
Fabian mengemudikan mobilnya dalam perjalanan menuju kantornya dan tanpa sengaja ia hampir menabrak seorang wanita. Ia cepat-cepat keluar dari mobil. Fabian menemukan wanita itu sedang terduduk di jalan.
" Apa Anda tidak apa-apa?"tanya Fabian yang merasa cemas.
" Aku tidak apa-apa."
" Apa ada yg terluka?"
" Aku sudah bilang, aku tidak apa-apa."
Fabian mendesah lega, lalu membantu wanita itu berdiri. " Maafkan saya."
" Anda tidak perlu minta maaf. Ini salah saya yang berjalan tidak hati-hati. "
Wanita yang hampir ditabrak oleh Fabian terkejut melihat ketampanannya. Apa lagi ia merasa pria itu adalah pria kaya dilihat di stelan jasnya yang mahal dan juga mobil mewah yang dimilikinya. Wanita itu merasa beruntung hampir ditabrak olehnya, karena bisa bertemu dengan pria tampan yang kaya dan bermimpi untuk menjadi kekasihnya.
" Oh ya namaku Arya Cooke. "
" Fabian Baskerville."
"Sekali lagi saya minta maaf."
" Tidak apa-apa. Apa Anda boleh mengantarkanku ke panti asuhan Bunga matahari."
Fabian nampak bimbang, karena ia harus segera pergi ke kantor, tapi rasa bersalah yang sudah hampir menabraknya, Fabian tidak bisa menolaknya.
" Baiklah."
Fabian membukakan pintu mobil untuk Arya dan wanita itu tersenyum. Di dalam mobil, Arya terus memperhatikan Fabian. Ia terpesona debgan ketampanannya meskipun Fabian sudah tidak muda lagi. Arya merasa kecewa melihat cincin yang melingar di jari manisnya.
" Anda sudah menikah?"
" Aku sudah menikah."
" Apa Anda juga sudah memiliki anak?"
" Aku juga sudah mempunyai 4 orang anak. Anak pertamaku sudah menikah, anak kedua tahun depan akan masuk kuliah dan anakku yang ketiga akan masuk SMU."
" Dan yang ke-4?"
" Anakku perempuanku yang ke-4 diculik saat baru saja dilahirkan dan sampai sekarang aku tidak tahu keberadaannya."
" Maafkan aku."
" Tidak apa-apa."
" Apa Anda sudah mencoba mencarinya?"
" Aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi masih belun ditemukan."
" Berapa umur anak Anda yang hilang?"
" 6 tahun."
Arya langsung teringat dengan Valentina yang umurnya sama dengan anak Fabian yang hilang. Di panti asuhannya hanya Valentina yang berumur 6 tahun.
" Semoga anak perempuan Anda segera ditemukan."
" Terima kasih."
" Betapa beruntungnya istrimu mendapatkanmu menjadi suaminya."
" Sebaliknya aku merasa beruntung bisa memiliki istriku dalam hidupku."
Arya mengangkat satu alisnya.
Lihat saja nanti keberuntungan istrimu akan segera menjadi milikku dan aku akan menjadi Nyonya Baskerville tidak lama lagi kata Arya dalam hati.
Mereka sampai di panti asuhan Bunga Matahari. Fabian dan Arya keluar dari mobil.
" Anda bekerja di sini?"
" Iya. Aku salah satu pengurus panti ini dan kadang-kadang aku juga tinggal di sini. Apa Anda mau masuk dulu?"
" Tidak. Terima kasih lain kali saja."
" Baiklah. Sampai jumpa!"
Arya tersenyum semanis mungkin dan ia audah bertekad akan mendapatkan hati Fabian secepatnya dan menyingkirkan istrinya untuk selamanya. Sebelum itu terwujud ia harus segera menyingkirkan kekasihnya yang tidak berguna dan pengangguran. Arya masuk ke dalam panti asuhan.
Fabian masuk ke dalam mobilnya dan ia melihat seorang anak perempuan jatuh pingsan di halamanan. Fabian segera keluar dari mobil dan memeriksa keadaan anak perempuan itu.
" Hei, kamu tidak apa-apa?"
Fabian menempelkan telapak tangannya di kening anak itu dan suhu tubuhnya panas. Ia segera membawa anak itu masuk dan Arya terkejut melihat Fabian menggendong seorang anak.
" Aku menemukannya pingsan di depan dan demamnya tinggi."
