
Miya berkali-kali berusaha menghubungi Isabella, tapi ponselnya selalu tidak ia jawab dan itu membuatnya menjadi bertambah kesal. Ia duduk di sofa dan mendesah frustasi. "Seharusnya tidak seperti ini. Ini semua gara-gara dia. Huuuhh…benar-benar menyebalkan. Aku tidak percaya apa yang dikatakannya." Miya membuka jendela kamarnya, seketika angin malam yang sejuk masuk menyelinap ke dalam kamarnya. Ia memandang gelapnya langit malam tidak ada bintang satu pun di sana hanya ada seberkas cahaya bulan yang menembus awan. Miya menyentuh bibirnya masih merasakan kehangatan bibir pamannya di bibirnya. Berulang-ulang ia kembali mengingat setiap sentuhan dan ciuman yang diberikan pamannya tadi. Ia merasa aneh, sesaat ia begitu menyukai ciuman itu dan melupakan segalanya. Miya mengeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang.‘‘Aku tidak boleh jatuh cinta kepadanya. Pokoknya tidak boleh,‘‘umpatnya kesal.Miya menutup jendela dengan perasaan jengkel.
Keesokan paginya Miya duduk di depan cermin memperhatikan wajahnya yang masih terlihat kusut .Semalam ia tidak bisa tidur memikirkan pernyataan cinta pamannya . Setelah berpakaian rapi, Miya keluar kamarnya menuju dapur. Sekilas ia melihat pamannya berada di ruang musik sambil memandangi lukisan almarhum istrinya dengan sedih sekaligus benci.
Miya tiba-tiba merasa tergelitik untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan kehidupan mereka dulu. Setelah kembali dari dapur, Miya mendapati Mary Jane yang sedang membereskan kamarnya. Pelayan itu tersenyum ketika Miya datang.
"Bagaimana keadaan nona hari ini?’’
"Baik." Miya terdiam sebentar,lalu berkata lagi.
"Apa kamu tahu apa yang terjadi antara paman Fabian dan istrinya dulu?’’
Wajah Mary Jane seketika menegang dan terlihat gugup. "Tentu saja tahu. Kenapa Anda menanyakannya?’’
"Aku hanya ingin tahu saja karena selama ini paman tidak pernah bercerita kepadaku."
"Sebaiknya Anda tanyakan saja sendiri kepadanya."
"Tidak mau karena aku yakin paman tidak mau mengatakannya kepadaku."
Mary Jane mengangguk mengerti, lalu ia menghela napas panjang. Pelayan itu merasa kasihan kepada Miya dan diam sesaat berusaha mencari kata yang tepat untuk memulai bercerita.
"Sebenarnya saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka yang saya tahu kalau nyonya Clarissa adalah wanita yang sangat cantik dan disukai oleh banyak pria. Diantara pria yang memujanya dia lebih memilih tuan Fabian untuk dijadikan suami, tapi saat itu nyonya masih mempunyai kekasih dan kekasihnya langsung diputuskan, ketika nyonya Clarissa akan menikah. Saya dijadikan pelayan pribadinya setelah menikah dengan tuan Fabian .Nyonya sangat bahagia menikahi dengannya, tapi kebahagiaan mereka tidak lama. Setelah satu bulan pernikahan, hubungan mereka mulai renggang dan saya lebih sering melihat tuan Fabian mengurung diri di ruang kerjanya sambil mabuk-mabukan dan nyonya Clarissa sering pulang malam."
Mary Jane melanjutkan.’’Nyonya sudah jarang memperhatikan tuan Fabian lagi. Nyonya lebih banyak menghabiskan waktu dengan berpesta, mungkin itu sebabnya hubungan mereka mulai memburuk. Saat itu saya merasa kasihan dengan tuan Fabian. Hari-harinya dilewatkan dengan bersedih. Sejak saat itu saya sering mendengar mereka bertengkar. Setiap hari selalu bertengkar. Pada suatu hari tuan Fabian mengajukan cerai, tapi nyonya menolaknya. Mereka kembali bertengkar dan suara mereka begitu keras sehingga saya bisa mendengarnya. Nyonya Clarissa bilang , ia telah melihat tuan Fabian sedang berselingkuh dengan wanita lain dan tidak akan membiarkan tuan Fabian hidup dengan wanita simpanannya, lalu tuan Fabian marah besar.Akhirnya peristiwa tragis itu terjadi.
