
Fabian memeluk Miya begitu melihat istrinya masuk ke kamar.
" Semakin hari kamu semakin cantik saja,"puji Fabian membuat wajah istrinya langsung merona merah.
"Te-terima kasih pamanku yang sangat tampan."
Fabian mengernyitkan dahinya. " Pa-paman?"
Fabian melepaskan pelukannya.
" Kamu kan pamanku, jadi tidak salah kan aku memanggilmu begitu."
"Aku memang pamanmu, tapi aku sudah menjadi suamimu. Kenapa kamu tiba-tiba menyebutku paman lagi? Sejak kita menikah kamu sudah tidak memanggilku dengan sebutan itu lagi."
"Aku hanya ingin saja memanggilmu seperti itu. Ini mungkin bawaan bayi kita." Miya mengelus perutnya yang mulai sedikit membuncit.
" Aku tidak mau dipanggil paman lagi olehmu."
"Tapi kamu adalah paman yang aku cintai."
Miya tersenyum lebar. Fabian yang gemas melihat istrinya langsung mencium bibir istrinya.
"Kemarilah!"kata Fabian.
Maya beringsut mendekati suaminya dan Fabian mendekapnya erat.
"Apa kamu tahu dan pernah berpikir kalau kamu diciptakan hanya untukku."
Miya nampak berpikir. " Mungkin saja begitu."
" Sejak awal kita bertemu kamu adalah belahan jiwaku. Jika bertemu akan langsung tertarik satu sama lain, karena kita lahir untuk bersatu dengan bagian dari tubuh dan jiwa kita yang lain. Itu sebabnya ketika aku bertemu denganmu, kamu langsung menarik perhatianku dan aku tidak hanya mencintai ragamu saja, tapi jiwamu juga."
" Terima kasih. Kamu sudah sangat mencintaiku."
Miya mengecup pipi suaminya. Fabian tersenyum lembut sambil membelai kening istrinya.
" Oh ya apa kamu sudah menyewa seorang detektif untuk mencari anak Charlotte?"
" Aku sudah menyewa seorang detektif. Semoga saja Jodan segera ditemukan."
Fabian teringat kembali tentang kebakaran di villa keluarga Carson. Ia tidak bisa melupakan peristiwa itu. Kesedihan kakek Hans dan juga Charlotte yang telah kehilangan keluarga yang disayanginya.
Polisi menetapkan penyebab kebakaran villa berasal dari perapian. Fabian juga merasa beruntung selamat dari kebakaran itu.
"Ada apa?"
"Tidak. Hanya sedikit mengingat masa lalu sewaktu aku kecil."
" Aku penasaran seperti apa ketika kamu kecil."
" Sebaiknya kamu tidak usah tahu."
"Kenapa?"
" Karena aku jelek tidak setampan sekarang."
" Kamu sudah tidak muda lagi."
" Tapi kamu masih tetap mencintaiku."
" Kamu ini," kata Miya gemas sambil mencubit pipi Fabian.
" Sakit."
" Sakit yang kamu rasakan tidak sebanding dengan sakit hati seorang wanita, jika dikhianati oleh pria yang dicintainya."
" Kamu benar. Aku juga pernah mengalaminya. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu."
" Aku akan memegang janjimu. Sebaiknya kita tidur. Nanti besok kamu terlambat datang ke kantor. Selamat malam, pamanku sayang!"
"Sudah kubilang jangan panggil aku paman lagi." Wajah Fabian berubah menjadi cemberut.
" Mungkin selama aku hamil aku akan memanggilmu paman." Miya tersenyum jahil pada Fabian.
Fabian berbaring memandangi langit-langit kamarnya. Tiba-tiba ada kata-kata yang terngiang di kepalanya.
Dia tidak bisa mengambil Joseph dariku. Dia harus mati
Fabian langsung terbangun.
" Ada apa lagi ?"
" Tidak ada. Sebaiknya kita tidur lagi."
Entah kenapa Fabian terngiang oleh kata-kata itu tiba-tiba. Ia pernah mendengarnya saat sedang tidur di sofa di villa Carson, tapi Fabian tidak yakin.
💔💔💔
Hans berada di kamarnya sambil memegang sebuah buku bersampul kulit merah milik Charlotte. Ia sudah membacanya berulang kali entah kesekian kalinya. Buku itu ia dapatkan dari sisa-sisa kebakatan di villa keluarganya. Buku itu bentuknya sudah tidak utuh lagi dan sisi-sisi buku itu hitam terbakar api, tapi tulisan-tulisannya masih ada yang bisa terbaca.
__ADS_1
Awalnya Hans terkejut dengan isi tulisan itu dan sama sekali tidak menyangkanya Charlotte memiliki pikiran seperti itu. Dengan tangan gemetar, ia kembali membuka halaman buku di mana kata-kata Charlotte membuatnya shock. Berapa kali pun Hans baca, tulisan itu tidak berubah.
Aku Charlotte Carson, pertama kali jatuh cinta kepada seorang pria bernama Joseph Coldwell, pria tertampan di kampusku banyak wanita yang menyukainya. Aku hanya bisa diam-diam mencintainya. Suatu hari ia datang kepadaku dan mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.
Joseph mengatakan kalau ia jatuh cinta kepadaku dan menginginkan aku sebagai kekasihnya. Tentu saja aku sangat senang, karena aku tidak menyangka pria itu akan jatuh cinta kepadaku. Akhirnya aku menjalani hubungan asmara dengannya. Kami sangat bahagia dan aku adalah wanita yang sangat beruntung bisa dicintai olehnya.
