
Arya memandang Valentina dan membuat gadis kecil itu ketakutan. Ia takut Arya akan membunuhnya sama seperti yang sudah wanita itu lakukan kepada Nancy. Ia ingin sekali mengatakan kepada orang-orang kalau Aryalah yang sudah membunuh Nancy, tapi ia hanya seorang anak kecil dan mungkin tidak akan yang percaya kepadanya. Sekarang mereka berdua ada di kamar Arya.
" Ingat kata-kataku. Nanti setelah Fabian datang, kamu harus pura-pura sakit."
" Kenapa aku harus pura-pura sakit?"
" Jangan banyak bertanya! Lakukan saja perintahku."
Valentina memgangguk.
" Bagus. Fabian sebentar lagi akan datang. Sebaiknya kita pergi ke kamarmu."
Arya membawa Valentina ke kamarnya dan menyuruhnya berbaring di tempat tidur.
" Kamu harus berakting bagus, kalau tidak nanti aku akan menghukummu."
" Baik."
Arya selalu melihat jam tangannya dan berjalan mondar-mandir di kamar. Sesekali ia mendesah. Valentina memperhatikannya dari balik selimut. Ia bertanya-tanya, apa yang akan direncanakan Arya menyuruhnya berpura-pura sakit.
Pintu kamar terbuka, Arya senang melihat Fabian datang. Ia segera mendekati Fabian, tapi Fabian mengacuhkannya dan segera mendekati Valentina.
" Kamu tidak apa-apa? Kenapa jadi tiba-tiba sakit."
" Paman Fabian, aku baik-baik saja."
" Tadi Valentina terjatuh dari ayunan, karena kepalanya pusin,"kata Arya bohong. "Sekarang Valentina baik-baik saja dan hanya perlu istirahat saja."
Fabian bernapas lega."Syukurlah!"
" Maaf sudah merepotkan paman untuk datang ke sini."
" Kamu sama sekali tidak merepotkan paman."
Valentina tersenyum dan senyumannya menghangatkan hati Fabian.
" Fabian, sebaiknya biarkan Valentina beristirahat. Kita bicara saja di ruanganku."
" Baiklah."
Fabian dan Arya meninggalkan Valentina sendirian di kamar. Setelah pintu kamar tertutup, Valentina turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar.
Di dalam ruangan Arya, Fabian duduk sambil menunggu Arya membuatkan kopi untuknya di dapur. Mata Arya bergerak kesana kemari memastikan tidak ada orang yang melihatnya memasukkan obat tidur ke dalam kopi, lalu ia pergi dari dapur dengan tersenyum. Pintu ruangan terbuka dan Arya masuk membawa cangkir kopi.
"Ini kopinya."
"Terima kasih."
Fabian hendak meminum kopi, tiba-tiba pintu menjeblak terbuka membuat mereka terkejut. Fabian tidak jadi meminum kopinya.
"Valentina," seru Arya.
"Paman Fabian."
" Kamu kenapa? Apa ada yang sakit lagi?"tanyanya cemas.
Valentina menggelengkan kepalanya. Arya memandang Valentina dengan tatapan kesal, karena Valentina sudah merusak rencananya menjebak Fabian untuk tidur dengannya.
"Aku tidak bisa tidur. Aku ingin paman Fabian menemaniku tidur."
Fabian tersenyum, lalu mengelus lembut kepala Valentina. " Tentu saja."
Valentina menyadari Arya marah kepadanya, tapi ia sudah tidak peduli lagi, karena ia ingin menyelamatkan paman Fabian dari niat jahat Arya. Valentina tahu, Arya sudah memasukkan sesuatu ke dalam kopi yang akan diminum Fabian, karena ia mengikuti Arya, ketika wanita itu pergi ke dapur.
" Ayo kita ke kamar! Paman akan menemanimu tidur."
" Oh ya kopi paman ketinggalan. Biar aku saja yang membawanya."
Valentina membawa kopi itu dan pura-pura memjatuhkannya tanpa sengaja.
" Valentina,"seru Arya marah.
"Maafkan aku tidak sengaja." Valentina hendak menangis.
" Sudah. Tidak apa-apa,"kata Fabian.
Arya tidak bisa memarahi Valentina dihadapan Fabian.
" Sebaiknya kita pergi ke kamarmu saja."
Valentina mengangguk.
" Maafkan Valentina. Dia tidak sengaja menjatuhkan cangkir itu. Jadi jangan memarahinya,"kata Fabian kepada Arya.
