My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S3): Jebakan Arya


__ADS_3

Fabian datang ke kantor bersama dengan Miya, karena mereka akan pergi makan siang bersama. Hal ini tentu membuat Gilbert terkejut.’’Pagi Fabian, Miya!’’


"Pagi Gilbert!’’


"Di dalam ada tamu."


"Siapa?’’


"Dia bilang namanya Nona Arya Cooke, sudah sejak dari tadi dia menunggumu."


Fabian dan Miya terkejut, lalu mereka segera masuk. Mereka melihat tamunya sedang duduk sambil membaca majalah. Arya tersenyum dengan kedatangannya, tapi senyuman itu menghilang, ketika Miya muncul dari belakang Fabian. Miya juga merasakan ketidaksukaan Arya terhadap dirinya.


"Pagi Fabian!’’


"Ada apa kamu datang ke sini?"tanya Fabian.


"Aku ingin bicara denganmu."


"Sudah tidak ada lagi yang kamu bicarakan denganku."


"Aku mohon."


Miya sudah terlihat kesal dengan sikapnya yang berusaha untuk menggoda Fabian, lalu Arya melirik ke Miya dengan pandangan sebal.


"Bisakah kita bicara berdua saja?’’


"Miya, bisa tinggalkan kami berdua?’’


Miya terlihat tidak suka dan dia terpaksa meninggalkan Fabian berduaan dengan wanita lain.


" Apa lagi yang ingin kamu bicarakan denganku?"


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku...aku mencintaimu."


Fabian terlihat sangat kesal. Ia sudah bosan mendengar itu berulang kali dan kali ini ia berusaha bersikap tenang menghadapi Arya.


"Maaf Arya, sepertinya aku tidak bisa membalas perasaanmu, aku hanya menganggapmu sebagai teman."


Arya memandang marah kepadanya.


"Kenapa kamu menolakku? Apa aku tidak cukup pantas untukmu? Kamu tahu, aku sangat mencintaimu."


Fabian dapat melihat kemarahan dari sinar matanya, lalu Arya mencengkeram tangannya sangat kuat.


"Arya lepaskan aku!’’kata Fabian


Fabian berusaha untuk lepas dari cengekramannya, akhirnya ia dapat melepaskan diri dan berusaha untuk menghindar darinya, tapi Arya bergerak dengan cepat , sebelum Fabian menjauh darinya. Arya yang berdiri di depannya masih memandangnya penuh kemarahan.


"Suatu saat nanti aku akan kembali dan aku akan memastikan kamu akan mencintaiku."


"Sudah cukup Arya. Jangan memaksa lagi supaya aku mencintaimu, karena itu tidak akan pernah terjadi."


"Apa yang aku katakan pasti akan terjadi." Mimik wajahnya mulai serius.


"Apa maksudmu?’’


"Aku akan membuatmu mencintaiku."


"Itu tidak akan pernah terjadi."


"Selama ini aku mencintaimu dan tujuanku datang ke sini adalah untuk sekali lagi mengatakan perasaanku padamu. Fabian, aku mencintaimu."


"Jawabanku tidak berubah. Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Tolong mengertilah!"


Arya mulai terlihat kesal.’’Aku tidak akan menyerah, aku pastikan kali ini kamu akan mencintaiku. Aku tidak kalah cantiknya dengan istrkmu itu,’’katanya setengah marah.


"Aku tidak bisa memaksakan aku mencintaimu," balasnya.


"Aku mohon Fabian cintailah aku. Aku begitu mencintai dan memujamu. Aku akan membuatmu hidupmu bahagia."


"Maaf, aku tidak bisa melakukannya."


"Jadi cintamu kamu berikan pada istrimu saja."


"Iya."


Suasana kini berubah menjadi tegang. Di luar Gilbert mendengar samar-samar kalau Fabian dan tamunya sedang bertengkar.


"Aku bisa saja berbuat sesuatu yang buruk padanya."


"Jangan coba melakukan apa pun pada Miya."


"Itu tergantung padamu.:


"Apa maksudmu?’’


"Jika kau mau menerimaku dan mau mencintaiku atau bahkan menikah denganku. Aku janji tidak akan berbuat macam-macam padanya."


"Apa kamu mau mengancamku?’’


Tatapan Fabian begitu dingin dan membuat Arya terhenyak dan juga merasa takut, dia belum pernah melihat ekspresi wajah Fabian seperti itu.


Arya berusaha menutupi ketakutannya.’’Benar."


Fabian tertawa keras.


"Kamu berani sekali melakukan itu padaku."


"Kamu tahu,  aku ingin suatu saat kamu akan jatuh cinta padaku, tapi ternyata kamu mencintai istrimu, ’’kata Arya.


