
Pintu kamar terbuka, Charlotte melonjak terkejut dari tempat tidur.
"Ikuti aku!"kata pria itu.
Charlotte mengikuti pria itu kemana pun pria itu berjalan. Pria itu berhenti disebuah ruangan, lalu mengetuk pintu. Terdengar sebuah suara dari balik pintu.
" Masuk!"
Pria itu mendorong Charlotte masuk, lalu kembali menutup pintu meninggalkannya di sana berdua bersama dengan si penculik.
" Siapa sebenarnya kamu?"
Seorang pria memutar kursi dan tersenyum.
"Halo Charlotte!"
" Paman Michael,"serunya terkejut.
" Akhirnya kita bertemu kembali. Kuakui kamu sangat pintar bisa meloloskan diri dari penjara bawah tanah."
"Dari mana kamu tahu aku berada di sini?"
" Aku akan tahu di mana pun kamu berada. Sejak kamu kabur aku sudah mengawasimu selama beberapa hari bahkan aku dan Lewis membuntutimu sampai New York. Pasti kamu ingin tahu bagaimana aku bisa menemukanmu."
Charlotte mengangguk.
"Cincin pernikahanmu."
Chatlotte memandang Michael tidak mengerti .
"Aku sudah memasang alat pelacak yang sangat kecil di sana di bawah berlian cincinmu."
Charlotte sontak langsung melihat cincinnya.
" Pasti kamu tidak menyangkanya, bukan?"
Michael tersenyum penuh kemenangan.
" Tapi bagaimana bisa kamu memasang alat pelacak di cincinku?"
" Apa kamu tidak ingat, aku pernah melepas cincinmu secara paksa, lalu mengembalikannya lagi padamu."
"Aku ingat. Jika kamu tahu aku berada di sini, kenapa kamu tidak segera menangkapku?"
" Aku sengaja tidak menangkapmu, karena aku tahu kamu akan membawaku ke anakmu, Jodan."
" Aku sudah kehilangan jejak anakku dan sekarang aku tidak tahu di mana Jodan."
" Jodan ada di sini bersamaku."
" Apa?"serunya terkejut. " Bagaimana bisa?"
" Aku menyuruh orang untuk menculiknya."
" Sekarang anakku ada di mana?"
" Tenanglah Charlotte! Anakmu baik-baik saja. Aku tidak akan membunuhnya sekarang sebelum kalian bertemu. Aku baik kan."
Charlotte menggeram marah.
" Di mana kamu menemukan anakku?"
" Apa kamu belum melihat berita di koran?"
" Berita apa?"
" Ternyata kamu memang tidak membacanya."
Michael melempar koran ke atas meja.
" Bacalah!"
Charlotte mengambil koran dan membacanya.
" Jadi kamu berpikira kalau Leonard itu benar-benar anakku?"
" Tentu saja."
"Mungkin saja Leonard itu bukan anakku meskipun namanya sama dan tinggal di panti asuhan yang sama dengan anakku. Mungkin saja ada anak lain yang memiliki nama yang sama."
"Awalnya aku juga mengira begitu, tapi aku tetap menculiknya untuk membuktikan apa dia Jodan, anakmu atau bukan."
" Bukti apa yang kamu temukan?"
Michael meronggoh ke saku celananya dan melempat sebuah kalung ke atas meja.
" Ini punya anakmu, bukan?"
Charlotte mengambil kalung itu dan menelitinya. Ia terkejut. Kalung itu milik anaknya, karena ia yang sudah memberikannya. Charlotte menangis terharu ternyata Leonard adalah anaknya.
" Aku mohon lepaskan dia."
"Tidak."
" Jika kamu ingin tahta itu, ambil saja. Kamu tidak perlu membunuh kami. Lagi pula orang-orang belum tahu siapa Leonard."
" Jika aku melepaskan kalian berdua begitu saja, ada kemungkinan kalian akan menuntut tahta dariku."
" Tidak akan."
" Aku tidak sebodoh itu."
" Jadi sekarang apa maumu?"
"Mebunuh kalian berdua."
"Kamu sudah benar-benar gila."
" Jika kamu mau menikah denganku, aku tidak akan membunuhmu."
" Lebih baik bunuh saja aku dari pada aku menikah denganmu dan kehilangan anakku untuk selamanya."
" Baiklah kalau itu maumu."
" Pertemukan aku dengan anakku."
