak Miya berdansa membuat Fabian tidak suka. Ia cemburu .


Selama setengah jam kemudian Miya memperhatikan pamannya berdansa secara bergantian dengan banyak wanita muda yang lebih cantik darinya dan pamannya juga merasa senang ketika berbincang-bincang dengan wanita yang diajaknya berdansa .Miya menyudahi dansanya dan berjalan menjauhi lantai dansa, lalu ia melihat seorang pria yang dikenalnya dan pria itu pernah mengatakan kalau Fabian adalah seorang pembunuh. Miya pun menghampiri pria itu dan bermaksud untuk menanyakannya.''Maaf, permisi! Apa Anda masih mengenaliku. Kita pernah bertemu di tempat parkir disebuah restoran.''


"Ah ya. Aku ingat. Kamu wanita yang bersama Fabian waktu itu.''


"Benar. Aku keponakannya.''


"Ternyata Fabian mempunyai keponakan yang sangat manis,''katanya dengan suara menggoda membuat Miya merasa tidak suka.

__ADS_1


"Aku hanya ingin tahu. Kenapa kamu menyembut paman Fabian sebagai pembunuh.''


Lalu James membisikkan sesuatu di telinganya.''Fabian sudah membunuh Clarissa, karena Clarissa memergokinya sedang berselingkuh dengan wanita lain.''Setelah mengatakan itu James cepat-cepat pergi meninggalkan Miya dengan ekspresi tidak percaya di tengah keramaian pesta.


''Akhirnya aku menemukanmu di sini. Tadi aku cemas kamu hilang. Seharusnya aku tidak membawamu kesini kalau aku tahu para pria di sini akan menyukaimu,''candanya, tapi Miya hanya diam.


"Kamu kenapa? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?''


Fabian meraih dagu Miya agar gadis menatap ke arahnya."Kalau ada katakan saja.''


"Ti...tidak ada apa-apa.''


Fabian menatapnya sebentar.''Baiklah. Sebaiknya kita duduk. Maaf sudah meninggalkanmu begitu lama.''


Fabian merangkul pinggang Miya dan membawanya duduk di salah satu kursi yang kosong yang berada di sudut ruangan.''Tunggu disini! Aku akan mengambil minuman untukmu. Jangan kemana-mana!''


Miya kembali mengingat perkataan James kepadanya tadi. Apa yang dikatakan James sedikit mengusik pikirannya. Selama ini ia memang belum begitu mengenalnya terutama masalah kehidupan pribadinya, karena Fabian tidak pernah bercerita apa pun kepadanya. Miya mengerucutkan bibirnya. Ini sungguh tidak adil. Pamannya sudah mengetahui tentang masa lalunya dengan Ryusuke, tapi ia sama sekali belum mengetahui masa lalu pamannya dengan istrinya dulu gerutunya di dalam hati. Kalau Fabian menganggapnya sebagai kekasihnya seharusnya ia bercerita kepadanya . Huuuhh...menyebalkan.


''Ini,''seru Fabian sambil menyodorkan jus jeruk kepadanya. Miya menerimanya dan tanpa sengaja ia menyentuh tangan Fabian yang terasa sangat hangat membuatnya sedikit terkesiap.


''Terima kasih.''


Tidak lama kemudian Miya mendapati Fabian sedang menatapnya dengan tatapan lembut yang membelai dan ia merasa jengah terus di tatapnya seperti itu. Miya tiba-tiba berdiri.''Aku mau ke toilet''. Miya langsung pergi tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Ia tidak ingin pamannya melihat wajah yang memerah.Sesampainya di toilet gadis itu dapat kembali bernapas lega.Ia menatap dirinya di cermin sambil membenarkan riasannya. Akhir-akhir ini ada yang salah dengan reaksi tubuhnya saat Fabian berada begitu dekat dengannya. Tubuhnya bergetar penuh hasrat. Hanya melihat pamannya membuat seluruh tubuhnya merasa senang dan jantungnya berdebar-debar. Ia menjadi merasa panas dingin saat menatapnya. Dalam pelukan pamannya, ia merasakan kenyamanan, perlindungan dan perhatiannya.


Cahaya lampu di ruangan pesta menyilaukan matanya. Miya mencari-cari Fabian di tengah kerumunan orang, tapi ia tidak menemukan Fabian di mana pun. Miya memutuskan kembali duduk menunggu Fabian kembali.

__ADS_1


Sementara itu Fabian yang sedang menunggu Miya dari toilet terpaksa pergi, karena seorang pelayan memberitahunya ada telepon untuknya. Ia mengikuti pelayan itu ke lobby hotel, meskipun Fabian merasa ada yang aneh tentang panggilan telepon itu.


"Selamat malam! Saya Fabian Baskerville."


"Ini aku." Suara wanita terdengar dari seberang telepon. Fabian tidak mengenali suara itu.


"Siapa?"


"Bunga Lily."


Seketika tubuh Fabian menjadi kaku.


"Apa maumu?"


"Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauhi Miya, tapi kamu mengabaikannya."


"Dari mana kamu tahu aku ada di sini?"


" Aku selalu memperhatikan kalian. Setiap gerak-gerik kalian aku tahu, karena kamu sudah mengabaikan peringatanku, kamu akan membayarnya dengan nyawa Miya."


"Apa yang akan kamu lakukan kepadanya?"tanya Fabian panik dan wajahnya menjadi pucat.


Suara tawa terdengar dari seberang telepon.


"Kumohon jangan sakiti Miya."

__ADS_1


"Aku sudah mencampur minumannya dengan air keras,jika Miya meminumnya, dia akan meninggal."


Fabian langsung menutup teleponnya dan berlari mencari Miya dengan panik. Ia menemukan Miya sedang duduk di tempat ia meninggalkannya. Ketakutannya semakin menjadi saat Miya hendak minum. Fabian berlari dan menepis gelas itu sampai terjatuh. Gadis itu terkejut. Tidak lama terdengar suara desisan di mana air dari gelas itu tumpah. Kaki kursi yang terkena air itu meleleh. Fabian lega, ia datang tepat pada waktunya. Ia pun harus segera mengambil keputusan yaitu mengutamakan keselamatan Miya.[ ]


__ADS_2