
Kehidupannya begitu membosankan, setiap hari ia dihadapkan oleh pelajaran merangkai bunga (Ikebana), upacara minum teh, dan juga menari. Suatu ketika tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang pria asing campuran Amerika –Jepang bernama Edward yang tidak sengaja Hikaru tabrak, setelah ia melarikan diri dari pengawalan ayahnya. Mereka berdua pun saling jatuh cinta pada pandangan pertama dan secara sembunyi-sembunyi mereka bertemu.
Pertemuannya dengan Edward telah memberikan warna dalam kehidupannya. Bahkan Edward melihat sosok Hikaru sebagai Yamato Nadeshiko. Wanita idamannya selama ini. Begitu anggun , cantik, dan juga pintar. Mereka berdua menjalin kasih secara rahasia, karena Hikaru tahu kalau ayahnya begitu membenci orang asing, karena kakak perempuannya dulu pernah menjalin kasih dengan pria asing dan meninggal ditangan kekasihnya, karena perasaan cemburu.
Saat ayahnya mengetahuinya, Hikaru dikurung oleh ayahnya di dalam rumah dan melarangnya untuk menemui Edward lagi. Berkali-kali Hikaru mencoba melarikan diri, tapi usahanya selalu digagalkan oleh ayahnya, bahkan ayah sampai tega memasukkan kekasihnya ke dalam penjara, karena tuduhan menculik Hikaru.
Ayahnya akhirnya mengatur perjodohan Hikaru dengan salah seorang anak kenalan bisnis ayahnya. Hikaru yang mengetahui itu sangat menentangnya dan ia melewatkan hari-harinya dengan bersedih, bahkan Hikaru melakukan aksi mogok makan dan juga minum berharap ayahnya akan menyetujui hubungannya dengan Edward, tapi keinginan Hikaru tidak pernah di dengar. Hari demi hari tubuh Hikaru melemah dan akhirnya tidak sadarkan diri. Hikaru pun dibawa ke rumah sakit, tapi sayang nyawanya tidak tertolong lagi. Edward yang mendengar kabar itu merasa shock dan akhirnya dia bunuh diri dengan cara menggantung diri di sel tahanan. Cerita pun berakhir.
Miya menangis tersedu-sedu setelah pertunjukkan berakhir. Fabian memberikan sapu tangan kepadanya dan menepuk-nepuk pelan punggung istrinya.
" Kenapa ceritanya sedih sekali?"
" Lain kali aku akan mengajakmu drama komedi saja."
Para penonton mulai membubarkan diri dan gedung theater berangsur-angsur kosong. " Ayo kita pulang!"
Miya mengangguk.
" Aku senang hari ini kamu mengajakmu kencan."
Fabian tersenyum lebar dan mulai mengemudikan mobilnya. " Lain kali kita kencan lagi."
Miya mengangguk. Ia memandang keluar jendela mobil. Salju hampir menutup seluruh jalan, atap-atap rumah, dan pucuk-pucuk pohon.
🧸🧸🧸
Valentina duduk di pinggir jendela sambil memandangi bulan purnama. Malam ini dia tidak bisa memejamkan matanya. Dia melompat dari kursinya dan pergi ke kamar orangtuanya. Dia melihat-lihat kamar yang sangat besar dari kamarnya, lalu dia duduk di tempat tidur. Mata beningnya melihat sebuah foto yang di pajang di meja samping tempat tidur.
’’Ayah. Ibu. Ini sudah malam kapan kalian pulang?"
Foto itu di simpannya kembali, lalu matanya menangkap sesuatu di bawah meja TV di antara tumpukan berbagai macam film.’’Wah banyak sekali."
Valentina mulai melihatnya satu persatu dan dia tertarik pada salah satu kaset video yang sedang dipegangnya.’’Ini kan drama yang akan dipentaskan oleh Bu guru Roberts."
Valentina cepat-cepat menyalakan TVnya. Ia terlihat serius sekali ketika melihat pertunjukan drama Gina dan lima pot biru.’’Siapa yang memerankan Gina ya? Bagus sekali."
Dilihatnya kembali tempat kaset itu dan di sana tertulis Aine Kerr - Gina’s five blue pots.
"Sepertinya aku pernah mendengar namanya, kapan dan dimana ya?’’