Michael memanggil seorang pria dan menyuruhnya untuk membawa Charlotte menemui Leonard. Pria itu membawa Charlotte ke ruang bawah tanah, lalu membuka pintu ruangan dan menyuruh Charlotte untuk masuk.
Charlotte mendapati Leonard sedang berbaring di ranjang kecil. Leonard langsung bangun saat melihat Charlotte.
"Bibi Charlotte, apa yang Bibi lakukan di sini?"
Charlotte langsung memeluk Leonard dan menangis membuat pria itu kebingungan.
"Ada apa?"
__ADS_1
Charlotte melepaskan pelukannya, lalu menghapus air matanya.
" Maafkan aku. Apa mereka menyakitimu?"
"Sejauh ini mereka belum menyakitiku."
" Syukurlah. Akhirnya kita bisa bertemu setelah sekian tahun."
"Apa maksud Bibi?"
" Aku bukan Bibimu, tapi aku adalah ibuku."
"Apa? Itu tidak mungkin."
"Itu benar. Aku baru mengetahuinya tadi dari Michael."
" Siapa Michael?"
" Paman Ayahmu."
" Apa aku benar-benar anakmu?"
"Iya. Aku memberikan sebuah kalung yang bertuliskan namamu dan gambar elang."
Charlotte memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
" Ini kalungmu, bukan?"
Leonard mengambil kalung dari tangan Charlotte.
" Ini memang kalungku."
" Aku yang memberikannya kepadamu."
" Jadi kamu benar-benar ibuku?"
" Iya. "
" Ibu."
Leonard memeluk Charlotte sambil menangis. " Akhirnya aku bisa bertemu dengan ibu kandungku."
" Aku juga."
Charlotte melepaskan pelukannya dan menatap anaknya dengan berurai air mata. Tangan kurusnya membelai wajah Leonard.
" Ibu sangat merindukanmu."
Charlotte mengecup kening Leonard.
" Aku juga merindukan Ibu."
Sekali lagi Charlotte memeluk Leonard.
" Sebenarnya apa yang terjadi?"
" Michael ingin membunuh kita berdua supaya dia biasa mengambil tahta sepenuhnya. Ayahmu sudah meninggal, jadi tahta itu jatuh ketanganmu, karena kamu adalah pewaris tahta."
" Aku calon Raja?"tanyanya tidak percaya.
" Iya. Michael menginginkan tahta itu, jadi dia ingin membunuh kita berdua. Itu sebabnya aku meninggalkanmu dari panti asuhan supaya kamu selamat."
" Aku masih tidak percaya kalau alu adalah calon Raja."
" Bagaimana Ibu tahu aku ada di sini?"
" Michael menelepon Raina dan memturih Ibu untuk datang ke sini."
" Kasihan Raina. Pasti dia sangat cemas."
" Dia memang sangat memcemaskanmu."
" Kita harus segera pergi dari sini."
" Tapi bagaimana caranya?"
" Aku tidak tahu dan ada satu hal yang tidak aku memgerti. Bagaimana Michael tahu bahwa aku Jodan?"
" Dari berita pengakuan dirimu."
" Ah iya tentu saja. Kalau bukan karena Owen menjalani sidang pengadilan atas pembunuhan Leonard Clemonte mungkin aku tidak akan pernah membuka identitasku ke khalayak umum."
💔💔💔
Keesokan siangnya Charlotte dan Leonard dibawa menghadap Michael. Pria itu memberikan senyuman lebar.
"Apa kamu senang sudah bertemu dengan anakmu, Charlotte?"
"Aku senang."
" Dan bagaimana denganmu Jodan, apa kamu juga senang sudah bertemu dengan ibumu?"
" Namaku sekarang bukan Jodan. Aku senang bisa bertemu dengan ibuku."
"Bagus, tapi kebersamaan kalian tidak akan berlangsung lama, karena aku akan membunuh kalian dengan menggunakan hukuman mati untuk kalian. Aku akan memberikan suntikan racun ke tubuh kalian."
" Kau kejam,"sembur Charlotte marah.
" Kamu masih bisa selamat, jika kamu mau menerima tawaranku."
" Aku tidak mau menerimanya."
" Kalau begitu kamu bersiap-siaplah untuk mati bersama dengan anakmu tersayang."
Pria itu membawa Charlotte dan Leonard ke sebuah ruangan yang berbeda dan mereka di dudukan di kursi kayu dan tangan mereka diikat.
" Aku sedih, karena harus meninggalkan istriku seperti ini. Pasti Raina sangat sedih mengetahui aku sudah meninggal, bahkan aku belum bertemu dengannya untuk terakhir kalinya."
