My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S2): Musim Semi


__ADS_3

25 tahun yang lalu


Akhir bulan Maret cuaca tidak begitu dingin. Sisa-sisa musim dingin sudah tidak terasa lagi. Rumput-rumput mulai tumbuh di sepanjang jalan. Tunas-tunas bunga dan pohon mulai tumbuh.


Udara yang sangat sejuk dan semilir angin yang berhembus membuat suasana terasa sangat menyegarkan. Musim semi adalah langkah baru bagi Fabian. Tepatnya awal bulan April, ia akan mngadakan upacara kelulusan sekolahnya. Upacara pelepasan murid kelas 3 SMU bukanlah hal yang menyenangkan, karena ia di sana akan banyak melihat wajah-wajah sedih dan hampir semua orang menangis. Akhirnya upacara pelepasan berakhir dan semakin lama suara tangisan murid semakin terdengar keras.


"FABIAAAAN."


Gilbery langsung merangkul temannya itu dari depan dan Fabian berusaha untuk lepas dari rangkulan Gilbert.


"Kamu ini apa-apaan. Lepaskan aku!’’


"Ah kamu ini. Aku hanya ingin lebih dekat denganmu sebentar lagi kita akan berpisah dan kita akan menjalani kehidupan kita masing-masing. Selamat! Kamu telah menjadi lulusan terbaik sekolah ini. Para guru sangat kagum dan bangga padamu. Kamu memang murid yang sangat pintar."


"Terima kasih,’’kata Fabian dingin.


‘’Selamat kamu juga sudah diterima di universitas Columbia."


‘’Bagaimana denganmu? Apa kamu masih berencana akan kuliah di Inggris?’’


‘’Tentu saja. Aku sudah diterima disalah satu universitas di sana."


‘’Baguslah dan selamat untukmu."


‘’Terima kasih."


Gilbery merangkul pundak Fabian dan berjalan menuju kelas. Dalam perjalanan menuju ke sana mereka berdua dihadang oleh sejumlah murid perempuan di depan pintu masuk sekolah. Mereka langsung menarik-narik badan Fabian dan Gilbert. Mereka berdua adalah murid paling populer di sekolah mereka.


‘’Fabian, aku ingin kancing nomor dua punyamu,’’kata salah seorang murid perempuan.


‘’Aku juga,’’kata mereka serentak.


‘’Kenapa aku harus memberikannya pada kalian? Aku tidak mau,’’ kata Fabian dingin.


Para murid perempuan berusaha melepaskan kancing seragam Fabian dan Gilbert, berlomba untuk mendapatkan kancing nomor dua dari mereka. Murid-murid perempuan mulai mencabut kancing seragam sekolah secara paksa membuat Fabian dan Gilbert kesal.


Di kejauhan seorang anak perempuan dengan berpakaian merah dan mengenakan topi merah sedang memperhatikan mereka dengan tatapan keingintahuan.


‘’Kancing nomor dua telah hilang,’’kata salah satu murid perempuan.


Mereka mencari kancing itu ke sana kemari. Fabian melihat kancingnya yang terjatuh, lalu dengan cepat-cepat dia menyembunyikan di bawah kakinya, kemudian secepat kilat ia mengambilnya. Fabiab menyadari seorang anak perempuan sedang memperhatikannya dan pandangan mereka bertemu .


Fabian mendekati anak perempuan itu dan Gilbert memperhatikannya yang masih di kelilingi murid perempuan.


‘’Ini untukmu."


Fabian menyerahkan kancingnya pada anak perempuan itu dan dia menatap Fabian dengan heran.


‘’Untukku?’’


‘’Iya untukmu. Aku tidak ingin memberikan itu pada mereka. Mereka berisik sekali,’’kata Fabian sambil mengedipkan matanya.


‘’Terima kasih."


Fabian mengusap-usap kepala anak perempuan itu dan tersenyum lembut kepadanya.


‘’Kamu dari tadi terus memperhatikan kami ya?’’


"Iya."


‘’Siapa namamu anak manis?’’


‘’Namaku...’’


Tiba-tiba Gilbert menarik Fabian dengan terburu-buru dan segera membawanya menjauh dari kerumunan murid perempuan. Fabian melihat ke belakang dan anak perempuan itu masih berdiri di sana. Mereka berdua kemudian pergi ke atap sekolah dan menyaksikan  murid perempuan yang sedang sibuk mencari kancingnya. Fabian tidak lagi melihat anak perempuan tadi, lalu mereka berbaring sambil menatap langit biru.


 "Fabisn, lihatlah dirimu berantakan sekali."


"Kamu juga. Sepertinya mereka sudah berhasil mencabut semua kancingmu."


