
Fabian berdiri di balkon kamarnya yang berada di kastil Baskerville membiarkan angin malam menerpa tubuhnya .Rasa rindunya pada gadis itu sudah tidak bisa ditahannya setelah meninggalkan mansionnya. Ia merindukan gadis itu sampai terasa menyakitkan.Wajahnya ada dimana-mana. Di langit-langit kamarnya, diminumannya, di dokumen-dokumen yang sedang dibaca bahkan saat ia memejamkan mata. Ia ingin bertemu dengannya lagi, tapi hal itu tidak bisa dilakukannya, karena bunga Lily. Sebelum identitas bunga Lily ditemukan, Fabian tidak akan pernah merasa aman untuk bertemu dengan Miya, kekasih hatinya. Berkali-kali ia mencoba menahan untuk tidak menghubunginya hanya untuk mendengarkan suaranya.
"Apa yang sedang kamu lakukan saat ini Miya, sayang,"gumamnya.
Bunyi pesan masuk membuyarkan lamunannya. Tubuh Fabian menjadi kaku saat melihat isi pesan dari nomor yang tidak dikenalnya. Ia melihat foto Miya dan Ryusuke sedang berpelukan di mansionnya. Tangannya yang bebas terkepal erat. Ia sangat marah melihatnya dan sakit hati melihat kemesraan mereka berdua apa lagi mereka melakukannya di mansionnya sendiri. Fabian merasa terkhianati. Di saat ia mengutamakan keselamatan Miya, gadis itu sedang bermesraan dengan pria lain.
Angin malam mulai berhembus kencang menyusup kedalam kamar. Fabian merasa frustasi . Wajahnya muram dan kusut memikirkan pengkhianatan Miya dengan Ryusuke. Fabian yakin gadis itu belum bisa melupakan mantan kekasihnya.
Keesokan paginya ayah, ibu dan adiknya telah berada di meja makan.
"Selamat pagi!"
"Pagi, sayang!" Sapa Rosalie, ibunya.
"Apa kamu baik-baik saja?"tanya Andrew, ayahnya.
"Aku baik-baik saja. Sungguh. Kenapa kalian bertanya seperti itu?"
"Pagi ini kamu nampak tidak sehat dan wajahmu nampak kusut. Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?"tanya ayahnya lagi.
"Aku hanya memikirkan tentang pekerjaanku saja."
Andrew menatap putranya dengan seksama."Baiklah. Jangan terlalu memaksakan dirimu dalam bekerja. Tubuhmu butuh istirahat."
"Baik."
Sementara itu Adelina menatap kakaknya dengan curiga dan Fabian mengabaikannya. Setelah makan pagi, Fabian memutuskan untuk berjalan-jalan disekeliling halaman kastil Baskerville sambil memeriksa lahan-lahannya yang luas. Sudah lama ia tidak melakukan itu sejak kepindahannya ke New York. Ia ingin sekali membawa Miya ketempat ini menunjukkan tempat kelahirannya dan tempat ia dibesarkan. Fabian juga ingin menceritakan kehidupan masa kecilnya disini kepada gadis itu. Tapi keinginan itu sudah tidak mungkin lagi. Mulai sekarang ia harus bisa melupakannya meskipun itu sangat sulit.
Fabian menyadari selama kedatangan ia di sini, Adelina selalu memperhatikan gerak-geriknya. Matanya selalu mengawasinya. Fabian yakin Adelina tahu keadaan yang sebenarnya. Fabian tidak bisa mengelak, ketika Adelina menyuruhnya untuk menunggu di perpustakaan untuk berbicara secara pribadi dengannya. Setelah berkuda berkelililng kastil, ia segera pergi ke perpustakaan yang lantainya sebagian di tutupi oleh karpet Aubusson yang indah . Fabian berdiri di depan jendela, kemudian ia menyandarkan punggungnya di sisi jendela sambil memperhatikan para tukang kebun memindah-mindahkan tanaman dan bunga yang tumbuh liar.
Pintu terbuka. Fabian melihat Adelina memasuki perpustakaan, lalu pandangannya kembali ke arah taman. Ia tidak mengatakan apa pun saat adiknya datang. Adelina menyebrangi ruangan untuk mendekati kakaknya. Ia mengamatinya selama beberepa detik. Seperti biasa kakaknya begitu tampan dan gagah mana mungkin tidak ada seorang wanita yang tidak jatuh cinta kepadanya pikir Adelina. Ia duduk disebuah kursi bersayap berwarna merah. "Duduklah!''perintahnya kepada Fabian.
"Aku berdiri saja. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan,''katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari arah taman.''Baiklah. Aku akan langsung saja. Selama sebulan kamu ada di sini kamu terlihat sangat aneh. Tidak seperti biasanya. Kamu terlihat sedih dan tidak bersemangat. Apa ada masalah ?''tanya Adelina hati-hati.
"Ini bukan urusanmu.''
"Tentu saja ini urusanku. Aku adalah adikmu, jika kakakku ada masalah aku harus tahu, mungkin aku bisa membantumu.''Fabian menoleh ke arah Adelina , lalu tersenyum tipis.''Kamu adalah adikku yang baik. Terima kasih atas perhatianmu padaku. Aku rasa kali ini kamu tidak dapat membantuku. Masalah ini hanya aku yang dapat menyelesaikannya.''
"Pasti memang ada masalah iya kan?'' Fabian tidak menjawab.
"Kalau kamu diam berarti ini benar. Jadi katakan apa masalahmu?''
"Aku tidak akan mengatakannya padamu."
"Sejak kapan di antara kita ada rahasia,''kata Adelina kesal.
__ADS_1
"Sejak sekarang.''