Rin berusaha untuk mengingatnya kembali.’’Ah, waktu itu. Ibu dan kakek pernah membicarakannya. Saat itu sedang hujan besar dan banyak petir , lalu aku pergi ke kamar ibu dan tanpa sengaja aku mendengar mereka bicara."
Ayah, aku menyesal sudah melakukan perbuatan itu pada Aine, seharusnya aku tidak menemuinya dan seharusnya aku tetap berada di rumah. Aku telah mencelakakannya. Saat itu hatiku sedang dibutakan oleh cemburu.
Ssshhh....sudah Emily , kamu tidak perlu menangisi Aine lagi. Kejadian itu sudah lama berlalu dan kamu tidak bersalah atas kejadian yang menimpa mereka. Sekarang tidurlah ini sudah malam!
Ayah secara tidak langsung akulah penyebab kematiannya, jika Jerome tahu aku terlibat atas kematian Aine, pasti dia akan marah padaku.
Emily sebaiknya kamu tidur saja. Kamu sudah sangat lelah, jadi jangan bebani pikiranmu dengan masalah itu lagi
Valentina terpaku sejenak di tempatnya.’’Apa ibu telah berbuat sesuatu yang jahat pada mereka? Tidak...tidak ibu bukan orang jahat, ibu orang baik. Aku percaya itu."
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.’’ Nona Valentina, apa yang sedang dilakukan di sini? Tadi aku tidak menemukanmu di tempat tidur, lalu aku mendengar suara dari kamar Nyonya dan Tuan. Ternyata kamu ada di sini. Ini sudah malam, sebaiknya tidur."
"Baik."
Valentina beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya diantar oleh Mikan.
"Sekarang tidurlah!’’kata Mikan sambil menyelimuti Valentina.
‘’Selamat malam!’’
Seperti biasa sebelum tidur, Valentina membuka kotak musiknya untuk menemaninya tidur. Mikan kembali ke kamarnya.
Pagi harinya ketika Mikan akan mengambil koran dan beberapa surat , dia menemukan sebuah bungkusan berpita perak. Mikan membaca kartu yang terselip di pita.
Untuk Valentina Hunt
Mikan membolak-balik hadiah itu untuk mengetahui siapa pengirimnya.’’Ini dari siapa ya?’’
Mikan membawanya masuk dan langsung menuju kamar Valentina. Hadiah itu diletakkan di meja di samping tempat tidurnya. Valentina masih tertidur lelap dan Mikan tidak tega untuk membangunkannya, kemudian dia membereskan mainan dan pakaian yang berserakan di lantai kamarnya. Valentina menggeliat dan membuka matanya.’’Pagi!"
"Pagi!’’
Valentina melihat sebuah hadiah di samping tempat tidurnya.’’Ini dari siapa?’’tanyanya masih dalam keadaan mengantuk.
"Itu aku tidak tahu dari siapa hadiah itu sepertinya hadiah itu ditujukan untukmu."
Valentina segera membukanya.’’Kotak musik."
"Wah, kotak musiknya sangat bagus,’’komentar Mikan.
Valentina membuka kotak musik itu dan terdengar sebuah alunan musik yang bagus.Selama beberapa saat Valentina memperhatikan setiap detil kotak musik itu.’’Kamu sungguh-sungguh tidak tahu ini dari siapa?’’
"Saya tidak tahu . Saya menemukannya di depan gerbang. Sebaiknya sekarang ganti pakaian dulu. Saya akan menyiapkan makan pagi dulu."
Valentina menutup kembali kotak musik itu dan melompat dari tempat tidurnya.
Seorang pria yang mengenakan pakaian mantel hitam dan bertopi berada disebuah kafe sedang menikmati makan paginya.
’’Pasti dia sudah menerima hadiah ulang tahun dariku. Semoga saja dia suka." Tatapan matanya memancarkan kesedihan dan juga rasa bersalah yang besar.
Emily terbangun di pagi harinya dengan tubuh yang terasa segar. Dia tidak ingat sejak kapan terakhir kalinya dia dapat tidur nyenyak. Suaminya sudah tidak ada di kamarnya, lalu ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8.
"Pagi!’’seru Valentina dan Jerome bersamaan.
" Pagi!"
Emily duduk di meja makan dan mengambil roti lalu mengoleskan selainya.
__ADS_1
"Kamu akan pergi ke kantor?’’tanya Emily.
"Iya, masih ada pekerjaan yang belum aku selesaikan."
