My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S3): Kencan


__ADS_3

Banyak orang mati terkena wabah ini. Kakaknya membawa Erika kesebuah tempat asing secara diam-diam untuk  menyembuhkan penyakitnya khawatir akan menulari ibu dan adiknya. Fernando menemani Erika selama 2 hari di sebuah rumah kecil yang terbuat dari papan di hutan.


Jerome yang berada di rumahnya sedang menemami istrinya menyulam masih belum dapat memaafkan Erika yang sudah mengkhianatinya. Ingatan saat Erika bersama dengan pria lain belum juga menghilang walapun kejadiannya sudah 2 bulan yang lalu. Selama ini dia menahan kemarahan dan dendamnya pada Erika.


Drogo mendekati Jerome dan membisikan ke telinganya, kalau Erika akan menikah dengan pria selingkuhannya. Darah Jerome mendidih, dia tidak rela Erika hidup bahagia dengan kekasih gelapnya.


"Jangan harap kamu dapat hidup bahagia dengannya. Tidak akan kubiarkan,"katanya dalam hati.


"Kamu kenapa? Wajahmu pucat?’’tanya istrinya.


Jerome tersenyum lembut kepadanya.


"Aku baik-baik saja."


"Benar kamu baik-baik saja?’’selidik istrinya.


"Iya."


"Apa yang dikatakan paman Drogo ? Apa ada masalah?’’


"Itu bukan urusanmu,’’katanya dingin.


Jerome pergi meninggalkan istrinya. Aine bingung melihat kepergian suaminya dengan wajah kesal.


"Apa aku sudah salah bicara?’’tanya heran.


Lalu Aine kembali menyulam lagi dengan wajah tenang. Jerome berjalan mondar-mandir dikamarnya sambil mengigit ibu jarinya.


" Dia tidak boleh menikah dengan pria itu. Tidak akan kubiarkan. Wanita itu sudah mengkhianati cintaku dan aku tidak akan membiarkan dia hidup bahagia. Sekarang bagaimana caranya suapaya aku dapat mengagalkan pernikahannya."


Lalu dikepalanya terbersi rencana jahat. Larut malam Jerome keluar rumah secara diam-diam dan pergi ke rumah Erika. Entah apa yang merasuki pikiran Daisuke , dia mulai membakar rumah Erika. Semua penduduk desa berhamburan keluar menyaksikan kebakaran. Fernando yang baru tiba untuk menengok keluarganya sangat terkejut melihat rumahnya terbakar.


Di dalam rumah terdengar suara jeritan melengking nyaring. Suara ibu dan adik perempuannya. Fernando berusaha untuk menyelamatkan mereka, tapi warga desa melarangnya, karena rumah itu sudah hampir rubuh dan tidak ada jalan masuk kerumah itu. Ia menutup telinganya tidak ingin mendengar suara jeritan ibu dan adiknya lagi. Wajahnya sudah dipenuhi oleh air mata.


‘’Tidaaaakkkk!!!’’Teriaknya.


Seumur hidupnya Fernando tidak akan melupakan kejadian ini. Dia berusaha untuk tegar dan mencari alasan kenapa rumahnya terbakar. Ia tidak tahu harus bicara apa pada Erika nantinya.


Jerome berjalan lunglai setelah membakar rumah Erika dan dia bersandar disalah satu tembok rumah warga desa.


"Ha..ha..ha..dendamku pada Erika sudah terbalas. Dia sudah mati dengan keluarganya dan dia tidak akan pernah menikah dengan pria itu."


Dia berjongkok lalu menangis. Drogo dan Akvin yang akan melihat kebakaran itu melihat Jerome yang sedang menangis.


"Kamu kenapa menangis?’’tanya ayahnya.


"Aku...aku telah membakar rumah Erika."


"Apaaa?’’Seru mereka bersamaan.


Wajah mereka terlihat pucat, lalu mereka berdua menarik Jerome menjauh dan membawanya ke tempat yang lebih sepi lagi. Di saat bersamaan Fernandl mengambil jalan yang sama dengan mereka.


"Apa  itu benar yang kamu katakan tadi?’’


"Iya. Aku telah membakar rumah Erika."


Fernando yang sedang melewati jalan itu terhenti seketika mendengar pembicaraan mereka dan dia menutup mulutnya.


"Tapi kenapa kamu lakukan itu?’’tanya ayahnya.


