My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
44. Permintaan Miya


__ADS_3

Miya yang baru saja menuruni tangga mendengar Edgar sedang berbicara dengan seseorang di depan pintu. Gadis itu terkejut ketika mendapati Joshua Adrian ada di depan mansion. Pria itu tersenyum kepadanya membuat Miya salah tingkah. Joshua mendekatinya dan menatap gadis itu dengan lekat.


"Aku datang ke sini untuk menemuimu. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.''


"Kebetulan kamu juga datang karena, aku juga ingin bicara denganmu.''


"Sebaiknya kita pergi ke ruang keluarga,''kata Joshua dengan nada tegas. Miya mengikutinya dari belakang . Pria itu langsung duduk di sofa yang menghadapi perapian. Miya duduk di sampingnya. Suasana di ruangan itu kembali hening. Miya merasa kikuk hanya berdua saja di ruangan itu. Gadis itu mengamati pria di sampingnya menunggu pria itu bicara terlebih dahulu. Ia melihat Joshua menghembuskan napas panjang, lalu menatap Miya.


"Jadi apa keputusanmu mengenai lamaranku satu bulan yang lalu? Aku menunggu jawabanmu tapi kamu tidak pernah menghubungiku sekali pun.''


"Maaf. Aku masih tidak percaya kamu mau menikah denganku.''


"Sekarang kamu harus percaya, karena aku serius.'' Joshua semakin mendekatkan wajahnya ke arah Miya sehingga gadis itu dapat mencium aroma kayu-kayuan maskulin dari tubuhnya. Miya langsung berdiri menjauhinya sambil berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.


"Aku...aku tidak bisa menikah denganmu. Maaf.''


"Jadi itu jawabanmu.''


"Kenapa kamu bersikeras ingin menikah denganku?''


Joshua tersenyum simpul.''Aku rasa, aku mulai menyukaimu.''


Miya menyiptikan matanya dan memandang curiga kepadanya.''Pasti ada alasan lainnya, kan. Mana mungkin kamu tiba-tiba menyukaiku.''


Joshua berdiri dan kedua tangannya di masukan ke dalam saku celananya, lalu ia pergi menuju ke arah jendela yang menghadap langsung ke arah kolam ikan yang cukup besar.''Sebelum Fabian menghilang saat aku selesai berkuda mengelilingi desa, dia memintaku untuk menjagamu, jika sesuatu terjadi dengannya. Awalnya aku menolaknya, tapi Fabian memaksaku untuk memenuhi permintaannya. Dia bilang, kamu gadis yang sangat baik dan layak dicintai. Fabian tidak ingin kamu sedih jika sesuatu terjadi dengannya, oleh karena itu Fabian ingin aku melindungimu dan menjagamu.''.Joshua membalikkan badannya kembali menatap Miya yang masih berdiri ditempat asalnya.


"Jika itu alasannya aku tidak bisa menikah denganmu meskipun itu permintaan Fabian.''.Joshua berjalan mendekati Miya.


"Tapi aku sudah berjanji kepadanya.''


"Tapi tidak harus menikah denganku.''


"Jadi kamu masih tetap dengan keputusanmu. Kamu tidak ingin menikah denganku.''


Miya mengangguk.''Iya. Aku menolaknya,''jawabnya tegas.


"Baiklah . Aku mengerti. Sepertinya kamu sudah menutup hatimu untuk pria lain.''


"Maaf.''


"Kamu tidak perlu minta maaf kepadaku. Jika suatu hari kamu nanti merubah keputusanmu. Aku masih mau menerimamu sebagai istriku.''Joshua langsung pergi setelah mengatakan itu, meninggalkan Miya dengan kegelisahan hatinya.


🎵🎵🎵


Pagi-pagi sekali Fabian telah selesai membereskan semua pakaiannya ke dalam koper begitu juga pakaian Raina. Ia sudah siap kembali ke New York dan akan kembali bertemu dengan keluarganya juga Miya. Fabian membantu Raina berpakaian .