Arya mulai mendekati Fabian, tapi Fabian cepat menghindar.


Fabian sudah benar-benar marah kepada Arya dan dia berjalan mendekati pintu.’’Keluarlah!’’teriaknya.

__ADS_1


Arya memandang geram .


"Kamu akan menyesali telah menolakku. Lihat saja nanti. Permisi!’’


Gilbert masuk masih dengan wajah terkejut.’’Apa yang terjadi?’’


Fabian menatap Gilbert dengan tatapan dingin.


Kamu tidak perlu mengatakannya, karena aku dapat mendengarnya dengan jelas."


Gilbert keluar lagi setelah menyimpan beberapa dokumen di meja.’’Gilbert, kalau dia datang lagi ke sini, jangan biarkan dia masuk."


"Saya mengerti. Permisi!’’.


Fabian duduk dan bersender dikursinya sambil mengatur nafasnya kembali. Tidak lama Miya muncul dengan wajah cemas.


"Apa wanita itu sudah pergi, Fabian?’’


"Benar."


"Sepertinya telah terjadi sesuatu?"


" Seperti biasa. Dia selalu memaksakan kehendak supaya aku bisa mencintainya."


"Wanita itu sepertinya sudah gila."


"Mungkin kamu benar."


🧸🧸🧸


Arya keluar kamar dengan mata sembab.’’Arya, kamu kenapa? Duduklah! Apa yang telah terjadi?’’tanya Claudia, temannya.


"Hubunganku dengan Fabian sudah benar-benar berakhir."


"Fabian kekasih barumu itu. Berakhir? Tapi kenapa? Bukannya kalian saling mencintai?’’


"Iya,"kata Arya bohong. Dia sudah terlanjur pamer pada teman-temannya bahwa ia sudah memiliki kekasih kaya raya. Saat itu Arya sangat senang melihat keirian di mata teman-temannya


"Sayang sekali."


"Aku sangat mencintainya."


"Lalu kenapa?’’


"Aku yang memutuskan hubungan kami."


"Kamu ? Tapi kenapa kamu lakukan itu?’’


"Saat ini mantan kekasihnya lebih membutuhkan Fabian."


Arya menundukkan kepalanya, kemudian terisak menangis. ’’Arya, kalau kamu diam saja, aku jadi tidak tahu apa masalahnya."


"Sekarang mantan kekasihnya lebih membutuhkan Fabian dari pada diriku, karena dia sedang sakit."


"Sakit apa?’’


"Benarkah itu, Arya?’’


Arya mengangguk.’’Benar. Karena itu aku harus meninggalkan  Fabian. Ini demi kesembuhan mantan kekasihnya. Aku tahu kalau dia masih sangat mencintai Fabian dan aku merasa bersalah telah merebut Fsbian darinya."


"Arya." Claudia merangkul bahunya.’’Kamu jangan pernah merasa bersalah, karena kamu sama sekali tidak bersalah. Kalian berdua saling mencintai. Lagi pula Fabian sudah putus dengan kekasihnya, kan?"


Arya mengangguk pura-pura sedih


"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta kepadanya."


Claudia menangkup wajah Arya.’’Arya, kita tidak pernah tahu dengan siapa kita akan jatuh cinta dan kebetulan saja kamu jatuh cinta dengan Fabian setelah kekasihmu itu meninggalkanmu begitu saja."


Arya mengangguk sedih.


"Keputusanmu sudah benar, sebaiknya kamu tidak perlu berhubungan dengan Fabian atau pun dengan mantan kekasih Fabian lagi. Itu akan membuat hidupmu sedih dan menderita saja."


"Tapi aku tidak sanggup kehilangan Fabian."


"Kamu tidak sanggup kehilangan dia, tapi kamu tetap akan meninggalkannya. Lebih baik kamu lupakan saja dia. Aku tidak ingin melihatmu sedih, kalau kamu sedih, itu juga membuatku menjadi sedih."


"Kamu temanku yang baik."


"Sudah jangan menangis lagi. Aku bangga padamu, karena kamu rela berkorban umtuk kepentingan orang lain."


Arya menangis dalam pelukan Claudia, lalu tersenyum. Setelah Claudia pulang, Arya kembali masuk ke kamarnya. Ia memandang marah dan benci pada foto Miya dan Fabian.


"Ini semua gara-gara kamu, Miya."


Arya melemparkan tasnya ke lantai dan memukulkan tangannya ke dinding.’’Sial!’’


"Lihat saja Fabian, kamu akan menyesal telah menolakku. Aku benci kalian berdua."


Arya cepat-cepat membereskan pakaiannya ke dalam koper untuk kembali tinggal di panti asuhan.