Arya terkejut melihat anak perempuan itu adalah Valentina. Ia merasa sangat kesal, Valentina selalu membuat masalah, tapi tidak bisa marah-marah kepada Valentina di depan Fabian.
" Kenapa dia tidak masuk kelas? Ya sudah kita bawa ke kamar."
Fabian membaringkan Valentina di tempat tidur, lalu Arya keluar mencari Nancy untuk memanggil dokter. Fabian menelopn Gilbert kalau ia akan datang terlambat ke kantor. Ia mendekat Valentina dan duduk dipinggir tempat tidur. Tangannya membelai wajah anak itu.
Selama sesaat Fabian memperhatikan anak itu dan ia merasakan sesuatu yang berbeda dengannya. Perasaan sayang pada gadis kecil itu tiba-tiba saja muncul begitu saja tanpa diketahui sebabnya padahal ia baru bertemu dengannya.
Arya kembali masuk ke kamar dan memperhatikan Fabian.
" Namanya Valentina. Dia baru masuk ke panti ini sekitar 3 hari yang lalu. Orangtua angkatnya membuangnya kesini."
" Aku tidak mengerti kenapa mereka membuangnya ke sini. Padahal Valentina gadis yang sangat cantik. Keluarga angkatnya jahat sekali membuangnya begitu saja."
" Mungkin Valentina anak yang nakal, jadi mereka tidak tahan lagi kepadanya."
"Benarkah?"
" Iya. Dia selalu menyendiri tidak mau bermain dengan anak-anak yang lain. Kerjaannya setiap hari hanya menangis. Dia juga sering melewan perintahku, dan dia juga berkelahi dengan teman sekamarnya."
" Benarkah?"
" Iya. "
Arya sengaja membohongi Fabian soal perkelahian dengan teman sekamarnya. Ia tidak ingin Valentina mendapat perhatian dari Fabian. Arya ingin membuat Fabian membenci Valentina.
" Oh ya Valentina juga ketahuan mencuri uangku," kata Arya berbohong. " Pantas saja orangtua angkatnya tidak tahan dengannya."
Fabian menatap Valentina, memperhatikan gadis keci itu. Hati kecilnya ia tidak percaya dengan kata-kata Arya. Sebaliknya ia merasa kasihan kepadanya dan sempat terlintas dipikirannya untuk mengadopsi Valentina sebagai anaknya.
Tidak lama kemudian, dokter datang bersama Nancy dan memeriksanya.
" Bagaimana keadaannya?"
" Valentina baik-baik saja hanya perlu istirahat beberapa hari saja."
Dokter langganan panti asuhan itu menuliskan resep obat dan menyerahkannya kepada Arya.
__ADS_1
" Kalau begitu saya permisi dulu."
Dokter itu meninggalkan kamar dan Arya menyerahkan resep obat kepada Nancy. Pelayan itu segera pergi meninggalkan kamar.
" Aku juga harus segera pergi,"kata Fabian.
" Baiklah."
Sekali lagi Fabian melirik ke arah Valentina.
" Valentina akan baik-baik saja."
" Jaga dia baik-baik!"
" Tentu. Aku akan mengantarkan Anda sampai depan."
Setelah keluar kamar, Arya pura-pura terjatuh dan Fabian menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh. Wajah mereka begitu dekat dan Arya semakin terpesona dengan ketampanan wajah Fabian dari jarak dekat. Mata birunya telah menjerat Arya jatuh dalam pesona Fabian. Ia sudah tidak sabar lagi menjadikan Fabian sebagai suaminya.
" Maafkan aku."
Fabian mengangguk.
" Anda baik-baik saja, Nona Cooke."
"Aku baik-baik saja. Panggil saja aku Arya."
" Baiklah. Arya."
Sesampainya di pintu depan, Fabian berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Arya menunggu sampai mobil Fabian benar-benar telah meninggalkan halaman panti asuhan. Ia memasang senyuman lebar.
🧸🧸🧸
Fabian datang ke kantor sudah sangat terlambat. "Pagi,Gil!"
" Pagi!"
Gilbert mengikuti Fabiab masuk ke dalam ruangannya sambil membawa banyak dokumen dan langsung menaruhnya di atas meja kerja.
" Apa telah terjadi sesuatu?"
Fabian kemudian bercerita tentang pertemuannya dengan Arya dan Valentina.
" Kamu harus hati-hati dengan wanita yang bernama Arya itu."
" Kenapa?"