"Kamu juga. Mereka benar-benar keterlaluan sekali. Seharusnya mereka tidak memaksa untuk memberikan kancing seragamu. Kenapa mereka harus percaya kalau mendapatkan kancing nomor dua dari seragam sekolah dari orang yang disukai adalah jodoh yang sudah  ditakdirkan.Apa kamu percaya itu?’’


"Tentu saja tidak. Aku tidak percaya mitos seperti itu."


"Tapi murid-murid perempuan itu mempercayainya mungkin, karena mereka menyukaimu. Selama kamu sekolah di sini sudah banyak sekali surat cinta yang diberikan mereka kepadamu, tapi kamu tidak mempedulikannya. Kamu langsung membuangnya ketempat sampah tanpa dibaca terlebih dahulu. Kasihan mereka sudah susah payah menulisnya."


"Aku tidak ada minat dengan itu."


"Kamu memang orang yang dingin dan tidak punya perasaan. Di antara murid laki-laki di sekolah ini yang dapat bertahan sebagai temanmu hanya aku seorang. Semuanya menghindar darimu karena mereka takut. Kamu juga selalu menatap murid perempuan dengan tatapan dinginmu. Sebenarnya penampilan dalammu tidak seperti itu.Kamu orang yang baik dan juga lembut.Aku tahu kamu memasang wajah dingin dan seram  hanya untuk tidak memperlihatkan kelemahanmu. Sebenarnya kamu orang yang sangat kesepian dan butuh teman."


"Kamu berisik sekali."


"Kehidupan SMUmu hambar sekali menurutku. Setiap pagi kamu pergi ke sekolah dan duduk dikursimu dan yang kamu lakukan adalah belajar dengan sangat rajin. Kamu tidak pernah bersosialisasi dengan teman-teman lainnya,tidak pernah ikut kegiatan klub. Kamu menutup hatimu untuk orang lain, tidak pernah menjalin hubungan asmara. Selain itu kamu juga sangat patuh pada perintah ayahmu dan tidak pernah melanggarnya. "


" Itu demi kesuksesanku di masa depan. Aku tidak tahu apa artinya cinta, karena belum ada satu wanita pun yang membuatku jatuh cinta dan yang dapat kulakukan sekarang hanya menjalani hidupku. Terima kasih sudah mau menjadikan aku sebagai sahabatmu."


BRAAAKKK!


Mereka dikagetkan oleh pintu atap sekolah yang tiba-tiba terbuka dan mereka melihat ke arah pintu .

__ADS_1


"Rupaya kanu, Clarissa. Kamu menganggu kami saja,’’kata Gilbert sambil memandanginya dengan wajah kesal.


"Aku sudah mencari kalian kemana-mana rupanya kalian ada di sini sedang enak-enakan tidur."


Clarissa berdiri di depan kami dan melirik ke arah Fabian yang terlihat tidak peduli dengan kedatangannya. Fabian masih asyik menatap langit.


"Ada keperluan apa mencari kami?’’


"Sebentar lagi pak wali kelas kita akan berbicara mengenai rencana liburan kelas kita, jadi kalian harus segera pergi ke kelas."


"Baiklah. Sebentar lagi kami akan menyusul ke sana."


Clarissa langsung memasang wajah galak pada mereka berdua sambil berkacak pinggang.


"Kalian harus ikut denganku sekarang juga."


Gilbert dan Fabian bangun dan mereka mengikutinya masuk kelas. Di dalam kelas murid kelas 3 A sudah berkumpul. Fabian, Gilbert, dan Clariss duduk di kursi masing-masing. Sementara itu di depan gedung sekolah, murid perempuan masih mencari kancing seragam Fabian.


"Aku menyerah sepertinya kancing itu sudah hilang,’’kata salah satu murid perempuan.


" Aku ingin sekali memiliki kancing itu. Siapa tahu Fabian tiba-tiba menyukaiku."


"Jangan bermimpi kamu. Mana mungkin dia akan menyukaimu. Ratu kecantikan sekolah kita, Clarissa saja ditolak olehnya. Padahal dia sangat cantik dan juga pintar."


"Benar juga. Eh, menurutmu tipe wanita yang disukai oleh Fabian itu seperti apa ya? ‘’


"Itu mana aku tahu."


"Aku lihat Fabian selalu menolak setiap kali ada wanita yang menyatakan cinta kepadanya. Dia sudah banyak membuat hati para wanita di sini menangis termasuk diriku. Betapa beruntungnya wanita yang menjadi kekasihnya."


"Mungkin dia tidak ada minat dengan wanita."


"Mungkin juga. Sebaiknya kita masuk saja."