Disaat semua orang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, nyonya Clarissa meninggal di ruang keluarga lantai dua. Kejadiannya begitu cepat dan saya melihat tuan Fabian berada di sana sedang terduduk di lantai menatap tubuh nyonya Clarissa yang sudah tidak bernyawa. Saat itu saya tidak percaya kalau tuan Fabian tega mengkhianati nyonya Clarissa .Saya jadi merasa kesal dan marah dengan tuan Fabian saat itu. Sepetinya tuan Fabian sangat menyesali perbuatannya itu sekarang. Aku yakin tuan Fabian tidak bermaksud untuk membunuhnya."
Miya kembali terdiam setelah mendengar cerita dari Mary Jane . Rasa sedih dan kecewa bercampur aduk di hatinya.’’Apa benar yang dikatakan Mary Jane? Apa Mary Jane telah mengatakan semuanya atau masih ada yang disembunyikan? Apa ia harus mempercayai ceritanya,’’batinnya. Miya menghela napas panjang dan tubuhnya disandarkan di sandaran sofa sambil mencerna semua yang dikatakan oleh pelayannya. "Nona Miya Anda tidak apa-apa?’’
Perkataan Mary Jane menyadarkannya dari lamunannya.’’Iya. Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah menceritakannya kepadaku."
"Sama-sama nona Miya. Kamar Anda sudah di bereskan. Anda dapat beristirahat sekarang. Permisi!’’
Setelah Mary Jane pergi, Miya pun segera mengganti pakaiannya hendak keluar. Ia akan menemui Isabella dan menyelesaikan masalah dengannya. Miya tidak ingin masalah ini semakin berlarut-larut. Ia harus segera meluruskan kesalahpahaman ini.
♫♫♫♫
Fabian mencondongkan tubuhnya di depan cermin memeriksa wajahnya yang sudah dicukur bersih, lalu ia memakai jasnya yang telah disiapkan oleh pelayannya yang tersampir di tempat tidur. Wajahnya nampak muram setiap kali ia mengingat Miya. Sempat terlintas dipikirannya akan mencari wanita lain untuk menenangkan keresahan hatinya, tapi Fabian sekarang tidak dapat membayangkan, jika ia harus kembali menyentuh dan mencium wanita lain selain Miya. Tubuhnya bergidik merinding, ketika memikirkan hal itu. Sebelum Miya hadir dalam hidupnya, ia bebas melakukan hubungan dengan wanita yang diinginkannya, tapi sekarang ia tidak bisa melakukannya lagi. Fabian tersenyum dalam hati kalau ia sudah benar-benar mencintai gadis itu. Ia tahu sekarang hidupnya tergantung pada Miya .Aku tidak akan menyerah bisik hatinya. Fabian keluar kamar tanpa menyentuh sarapan paginya.
Secara diam –diam Miya melihat kepergian pamannya dari kaca jendela , lalu ia bersiap pergi. Setibanya di kampus, ia bertemu dengan Sebastian yang sedang menunggunya, karena sebelumnya ia telah meneleponnya terlebih dahulu. Secara singkat Miya kembali menjelaskan yang terjadi kemarin. "Pantas saja tadi Isabella terlihat marah. Jadi apa yang di katakan pamanmu tentang ini?’’
"Tidak ada. Paman Fabian tidak mengatakan apa pun. Tidak berusaha untuk menjelaskan semuanya."Miya tertunduk lesu.
"Baiklah. Aku akan membawamu menemui Bella."
Sebastian kemudian membawa Miya ke taman belakang. Di sana Isabella sedang bicara dengan beberapa temannya. Ia terlihat senang dan tertawa bersama dengan teman-temannya. Tawa mereka hilang ketika Sebastian datang. Miya menunggu di sisi lain taman , duduk di sebuah bangku taman. Isabella bersedia mengikuti Sebastian dan mereka sedang menuju ke arahnya.
Isabella hendak akan melarikan diri, ketika ia melihat Miya yang sedang menunggunya, tapi Sebastian langsung menahannya dengan mencengkeram lengannya kuat-kuat.‘‘Sebastian, lepaskan!‘‘
‘‘Tidak. Sebelum kau mau mendengarkan apa yang ingin dibicarakan Miya."
‘‘Aku tidak mau."
‘‘Ya kamu harus,‘‘kata Sebastian menegaskan.
Dengan enggan Isabella akhirnya duduk dan matanya masih tidak mau memandang Miya.‘‘ Cepat apa yang ingin kau katakan padaku,‘‘ujarnya dingin.