" Maafkan Ibu."
"Kenapa Ibu harus minta maaf?"
" Karena Ibu sudah membahayakan nyawamu."
" Ibu tidak bersalah, jadi jangan minta maaf."
Sementara itu para polisi sedang mengintai rumah di mana Charlotte dan Leonard ditahan. Seorang petugas polisi yang menyamar sebagai salah satu pelayan datang membawa berita.
" Mereka berdua akan segera dibunuh sebentar lagi dengan menyuntik mereka dengan racun."
" Kita tidak punya waktu lagi. Kamu kembalilah ke dalam. Kami akan segera ke sana.
" Baik."
Polisi itu kemudian menelepon Fabian dan memberikan informasi terbaru. Fabian yang menerima telepon dari polisi menjadi semakin cemas dan gelisah.
__ADS_1
" Ada apa, Ayah?"
" Penculik itu akan membunuh Charlotte dan Leonard."
" Tidak. Jangan biarkan mereka melakukannya."
Raina menangis dan Miya memeluk Raina.
" Tenanglah! Para polisi sedang berusaha menyelamatkan mereka. Semua akan baik-baik saja."
💔💔💔
Michael dan Lewis datang ke ruangan di mana Charlotte dan Leonard berada. Keduanya tersenyum senang melihat tawanan mereka yang sedang menunggu kematian mereka sebentar lagi. Leonard menatap marah ke arah mereka berdua. Ia berusaha melepaskan ikatan kedua tangannya di kursi.
" Duduklah dengan tenang! Kamu tidak akan bisa melepaskan ikatan itu," kata Lewis.
" Apa ada yang ingin kalian sampaikan sebelum kami memghukum mati kalian?"tanya Michael.
Charlotte dan Leonard diam.
" Baiklah begitu,"kata Michael.
Pria itu memberi tanda kepada seseorang untuk memyuntikan racun kepada tubuh Charlotte terlebih dahulu. Jarum suntik yang sudah berisi racun siap disuntikan.
" Aku mencintaimu, Leonard,"bisik Charlotte yang sudah pasrah menerima kematiannya.
Leonard mulai meneteskan air mata saat melihat Ibunya akan disuntik mati. Baru saja mereka bertemu, mereka harus berpisah kembali untuk selamanya.
" Aku juga mencintaimu, Bu."
Charlotte tersenyum sedih. Pria itu sudah mendekatkan jarum suntik ke tangan Charlotte, tiba- tiba pintu terbuka. Mereka terkejut melohat banyak polisi sudah mengepung mereka.
" Jangan bergerak!"perintah polisi.
Tidak ada satu pun yang bergerak. Leonard dan Charlotte merasa lega pertolongan datang tepat waktu, sedangkan Michael dan Lewis menjadi geram dan marah. Ia pun nekat berlari menuju Charlotte dan Leonard untuk membunuh mereka berdua. Polisi menembak Lewis di dada dan ia pun meninggal.
Michael semakin marah melihat adiknya tewas tertembak. Para polisi menangkap semua orang yang berada di ruangan itu satu persatu. Michael mengambil celah kesibukan polisi dan berlari ke arah Charlotte dan menyanderanya.
" Kalian jangan bergerak kalau tidak aku akan membunuhnya,"kata Michael sambil meletakkan pisau di leher Charlotte.
Michael melepaskan ikatan tangan Charlotte dikursi, lalu membawanya keluar. Para polisi tidak ada yang berani bergerak. Di luar ruangan Michael menyeret Charlotte.
" Lepaskan aku!"
" Aku tidak akan melepaskanmu sebelum aku lolos."
Para polisi mengejar mereka di belakang. Di halaman depan rumah Michael membuka pintu mobil dan memaksa Charlotte untuk masuk.
"Ibuuuu,"teriak Leonard yang melihat ibunya telah dibawa kabur.
Beberapa polisi mengejar mobil yang dikemudikan oleh Michael. Leonard sangat cemas dengan keadaan ibunya. Polisi mengantarkan Leonard kembali ke rumah.
Di mobil Charlotte berusaha membuka pintu mobil, tapi usahanya sia-sia.
" Diamlah!"bentak Michael.
"Aku mohon menyerahlah. Aku akan memaafkanmu, jika kamu mau mengakui kesalahanmu ini."
Michael masih terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan ia pun mulai menyadari polisi sedang mengejarnya.
"Sial!"
" Aku mohon hentilan tindakan bodohmu ini."