"Karena aku tidak ingin dia menikah dengan pria selingkuhannya dan aku masih punya rasa benci dan dendam, karena dia mengkhianatiku."


Ayahnya menampar Jerome.


"Anak bodoh. Bagaimana kalau ada orang yang melihatmu membakar rumah Duncan. Kamu bisa di tangkap."


"Maafkan aku ayah."


"Sudah...sudah...sebaiknya kita pergi dari sini sebelum ada yang tahu,’’kata Drogo.


Fernando menahan amarahnya untuk tidak menghajar mereka dan memandang kepergian mereka dengan penuh kebencian.


"Lihat saja nanti. Kalian akan mendapatkan balasannya dariku. Aku tidak akan membiarkan kalian  dan semua anggota keluarga kalian lolos dariku. Aku tidak akan pernah memaafkan kalian yang sudah menghancurkan dan membunuh keluargaku."


Fernando pergi dengan terburu-buru dan dia kembali ke hutan menemui Erika yang sedang sakit dan menceritakan apa yang sudah terjadi dengan ibu dan adiknya. Erika pun menjerit dan menangis.


🧸🧸🧸


Setelah itu apa yang terjadi?’’tanya Gilbert.


" Fernando sibuk untuk menjalankan balas dendamnya pada Jerome dan juga seluruh anggota keluarganya dan dia mulai mengutuk keluarga mereka atas kejahatan yang telah mereka lakukan’’kata Erika.


" Hah. Mengutuk?’’tanya Gilbert terkejut.

__ADS_1


"Iya. Fernando mengutuk seluruh keluarga mereka dan kutukannya akan terus berlanjut sampai keturunan mereka. Makanya keluarga Hunt sampai sekarang masih terkutuk dan kutukannya tidak akan pernah luntur. Fernando, dia secara diam-diam mempelajari sihir hitam dan usahanya tidak sia-sia. Dia berhasil mengutuk keluaraga Hunt dengan api."


"Api?’’tanya Gilbert.


"Iya. Api akan membakar anggota Hunt seperti membakar ayah, ibu, dan adikku,’’kata Erika sambil mengusap air matanya.


🧸🧸🧸


Pagi-pagi buta Fernando menuliskan lambang sihir di atas tanah dan dia mulai melakukan ritual dan mengucapkan beberapa mantra.Tiba-tiba angin kencang bertiup Kelap-kelip cahaya lilin telah padam, kemudian Fernando ambruk dan jatuh terduduk di tanah dan mengeluarkan keringat dengan nafas tersengal-sengal.


"Ha..ha..ha...aku sudah berhasil mengutuk mereka. Mereka tidak akan pernah bisa lolos dari kutukan yang aku timpakan pada mereka. Api akan selalu mengikuti kemana pun mereka pergi. Meskipun mereka harus bersembunyi di bawah tanah  sekalipun."


Erika yang memandang kakaknya dari kejauhan terlihat ngeri dan kemudian cepat-cepat masuk kerumah. Setelah satu minggu, Fernando mengutuk keluarga Hunt, salah satu anggota keluarga Hunt mati terbakar dan membuat Fernando senang. Dia berdiri di depan pintu rumah mereka dan tersenyum, lalu dia melihat Alvin dan mendekatinya.


"Halo !’’kata Fernando sambil tersenyum.


"Kam masih hidup. Apa maumu?’’tanyanya terkejut.


"Iya aku masih hidup. Aku hanya ingin memberitahumu kalau api akan selalu mengikuti kemanapun kalian pergi, karena aku sudah mengutuk keluargamu. Api akan membakar keluargamu seperti membakar keluargaku.Hahaha....”


"Apa maksudmu? Kamu sudah mengutuk keluargaku."


"Benar. Itu adalah balas dendamku pada kalian. Selamat tinggal, Alvin Hunt!"


Alvin berdiri membeku ditempatnya dan menatap kepergian Fernando dengan tatapan marah dan juga benci. Kesehatan Erika pun sudah membaik dan kakak adik itu memutuskan untuk pergi jauh dari desa mereka. Mereka memutuskan untuk pergi ke Los Angeles. Akhirnya mereka tiba di sana setelah berlayar selama berbulan-bulan. Di kota inilah mereka berdua memulai kehidupan baru.


" Bagaimana dengan keluarga Hunt sekarang ?’’tanya Gilbert.


" Yang aku dengar Drogo dan Alvin sudah neninggal, karena terbakar."