‘‘Bella maafkan aku. Ini hanya salah paham saja. Aku tidak mencintai paman Fabian. Dia hanya menyukaimu. Sungguh."
‘‘Kamu bohong." Isabella langsung memandangnya marah.‘‘Fabian tidak pernah mencintaiku. Dia sudah mengatakannya berulang kali kepadaku, tapi aku bodoh berharap suatu hari nanti ia akhirnya akan mencintaiku. Fabian hanya mencintaimu."
‘‘Aku tidak percaya."
‘‘ Fabian sendiri yang mengatakannya kepadaku."
‘‘ Eh....‘‘ Miya nampak terkejut.‘‘Kapan?‘‘
‘‘Kemarin malam dia datang menemuiku di rumahku dan dia menjelaskan semuanya kepadaku. Fabian bilang dia mencintaimu sudah sejak awal dan dia tidak pernah mencintaiku."Sekarang raut wajah Isabella yang cantik berubah muram dan sedih .
Isabella begitu terkejut dengan kedatangan Fabian yang secara tiba-tiba ke rumahnya kemarin malam. Awalnya ia tidak mau bicara, tapi Fabian memaksanya dan akhirnya Isabella pun menuruti kemauannya, karena ia tidak ingin berdebat lebih lama lagi karena orang tuanya sedang berada di rumah .
‘‘Jangan salahkan Miya atas masalah di antara kita berdua,‘‘katanya tiba-tiba .‘‘Miya tidak tahu apa-apa tentang perasaanku kepadanya . Jadi jangan salahkan dia. Miya sangat sedih, ketika kau marah kepadanya. Ia menyuruhku untuk menjelaskan semuanya kepadamu, tapi aku tidak mau, karena menurutku itulah yang seharusnya supaya kamu tahu kalau aku tidak pernah mencintaimu. Tapi aku tidak tahan melihat perasaan sedih dan terluka di wajahnya. Akhirnya aku memutuskan untuk datang kesini menemuimu."
‘‘Aku benar-benar tidak percaya ini. Kamu mencintai keponakamu sendiri. Ini sungguh gila."
__ADS_1
‘‘Iya aku memang gila, karena aku mencintainya, tapi sayangnya Miya tidak mencintaiku . Dia hanya menganggapku sebagai pamannya. Ini pertama kalinya aku di tolak oleh seorang wanita." Fabian tersenyum pahit.‘‘Tapi aku akan berusaha untuk merebut hatinya perlahan-lahan dan membuatnya mencintaiku."
‘‘Tapi kenapa kau sangat baik kepadaku dan membiarkanku terus berada disampingmu sehingga aku berpikir kamu benar-benar menyukaiku." Air mata mulai membasahi wajah Isabella.
‘‘Karena kamu keras kepala. Aku sudah memberitahumu kalau aku sudah mempunyai orang yang kusuka tapi kamu masih ingin terus berada di sampingku. Mau tidak mau aku harus memperlakukanmu dengan baik.Aku tidak mungkin bersikap kasar kepadamu. Bella , kamu adalah wanita baik. Aku yakin ada pria yang mencintaimu di luar sana." Isabella menghapus air matanya.
‘‘Miya sungguh beruntung bisa dicintai olehmu dan ia juga sungguh bodoh telah menolakmu di mana hampir semua wanita menginginkanmu."
Fabian tersenyum. ‘‘Miya memang bodoh telah menolakku, tapi aku jamin Miya akan menyesal telah menolakku. Jadi sekarang jangan marah lagi kepadanya. Aku paling tidak tahan melihatnya sedih dan menangis, kalau dia sudah menangis aku tidak tahu apa yang harus kulakukan .Sekarang jangan menganggapku sebagai calon suamimu lagi , tapi sekarang aku adalah temanmu. Bagaimana?‘‘
Isabella mengangguk pelan meskipun di hatinya masih tidak rela untuk melepaskan Fabian. Kesempatan sekecil apa pun ia ingin mendapatkan Fabian untuk dirinya sendiri, tapi sepertinya itu tidak akan mudah, karena Fabian sudah terlalu mencintai Miya. Sungguh bodohnya ia tidak menyadari hal ini. Setiap kali Fabian membicarakan Miya matanya selalu tersenyum dan wajahnya selalu berbinar senang. Hatinya hanya diberikan untuk Miya. Meskipun sekarang Isabella sudah mengetahui perasaan yang sebenarnya dari seorang Fabian, ia tetap saja masih tidak rela.