" Ya kerena kamu tampan. Bisa saja perhatianmu itu disalah artikan oleh Arya. Dia akan menyangka kamu jaruh cinta kepadannya dan akhirnya Arya akan merusak rumah tanggamu."
"Itu tidak mungkin. Aku tidak akan mungkin jatuh cinta padanya dan Arya kurasa dia wsnita baik-baik. Kamu jangan berpikir berlebihan."
" Jangan terlalu mudah percaya! Kamu harus belajar dari pengalaman sebelumnya. Clarissa, Mary Jane, dan Raina sudah hampir merusak hidupmu. Jadi jangan terlalu dekat dengannya. Kalau Miya tahu pasti akan marah."
" Kamu benar juga. Aku akan mengingat kata-katamu tadi."
Gilbert keluar ruangan, lalu masuk lagi membawskan kopi.
" Dan mengenai penyerangan terhadapmu sudah ada titik terang?"
" Benarkah? Apa pihak kepolisian sudah menemukan siapa pelakunya?"
" Polisi sudah berhasil mengidentifikasi orang yang terlihat di kamera CCTV."
" Jadi siapa pelakunya?"
" Siapa dia?"
Wajah Gilbert berubah jadi muram.
" Apa kita mengenalnya?"tanya Fabian lagi.
" Kita memang tidak mengenalnya, tapi kita mengenal nama keluarganya."
Fabian terdiam sebentar, lalu ia terhenyak menyadari sesuatu. " Jangan katakan kalau pria itu salah satu anggota keluarga Clarissa."
" Albert Glimer adalah kakak kandung Clarissa."
" Apaa?"teriaknya terkejut.
" Bukamnya seluruh keluarga Clarissa telah meninggal?"
" Kita mengiranya seperti itu."
" Aku harus menemuinya."
" Sekarang polisi sedang mengejarnya. Aku harap dia segera tertangkap."
" Jika dia sudah tertangkap, beritahu aku."
" Tentu."
🧸🧸🧸
Nancy menyimpan obat deman Valentina di samping tempat tidurnya, lalu oa kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk anak-anak, karena sebentar lagi jam istirahat sekolah.
Arya muncul di dapur mengawasi Nancy dan pelayan lain memasang." Makanan harus sudah siap 15 nenit lagi."
" Baik,"jawab Nancy.
" Apa kamu sudah membeli obat untuk Valentina?"
"Sudah."
Arya pergi dari dapur. Nancy dapat bernapas lega. Pelayan lain yang bernama Ellie datang mendekati Nancy.
" Aku ingin memberitahumu sesuatu,"katanya pada Nancy.
" Ada apa?"
" Persediaan bahan makanan di gudang sudah hampir habis."
" Itu tidak mungkin. Seminggu yang lalu, gudang baru di isi persediaan bahan makanan, kenapa sudah habis lagi."
" Kamu bisa melihatnya sendiri."
Nancy dan Ellie pergi ke gudang makanan dan apa yang dikatakan Ellie benar.
" Ini aneh. Kenapa persediaan makanan jd cepat habis. Kita selama ini memasak tidak boros menggunakan bahan makanan."
" Apa ada pencuri?"tanya Ellie.
" Menurutmu begitu."
" Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan perbuatan pencuri."
" Kalau begitu siapa pencurinya?"
__ADS_1
" Aku tidak tahu, Nancy, tapi yang jelas tidak mungkin pelakunya anak-anak."
" Tentu saja bukan."
"Atau mungkin saja Nona Cooke pelakunya," kata Ellie.
" Jangan sembarangan menuduh!"
" Aku tahu, tapi bukan dia siapa lagi, karena yg mengurus panti ini hanya 4 orang. Nyonya Marie Harper dan Nona Eleska sedang pergi ke luar kota. Bu guru Eve tidak mungkin mencuri."
" Entahlah. Aku tidak ingin menuduhnya tanpa bukti."
" Ya sudahlah sebaiknya kita kembali ke dapur. Sebentar lagi anak-anak akan keluar kelas."
Nancy dan Ellie sudah berada kembali di dapur, lalu mereka berdua menata meja makan. Bel berbunyi dan anak-anak mulai berdatangan. Suasana ruang makan menjadi ramai. Nancy kemudian membawa makanan untuk Valentina ke kamar.
" Kamu sudah bangun?"
" Apa yang terjadi denganku?"
" Tadi kamu pingsan dan untung saja ada seorang pria baik hati menolongmu."
" Seorang pria?"
" Iya."
" Siapa?"
" Aku tidak tahu namanya. Ayo sekarang kamu harus makan dan setelah itu minum obat."
