
Miya yang saat itu sedang menaiki tangga mendengar keributan di bawahnya. Para pelayan sibuk berbisik-bisik yang terdengar oleh Miya.''Ada apa?''tanyanya sambil menuruni tangga cepat-cepat.
Kedua pelayan pria yang dihadapannya langsung terdiam. Miya tidak tahu siapa nama pelayan pria yang satunya karena lupa, tapi ia kenal dengan pelayannya satunya lagi yang dikenal sebagai kepala pelayan.Edgar. ''Begini nona Miya, di luar ada seorang wanita yang memaksa masuk kesini. Wanita itu ingin bertemu dengan tuan Fabian."
''Kalau begitu suruh saja dia masuk. Mungkin itu tamu paman Fabian."
''Baik nona."
Edgar membuka gerbang mansion.
''Sementara paman Fabian belum pulang, aku yang akan menerima wanita itu. Suruh dia menemuiku di ruang tamu."
''Baik nona Miya''. Miya dengan penuh percaya diri berjalan ke ruang tamu menunggu kedatangan tamu pamannya. Pintu ruang tamu terbuka dan seorang wanita yang sangat cantik masuk. Wanita itu begitu anggun. Miya sampai terbelalak melihatnya. Penampilan wanita itu tanpa cela semuanya sempurna. Wanita tercantik yang pernah ditemuinya. Rambut pirangnya yang berkilau, tulang pipinya yang tinggi, hidungnya yang mancung, matanya yang besar dengan bulu mata yang lentik. Wanita ini sungguh cantik pikirnya. Siapa dia?
''Silahkan duduk!''kata Miya setelah tersadar dari kekagumannya akan wanita yang ada dihadapannya sekarang. Gadis itu melirik ke arah Edgar.''Tolong bawakan kami minum dan beberapa kue!''
''Baik nona ." Edgar segera pergi dan pintu tertutup dibelakangnya.
''Siapa Anda dan ada keperluan apa Anda datang kesini?''
Miya merasakan wanita itu menatapnya dengan tatapan curiga dan wanita itu juga memperhatikannya lekat-lekat. ''Namaku Caroline. Aku ingin bertemu dengan Fabian." Wanita itu mengulurkan tangannya dan Miya menyambutnya.
''Aku Miya. Fabian adalah pamanku.Sayang sekali paman Fabian sampai sekarang belum pulang. Aku tidak tahu kapan dia pulang." Ada kilatan kecewa di mata wanita itu. ''Mungkin Anda bisa menunggunya di sini sampai dia pulang."
''Kau sungguh sangat baik. Aku akan menunggunya. Terima kasih."
Tiba-tiba wanita itu menangis membuat Miya terkejut.''Anda tidak apa-apa?''
Wanita itu mengambil sapu tangannya di dalam tasnya yang mungil, lalu menghapus air matanya.''Maafkan aku. Hanya saja aku sekarang ingin menangis. Aku sudah tidak tahan lagi. Fabian sudah tidak ingin berhubungan lagi denganku padahal dulu ia begitu perhatian dan bersikap lembut padaku."
''Apa Anda kekasih pamanku?''tanya Miya dengan hati-hati.
''Bukan. Aku hanya teman kencannya, tapi sekarang ia sudah mencampakkanku."Miya turut bersedih mendengarnya. Ia sama sekali tidak tahu kalau pamannya sudah membuat seorang wanita menangis seperti ini. Pasti wanita ini sangat mencintai pamannya. Ia tidak tega mengatakan kepada wanita itu kalau pamannya telah mempunyai kekasih yang bernama Helena. Miya kemudian menyadari sesuatu. Mungkinkah pamannya selingkuh dengan wanita yang bernama Helena. Hatinya menjadi marah dan kesal pada pamannya. Kedua tangannya dikepalkan dengan sangat erat sehingga jari-jarinya memutih. Paman Fabian ternyata sama saja dengan pria lainnya . Seperti Ryusuke pikirnya. Gadis itu dapat memahami perasaan Caroline sekarang.