‘‘Aku tidak percaya kalau paman Fabian mencintaiku,‘‘kata Miya tiba-tiba membuat Isabella tersadar dari lamunannya.
‘‘Kenapa tidak?‘‘
‘‘Karena dia seorang playboy. Aku takut dia akan berselingkuh dariku. Itu sebabnya aku sempat tidak setuju ketika kamu ingin menjalin hubungannya denganmu karena aku takut kamu juga akan bernasib sama dengan kekasih-kekasih paman Fabian yang lain."
Isabella menghela napas panjang, kemudian memejamkan matanya dan membiarkan angin sejuk membelai wajahnya.‘‘Kamu sungguh bodoh. Apa kamu tidak lihat Fabian begitu mencintaimu. Jangan menutup hatimu. Kalau kamu takut tersakiti lagi sebaiknya jangan pernah jatuh cinta lagi. Kalau kamu tidak menginginkan Fabian, aku akan mengambilnya darimu."Isabella menatap Miya dengan pandangan marah.
Miya mengenggam tangan Isabella.‘‘Maafkan aku. Nanti aku akan bicara lagi dengan paman Fabian."
‘‘Kamu tidak perlu bicara lagi dengannya. Semuanya sudah jelas bagiku. Aku dan Fabian sekarang sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dan aku benci kepadamu.Sekarang aku harus pergi."
‘‘Kumohon jangan pergi dulu!‘‘
Miya memegang tangannya, tapi Isabella menepisnya dengan kasar dan berlalu pergi begitu saja. Miya hanya bisa menangis melihat kepergian temannya itu. Cepat-cepat di hapusnya air matanya, ketika Sebastian datang.
‘‘Nanti aku akan bicara kepadanya. Bella harus mendengarkan apa yang aku katakan." Sebastian memeluk Miya berusaha untuk menenangkannya.
♫♫♫♫
Satu minggu telah berlalu sejak ia kembali berada di mansion pamannya. Orang tua dan adiknya telah kembali ke Jepang dan sekarang ia kembali tinggal berdua dengan pamannya. Seminggu ini hubungan Miya dan pamannya menjadi tegang, saling menghindar satu sama lain. Fabian hanya akan menyapanya bila perlu begitu juga sebaliknya. Miya menghela napas panjang. Fabian tidak pernah lagi untuk mencoba menciumnya atau pun menjahilinya juga membuatnya marah. Ia menjalani hidup di mansion pamannya dengan sangat tenang, tapi secara diam-diam gadis itu merasa kehilangan suasana yang dulu dengan pamannya dan yang paling menyebalkan ia merindukan kehadiran pamannya, karena akhir-akhir ini pamannya jarang sekali bertemu dengannya. Hampir setiap hari Fabian selalu pulang larut malam dan pergi ke kantor pagi-pagi sekali.
Seperti pagi ini ia sudah menemukan pamannya telah pergi ke kantor saat ia tengah bersiap-siap kembali masuk kuliah. Seperti biasa Mary Jane mempersiapkan segala keperluannya.
Miya tiba di kampusnya tepat ketika pelajaran pertama dimulai. Ia melihat Isabella duduk disamping Sebastian dan ketika tatapan mereka bertemu Isabella langsung membuang wajahnya. Ia tidak tahu mau sampai kapan mereka akan terus bermusuhan seperti ini. Setelah perkulihan usai, Miya terkejut melihat Fabian. Gadis itu tidak tahu apa yang dilakukan pamannya itu di sini, Ketika mata mereka bertemu, Miya langsung memalingkan wajahnya dan lalu samar-samar ia melihat pamannya memandang dirinya dari kejauhan dengan tatapan tenang yang menyembunyikan kesedihan.
Sementara itu Fabian yang hendak mengejar Miya,langkahnya terhalang oleh para mahasiswa yang memenuhi lorong. Ketika Fabian sudah terbebas, Miya sudah menghilang di depan matanya.
Miya membuka matanya dan mencari asal suara itu. Mata berwarna aquamarine itu terbuka lebar. Ia melompat berdiri. Pria itu langsung mendekat dan langsung memeluk Miya yang masih terkaget-kaget dengan kedatangan Ryusuke."Akhirnya aku menemukanmu,’’ujar Ryusuke dengan wajah berbinar senang.Ryusuke menjauh sedikit supaya dapat melihat wajah Miya.
"Kenapa kamu ada disini?"
Ryusuke tersenyum. "Aku kesini untuk mencarimu."