Valentina mengangguk. Ia memakan makanannya, lalu meminum obatnya dan kembali berbaring. Nancy kembali meninggalkan Valentina dengan membawa piring dan gelas kotor.
"Ibu ada di mana?"gumam Valentina.
🧸🧸🧸
Jari Miya tertusuk jarum saat sedang menyulam. Setitik darah muncul di jari telunjuknya. Ia menghisap jarinya dan perasaan menjadi tidak enak dan tidak tenang. Miya terdiam sesaat, lalu ia menghubungi suaminya untuk memastikan Fabian baik-baik saja. Ia merasa lega Fabian baik-baik saja dan sekarang sedang berada di kantornya.
Miya kemudian menelepon Jonathan dan Clarie. Mereka juga baik-baik saja. Miya merasa lega suami dan anak-anaknya baik-baik sajs, lalu ia teringat dengan anak perempuannya yang hilang. Ia menjadi cemas, jika telah terjadi sesuatu yang buruk kepadanya.
" Caliope, kamu ada di mana?"gumam Miya.
Miya berharap Caliope di mana pun berada akan baik-baik saja."
Suara deringan telepon mengejutkannya. Miya tersenyum saat melihat nama di layar ponselnya. Sesorang yang sudah lama tidak terdengar kabarnya. Miya segera menjawab teleponnya.
" Isabella."
" Hai Miya, apa kabar?"
" Aku baik. Bagaimana denganmu?"
" Aku dan Sebastian baik-baik saja. Sudah lama kita tidak bertemu. Aku merindukanmu."
" Aku juga. Apa kamu masih berada di Maroco?"
" Iya. Kami masih ada di Maroco. Minggu depan kami akan pulang ke New York."
" Benarkah?"
" Iya. Aku ingin sekali bertemu denganmu."
" Aku juga. "
" Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu."
" Aku akan senang, jika kita nanti bertemu."
" Tentu saja. Kita pasti bertemu. Bagaimana kabar Fabian?"
" Fabian baik-baik saja."
" Aku sangat senang, kalian baik-baik saja. Baiklah tunggu kedatanganku Minggu depan."
" Tentu saja. Pasti Fabian akan senang bisa bertemu kalian lagi."
" Kalau begitu sampai jumpa Minggu depan."
" Sampai Jumpa!"
Miya menutup sambungan teleponnya dan kembali menyulam lagi, meskipun pikirannya gelisah memikirkan keadaan putrinya yang hilang.
🧸🧸🧸
Arya masuk ke kamar menemui Valentina setelah jam makan siang. Valentina menatap takut kepadanya. Ia belum bisa melupakan hukumannya dikunci di ruang bawah tanah yang gelap dan lembap.
" Bagaimana keadaamu?"
" Sudah lebih baik."
" Bagus. Setelah kamu sembuh, aku ingin kamu membantuku."
" Membantumu apa?"
" Nanti juga kamu akan tahu. Sekarang jangan banyak bertanya lagi soal itu. Apa kamu mengerti?"
" Iya."
"Bagus."
Arya meninggalkan kamar dan ia tersenyum. Valentina bisa membantunya untuk lebih dekat dengan Fabian, karena ia tahu Fabian menyukai Valentina dan Arya akan memanfaatkan itu.
Ponsel Arya berdering saat dia kembalu ke ruangan kepala panti dan ia terlihat sangat kesal melihat nama kekasihnya yang meneleponnya.
" Ada apa lagi?"tanya Arya dengan suara ketus.
" Kamu galak sekali. Akhir-akhir ini sikapmu kepadaku berubah. Sebenarnya ada apa?"
" Tidak ada apa-apa ."
" Baiklah. Aku ingin kamu mengambil bahan makanan lagi."
" Aku baru saja membawakan kepadamu."
" Bahan makanan itu sudah habis terjual."
" Baiklah. Nanti aku akan membawakannya lagi ,setelah kamu mentransfer bagian uang hasil penjualan itu ke rekeningku."
" Aku akan segera mentransfernya."
" Aku tunggu sekarang juga."
" Baiklah. Kalau itu yang kamu mau."
Arya langsung menutup teleponnya dan tidak lama kemudian ponselnya kembali berbunyi dan ada pesan masuk tentang pemberitahuan adanya sejumlah uang yang cukup besar masuk ke rekeningnya. Ia tersenyum senang dan mulai merencanakan untuk kembali menggelaplan bahan makanan. [ ]
__ADS_1