"Aku tidak akan memarahinya."
Arya berusaha sekuat tenaga menahan kemarahannya kepada Valentina. Ia melemparkan tatapan ancaman kepada Valentina saat pandangan mereka bertemu.
Fabian menuntun Valentina ke kamarnya. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan kepala panti asuhan. Marie terkejut dengan kedatangan Fabian.
" Aku tidak tahu, Anda akan datang kesini."
" Kedatangan saya ke sini memang mendadak, karena saya diberitahu Arya, Valentina jatuh dsri ayunan dan sakit."
Marie nampak bingung.
" Valentina tidak jatuh dari ayunan dan tidak sakit."
" Tapi...."
Fabian kemudian menyadari sesuatu, lalu memandang Valentina. Gadis kecil itu menunduk.
" Aku akan mengantar Valentina ke kamarnya dulu."
"Silahkan!"
Sesampainya di kamar, Valentina naik ke tempat tidurnya. Kamar itu masih kosong, karena anak-anak yang lain sedang bermain. Dari luar jendela terdengar sangat jelas suara tawa anak-anak.
"Jawab dengan jujur. Apa yang dikatakan oleh kepala panti itu benar? Kalau kamu tidak jatuh dari ayunan dan kepalamu menjadi sakit dan pusing."
Valentina tidak berani memandang Fabian.
" Paman tidak akan marah kalau kamu berkata jujur."
" Sebenarnya aku tidak jatuh dari ayunan dan aku tidak sakit."
" Kenapa kamu berbohong?"
" Sebenarnya aku tidak ingin berbohong. Aku terpaksa melakukannya."
__ADS_1
" Lihat Paman, Valentina!"
Valentina menatap Fabian.
" Kenapa kamu terpaksa berbohong?"
" Aku disuruh seseorang untuk berbohong, kalau aku tidak mau menuruti perintahnya, dia akan menghukumku."
" Dia siapa?"
Valentina terdiam.
" Nona Cooke."
" Arya?"
Valentina mengangguk.
" Tapi kenapa Arya memaksamu untuk berbohong?"tanya Fabian tidak mengerti.
" Alasannya sebenarnya aku tidak tahu. Setiap kali aku menanyakannya, dia akan memarahiku."
Fabian mendesah. " Ya sudah. Lain kali kamu jangan mau dipaksa untuk berbohong lagi."
Valentina mengangguk.
" Apa kamu tidur atau bermain bersama dengan anak-anak yang lain?"
" Aku di sini saja."
" Baiklah. Tapi Paman tidak bisa berlama-lama menemanimu di sini, karena Paman harus segera pulang. Paman sedang kedatangan tamu jauh."
" Aku mengerti."
🧸🧸🧸
Erika sekali lagi pergi ke rumah Jerome yang terbakar sendirian untuk mencari keberadaan Valentina. Ia kembali bertanya kepada orang-orang disekitar berharap ada yang tahu tentang keberadaan Valentina.
Disaat sedang kelelahan, Erika duduk sambil memegang foto Valentina. Ia tidak tahu harus mencari Valentina kemana lagi. Seseorang memegang bahunya dan Erika terkejut.
"Mikan,"seru Erika terkejut.
" Ternyata Anda benar-benar Bu guru."
" Mikan, katakan apa yang sebenarnya terjadi dan di mana Valentina? Aku sudah mencarinya kemana-mana."
Mikan bercerita kepada Erika dengan wajah sedih. Kebakaran itu terjadi diakibatkan oleh gas bocor. Emily di dapur tidak menyadari adanya gas bocor, lalu menyalakan api dan terjadi kebakaran. Saat itu Mikan sedang pergi ke mini market untuk membeli telur dan terigu untuk membuat kue
Mikan selamat dari kebakatan itu, sedangkan pelayan lain dan Lincoln yang berada di halaman rumah pada saat kejadian, terluka parah dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit.
"Aku turut prihatin atas kejadian yang menimpa kalian."
"Terima kasih."
"Lalu di mana Valentina?"
" Valentina sudah tidak tinggal bersama kami lagi. Tuan dan Nyonya membawanya ke suatu tempay dan ketika mereka pulang, Valentina sudah tidak ada bersama mereka lagi. Ketika aku bertanya kepada mereka, Tuan Jerome dan Nyonya Emily tidak mau memberitahuku."
"Aku sangat mencemaskan Valentina, karena ia sudah berhenti sekolah."
"Saya juga mencemaskannya."