" Hari ini kan hari libur. Kamu sudah terlalu banyak bekerja. Ambilah cuti selama beberapa hari dan kita bisa pergi berlibur."
" Aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebelum mengambil cuti."
"Itu bagus. Sudah lama kita tidak berlibur bertiga. "
Mereka makan dengan tenang sampai Jetome selesai makan.’’Aku pergi dulu."
"Hati-hati di jalan!’’
Sopirnya telah siap menunggu di depan rumahnya.’’Pagi Tuan Jerome!"
"Pagi!’’
Mobil yang membawanya segera meninggalkan kediamanannya.
" Lincoln, sebelum ke kantor antarkan aku dulu kesuatu tempat."
"Baik."
Pandangan Jerome terus melihat ke arah luar mobil.’’Berhenti’’katanya tiba-tiba. ‘’Tunggu sebentar ! Aku mau ke toko bunga dulu."
"Baik."
Tidak lama kemudian Jerome membawa satu buket bunga. ’’Jalan !’’perintahnya. Mobil itu terus melaju dan memasuki sebuah bangunan tua dan megah. Dia turun dari mobil, lalu pergi ke halaman belakang bangunan itu. Angin kencang bertiup mengibarkan pakaiannya dan juga rambutnya. Jerome tersenyum.’’Selamat pagi!’’
Ah Tuan Jerome, selamat pagi! Bagaimana kabar Anda?’’
"Baik nyonya Hessel."
"Pasti Anda mau mengunjungi dia bukan ?’’
"Benar. Permisi!’’
Nyonya Hessel menatap kasihan pada Jerome.’’Kasihan dia sepertinya dia begitu sedih setiap kali selesai mengunjungi makam wanita itu,’’gumamnya.
Jerome mengambil vas bunga dan menyimpan bunga yang dibawanya ke dalam vas, lalu meletakannya dekat foto dan Abu Aine.
"Bagaimana kabarmu, Aine?Aku harap kabarmu hari ini baik. Aku membawakanmu bunga Daisy untukmu. Maaf sudah beberapa hari aku tidak datang mengunjungimu. Maaf sudah membuatmu terkena kutukan keluargaku. aku tidak bisa lama-lama ada di sini. Aku akan kembali lagi ke sini. Sampai jumpa Aine!’’
Jerome menghapus air matanya sebelum akhirnya dia pergi. Ia berjalan dengan cepat dan dia segera masuk ke dalam mobilnya. ’’Jalan !’’perintahnya.
🧸🧸🧸
Gilbert memperkenalkan tukang kebun barunya kepada Erika yang seharusnya datang kemarin.
" Ini Archie Morgan dan Archie, ini istriku, Erika."
" Semoga kamu senang bekerja di sini."
" Terima kasih. Sebaiknya saya memulai dengan pekerjaan saya dulu."
" Silahkan!"
Archie pergi ke kebun dan Erika memperhatikannya.
" Bagaimana menurutmu tukang kebun baru kita?"
" Sepertinya dia baik dan meskipun usianya sudah 50 tahunan, dia masih punya semangat untuk bekerja."
" Benar."
Mereka berdua dikejutkan oleh suara bel. Gilbert membuka pintu.
" Nenek," seru Erika.
" Apa Nenek datang sendirian?"
" Iya."
" Kenapa Nenek tidak memberitahu kami akan datang hari ini?"tanya Gilbert.
" Aku ingin memberi kejutan kepada kalian."
" Aku akan mengambilkan minum untuk nenek."
Erika pergi ke dapur, lalu membawa satu gelas air jeruk. Nenek langsung meneguknya sampai habis.
" Maaf aku baru bisa datang sekarang."
" Tidak apa-apa. Bagaimana kabar nenek?"
" Aku baik-baik saja. Dan kalian?"
" Kami juga baik-baik saja."
" Di mana anak kalian?"
" Logan sedang tidur."
" Kapan kita bisa pergi menemui Fabian?"
" Sekarang juga bisa."
" Tunggu apa lagi! "
__ADS_1
Gilbert menyiapkan mobil dan Erika pergi ke kamar Logan. Ia tersenyum melihat anaknya yang terlelap tidur, lalu menggendongnya. Mereka pun pergi menuju Castalia mansion.
🧸🧸🧸
Sesampai di Castalia mansion, kedatangan mereka disambut oleh Fabian.
" Gil, Erika, Nenek," seru Fabian. " Silahkan masuk!"