" Bagaimana dengan Jerome dan istrinya?"


" Jerome masih hidup, tapi aku tidak tahu mengenai keadaan istrinya."


" Dari mana kamu tahu Jerome masih hidup?"


" Aku pernah bertemu dengannya. Ternyata Jerome adalah salah satu orangtua muridku."


" Apa?"


" Awalnya aku juga terkejut."


"Teruskan ceritamu!"


"Fernando, sudah memberikan kutukan pada keluarga Hunt dan kutukan itu masih berlanjut sekarang. Sudah terlalu banyak kematian dalam keluarga itu dengan terbakar oleh api. Sejak itu mereka selalu mati terbakar. Api kutukan itu mengikuti kemana pun mereka pergi."


"Cerita ini memang sulit untuk dipercaya."


Erika memandang suaminya, lalu menghembuskan napas panjang. " Sekarang kamu sudah tahu secara keseluruhan cerita masa lalu. Apa kamu menyesal telah menikah denganku?"


Gilbert menyentuh wajah istrinya. " Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu."


Erika tersenyum." Terima kasih dan ada satu rahasia lagi tentang aku."


" Sepertinya kamu banyak sekali rahasia."


" Gil, usiaku sebenarnya sudah mencapai 200 tahun."


Gilbert hampir terkena serangan jantung. " Apa? Kamu jangan bercanda."


" Aku tidak bercanda. " Itu berkat elixir kehidupan."


"Apa itu elixir kehidupan?’’tanya Gilbert dengan penasaran


"Apa kalian pernah mendengar nama Nicholas Flamel?’’tanya Erika


"Aku pernah dengar. Kalau tidak salah dia adalah seorang alkimia dari Paris yang dikabarkan usianya sekarang sudah 600 tahun berkat rahasia kehidupan abadinya,’’kata Gilbert.


"Benar. Nicholas dan Prenelle istrinya menurut gosip sekarang sudah berusia 600 tahun. Itu berkat batu bertuah yang diciptakan oleh Nicholas dan batu bertuah itu bisa mengubah logam menjadi emas dan juga salah satu bahan untuk membuat elixir kehidupan yang dapat membuat peminumnya panjang umur, jika diminum secara teratur. Elixir kehidupan hanya untuk menunda penuaan saja tidak membuat peminumnya hidup abadi. Makanya aku sampai sekarang masih hidup, karena aku meminum elixir kehidupan secara teratur."


" Baiklah. Ini memang sangat mengejutkanku."


" Sekarang aku tidak meminum ramuan itu lagi, karena aku tidak ingin tetap panjang umur dan melihat keluargaku meninggal satu per satu di hadapanku. Nenek masih meminum ramuan itu."


" Ah pantas saja Nenekmu masih terlihat sehat diusia tuanya."


Erika menganggukan kepala .


"Lalu bagaimana dengan kakakmu ? Apa dia juga meminumnya?’’


"Dia juga. Semua keluargaku meminumnya."


"Dari mana kamu mendapatkan elixir? Apa kamu membuatnya sendiri?’’

__ADS_1


"Iya aku membuatnya sendiri, karena aku diajarkan oleh Nicholas Flamel yang sudah mau berbagi rahasia kehidupan terbesarnya padaku. Ini rahasia antara aku dan Nicholas,’’kata Erika sambil mengedipkan mata.


"Apa dia masih hidup sekarang?’’tanya Gilbert yang terus menyerang Erika dengan banyak pertanyaan.


"Entalah sudah lama aku tidak berhubungan dengannya lagi. Barjanjilah kamu akan merahasiakan ini."


" Aku berjanji."


Gilbert melihat jam dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul 00.30.


"Sebaiknya kita tidur ini sudah larut malam. Apa kamu tahu, ceritamu tadi seperti cerita dongeng sebelum tidur."


" Aku tahu. Kamu masih belum bisa mempercayai ini semua. Baiklah. Aku rasa kita perlu istirahat hari ini."


"Selamat malam!’’


"Malam!’’


🧸🧸🧸


Miya duduk di langkan jendela kamarnya sambil memandangi gelapnya malam dan tiba-tiba salju turun. Ia mengulurkan kedua tangannya keluar jendela untuk merasakan salju yang turun ke tangannya. Lama-kelamaan salju turun semakin lebat dan kali ini Miya mengeluarkan kepalanya dan wajahnya melihat gelapnya langit, merasakan dinginnya salju di wajahnya. Tidak terasa hari ini sudah memasuki bulan Desember.