" Saya tinggal bersama dengan Tuan dan Nyonya yang baru. Aku barus saja bekerja kembali sebagai pelayan."
" Syukurlah."
Erika melihat jam tangannya.
" Aku harus segera pulang. Senang bisa bertemu denganmu lagi dalam keadaan baik-baik saja."
"Saya juga. Jika Anda bertemu dengan Valentina, tolong sampaikan salam dari saya "
"Tentu saja."
" Sampai jumpa, Mikan!"
"Sampai jumpa!"
🧸🧸🧸
Fabian meninggalkan Valentina yang sudah tertidur. Ia menyelimutinya, lalu mengecup keningnya.
"Aku akan segera menjemputmu dan membawamu pulang sebagai anakku," katanya pada Valentina yang sedang tidur.
Fabian meletakkan tangannya dikenop pintu, lalu memdorong pintu sampai terbuka, lalu pintu ditutup pelan-pelan. Ia bertemu Arya di depan pintu masuk panti asuhan.
" Kamu sudah mau pulang?"
" Iya. Valentina sudah tidur."
" Terima kasih kamu sudah mau datang."
" Tentu saja. Permisi!"
Fabian menuju mobilnya yang terpakir dan Arya memperhatikan Fabian, meskipun ia gagal melaksankan rencananya gara-gara Valentina, ia akan mencobanya di lain waktu. Mobil Fabian telah meninggalkan panti asuhan. Arya kembali masuk dan mencari Valentina untuk memghukumnya.
Arya masuk ke kamar dan membangunkan Valentina dengan kasar.
" Bangun anak pemalas!"
Valentina bangun dan mengucek-ucek matanya. Ia ketakutan melihat Arya yang sedanga memandang marah kepadanya. Arya mencengkeram kuat tangan Valentina tidak mempedulikan Valentina yang kesakitan.
" Kamu sudah mengagalkan rencanaku dan aku akan menghukummu sekarang. Aku akan menghukummu di ruang bawah tanah lagi."
Wajah Valentina semakin pucat dan ia nengeleng-gelengkan kepalanya.
" Anda boleh menghukumku apa saja, tapi jangan menghukumku di ruang bawah tanah. Aku tidak mau."
Valentina mulai menangis.
"Itu hukuman yang pantas untukmu."
Arya menyeret Valentina.
" Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
Arya terus menyeret Valentina dengan paksa. Valentina mengigit tangan Arya membuat wanita itu kesakita dan melepadkan cengkeraman tangannya di tangam Valentina, lalu Valentina menginjak kaki Arya, lalu secepat kilat keluar kamar dan kabur.
" Valentina, tunggu!"
__ADS_1
Arya mengejar Valentina yang larinya sangat cepat. Valentina lari ke luar panti asuhan, lalu bersembunyi di balik pepohonan. Ia melihat Arya sedang mencarinya dan memanggil namanya. Valentina tidak ingin kembali ke panti asuhan itu lagi. Ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya yang dulu dan menemui orangtua angkatnya.
Setelah Arya tidak kelihatan lagi dan sudah kembali masuk ke halaman panti, Valentina berlari dan langit sudah mulai gelap. Ia harus segera mencari tempat untuk berlindung. Jalanan menjadi gelap dan Valentina berjalan terseok-seok. Ia haus dan lapar. Entah berapa lama ia berjalan.
Valentina melihat pom bensin dari kejauhan dan ia berusaha berjalan walaupun kakinya sudah sangat sakit. Sesampainya di sana, Valentina jatuh pingsan.
Arya yang kehilangam Valentina terpaksa melapor ke kepala panti asuhan.
" Apa kamu bilang?"teriak Nyonya Harper.
"Aku berusaha mengejarnya, tapi aku kehilangan dia."
Nyonya Harper terduduk lemas di kursinya. Ia mencemaskan Valentina yang berkeliaran sendirian di jalanan di malam hari.
" Arya, kenapa Valentina bisa kabur?"
Arya terlihat gelisah dan panik." Aku tidak tahu. Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?"
" Kita harus mencarinya besok, karena sejarang sudah malam. Masalah hilangnya Nancy masih belum selesai, sekarang Valentina kabur dari panti asuhan. Sebaiknya kamu istirahat saja dulu, besok kita mencari Valentina mungkin anak itu masih berada di sekitar sini. Dia tidak mungkin bisa pergi jauh-jauh."
Arya mengangguk dan kembali ke kamarnya. "Anak itu benar-benar selalu membuat masalah,"gumamnya.