"Daddy, kita akan pergi kemana?''


"Kita akan bertemu dengan kakek dan nenek.''


Raina terlihat sangat senang.''Horeeee....''


"Raina akan bertemu dengan kakek dan nenek untuk pertama kalinya bukan? Pasti mereka akan sangat senang bertemu dengan Raina.''


"Raina sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mereka.''Fabian tersenyum senang menanggapi celotehan Raina.


"Sudah selesai. Kita pergi sekarang.'' Fabian mengulurkan tangannya pada Raina. Tangan mungilnya menyambut tangan Fabian.


"Mommy tidak ikut?''


"Tidak. Mommy harus kerja keluar kota.''


🎵🎵🎵


Keesokan malamnya saat semua anggota keluarga sedang bersantap malam, Blinda dan Cedric menyerbu masuk ke ruang makan membuat orang yang ada dalam ruang makan terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba, lalu di belakangnya muncul Fabian bersama dengan seorang gadis kecil.


"Selamat malam semuanya!''sapa Fabian riang.


Semua orang yang ada disana terkejut terutama Miya. Wajahnya terlihat pucat. Tangannya yang sedang memegang pisau dan garpu ikut terjatuh ke atas piring. Matanya membelalak lebar. Andrew, Rosalie, Adelina, dan Joshua juga beraksi sama dengan Miya. Tanpa sadar Rosalie meninggalkan tempat duduknya dan mendekati Fabian . Wanita itu menyentuh wajah pria itu."Apakah kamu benar-benar Fabian?''bisik ibunya. Fabian menangkap tangan ibunya.


"Benar ini aku. Aku sudah kembali. Maaf sudah lama aku meninggalkan kalian.''


"Selama ini kamu kemana saja ?''

__ADS_1


"Maafkan aku. Ceritanya sangat panjang.''


"Syukurlah kamu telah kembali dengan selamat.''Rosalie memeluk Fabian dengan haru dan menangis dalam pelukan putranya.


"Akhirnya kamu kembali, nak. Selamat datang kembali! ''


Andrew pun ikut memeluk Fabian yang sudah sejak dari tadi berada di belakang istrinya.''Kami merindukanmu."


"Ayah.'' Fabian menatap satu persatu orang di sana. Ada adiknya yang sedang menangis, Miya yang masih memandangnya dengan terkejut dan ada juga Joshua yang menatapnya terkejut sekaligus tidak percaya. Sekali lagi Fabian melihat ke arah Miya wanita yang dicintainya. Tatapan mereka bertemu dan Fabian tersenyum kepadanya, lalu gadis itu menunduk malu.


Miya merasa senang Fabiannya telah kembali. Jantungnya berdebar semakin tidak karuan, ketika dilihatnya Fabian tersenyum kepadanya. Tatapannya masih membuatnya panas dingin. Setelah empat bulan tidak bertemu, senyumannya selalu dapat membuat jantungnya berdebar-debar. Miya sungguh tidak percaya pria yang dicintainya telah kembali .Ia ingin sekali berlari ke dalam pelukannya merasakan kembali kehangatan tubuh pria itu di tubuhnya, tapi ia merasa malu, jika ia melakukannya sekarang. Ia hanya bisa menahan keinganannya itu.


"Fabian siapa anak ini?''tanya ibunya yang membuat mereka yang berada di ruangan itu sedikit terkejut, karena keberadaanya baru disadari oleh mereka.


"Ini Raina. Aku akan menceritakan siapa Raina sebenarnya kepada kalian.'' Fabian menatap satu persatu setiap orang yang ada di ruang makan. Ia melihat wajah penasaran dari anggota keluarganya, tapi ia tidak bisa menceritakannya di sini sekarang.


Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga. Tapi Fabian terlebih dahulu menculik Miya ke kamarnya dan Fabian langsung memeluknya erat-erat seperti tidak ingin lagi kehilangan gadis tercintanya itu dan menumpahkan kerinduannya selama empat bulan ini. Ia mengecup kepala Miya berkali-kali dan Miya pun membalas pelukan Fabian sama eratnya dengan perasaan bahagia.


Miya begitu merindukan Fabian. Rasanya seperti mimpi dapat kembali bersamanya. Fabian melonggarkan pelukannya dan menatap wajahnya. Kehangatan yang memabukkan membanjiri seluruh tubuhnya. Miya begitu seksi, cantik dan menggairahkan. Gadis itu terhenyak melihat sorot teduh , lembut dan penuh cinta itu. Miya menahan napas dan berusaha tetap tenang saat menatapnya.


"Kamu semakin cantik dan dewasa.''


"Dan kamu semakin tua saja, tapi masih terlihat tampan,''tukas Miya, lalu gadis itu tersenyum dan Fabian pun ikut tersenyum.


"Tapi meskipun begitu kamu mencintaiku.''


"Siapa bilang aku masih mencintaimu.''


"Aku bisa melihatnya dari matamu kalau kamu mencintaiku jangan menyangkalnya.''Miya memukul dada Fabian dengan kedua tangannya.


"Kamu jahat selama empat bulan ini kamu pergi kemana saja. Kenapa kamu meninggalkanku?Bukannya kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkanku?''Miya membenamkan wajahnya di dada Fabian, lalu terisak menangis.


"Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud meninggalkan dirimu. Sungguh.'' Fabian mengusap-usap punggung Miya berusaha menenangkan gadisnya itu.''Mulai sekarang aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Tidak pernah karena aku sudah tidak sanggup berpisah lagi denganmu.''


Miya tersenyum disela isakan tangisnya, dan mendongkakkan wajahnya yang masih basah oleh air mata. Fabian mengeringkan wajah Miya dengan usapan jarinya.''Jangan menangis lagi! Aku tidak ingin kamu menumpahkan air mata lagi untukku.''


Fabian mengecup bibirnya sangat lembut dan penuh perasaan membuat gadis itu serasa melayang. Hangatnya bibir Fabian dapat kembali dirasakannya.'' Miya,''bisik Fabian di bibirnya dengan suara parau. Sekali lagi Fabian mengecupnya dengan lembut.''Ayo sebaiknya kita menemui mereka. Aku akan menjelaskan semuanya kepada kalian.''


Fabian mengenggam tangan Miya dengan erat.''Apa pun yang terjadi kamu harus tetap percaya padaku, karena aku tidak akan pernah mengkhianati cintamu padaku.''


Wajah Miya terlihat pucat ia tidak percaya kalau Fabian telah memiliki anak dengan Jeanette. Miya tidak ingin mempercayai hal itu. Tidak ingin. Matanya sudah memanas ingin menangis, tapi Miya menahannya. Dirasakannya Fabian semakin erat mengengenggam tangannya.


"Apaaa...''teriak ibunya yang memecahkan keheningan yang terjadi saat itu ketika Fabian telah selesai bercerita.''Bagaimana kamu bisa sampai punya anak dengan pelayan itu. Ibu tidak bisa menerimanya. Pasti kamu bohongkan ?''


"Maaf. Tapi itu benar. Raina adalah putriku.''Seketika itu tubuh ibunya menjadi lemas hampir terjatuh tapi suaminya menahan tubuhnya dengan sigap.


"Raina lahir ketika aku sudah menikah dengan Clarissa."


Fabian menghampiri ayahnya."Kenapa ayah tidak pernah memberitahuku,kalau Jeanette datang ke sini untuk memberitahukan kehamilannya kepadaku."


"Maafkan ayah. Sejak awal kamu menjalin kasih dengannya, ayah tidak menyetujui hubungan kalian. Jeanette bukan wanita baik-baik. Ayah menyuruh seseorang menyelidikinya dan dia bekerja sampingan di kelab malam dan berkencan dengan banyak pria. Makanya ayah tidak percaya dia mengandung anakmu."