Beberapa menit yang lalu Miya tahu dari Mary Jane kalau pamannya itu adalah pria yang sangat populer dan digilai oleh banyak wanita. Dalam sebulan pamannya itu bisa jalan dengan empat wanita yang berbeda dan setiap kali datang ke acara pesta juga , ia selalu membawa wanita yang berbeda. Tidak ada seorang wanita pun yang bertahan disisinya. Caroline adalah salah satu wanita korban pamannya. Miya mendengus kesal.
Ia kembali teringat kepada Ryusuke yang tega mengkhianatinya, karena ia memiliki prinsip akan memberikan keperwanannya kepada pria yang akan menjadi suaminya dan benar-benar mencintainya dengan tulus, meskipun teman-temannya mentertawakannya, tapi Miya sama sekali tidak peduli. Akhirnya Ryusuke melakukannya dengan wanita lain. Miya sangat menyayangkan Ryusuke tidak dapat menahan dirinya. Padahal dirinya menyayangi dan mencintainya. Sebersit rasa kecewa terlintas di wajahnya.
__ADS_1
Pelayan masuk membawakan sepoci teh hangat dan beberapa cemilan kue. Miya menyunggingkan senyuman dan mengucapkan terima kasih kepada pelayannya. Tidak terasa dua jam telah berlalu . Miya dan Caroline masih asik berbicara sambil sesekali menyesap teh. Tiba-tiba pintu ruang tamu terbuka dan disanalah paman Fabian berdiri dengan wajah dingin, tenang sekaligus menakutkan . Fabian berjalan mendekati mereka. Tatapannya beralih dari Caroline, lalu ke Miya.''Tolong tinggalkan kami berdua dan pergilah ke kamarmu . Aku akan segera menemuimu disana!''
Miya menuruti perintah pamannya, lalu keluar ruangan.
''Untuk apa kamu datang kesini?''tanyanya dengan suara tegas.
''Aku kesini untuk menemuimu."
''Seharusnya kau jangan datang kesini. Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi."
''Aku mencintaimu,''kata Caroline dengan wajah memelas.
''Jangan bodoh. Sejak awal sudah aku bilang hubungan kita hanya sebatas teman kencan tidak lebih dari itu dan kau menyetujuinya. Bukankah sekarang kau sudah mempunyai tunangan dan akan segera menikah."
''Aku tidak mencintai calon suamiku. Aku hanya menginginkanmu. Sejak aku bertemu denganmu di pesta pernikahan temanku, aku langsung menyukaimu dan setelah kita melewatkan malam bersama denganmu. Aku merasa telah jatuh cinta kepadamu. Apa kamu tidak merasakan apa-apa saat itu kepadaku?''
''Tidak. Saat itu aku hanya menginginkan tubuhmu,''jawab Fabian dengan nada dingin dan kejam.''Seharusnya kau sudah tahu kalau aku seorang pria yang memiliki banyak wanita. Aku yakin kau sudah tahu itu, jadi sekarang pergilah! ''
Wajah Caroline memucat dan hendak menangis. Ia berusaha untuk menahan air matanya. Caroline mendekatkan tubuhnya pada Fabian hendak menciumnya, tapi Fabian langsung bereaksi mencengkeram tangan wanita itu erat dan tanpa ampun, lalu mendorong wanita itu menjauh.''Maafkan aku Caroline! Aku tidak ingin berbuat kasar padamu. Tolong mengertilah, aku tidak bisa mencintaimu.
''Kenapa kau tidak bisa mencintaiku? ''teriak Caroline.''Apakah di hatimu sudah ada seseorang yang kau cintai?''
''Benar. Saat ini aku sedang mencintai seseorang,''jawabnya , lalu mendesah lega.
''Aku tidak percaya ini. Aku penasaran seperti apa wanita yang sudah membuatmu jatuh cinta."
''Dia hanya wanita biasa saja. Sekarang kau sudah tahu. Sekarang pergilah ! Mulai sekarang hiduplah bahagia dengan calon suami. Maaf sudah membuatmu mencintaiku sebaiknya kau berikan saja cintamu pada calon suamimu, karena aku tidak pantas mendapatkannya."
Caroline menatap tajam Fabian masih dengan berlinangan air mata. ''Jangan pernah menangis lagi untukku!''