" Sayang, apa yang kamu lakukan?"


" Aku sedang menikmati salju yang sedang turun."


" Tutup jendelanya. Aku kedinginan."


Miya menutup jendelanya, lalu berbaring di tempat tidur.


" Besok hari Minggu. Bagaimana kalau kita kencan?"


" Kencan?"


" Iya. Sudah lama kita tidak kencan berdua."


" Baiklah. Aku mau kencan denganmu. Kita akan pergi kemana?"


" Aku ingin mengajakmu ke gedung pertunjukkan."


" Gedung pertunjukkan?"


" Untuk menonton pementasan drama teater."


" Aku belum pernah menonton pementasan drama di gedung teater. Baiklah kita pergi ke sana."


Keesokan harinya kota New York sudah berubah menjadi putih, karena semalaman salju turun dengan lebat, meskipun sudah memakai pakaian tebal rasa dingin tetap dirasakan oleh Miya. Siang itu salju masih turun meskipun tidak selebat kemarin malam. Salju yang menumpuk di jalan, di pepohonan dan di atap bangunan terlihat berkilau tertimpa cahaya matahari. Miya menggunakan sepatu botnya dan langkahnya terasa berat di jalan yang dipenuhi oleh salju tebal. Fabian berjalan di sampingnya sambil meminum coklat panas.


Sruk...sruk...sruk...


Miya memegangi wajah dan telinganya yang sudah sedingin es dan wajahnya memerah, karena kedinginan, kemudian dari hidungnya keluar uap nafas berwarna putih. Miya melihat jam tangannya.


"Aaah, ternyata sudah jam 13.30.  30 menit lagi kita harus berada digedung pertunjukan. Kalau tidak kita bisa datang terlambat."


" Kita sekarang pergi ke sana."


Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan melaju, meninggalkan taman kota. Setengah jam kemudian mereka telah sampai di gedung theater.


"Akhirnya sampai juga."


Miya dan Fabian melangkahkan kakinya memasuki gedung pertunjukan dan di sana sudah dipenuhi oleh banyak orang. Miya tidak menyangkan akan ada banyak orang di sini.


" Ternyata ramai juga."


" Tentu saja. Mereka masih menyukai pementasan drama di theater. Aku yakin kamu pasti akan menyukainya juga."


Mereka masuk ke dalam dan mencari kursi yang sesuai tertera di tiket. Mereka duduk di barisan paling depan. Fabian melihat ke arah Miya dan tersenyum lembut yang selalu membuat jantung Miya berdebar semakin kencang. Miya pun membalas senyumannya.


Gedung pertunjukan sudah dipenuhi oleh banyak orang. Mereka sangat antusias ingin menyaksikan pementasan ini. Kursi-kursi penonton sudah dipenuhi oleh banyak orang, lalu ada seseorang yang membawakan bunga mawar merah untuknya. Miya terkejut.


" Bunga mawar itu dariku,"bisik Fabian.


Miya langsung menatapan suaminya dengan wajah bahagia. Ia mengambil bunga itu dari kurir yang mengantarkannya. Miya memandangi bunga itu dengan tatapan lembut dan penuh cinta, kemudian memeluk bunga itu.


" Apa kamu senang?"


" Tentu saja. Sudah lama kamu tidak memberikanku bunga. Terima kasih."


"Bagaimana kalau sebagai ucapan terima kasihnya, kamu menciumku di sini," kata Fabian sambil menunjukkan bibirnya.


Miya langsung memukul Fabian dengan buket bunga. " Apa kamu sudah gila? Di sini banyak orang. Jangan minta yang macam- macam."


" Aku memang gila, karena aku sangat mencintaimu."

__ADS_1


Fabian mengedipkan matanya, lalu menggenggam tangan Miya. Lampu mulai dimatikan dan tirai mulai dibuka. Pertunjukan drama theater Romanve Nadeshiko pun dimulai


Romance Yamato Nadeshiko (Ideal woman) bercerita tentang seorang gadis bernama Hikaru yang dibesarkan di keluarga bangsawan jepang . Dia didik untuk menjadi seorang putri. Kemana pun ia pergi selalu dikawal oleh pengawal suruhan ayahnya dan hal itu membuatnya merasa tidak nyaman, sehingga ia lebih suka melewatkan hari-harinya dirumah setelah ia pulang sekolah. [ ]


__ADS_2