Fabian yang mendengar penjelasan ayahnya sangat terkejut. Selama ini ia mengira Jeanette adalah wanita baik-baik .


"Raina benar-benar anakku. Aku sudah melakukan tes DNA."


"Benarkah?"


"Benar."


"Kakak jahat. Kenapa kakak harus punya anak dengan pelayan jahat itu. Aku tidak bisa menerimanya sebagai keponakanku. Tidak akan pernah,''teriak Adelina yang begitu nampak sangat kecewa kepada kakaknya.


Seakan tersadar Fabian tidak melihat Raina ada di ruangan ini."Dimana Raina?''


"Dia bersama dengan Blinda di kamarnya,''jawab Cedric .


Tiba-tiba Miya melepaskan diri dari Fabian dan berlari keluar.''Miya...''panggilnya berusaha untuk mengejarnya, tapi Cedric menghalanginya dan menatap tajam pada Fabian.


"Biarkan dia sendiri! Miya butuh untuk menenangkan dirinya setelah semua yang terjadi."


"Aku akan bicara dengannya nanti."


Fabian kembali duduk dan merasa bersalah kepada keluarganya terutama kepada Miya. Gadis itu kembali menangis, karena dirinya. Joshua hanya memandang kejadian ini dengan sikap berdiam diri. Miya mengurung diri di kamarnya. Ia menangis . Tubuhnya berguncang-guncang dan dalam sekejap bantalnya yang menutupi wajahnya telah basah. Ia sedih, kecewa dan marah pada Fabian.

__ADS_1


🎵🎵🎵


Keesokan harinya Miya terbangun dengan mata sembab, semalaman ia menangis tanpa henti sampai ia kelelahan dan akhirnya terlelap tidur. Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan Fabian muncul di balik pintu itu. Miya langsung merapikan dirinya .''Maafkan aku. Aku hanya ingin kamu tahu kalau kamu masih wanita yang aku cintai dan aku tidak pernah mengkhianatimu. Selama aku tinggal dengan Jeanette, aku tidak sekalipun tidur dengannya.'' Miya memandang Fabian mencari-mencari kebenaran di mata pria itu.


"Sekarang pergilah dari kamarku. Saat ini aku perlu menenangkan hati dan pikiranku. Aku perlu mencerna semua ini dengan baik.'' Miya memalingkan wajahnya. Fabian meninggalkan gadis itu di kamarnya dengan perasaan sedih.


Miya berjalan-jalan di taman untuk mencari udara segar. Ia duduk di ayunan dan dari kejauhan Miya melihat Blinda sedang bermain dengan Raina. Miya mendengar Raina terus menanyakan ibunya sambil menangis. Anak itu adalah anak Fabian dan anak itu tidak bersalah. Dia lahir ke dunia bukan karena keinginannya. Anak itu butuh kasih sayang dari orangtuanya walaupun sedih Miya sudah memutuskan apa yang akan di lakukanannya terhadap dirinya dan juga Fabian demi kebahagiaan anak itu.


Miya pergi meninggalkan taman dan mencari Fabian. Ia menemukan pria itu berada di perpustakaan tempat yang selama ini menjadi kesukaannya untuk berdiam diri.''Fabian, aku ingin berbicara denganmu.'' Fabian langsung berdiri mendekati Miya dan memegang tangannya, menyuruhnya duduk.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?''tanyanya dengan lembut.


"Aku ingin kamu menikah dengan Jeanette.''


"Apaaa...,''teriaknya tidak percaya.


Miya menelan ludahnya dengan susah payah walaupun hatinya sakit, tapi ia harus tetap mengatakannya.''Menikahlah dengannya!''


"Aku tidak bisa, karena aku tidak mencintainya. Aku mencintaimu. Wanita yang seharusnya aku nikahi adalah kamu bukan Jeanette.''


"Tapi dia adalah ibu dari anakmu.''