" Aku benci Joseph," katanya kemudian. " Dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya termasuk menikah denganmu. Aku jatuh cinta kepadamu saat Joseph membawamu ke istana.
Semua orang selalu menyanjungnya dan dielu-elukan, sedangkan aku hanya menjadi bayangannya. Akhirnya aku tidak tahan lagi. Aku merencanakan untuk membunuhnya."
" Jadi kamu sudah membunuh Joseph?"tanyanya tidak percaya.
"Benar. Aku telah merekayasa mobilnya agar dia kecelakaan."
"Aku kira itu hanya kecelakaan biasa."
Charlotte menatapa marah kepada Michael.
" Kamu benar-benar jahat,"geram Charlotte kesal. Ia pun membanting kemudi secara tiba-tiba dan jalannya mobil menjadi oleng. Michael kehilangan kendali dan mobil pun terguling-guling di jalan.
Mobil polisi yang mengejar mereka berhenti dan segera menolong mereka. Charlotte dan Michael mendapatkan luka yang parah dan mereka dibawa ke rumah sakit.
💔💔💔
Fabian, Miya, dan Raina segera pergi ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari polisi. Raina langsung memeluk suaminya.
" Apa kamu baik-baik saja?"tanya Raina cemas.
"Aku baik-baik saja, tapi Ibuku tidak baik-baik saja."
Wajah Leonard sangat kusut dan wajahnya sudah basah oleh air mata. Miya duduk di samping Leonard dan mengusap bahunya.
"Ibumu akan baik-baik saja,"kata Miya meskipun hatinya juga merasa tidak yakin apa Charlotte bisa selamat atau tidak.
Dokter keluar dan mengatakan kalau Charlotte dalam keadaan kritis, sedangkan Michael, nyawanya tidak bisa diselamatkan. Leonard langsung menemui ibunya yang masih tidak sadarkan diri.
" Kenapa semua ini harus terjadi? Kami baru saja bertemu, tapi sekarang ibuku malah kritis."
Raina memeluk erat suaminya dan ikut menangis bersamanya.
"Charlotte wanita yang sangat kuat. Ia pasti berhasil melalui masa kritisnya," kata Fabian.
💔💔💔
Berita tentang penculikan Charlotte yang ternyata seorang Ratu dan Leonard yang ternyata anaknya telah tersiar di TV. Joseph menonton berita itu dan sangat terkejut.
" Sudah saatnya kamu menemui mereka. Pergilah! Keluargamu membutuhkanmu."
Joseph mengangguk. Ia pun segera membereskan semua pakaiannya ke dalam koper. Sebelum pergi ia berpamitan dengan pria yang sudah menolongnya.
" Terima kasih atas semua pertolonganmu selama ini kepadaku. Aku tidak akan pernah melupakannya."
" Aku tahu. Sekarang pergilah!"
Joseph keluar rumah dan masuk ke dalam taxi yang sudah menunggunya dan akan membawanya langsung ke rumah sakit.
" Tunggu aku, Charlotte! Jangan mati dulu! Aku masih membutuhkanmu untuk terus berada di sampingku," bisik hatinya.
Joseph tiba di rumah sakit pada malam harinya. Ia masuk ke dalam ruang perawatan Charlotte. Di ruangan itu tidak ada siapa pun dan ia begitu sedih melihat keadaan istrinya. 35 tahun sudah mereka tidak ketemu dan ia bisa kembali bertemu dengan istrinya dalam keadaan kritis. Joseph menangis di samping tempat tidur.
"Maafkan aku! Maafkan aku," ulangnya berkali-kali.
Joseph mencium tangan Charlotte dengan penuh kerinduan. Ia kesal pada diri sendiri, karena tidak bisa melindungi keluarganya sendiri. Joseph berjanji mulai sekarang ia akan melindungi keluarganya. Ia sebenarnya tidak ingin meninggalkan istri dan anaknya, tapi terpaksa dilakukannya saat hidupnya dalam bahaya. Ia tidak menyangka hidup istri dan anaknya pun ikut dalam bahaya.
" Kami harus sembuh. Kamu dengar itu, Charlotte. Kamu harus sembuh. Aku masih sangat membutuhkanmu dan aku mencintaimu."
Joseph kembali duduk dengan berlinangan air mata. Ia pun kembali mengingat kejadian 35 tahun yang lalu pada saat perayaan pernikahan sepupunya di mana ia tidak sengaja mendengar percakapan Michael dan Lewis. [ ]
__ADS_1