Valentina mulai sadar dan ada seorang kakek yang sedang menatapnya cemas.
" Syukurlah kamu sudah sadar, Nak,"kata seorang pria tua.
"Aku ada di mana?"
"Ada di mini market punyaku. Aku menemukanmu pingsan di depan."
" Aku harus pergi dari sini."
" Kamu mau kemana malam-malam begini dan di mana orangtuamu?"
" Aku mau menemui Bu guru Roberts, tapi sku tidak tahu di mana rumahnya, jadi aku ingin menemuinya di sekolahku yang dulu. Aku tidak tahu di mana orangtuaku sekarang."
Valentina menunduk sedih.
" Siapa namamu?"
"Valentina."
" Besok aku akan mengantarkanmu ke sekolah. Apa nama sekolahmu?"
" Hawking Elementary."
" Aku tahu sekolah itu."
" Terima kasih kalian sudah menolongku."
" Malam ini kamu tidur di sini saja."
Valentina mengangguk.
🧸🧸🧸
Miya dan Isabella bicara sampai larut malam di halaman belakang mansion sambil menikmati udara segar di malam hari. Mereka berbicara bermacam-macam hal seperti mengenang kehidupan kuliah mereka dulu , saat hari pernikahan mereka, dan setelah mereka menikah.
"Kehidupan pernikahanmu dipenuhi oleh hal-hal luar biasa bahkan sampai kamu menjadi korban penculikan mantan istri Fabian yang hidup kembali."
"Benar."
"Bahkan ada orang yang tega menculik bayimu yang baru lahir."
Miya mendesah panjang."Aku masih berharap orang yang menculik anakku segera mengembalikannya kepadaku."
"Semuanya akan berakhir dengan baik. Kamu harus percaya itu. Di mana pun putrimu berada, dia pasti akan baik-baik saja."
Isabella mulai mengantuk dan ia sidah tidak dapat menahan rasa kantuknya.
" Sebaiknya kita tidur saja,"saran Isabella.
" Aku juga sudah mengantuk."
Mereka pergi ke kamar masing-masing. Miya melihat Fabian sudah tidur nyenyak. Pelan-pelan ia membaringkan tubuhnya di samping Fabian.
🧸🧸🧸
Keesokan paginya, Arya dan Nyonya Harper mencari Valentina di sepanjang jalan menggunakan mobil.
" Aku yakin Valentina tidak akan bisa oergi jauh-jauh dari sini,"kata Nyonya Harper.
Nyonya Harper mengemudikan mobilnya pelan-pelan sambil melihat ke kanan dan kiri jalan mungkin saja ia melihat Valentina yang sefang berjalan.
" Kita harus segera menemukan Valentina, karena dia akan segera diadopsi oleh keluarha Baskerville,"kata Nyonya Harper.
Setelah setengah jam mereka mencarinya, mereka masuk ke pom bensin untuk mengisi bensin. Arya turun dari mobil dan masuk ke mini market untuk membeli minuman.
"Apa kalian melihat anak perempuan ini?"tanya Arya kepada penjaga toko.
" Maaf aku tidak melihatnya."
"Terima kasih."
Arya keluar setelah membayar minumanya dan masuk kembali ke dalam mobil.
" Kita harus mencarinya kemana lagi?"tanya Arya.
" Kita pergi ke rumah orangtua angkatnya. Mungkin saja Valentina pergi ke sana."
"Apa Anda yakin Valentina ada di sana?"
" Aku tidak yakin, tapi setidaknya kita sudah mencarinya di sana."
"Tapi bagaimana Valentina bisa sanpai ke rumah orangtua angkatnya? Itu pun kalau dia ada di sana."
"Mungkin saja Valentina mendapatkan tumpangan dari mobil-mobil yang lewat."
Sebuah mobil pick up berhenti di depan sekolah Valentina dan ia turun dari mobil.
"Terima kasih sudah mengantarkanku."
" Semoga kamu bisa bertemu dengan Ibu gurumu."
"Iya. Dan tolong jangan katakan kepada siapa pun kemana Anda mengantarku, karena aku tidak ingin wanita itu menemukanku, karena dia sangat jahat."
" Baiklah. Aku tidak akan mengatakan apa pun.'
Valentina menutup pintu mobil dan ia masuk ke sekolahnya yang dulu dan pergi menuju klub seni peran. Valentina tersenyum melihat Erika berada di sana. [ ]
__ADS_1