Dengan rasa kesal dan marah Caroline pergi meninggalkan Fabian. Di luar ruangan Gilbert hanya menggelengkan kepalanya.''Satu korban lagi sudah jatuh,''gumamnya. Caroline keluar ruangan dengan perasaan sedih bercampur marah.Wanita itu hanya menatap sekilas pada Gilbert, lalu pria itu menahan tangan Caroline dan berkata,''Seharusnya kamu tidak menyimpan perasaan untuk temanku itu kalau kau tidak ingin dibuat sedih olehnya. Kamu bukan wanita pertama yang dibuat menangis olehnya karena patah hati."
Caroline terdiam dan pergi begitu saja . Fabian duduk di kursi dan mendesah sambil melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. Ia memijat-mijat pelipisnya. Rasa lelah tergurat diwajahnya dengan jelas. Kehadiran Caroline di sini membuat dirinya menyadari kalau ia sudah jatuh cinta kepada Miya dan hal itu membuatnya terkejut dan tidak percaya . Gilbert masuk dan duduk di depannya. ''Akhirnya kau mengakui juga perasaanmu terhadap Miya. Sebaiknya mulai sekarang kau jangan membuat wanita menangis lagi dan kau harus menhentikan kebiasaanmu berganti-ganti wanita,''ujar Gilbert dengan wajah penuh simpati pada Fabian.
''Aku akan menemui Miya di kamarnya." Fabian berjalan menyeberangi ruangan dengan langkah gontai.
Miya berada di kamarnya sedang berbaring telengkup di tempat tidur menunggu gelisah pamannya. Ketika pintu kamarnya terbuka lebar, Miya melompat dari tempat tidurnya. Ia melihat pamannya berdiri di ambang pintu .Miya menahan nafas dan berusaha untuk tetap tenang. Fabian berjalan menghampirinya. Kamar menjadi sunyi selama sesaat membuat Miya menjadi tegang. Pria itu kembali berjalan mendekat, menutup jarak di antara mereka ''Pa..paman Fabian,''panggilnya dengan suara pelan. Fabian masih terdiam dan mata tajam birunya menelusuri wajah Miya dengan seksama.''Pa..paman."
__ADS_1
''Apa yang dikatakan wanita itu kepadamu tadi?''
''Dia hanya menceritakan kalau paman telah mencampakkannya. Hanya itu saja.Aku kasihan kepadanya dan paman sudah membuatnya menangis. Paman sudah selingkuh dengan wanita lain. Apa wanita yang bernama Helena adalah wanita selingkuhan paman? Paman jahat. Ternyata pria sama saja hanya ingin mendapatkan kepuasaan hasrat dari seorang wanita,''ujarnya dengan nada kesal bercampur marah. Fabian mencengkeram lengan Miya semakin kuat. Miya meringis kesakitan.
''Aku memang tidak mengenal paman dengan baik, karena aku baru mengenal paman kemarin, tapi aku tidak bisa terima kalau paman menyakiti hati wanita dengan kelakukan paman yang bejat tidur dengan banyak wanita,''tukas Miya tidak mau kalah. Jantung Miya berpacu dengan kencang dan napasnya menjadi pendek-pendek, karena marah.
Fabian memejamkan matanya .Apa yang dikatakan Miya memang benar adanya. Gadis itu memalingkan wajahnya. Fabian menangkup dagu Miya dengan tangannya dan membuatnya untuk menatap ke arahnya. Ia menahan napas sesaat sebelum menatap mata biru kehijauan Miya yang ketakutan di bawah temaramnya lampu kamar. Gadis itu menelan ludahnya.
Tatapan tajam mata Fabian membuat Miya sedikit terpana. Baru kali ini ia benar-benar melihat mata biru indahnya lebih dekat. Warna mata Azure sejernih langit biru di musim panas.
Tanpa di duga Fabian menarik Miya ke dalam dekapannya dalam satu tarikan. Miya berusaha untuk lepas, tapi pelukan Fabian semakin erat menahan Miya agar tidak bergerak. '' Kamu benar. Maaf."