🧸🧸🧸


7 bulan kemudian


Andrew Baskerville, ayah Fabian berada di kamar anaknya di Castalia mansion. Tubuh rentanya duduk di kursi roda, memandang ke sekeliling kamar yang enam bulan ini tidak dihuni lagi oleh pemiliknya. Di wajahnya tersirat kesedihan. Beberapa saat dia memandangi kamar anak dan istrinya. Sebuah album tua berada ditangannya, perlahan-lahan ia membukanya.


Di album foto itu terlihat foto-foto Fabian dari kecil sampai dia besar. Sejak Fabian dan Miya pergi lima bulan yang lalu Castalia mansion menjadi semakin sepi. Jonathan dan Clarie terlihat sangat sedih dengan kepergian orangtuanya. Castalia mansion yang besar terlihat begitu suram dan sama sekali tidak ada keceriaan di dalamnya.’’Kamu ada di mana sekarang Fabian, Miya?’’gumamnya.


Suara ponsel berdering  memecahkan keheningan dikamar Fabian. Andrew segera menerimanya.’’Halo !’’


Andrew tidak kunjung mendengar suara orang yang meneleponnya.’’Halo ! Halo! Kalau Anda tidak mau menjawab, aku akan segera mematikan teleponnya,’’katanya tegas.


"Ini aku, Gilbert. Maaf sinyal telepon di sini kurang bagus."

__ADS_1


"Apa ada informasi tentang Fabian dan Miya?"


"Aku sudah mengunjungi lokasi kejadian dan sudah mendatangi rumah sakit dan tubuh yang mereka temukan bukan Fabian atau Miya."


Andrew mendesah lega. Beberapa hari yang lalu ia mendapat kabar dari pihak kepolisian, bahwa mereka menemukan jasad seorang pria dan wanita yang berada di bekas longsoran salju beberapa bulan yang lalu. Andrew menyuruh Gilbert untuk memeriksanya ke sana.


"Jadi itu bukan Miya dan dan Fabian?"


"Benar."


" Masih ada harapan mereka masih hidup."


"Iya. Aku harap mereka baik-baik saja."


"Kamu bisa kembali pulang."


"Baiklah."


Andrew menutup teleponnya, lalu meninggalkan kamar Fabian dan Miya. Berita menghilangnya Fabian dan Miya sempat membuat berita besar. Sejak Fabian menghilang, posisi direktur di ambil alih oleh salah satu orang kepercayaan Andrew. Ia berharap suatu saat Fabian akan pulang dan kembali mengambil alih posisinya sebagai direktur perusahaannya. Sudah 7 bulan berlalu Andrew mencari keberadaan Fabian dan juga Miya, tapi dia harus menelan kekecewaan, karena keberadaan anaknya belum juga diketemukan, tapi sekarang dia sudah sedikit merasa lega kalau Fabian dan Miya bukan jasad yang ditemukan.


Sementara itu Arya selalu menghabiskan waktunya dikamar dengan bersedih.


"Aku yakin Fabian belum meninggal,’’ujarnya dalam hati.


Arya mengambil mantelnya, lalu keluar dari rumahnya. Sepanjang jalan ia terus mengamati orang-orang yang berlalu-lalang, ia berharap dapat melihat Fabian diantara mereka. Saat itu kota memang sedang ramai .Orang- orang sudah mulai pulang dari bekerja dan juga bubarnya beberapa anak sekolah. Suasana natal di kota itu masih terasa walaupun sudah berlalu satu bulan yang lalu. Udara malam yang dingin membuat tubuhnya mengigil, ia pun memasuki sebuah kafe dan duduk disebuah kursi di sudut ruangan dekat jendela yang menampilkan pemandangan kota.


"Cappucino panas,’’katanya kepada pelayan kafe tersebut.


Ia menggosok-gosokkan tangannya dan sesekali meniup tangannya.Tidak lama pesanannya datang,  segelas cappucino panas dengan uap yang masih mengepul ada dihadapannya. Menit demi menit telah berlalu dan minumannya sudah hampir habis. Pandangannya tetap melihat orang-orang di luar sana, lalu matanya terbelalak lebar.


"Fabian,’’teriaknya dalam hati.


Dengan cepat-cepat dia membayar minumannya dan berlari keluar dari kafe. Ia pun berlari dan berteriak memanggil namanya.


"Fabian...Fabiaaan."


Kebisingan kota membuat teriakannya tidak terdengar, Kemudian orang yang mirip dengan Fabian sudah ikut bergabung dengan para penyebrang lainnya, sedangkan  Arya masih berusaha untuk menerebos orang-orang yang sedang berlalu lalang. Nafasnya tersengal-sengal dan ia pun harus menelan kekecewaan, karena ia telah terlambat untuk ikut menyebrang, karena lampu sudah kembali menjadi merah dan sosoknya telah hilang diantara kerumunan orang.