"Kamu dan aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi,’’ucap Miya dengan suara tegas. Ingatan tentang perselingkuhan Ryusuke kembali hadir di ingatannya. Miya langsung mendorongnya jauh.
"Selama seminggu aku datang kemari tiap hari, tapi kamu tidak ada.Kau masih marah padaku. Aku mengerti, kamu tidak akan mudah memaafkanku, tapi aku sangat menyesal dan berharap bisa kembali memulai hubungan lagi denganmu.’’
" Apa kau bilang? Jangan harap aku akan kembali kepadamu,’’ujar Miya kesal.
"Ayolah Miya! Aku tahu kau masih mencintaiku."
"Kamu tidak tahu apa-apa sekarang tentang perasaanku sekarang."
"Apa sekarang kau sudah memiliki kekasih baru?’’
"Itu bukan urusanmu."
"Baiklah. Tapi aku tidak akan menyerah untuk kembali mendapatkanmu. Aku yakin kau masih punya perasaan padaku,’’katanya dengan penuh percaya diri.
"Lalu bagaimana dengan kekasih barumu?’’
"Aku sudah putus dengannya karena aku menyadari hanya dirimu yang aku inginkan."
Ryusuke kembali memeluk Miya.’’ Pulanglah denganku ke Jepang! Kita mulai dari awal lagi. Aku janji akan selalu setia kepadamu." Miya diam dalam pelukan Ryusuke. Ada satu hal yang membuat dirinya tersadar yaitu ketika Ryusuke memeluknya, ia tidak merasakan apa pun lagi. Tidak ada rasa cinta di dalam dirinya untuk Ryusuke. Tidak merasakan getaran lagi di hatinya. Miya melepaskan pelukan Ryusuke , lalu ditatapnya pria itu dalam-dalam. Dulu ia mencintai pria yang ada dihadapannya sekarang. Ryusuke pernah menjadi pria terpenting dalam hidupnya yang sudah mengisi hatinya selama dua tahun, tapi setelah ia pikirkan kembali sudah tidak ada lagi rasa cinta yang dirasakannya terhadap Ryusuke . Cinta untuknya sudah tidak ada lagi.
"Ada apa?’’tanya Ryusuke bingung.
"Tidak ada apa-apa. Hanya aku tidak menyangka kamu akan datang jauh-jauh kesini untuk bertemu denganku dan memintaku kembali padamu. Kamu sungguh berani setelah pengkhianatan yang kamu lakukan padaku."
"Sudah kukatakan aku sangat menyesal. Aku mencintaimu Miya. Sungguh. Kau harus percaya padaku kali ini."
"Entalah. Saat ini aku tidak ingin mempercayai siapa pun."
__ADS_1
"Aku tidak akan memaksamu sekarang. Aku akan menunggumu."
"Jangan menungguku."
"Aku akan menunggumu,’’kata Ryusuke bersikeras.
"Terserah kamu saja. Dasar keras kepala,’’ kata Miya kesal.
Di kejauhan Fabian dan Gilbert memperhatikan mereka berdua. Diam-diam Gilbert mencuri pandang ke arah Fabian. Wajah sahabatnya itu nampak dingin dan tatapan matanya berubah jadi gelap. Perasaan cemburu, marah terlihat jelas di wajahnya. Gilbert menyunggingkan senyuman samar. Fabian cemburu. Belum pernah ia melihat sahabatnya secemburu ini. Gilbert menepuk pelan punggungnya.
"Sebaiknya kita kesana menyapa mereka." Gilbert pergi berjalan mendahului Fabian. "Halo Miya! Siapa pria tampan disampingmu ini?’’
"Gilbert....’’seru Miya terkejut.
"Siapa pemuda ini?’’
"Ini Ryusuke Nakashima. Mantan pacarku. Ryu, ini Gilbert."
"Senang berkenalan dengan Anda."
"Ah ini mantan pacarmu. Senang berkenalan denganmu juga."
Gilbert kemudian membisikkan sesuatu di telinga Miya.’’Sepertinya ada seseorang yang sedang cemburu,’’goda Gilbert sambil mengerling ke arah Fabian yang berada di belakangnya. Saat itu Miya baru menyadari kehadiran pamannya yang nampak marah.
"Miya chan, siapa dia?’’tanya Ryusuke yang memandangi Fabian dari bawah sampai ke atas. Ryusuke sedikit terkejut dengan penampilan pria yang ada dihadapannya begitu rapi dan elegan, tapi ada sesuatu dari tatapan matanya yang membuat dirinya merinding ketakutan, tatapan rasa tidak suka dan benci terhadap dirinya.