Satu persatu mereka berhenti mencari kancing dan akhirnya mereka semua masuk kedalam gedung sekolah.


💔💔💔


Davy Jhonson, wali kelas 3 A masuk ke dalam kelas dan mengedarkan pandangan keseluruh muridnya.


"Selamat siang!"


"Siang!"


"Pertama-tama saya ingin mngucapkan selamat pada kalian, karena kalian sudah lulus semua. Kalian anak baik dan pintar. Aku senang sekali bisa menjadi wali kelas kalian dan sangat bangga pada kalian."


Mr. Jhonson meneteskan air mata, karena selama 3 tahun berturut-turut dia menjadi wali kelas 3 A dan sudah menganggap murid-muridnya seperti anaknya sendiri dan para murid pun mulai meneteskan air mata, karena mulai besok mereka tidak akan bersekolah di sini lagi dan mereka harus berpisah dengan wali kelas yang mereka sayangi dan disukai. Bagi mereka Mr. Jhonson adalah guru sekaligus wali kelas yang sangat baik. Mereka juga sudah menganggapnya sebagai ayah mereka sendiri.


Mr. Jhonson dan para murid menangis semakin lama tangisan mereka semakin keras. Ia membuang ingus di saputangannya dan menghapus air matanya dengan tangannya. Setelah para murid berhenti menangis dan suasana kelas kembali jadi hening, ia kembali berbicara.


"Liburan kelas kita akan dilaksanakan sesuai jadwal yaitu jumat depan. Kalian harus kumpul jam 8 pagi di bandara, kadi nikmati liburan kalian di Los Angeles sebaik mungkin, karena liburan ini adalah untuk perpisahan kelas kita. Bawa barang kalian seperlunya. Apa kalian mengerti?’’


"Kami mengerti,’’jawab mereka bersamaan.


"Bagus."


Mr. Jhonson melihat ke arah Fabian yang sejak dari tadi tatapan matanya terus melihat ke arah luar jendela.


"Fabian...Fabian."


Gilbert yang duduk di belakang Fabian menepuk bahunya.


"Fabian, Mr. Jhonson memanggilmu."


Tapi Fabian tidak  bergeming, dia tetap menatap ke arah luar. Mr. Jhonson sudah terlihat kesal menatap Fabian.


"Fabian Baskerville,"teriaknya.


Fabian terperanjat dan langsung berdiri.


"A...ada apa pak?’’


"Sebenarnya apa yang sedang kamu lihat di luar sana? Apa ada yang menarik? Dari tadi aku perhatikan kamu tampak melamun dan tidak memperhatikan yang aku ucapkan tadi."


Fabian menundukan kepala dan pipinya merona merah, karena malu.


"Maaf."


"Tidak baik melamun di siang hari. Kamu masih muda jangan sering melamun."


"Baik."


"Fabian, aku akan menjadikan kamu sebagai ketua rombongan tur kita di Los Angeles."


"Eh..tapi saya....’’


"Tidak ada orang lain yang cocok selain kamu. Kamu sudah pernah pergi ke sana dan aku yakin kamu sudah hafal daerah sana."


"Dari mana Anda tahu saya sudah mengenal daerah sana?’’

__ADS_1


"Dari Gilbert. Salah satu kerabatmu ada yang tinggal di sana, bukan?"


"Benar, tapi sudah lama aku tidak ke sana lagi."


Fabian langsung menoleh ke belakang menatap Gilbert dengan kesal, sedangkan Gilbert hanya tersenyum melihat kekesalan di wajah Fabian.


"Baiklah."


"Bagus. Aku tahu pasti kamu akan menerimanya. Sedangkan untuk wakil ketua rombongan, yaitu Clarissa Glimer.


"Baik."


"Bagus. Sekarang kalian boleh pulang dan jaga kesehatan kalian."


"Baik,"kata mereka serentak.


Murid-murid keluar kelas tinggal mereka bertiga yang masih ada di dalam kelas.


"Fabian, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?’’


"Tidak Aku harus segera pergi ke perusahaan ayahku dan ayahku sedang menungguku di sana."


"Yang ada dipikiranmu selalu pekerjaan ayahmu di kantor. Sekali-kali hilangkan pikiran itu. Bersenang-senanglah selagi kamu bisa melakukannya."


"Kamu kan sudah tahu. Aku tidak bisa melakukannya. Waktuku hanya untuk bekerja di perusahaan ayahku. Dia ingin menjadikanku sebagai penerusbya , jadi mulai dari sekarang aku harus lebih mengenal perusahaan ayahku."


"Terserah kamu saja."