Mereka semua berkumpul di ruang tamu. Pelayan membawa banyak minuman dan kue-kue.
" Ini suatu kejutan kalian datang."
" Kami datang ke sini mendadak, karena Nenek ingin segera bertemu kalian."
" Fabian, sudah lama tidak bertemu."
" Aku juga. Sepertinya Nenek selalu sehat."
" Di mana Miya?"
" Sebentar lagi Miya turun."
Tak lama kemudian, Miya datang dan senang melihat Nenek lagi.
" Kamu semakin cantik saja,"puji nenek.
" Terima kasih."
" Sudah cukup basa-basinya. Aku akan mencoba membantu kalian mencari keberadaan anak kalian yang hilang, tapi pertama-tama aku butuh barang yang pernah dipakai oleh bayi kalian seperti pakaian, sepatu atau apa pun."
Miya segera mengambil pakaian bayi yang pernah dipakai Caliope di rumah sakit, lalu memberikannya kepada Nenek. Sementara itu Fabian merasa skeptis, kalau cara ini akan berhasil menemukan putrinya.
Nenek mengambil pakaian bayi dari tangan Miya, lalu mendekapnya dengan erat. Nenek mulai memejamkan matanya. Dalam penglihatan Nenek, ada berbagai macam gambaran yang bergantian secara cepat.
Nenek membuka matanya.
" Apa yang terjadi?"tanya Miya dan semua orang sedang menunggu jawabannya.
Nenek menghela napas.
" Caliope masih hidup, jika kalian ingin tahu."
Miya dan Fabian merasa lega.
" Sekarang putriku ada di mana?"tanya Fabian.
" Aku melihat seorang pria memberikan bayi kalian kepada seorang wanita dan wanita itu membawa Caliope pergi."
" Lalu?"kata Fabian penasaran.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa melihat kemana wanita itu pergi. Ada awan hitam yang menghalangi penglihatanku."
Fabian dan Miya merasa kecewa.
"Awan hitam?"kata Erika.
" Iya. Sepertinya di sekitar Caliope ada sihir hitam yang mengelilinginya."
" Aku tidak mengerti. Maksud Nenek ada sihir hitam yang dipasang oleh seseorang begitu,"kata Erika.
" Seperti itu."
" Dengan kata lain pria yang menculik putriku adalah seorang penyihir. Ini sudah di muar batas. Cukup hentikan omong kosong ini. Di dunia ini tidak ada sihir atau apa pun itu," kaya Fabian.
" Aku mengerti, jika kamu tidak mempercayainya," kata Nenek. " Sihir ada bagi orang yang mempercayainya."
" Meskioun Nenek tidak tahu di nana putriku, setidaknya aku tahu Caliope masih hidup,"kata Miya.
" Caliope akan baik-baik saja. Kalian pasti akan bertemu kembali."
Miya tersenyum lemah.
" Sudah saatnya aku pulang," kata Nenek.
" Terima kasih Nenek mau datang jauh-jauh untuk menemui kami,"kata Miya.
" Aku senang bisa membantumu. Selamat jumpa!"
" Sampai jumpa!"
Gilbert, Erika, dan Nenek meninggalkan Castalia mansion. Di mobil Nenek duduk ternenung.
" Ada apa?"tanya Erika.
" Tidak ada apa-apa hanya saja tadi aku melihat seorang anak dalam kepungan api."
"Apa?"
" Nenek melihat orang berada dalam kepungan api."
" Tapi Nenek bilang tadi tidak bisa melihat di mana Caliope berada."
" Itu memang benar, tapi sesaat aku bisa melihat itu.
" Kenapa Nenek tadi tidak memberitahu Fabian dan Miya?"
" Aku tidak ingin membuat mereka cemas, lagi pula apa yang aku lihat belum terjadi kepada anak itu."
Mereka pun terdiam. Gilbert yang sedang mengemudi pun tidak bisa berkata apa pun. Ia juga sebenarnya sama seperti Fabian tidak terlalu mempercayai adanya aemacam sihir atau ramalan. Semua itu hanya berada dalam sebuah dunia fiksi, tapi setelah apa yang terjadi di depan matanya mau tidak mau ia harus mempercayainya. Gilbert mendesah berkali-kali. Di luar salju kembali turun dan jalanan semakin licin. Ia segera sampai di rumah dan beristirahat. [ ]
__ADS_1