"Ini pamanku. Aku tinggal disini bersama dengannya." Dengan rasa gugup dan takut akhirnya Miya memperkenalkan pamannya dengan Ryusuke.’’Paman Fabian, ini Ryusuke."
"Aku sudah mendengar namanya tadi,’’jawab Fabian dengan suara dingin.
"Halo tuan...’’
"Baskerville,’’sambung Fabian sambil mengulurkan tangannya. Sekuat tenaga Fabian menahan rasa marah dan cemburu pada Ryusuke. Ia mengenggam erat tangan Ryusuke.
"Senang berjumpa dengan Anda tuan Baskerville."
"Aku juga,’’kata Fabian sambil melepaskan tangannya.
Fabian tidak menyangka kalau akhirnya ia dapat bertemu dengan Ryusuke. Pria yang pernah disebut namanya, ketika Miya sedang tidur. Ia merasa sangat cemburu, karena Ryusuke pernah menjadi bagian hidup dari Miya dan juga pria yang pernah dicintai Miya, meskipun mereka berdua sudah putus, ia tidak rela Miya selalu berdekatan dengannya. Ia takut Miya akan kembali kepadanya dan takut Ryusuke kembali untuk mengambil Miya dari sisinya. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Suasana menjadi tegang dan sunyi , membuat Miya ingin secepatnya melarikan diri dari situasi ini.
"Apa yang paman lakukan di sini?" tanya Miya.
"Aku bertemu klien di sini."
Miya mengernyitkan dahinya. Di sini?"
"Iya. Salah satu klienku adalah dosen di sini."
Suasana kembali sunyi.
Gilbert yang menyadari situasi yang sedang terjadi berdeham.’’Ehm...ehm...perkenalannya cukup sampai disini dulu. Sebaiknya kita mencari tempat yang enak untuk berbicara. Sepertinya beberapa orang sudah mulai memperhatikan kita. Bagaimana kalau kita pergi ketempat yang lebih pribadi untuk bicara."
"Baik,’’jawab Miya langsung menyetujui. Mereka pergi ke sebuah cafe yang berada di depan kampusnya. Di sana mereka duduk saling berhadapan. Miya mengigit bibir bawahnya dan terus menunduk tidak mampu menatap wajah pamannya yang memasang sikap dingin dan marah.Suasana sunyi dan tegang kembali terjadi. "Berapa lama kamu berencana tinggal disini Ryusuke?’’tanya Gilbert untuk mencairkan suasana.
"Aku belum tahu, mungkin aku akan kembali ke Jepang setelah Miya mau kembali menjadi kekasihku,’’jawabnya terus terang yang membuat Fabian terbakar oleh rasa cemburu.
Fabian yang duduk di samping Gilbert mengepalkan kedua tangannya dibawah meja dengan erat. Ditambah lagi Ryusuke dengan beraninya merangkul bahu Miya dan mengecup keningnya, mengenggam tangannya, membuat kemarahannya sudah mencapai batasnya dan ingin memukulnya. Gilbert langsung menahan tangannya dengan kuat. Miya juga merasa tidak enak dengan situasi ini. Ia tahu saat ini pamannya sedang menahan marahnya, tapi ia tidak peduli.
"Bagaimana denganmu Miya?’’
Dengan gugup Miya berkata,’’ Aku akan kembali kepada Ryusuke karena aku masih mencintainya." Miya berbohong. Ia lakukan supaya pamannya tidak mengharapkan cintanya lagi .
Ryusuke terlihat sangat senang. "Benarkah itu?’’
"Iya Ryu. Itu benar." Ryusuke nampak senang. Ia langsung meraih tangan Miya dan menciumnya. Fabian yang sudah tidak dapat menahan marahnya dan tidak tahan melihat sikap mesra Ryusuke terhadap Miya, memutuskan untuk pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun . Gilbert pun menyusulnya.
"Ada apa dengan pamanmu itu? Aneh sekali. Sepertinya dia tidak suka padaku."
"Sudah jangan pikirkan itu. Pamanku memang sedikit aneh,’’kata Miya dengan senyuman yang dipaksakan.’’Selain itu....’’
"Apa?’’
"Ada yang ingin aku katakan kepadamu. Lupakan apa yang kukatakan tadi." Ryusuke menatap Miya bingung.
" Aku tidak bisa kembali padamu." [ ]
__ADS_1