"Clarissa, bagaimana kalau kita berdua saja pergi jalan-jalan?’’


"Maafkan aku juga tidak bisa."


"Fabian, tunggu aku!’’


"Aaah. Ternyata dia masih suka dengan Fabian,"gumam Gilbert.


Fabian berjalan dengan sangat cepat dan Clarissa harus setengah berlari untuk dapat menyusulnya.


"Fabian, kita pulang sama-sama."


Fabian tidak mengatakan apa pun dan terus berjalan dengan cepat sehingga Clarissa tertinggal di belakang. Dia menatap Fabian dari belakang dengan pandangan kesal. Mereka berdua berdiri di depan pintu masuk sekolah. Clarissa kembali menatap wajah tampab Fabian yang tertimpa sinar matahari. Mobil sedan hitam memasuki halaman sekolah dan berhenti di depan pintu masuk.


"Tunggu!’’


Clarissa menahan Fabian dengan mengenggam lengannya.


"Sebelum kamu pergi ada yang ingin aku katakan padamu."


"Cepat katakan. Aku harus segera pergi."


"Fabian meskipun kamu sudah menolakku, aku masih mencintaimu. Kamu adalah cinta pertamaku . Aku tidak akan pernah lupa perjumpaan pertama kita di sekolah ini. Kamu sudah sangat baik padaku. Terima kasih. Aku senang bisa mengenalmu."


"Maaf. Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku juga senang bisa mengenalmu. Sekarang tolong lepaskan tanganku."


"Oh..ma..maaf."


Fabian masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan sekolah. Clarissa memandang kepergian Fabian dengan tatapan marah.


"Lihat saja Fabian! Aku akan membuatmu mencintaiku dan kamu akan menjadi milikku. Aku tidak akan melepaskan calon suami kaya raya sepertimu." Clarissa tersenyum.


Selama dalam perjalanan Fabian duduk melamun sambil melihat ke arah luar jendela mobil. Musim semi telah tiba. Tunas-tunas baru bermunculan dan bunga-bunga sudah mulai bermekaran. Anak-anak sedang asyik bermain di lapangan terbuka. Dia tidak begitu ingat kapan dia bermain seperti anak-anak lainnya sewaktu dia masih kecil. Lamunannya dibuyarkan oleh suara telepon.


"Halo ayah, aku sedang dalam perjalanan kesana. Sebentar lagi aku tiba. Aku akan segera menemui ayah di ruang rapat."


Setelah menutup teleponnya Fabian menyandarkan tubuhnya di kursi dan memejamkan matanya.


"Tuan, kita sudah tiba."


Fabian membuka mata dan melihat ke sekeliling ternyata sudah ada di depan gedung Baskerville Industries. Fabian melangkah masuk dengan langkah cepat. Dia menyadari kalau dirinya sedang dibicarakan oleh para pegawai ayahnya. Ia mendengar kasak kusuk mengenai dirinya. Di depan ruang rapat, Fabian merapikan dirinya dan mengambil nafas panjang kemudian mengetuk pintu, lalu masuk dan memberi salam pada anggota rapat.


Fabian duduk di sebelah ayahnya dan mendengarkan dengan seksama salah satu anggota rapat menjelaskan tentang rencana perusahaan untuk membuka cabang perusahaannya di Jepang. Setelah  satu jam akhirnya rapat selesai. Fabian mengikuti ayahnya ke kantor.


Fabian duduk di sofa dan mengambil sebuah majalah dan membacanya, sedangkan Andrew langsung membaca beberapa dokumen yang sudah menumpuk di mejanya.


"Fabian, selamat kamu sudah lulus. Aku bangga padamu. Kamu sudah menjadi lulusan terbaik disekolahmu."


"Terima kasih,’’kata Fabian tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang sedang dibacanya.


"Bagaimana rencana liburanmu ke Los Angeles?’’


"Semuanya telah siap."


"Kamu harus hati-hati di sana. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu di sana."


"Aku akan menjaga diriku. Ayah tidak perlu khawatir."


"Bagus."


Andrew kemudian mengajak Fabian berkeliling perusahaan selama satu jam untuk menunjukan segala kegiatan dan permasalahan yang sedang berlangsung di perusahaannya. Andrew juga memperkenalkan Fabian pada semua pegawai perusahaannya.

__ADS_1


Ini pertama kali ayahnya memperkenalkan secara resmi kepada para pegawainya satu persatu-satu dan mengajak Fabian berkeliling. Biasanya Andrew hanya mengajak Fabian dalam kegitan rapat dan mempelajari dokumen-dokumen penting perusahaan dan bertemu dengan para klien ayahnya. [ ]


__ADS_2