"Oh begitukah.''Adelina berdiri ,mendekati dan menatap tajam kakaknya. Kedua tangannya disilangkan di depan dadanya.''Apa ini masalah wanita?''
Fabian memandang kesal adiknya dan Adelina menyunggingkan sebuah senyuman, karena apa yang di katakannya itu benar. Fabian kembali memalingkan wajahnya.''Ini bukan urusanmu.'' Fabian cepat-cepat membuang wajahnya dari adiknya dan matanya kembali menerawang jauh ke luar jendela.
"Aku sudah menduganya pasti ini karena wanita.''
Adelina semakin mendekati wajah Fabian , menatapnya tajam dan Fabian berusaha menghindari adiknya dengan berjalan menjauhi Adelina."Apa yang kamu inginkan dariku adikku sayang?''
"Aku ingin memastikan dugaanku sejak lama dan aku ingin mendengarkannya langsung darimu.''Fabian nampak bingung dan sedikit terkejut.''Oh ya apa yang ingin kamu pastikan?''
"Kalau kamu sudah jatuh cinta dengan seseorang.'' Adelina mengatakannya dengan penuh keyakinan dan percaya diri.
Fabian tentu saja terkejut dengan perkataan adiknya. Kali ini Fabian tidak bisa lagi menghindari adiknya. Ia akhirnya mengalah.Fabian mengambil napas panjang, lalu menatap adiknya yang sejak dari tadi terus menatapnya tanpa henti.
''Itu benar.''
Adelina tersenyum senang."Siapa orangnya? Apa Miya,''tanya Adelina dengan penuh antusias.
Fabian menelan ludahnya dengan gugup.''Dari mana kamu tahu?"
Mulut Adelina mengangga lebar, karena dugaannya benar.'' Sejak kalian bertemu sikapmu agak berbeda kepada Miya dan selama kamu berada di sini, aku menemukan foto Miya di bawah bantalmu. Ketika kamu tidur di bawah pengaruh alkohol, kamu selalu menyebut namanya."
Wajah Fabian merona merah, karena adiknya mendengar saat dia mengigau, lalu ia menceritakan semuanya apa yang terjadi ketika tinggal bersama dengan Miya termasuk pengirim bunga Lily yang telah mencoba menyakiti Miya dan alasan kenapa ia datang ke sini lebih awal dari rencana. Sementara itu Adelina mendengarkannya dengan antusias. Setelah selesai bercerita Fabian menghembuskan napas panjang.
"Tidak. Karena dia selalu bilang akan segera bertemu denganku. Kalau dia punya keberanian dia akan muncul dihadapanku sekarang juga."
"Aku pun jadi penasaran mungkin dia salah satu kekasih kakak yang tersakiti."
"Entahlah."
"Aku akan membantumu mencarinya."
"Eh."
Adelina berjalan menuju meja mengambil buku catatan dan pulpen, lalu menyerahkannya kepada Fabian.
"Ini untuk apa?"tanya Fabian bingung.
"Tulis semua nama mantan kekasih selama 4 tahun terakhir ini. Mungkin saja salah satunya adalah pengirim bunga Lily."
"Yang benar saja. Mana aku ingat."
Adelina berdecak kesal."Tulis saja yang kakak ingat dan yang memiliki kesan yang kuat saat kalian bersama."
__ADS_1
"Baiklah. Akan aku tulis semua. Apa sekarang kamu puas adikku sayang?"
"Aku akan meminta catatan itu nanti. Sekarang aku mau mempersiapkan kedatangan para tamu undangan kita untuk pertemuan keluarga besar minggu depan dan sepertinya Miya akan datang."
"Apa? Miya akan datang,''seru Fabian terkejut.
"Iya memangnya kenapa? Seharusnya kamu senang Miya akan datang."
"Seharusnya begitu tapi..."
"Tapi kenapa?"
"Kalau Miya kembali berada dekat denganku, hidupnya dalam bahaya."
"Iya kakak benar." Adelina nampak cemas.
"Miya tidak boleh datang."
"Tapi ayah sudah mengirimkan undangan untuk seluruh anggota keluarga kita."
"Apa?"
"Pasti undangan itu sudah sampai ke tangan Miya sekarang."
"Kenapa ayah mengundangnya?"
Fabian nampak panik. Ia tidak ingin Miya datang terlebih lagi saat dia tahu tentang kebersamaannya dengan Ryusuke. Bagaimana ia akan bisa melupakan Miya, jika gadis itu selalu berada di dekatnnya erang Fabian dalam hati.
"Tidak mungkin ayah tidak mengundangnya. Ini kan pertemuan keluarga rutin setiap setahun sekali dan ini akan menjadi yang pertama bagi Miya untuk menghadirinya. Orangtua Miya juga diundang."
" Bagaimana kalau hidup Miya dalam bahaya?"
"Kita jangan membiarkan hal itu terjadi. Kita bisa menyewa bodyguard selama Miya di sini secara diam-diam tentu saja. Bagaimana?"
"Aku setuju."
"Sekarang tulislah semua mantan kekasih kakak. Aku akan segera kembali."[ ]
πΈπΈπΈπΈπΈ
Hallo my dear reader!π
Author ucapkan banyak terima kasih yang sudah baca my beloved uncle sampai episode 29. Terima kasih atas dukungan, like, dan votenya ya π. Author ngga tahu harus bicara apa lagi pokoknya benar-benar terharu .
Hari ini cuma bisa up 2 episode saja ya yang isinya hanya berisi kegalauan Fabian dan Miya saja. Biarkan saja mereka galau dulu. Soalnya Author gemes sama Miya ngga sadar-sadar akan perasaannya sendiri kalau dia itu suka sama Fabian π mungkin dgn pisahnya mereka sementara waktu, Miya akhirnya sadar.
__ADS_1
Cium sayang dari Fabian eh dari Author π