Detak jantung Miya semakin cepat, lalu pria itu menciumnya dalam-dalam , **** mulutnya dengan liar dan posesif. Ciuman singkat yang membuat tubuh Miya gemetar. Ia dapat merasakan gerakan bibir pamannya yang lembut di bibirnya. Fabian menghentikan ciumannya dan menatap mata gadis itu . Wajah Fabian yang keras itu berubah menjadi lembut dan hangat. Lalu jari-jari pria itu pelan-pelan menelusuri garis bibir Miya .
Gadis itu membeku ditempat, pikirannya kacau akibat ciuman dan sentuhan pria yang saat ini menjadi pamannya. Fabian melengkungkan bibirnya membentuk senyuman malas tapi menggoda, lalu ia mendekapnya sekali lagi sambil mengelus-elus rambutnya yang halus. Sebelum melepaskan pelukannya, Fabian mengecup lembut rambutnya.
Pintu kamarnya tertutup pelan dan Miya masih saja berdiri ditempatnya tadi. Ia tampak bingung dan kacau. Kakinya terasa sangat lemas dan ia akhirnya ambruk ke lantai. Perlahan-lahan Miya menyentuh bibirnya yang masih hangat akibat ciuman singkat pamannya.
Bibir Fabian begitu hangat, lembut dan meskipun malu pada diri sendiri, Miya menyukai ciuman itu. Sekarang perasaannya bercampur aduk dan berbagai macam sensasi membingungkan memenuhi dirinya. Gafus itu tidak menyangkalnya pamannya memang seorang pria yang sangat memikat dan juga sangat mempesona.
''Aaaarrrggghhh....''teriaknya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Miya memejamkan matanya dan menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan. Ia hampir saja luluh dalam dekapan pamannya tadi. Ia tidak ingin terjerat oleh pesona berbahaya pamannya dan tidak ingin menjadi salah satu korbannya. Ia tidak ingin terpikat oleh pria mana pun saat ini erang Miya putus asa dalam hati.
Selain itu Miya sama sekali tidak mengerti mengapa pamannya bisa bersikap dingin pada suatu waktu dan bersikap lembut pada saat yang bersamaan. Gadis itu mendesah pasrah. Ia tidak tahu harus memasang wajah apa saat bertemu lagi dengan pamannya setelah kejadian di kamarnya beberapa saat yang lalu. Tanpa Miya sadari ada seseorang yang sedang mengintipnya di balik pintu dengan tatapan tidak suka.
♪♪♪♪
Fabian menemui Gilbert di ruang tamu yang sedang meminum brendi sambil membaca beberapa dokumen. Ia tersenyum simpul ketika Fabian masuk.''Kau sudah bicara dengannya?''
''Iya. Dia marah kepadaku mengenai Caroline."
''Itu wajar kalau Miya marah soal Caroline."
Gilbert meneguk brendinya yang tersisa, lalu menyimpannya di meja.'' Aku mau pulang. Keponakanmu memang wanita yang sangat manis dan juga cantik."Gilbert mengedipkan sebelah matanya.'' Sampai jumpa besok!''katanya sambil menepuk pelan bahu Fabian.
Fabian menjatuhkan dirinya di sofa. Ia merasa begitu lelah dan banyak kejadian yang tidak terduga yang terjadi pada dirinya sendiri. Sejak kedatangan gadis itu kesini membuat dirinya diselimuti oleh perasaan tidak tenang dan juga kehilangan kendali dirinya saat berada di dekat Miya. Ia sangat menyukai ciuman posesif namun singkat yang ia berikan tadi. Fabian tidak mampu menahan dirinya untuk tidak menyentuh gadis itu.
__ADS_1
Miya telah mengacaukan keteraturan dalam hidupnya yang selama ini ia tata dengan serapi mungkin dan gadis itu mengacaukan segalanya.
Seulas senyuman samar tersungging di bibirnya. Selama empat tahun ini tidak ada satu pun wanita yang dikenalnya yang mampu membuat hatinya bergetar lagi, sehingga Fabian sulit untuk menolak kehadiran Miya dalam dirinya. Sekarang ia benar-benar menyadari kalau sebenarnya ia telah jatuh cinta kepada Miya saat pertama kali melihatnya . Ia tidak dapat lagi menyangkal perasaannya sendiri saat ini, jadi apa salahnya kalau ia mencintai gadis itu dan menjadikannya sebagai miliknya seutuhnya [ ].