
Satu bulan telah berlalu, Miya berbaring di tempat tidurnya menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Kamarnya hanya diterangi oleh cahaya bulan. Berkali-kali Miya menghela napas panjang. Selama satu bulan ini pikirannya tidak pernah lepas dari pamannya. Rasa rindu akan pria itu semakin menjadi-jadi. Siang dan malam wajah pamannya selalu menghantuinya. Miya mendesah. Sampai kapan ia akan terus memikirkannya . Tidak dapat dipungkiri ia begitu merindukan pamannya. Rindu suaranya, sentuhannya, teriakannya dan segalanya tentang pamannya, Miya merindukan semua itu meskipun ia malu mengakuinya.
Tidak pernah satu kali pun pamannya menghubunginya. Miya tidak mengerti kenapa ia mengharapkan pamannya untuk menghubunginya bukankah ia sudah memutuskan untuk tidak mau mendengar apa pun tentang pamannya itu. Mungkin pamannya sudah melupakannya dan tidak pernah mencintainya seperti yang di katakannya atau mungkin saja Fabian sudah memiliki kekasih baru. Kata-kata pamannya memang tidak bisa dipercaya erang Miya dalam hati.
Miya menghembuskan napas panjang. Kenapa ia harus peduli apa pamannya sudah memiliki kekasih atau belum. Jauh di sudut hatinya, Miya merasa sedih. Mansion ini begitu sepi tanpa kehadiran pamannya meskipun begitu banyak pelayan . Ia mengakui saat ini dirinya begitu hampa dan kesepian seperti ada yang menghilang dari sebagian dirinya. Satu bulan yang lalu Miya terkejut dengan kepergian pamannya yang tiba-tiba dan yang paling membuat gadis itu kesal, pamannya pergi tanpa pamit.
Suara ketukan di pintu mengejutkan Miya.'' Masuk!''Mary Jane masuk membawakan makan malam untuk Miya.
"Kenapa gelap sekali disini?''
"Oh maaf. Akan ku nyalakan lampunya.''
Tubuh Mary Jane tiba-tiba oleng. Kakinya hampir saja tersandung tas ransel Miya yang ditaruh di lantai dengan sembarang.''Kamu tidak apa-apa?''
"Saya baik-baik saja nona. Ini makan malamnya.''
"Aku tidak lapar.''
"Tapi nona harus makan meskipun hanya sedikit,''bujuk Mary Jane.
Miya melihat ekspresi memohon di wajah pelayan pribadinya itu dan ia tidak tega membuatnya kecewa.''Baiklah.''
"Saya senang kalau akhirnya nona mau makan, tadi saya sempat khawatir nona tidak mau makan malam lagi. Lihat diri nona sudah terlihat kurus.''
"Aku tidak tahu itu. Sungguh.''
__ADS_1
"Kalau tuan Fabian melihat Anda yang kurus, kami semua akan di marahi, karena tidak becus mengurus Anda. Nona pasti tahu kalau tuan Fabian sudah marah. Kami semua takut kepadanya.''Miya tersenyum pahit.
"Aku tidak akan membiarkan dia memarahi kalian." Miya melahap makan malamnya.
***
Hujan deras terjadi keesokan harinya, Miya memutuskan untuk tidak keluar rumah sudah lama ia tidak menjelajah mansion pamannya sejak ia disibukkan dengan kuliahnya. Miya lebih memilih bermalas-malasan di rumah sambil membaca buku. Setelah menyelesaikan makan siangnya, Miya pergi mencari buku di perpustakaan pamannya yang terletak di sayap kanan belakang mansion. Perpustakaan itu cukup besar dengan rak-rak yang di memenuhi semua dinding . Miya yakin berbagai macam buku ada semuanya di sini. Ia merasa takjub dengan koleksi buku pamannya. Mulai macam-macam buku ilmu pengetahuan, sejarah sampai bermacam-macam novel. Tempat ini seperti surga buku pikir Miya.
Dulu Miya pernah bermimpi ingin memiliki perpustakaan di rumahnya seperti ini untuk menyimpan beberapa koleksi novel dan komiknya yang sampai sekarang masih tersimpan di dalam kardus di kamarnya. Ruangan di rumahnya tidak cukup untuk membuat perpustakaan besar seperti ini. Alhasil ia hanya memiliki perpustakaan kecil di rumahnya dan itu pun tidak cukup menampung koleksi bukunya .