"Aku tahu itu. Aku akan bertanggung jawab terhadap Raina tapi aku tidak bisa menikahi ibunya.''


"Raina butuh kalian berdua. Dia butuh kasih sayang dari kalian berdua.''


"Aku akan memberikan kasih sayangku kepadanya tanpa harus aku menikahi ibunya,''kata Fabian bersikeras.


"Tapi Raina butuh keutuhan sebuah keluarga dan hanya kalian yang bisa memberikannya.''


"Bagaimana denganmu? Apa kamu sudah tidak ingin menikah lagi denganku?''


Miya memberanikan menatap Fabian.''Tidak,''jawab Miya dengan tegas meskipun hatinya terasa sangat sakit.


"Aku tidak percaya. Kamu masih mencintaiku.''Fabian mencengkeram bahu Miya.


"Aku mohon menikahlah dengan Jeanette . Ini permintaan terakhirku dan aku juga ingin menyelamatkan reputasimu dari masyarakat. Apa jadinya nanti ketika mereka tahu kamu memiliki anak di luar nikah.''


"Kalau begitu menikahlah denganku! Jadilah ibu dari anakku!''


"Aku tidak bisa, karena ibu Raina masih ada.''


"Aku sudah pada keputusanku. Tidak akan pernah menikahi Jeanette.''


"Kalau tidak ingin menikah dengannya. Aku akan membencimu selamanya.''


"Aku mohon jangan seperti ini.'


"Jadi apa kamu akan menikahinya? Kalau kamu menikahinya, aku akan memaafkanmu.''Selama beberapa detik Fabian menatap Miya. Ia tidak ingin mendapat kebencian dari gadis itu karena itu akan sangat menyakitkan mendapatkan kebencian dari orang yang dicintainya.


"Baiklah. Kalau itu maumu,''kata Fabian kesal dengan pandangan terluka di wajahnya.


Miya mendesah lega setelah mendapat jawaban dari Fabian , lalu ia pergi dan Fabian hanya berdiri diam memandangi kepergian Miya sampai menghilang di balik pintu.''Sial!''.Fabian memukul meja.''Kenapa harus jadi seperti ini.''Fabian mendengus kesal.


Miya berjalan setengah berlari menuju kamarnya dengan air mata yang hampir meleleh. Joshua berhasil mencegah pintu kamar tertutup ketika Miya akan masuk kamar.''Kamu baik-baik saja?''tanya Joshua mengikuti Miya yang duduk di sofa. Miya menangguk pelan.''Apa yang terjadi?''


"Aku menyuruh Fabian menikahi Jeanette.''


"Tapi kenapa?''


"Aku tidak ingin Raina hidup tanpa ibunya.''


"Miya, kamu terlalu baik. Kamu mengorbankan perasaanmu demi anak itu. Lalu bagaimana denganmu? Bukannya kamu juga masih mencintai Fabian?''


"Aku merelakan Fabian menikahi Jeanette demi Raina.''


"Sudah kuduga. Pasti kamu akan melakukan ini. Apa Fabian menyetujuinya?''


Miya mengangguk pelan.


Joshua mendesah, lalu mengelus bahu Miya dengan lembut. Air mata yang sejak dari tadi ditahannya akhirnya keluar dan Miya menerima tawaran Joshua untuk menangis di bahunya."Sudah jangan menangis. Kamu sudah banyak menangis empat bulan ini.''Miya menangis semakin keras.''Kalau begitu menikah saja denganku? Aku pasti akan membahagiakanmu.''


Miya langsung mendongkakan kepalanya menatap Joshua.

__ADS_1


"Apaaa...''


"Bagaimana? Aku tahu kemarin kamu sudah menolak untuk menikah denganku. Sekarang Fabian akan menikah dengan wanita lain, jadi apa salahnya kalau kita juga menikah." Miya terdiam dengan tetap memandang wajah Joshua dengan wajahnya yang masih basah oleh air mata . [ ]


__ADS_2