"Fabian, tunggu aku! Jangan tinggalkan aku lagiii!’’teriaknya.


Dia terus mencarinya tapi dia tidak dapat menemukannya. Akhirnya dia menyerah untuk mencarinya.’’Tidak salah lagi. Pasti tidak salah lagi itu Fabian. Aku yakin."


Arya tersenyum senang. Ia pun kembali ke rumahnya.


🧸🧸🧸


Andrew menemukan istrinya, Rosalie sedang menemani Jonathan dan Clarie.


" Nenek yakin, orangtua kalian akan baik-baik saja."


"Kalau mereka baik-baik saja, kenapa mereka tidak segera pulang?"tanya Clarie disela isak tangisnya.


"Nenek juga tidak tahu."


Tidak lama kemudian, Raina datang bersama anak dan suaminya.


"Apa masih belum ada kabar?"tanya Raina.


"Gilbert sudah meneleponku dan jasad yang mereka temukan bukan Fabian dan Miya,"kata Andrew.


"Benarkah itu?"tanya Jonathan.


"Iya. Sekarang yang bisa kita lakukan hanya berdoa saja."


Semuanya terdiam.


"Aku harap kabar baik tentang keberadaan mereka segera datang,"kata Leonard.


"Semoga saja,"kata Andrew.


🧸🧸🧸


7 bulan yang lalu


Sementara itu tepatnya disebuah kafe yang terletak di dalam sebuah hotel mewah seorang wanita anggun dan cantik sedang duduk gelisah sesekali ia melihat jam tangannya. Tidak lama kemudian seorang pria menghampirinya dan ia pun tersenyum. ’’Kamu lama sekali aku sudah menunggumu dari tadi’’.


"Maaf, sudah membuatmu menunggu lama, jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku? Apakah begitu penting?’’


Wanita itu tersenyum senang.’’Fabian, aku hamil. Aku sedang mengandung anakmu."


Fabian yang mendengar itu begitu terkejut dan dia pun shock mendengarnya.’’Kamu bohong."


"Aku tidak bohong. Ini buktinya."


Wanita itu melemparkan sebuah amplop ke arahnya. Fabian membacanya dengan cepat dan kedua tangannya melemah.’’Kamu harus menikahiku."


"Aku tidak bisa menikah denganmu, karena aku sudah menikah dengan Miya. Lagi pula aku tidak pernah mencintaimu. Apa yang kita lakukan satu bulan yang lalu adalah  sebuah kesalahan."


"Jadi kamu tidak mau mengakui ini adalah anakmu,’’katanya kesal.


"Bukan begitu. Tapi saat ini aku tidak dapat menikah denganmu. Aku akan bertanggung jawab pada anak itu , tapi aku tidak akan menikahimu."


"Fabian, sebentar lagi perutku akan membesar dan sekarang aku hamil diluar nikah, aku akan mempermalukan keluargaku dan juga diriku. Kamu tahu, aku tidak tahan, jika orang-orang mempermalukan aku, ‘’kata wanita itu sambil menangis terisak.


"Maafkan aku."


"Aku akan memberikanmu waktu, kalau tidak  aku akan menemui Miya dan memberitahu semuanya."


Fabian menjadi panik, ia tidak ingin Miya mengetahui masalah ini kalau ia tahu pasti Miya akan sangat marah kepada dirinya dan tentu saja dirinya  akan langsung kehilangannya. Bagaimana pun juga dia tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya.


Fabian mendekatkan wajahnya kepada wanita yang ada dihadapannya.’’Jangan pernah kau temui Miya dan mengatakan hal ini kepadanya kalau tidak kau akan menyesal seumur hidupmu,’’katanya dingin.’’Biar aku saja yang bicara dengannya’’.


Fabian pun lalu meninggalkan wanita itu dalam perasaan marah bercampur terkejut, karena berita kehamilan Arya.

__ADS_1


"Lihat saja Masumi, cepat atau lambat Miya akan mengetahui ini dan ka.u akan menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan kebahagiaan pernikahan kalian lama-lama. Kamu pasti akan jatuh ketanganku."


Arya merasa senang. Fabian mempercayai kebohongannya. Sebenarnya ia tidak hamil. Ia hanya berhasil menjebak Fabian dengan obat tidur yang ia berikan satu bulan yang lalu saat Fabian berkunjung ke panti asuhan untuk memperingatinya supaya Arya jangan menganggunya lagi dan Arya pura-pura tidur dengannya. [ ]


__ADS_2