Miya menuju rak yang menyimpan novel bergenre fantasi karena ia memang suka dengan cerita yang berbau sihir. Sekali lagi koleksi novel fantasi di sana membuatnya takjub , sangat lengkap bahkan ada banyak novel fantasi yang sama sekali belum pernah ia baca. Satu persatu Miya membaca setiap judulnya, setelah ia menemukan novel yang ingin di bacanya gadis itu mengambilnya. Ia juga melihat buku tentang mantra-mantra sihir yang sudah sangat lama, buku ramuan sihir bahkan sampai buku yang membahas soal keberadaan peri. Miya mengernyitkan dahinya. Tidak disangka pamannya memiliki koleksi buku seperti itu. Ia kemudian menuju meja yang sering di gunakan pamannya untuk membaca. Di atas meja itu begitu banyak buku yang bertumpuk.
Ia mencoba membereskannya supaya ada tempat untuk meletakan novel yang baru di ambilnya.''Berantakan sekali.''
Bruuukk.
Di kamarnya Miya termenung memikirkan kembali perasaan pamannya. Mungkin saja Fabian memang benar mencintainya. Ia ingin sekali mempercayainya. Benaknya kembali dipenuhi oleh pamannya .Miya mendambakan sentuhan Fabian, memeluknya, membenamkan diri dalam dadanya yang bidang dan merasakan kehangatan tubuhnya. Wajah Miya merona merah, ketika ia menginginkan bibir Fabian melumat bibirnya. Miya memukul-mukul kepalanya. Kenapa aku bisa seperti ini hanya, karena seorang Fabian. Ini sungguh menyebalkan erangnya dalam hati. Ia tahu mulai sekarang hidupnya tidak akan tenang lagi.
Pada sore harinya Miya duduk di serambi belakang mansion menikmati angin sore yang menyejukan menerpa tubuhnya. Pandangan matanya menerawang jauh ke arah taman yang ditata dengan sangat rapi. Miya baru memperhatikan sekeliling mansion itu ditumbuhi oleh pohon-pohon poplar dan juga cemara yang tingginya hampir sama. Menurutnya pastilah tukang kebun yang bekerja disini sangat pintar dalam menata taman. Setiap sudut taman terlihat sangat sempurna, sehingga tercipta suatu keindahan di taman itu. Apa lagi taman itu dihiasi oleh bunga-bunga liar yang sangat cantik. Miya dapat mencium aroma bunga yang dihembuskan oleh angin. Ia sangat menyukai aroma itu. Udara hangat di sore hari membuat Miya sedikit merasa nyaman.
Edgar,kepala pelayan datang menghampiri dan memberitahu kedatangan Ryusuke. Miya menyuruhnya membawa Ryusuke kepadanya. Kepala pelayan itu menangguk. Tak lama Ryusuke datang. Ia memberikan senyuman hangat untukya.
"Hai Miya chan!"sapa Ryusuke riang.
"Hai!"
__ADS_1
Ryusuke duduk di samping Miya dan pandangannya jauh ke depan.
"Aku datang menemuimu, karena aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepadamu, karena aku akan pulang ke Jepang."
Miya seketika menoleh.
"Kapan?"
"Besok pagi. Hari ini mungkin hari terakhir kita bertemu." Sorot matanya nampak sedih.
"Jadi ini adalah perpisahan kita."
"Iya. Sudah tidak ada gunanya lagi aku tetap berada di sini. Kamu tidak akan pernah kembali kepadaku. Sainganku untuk mendapatkanmu terlalu berat." Ryusuke tertawa terkekeh.
"Maksudmu paman Fabian?"
"Iya siapa lagi. Aku sudah kalah bersaing dengannya."
Ryusuke mengenggam tangan Miya membuat gadis itu tersentak kaget.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan saat kita masih bersama. Sebenarnya aku menyesal sudah pernah mengkhianatimu."
"Sebaiknya kita lupakan saja itu. Aku yakin kamu akan mendapatkan wanita yang akan membuatmu bahagia."
Ryusuke tersenyum."Terima kasih, Miya chan. Apa aku boleh memelukmu untuk yang terakhir kalinya?"tanyanya dengan pandangan memohon.
__ADS_1
Miya tidak bisa menolaknya akhirnya ia menyetujuinya. Ryusuke memeluk Miya dengan erat meresapi semua kehangatan tubuh gadis itu yang tidak akan pernah ia rasakan lagi. Di kejauhan seseorang mengambil foto mereka.[]