Pada suatu hari ketika kami merayakan hari jadi kami yang ke-1 bulan, Joseph mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut. Ia mengatakan terima kasih kepadaku telah menolongku pada waktu ia hampir terserempet mobil dan ia juga mengatakan telah jatuh cinta kepadaku pada saat itu.
Aku sangat terkejut, karena aku merasa tidak pernah menolongnya. Aku pun teringat pasa saudara kembarku, Zelda. Aku pun menyadari Joseph tidak mencintaiku, tapi Zelda, karena ia belum tahu aku mempunyai saudara kembar.
Aku tidak mengatakan apa pun kepadanya kalau aku bukan orang yang sudah menolongnya. Aku memang egois, karena aku mencintainya. Aku tidak ingin kehilangannya. Biarlah Joseph menganggapku yang sudah menolongnya.
Pasa saat liburan keluarga, aku bertemu dengannya di Lancester. Dia sedang berlibur bersama teman-temannya dengan menyewa sebuah villa. Ketika ia tahu aku sedang berlibur bersama keluargaku, Joseph memaksaku untuk dikenalkan dengan keluargnya dengan alasan aku sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Aku pun membawa Joseph untuk dikenalkan kepada keluargaku. Aku tahu ia sangat terkejut melihat kembaranku dan aku juga menyadari Zelda mengenali Joseph hanya saja Zelda tidak mengatakan apa pun kepadaku.
Aku sangat cemburu ketika melihat mereka bicara. Aku takut Zelda akan mengatakan yang sebenarnya dan aku merasa lega, Zelda tidak mengatakan apa pun. Ketakutan itu terus berlanjut dan entah apa yang ada dipikiranku saat ini. Niat itu kembali memenuhi pikiranku, karena rasa takut yang berlebihan aku akan kehilangan Joseph untuk selamanya, jika Zelda masih ada.
Sore itu pada hari terakhir kami di villa, aku diam-diam turun ke bawah. Aku melihat Fabian yang sedang tertidur nyenyak dan secara tidak sengaja aku menabrak ember kaleng. Fabian menggeliat dari tidurnya. Aku bernapas lega Fabian tidak terbangun.
"Dia tidak bisa mengambil Joseph dariku. Dia harus mati."
Aku memgambil penyodok besi untuk mengeluarkan kayu dari perapian yang masih menyala dan mendekatkannya ke tirai jendela. Aku kembali ke kamarku dan pura-pura tidur. Zelda akan mati terbakar bersama dengan villa dan sayang sekali Fabian nantinya harus menjadi korban. Seharunya anak itu tidak datang pada siang itu.
Hans menutup buku itu. Ia tidak habis pikira kenapa Charlotte sampai memiliki niat jahat kepada Zelda hanya karena seorang pria. Ia mengira sudah mengenal baik cucunya, tapinya ia sama sekali tidak mengenal baik. Hans sudah bertahun-tahun menyembunyikan kebenaran ini kepada semua orang, meskipun ia memberitahu tentang apa yang terjadi villa sidah tidak ada gunanya lagi. Charlotte sudah meninggal. Hans menutup dirinya dengan selimut bersiap untuk tidur.
💔💔💔
Raina melihat Leonie membawa sebuah kardus besar ke dalam kamar Theoden. Pelayan itu masih bersikap tidak suka kepadanya.
" Apa ini?"tanya Raina.
"Tuan Theoden menyuruhku membereskan beberapa barang Tuan Andre dan menyuruhku memasukannya ke dalam kardus."
Setelah menyimpan kardus di atas meja, Leonie keluar dari kamar. Raina mengintip isi kardus. Di dalamnya ada kotak cerutu dan masih ada isinya, jam tangan yang sudah rusak, bola baseball yang sudah lusuh, pigura foto, dan sebuah jurnal yang kertasnya sudah menguning.
Raina membuka jurnal itu dan isinya tentang jadwal kegiatan sehari-hari ayahnya Theoden seperti pertemuan dengan para klien bisnisnya. Ia melihat tulisan yang menarik perhatiannya.
Aku sudah tahu Leonard bukan anakku yang sebenarnya. Dia adalah anak yang ayah ambil dari panti asuhan. Leonard yang sebenarnya sudah meninggal tenggelam di danau. Secara tidak sengaja aku mendengar pembicaraan ayah dengan adikku, Daniel.
Raina langsung menutup jurnal itu, lalu menelpon Theoden.
" Aku membaca jurnal ayahmu dan aku menemukan tulisan ayahmu tentangmu."
" Apa yang dia tulis?"
Hening.
" Apa kamu masih ada di sana?"
" Iya. Tadi aku terkejut kalau ternyata ayah tahu siapa aku. Selama Ayah masih hidup dia tidak mengatakan apa pun kepadaku."
" Mungkin ayahmu tidak ingin kamu tahu."
" Mungkin saja. Sebentar lagi aku akan pulang."
" Sampai jumpa!"
Raina menutup teleponnya. Ia kembali membuka halaman lain dalam jurnal itu dan ia kembali menemukan tulisan yang menarik lagi.
Aku secara diam-diam menyewa menyelidiki kematian anakku, karena aku yakin itu bukan kecelakaan.
Raina terhenyak menerima informasi baru mengenai kematian Leonard. Ia membalik-balik halaman jurnal untuk mencari informasi tentang perkembangan penyelidikan Andre. Raina mendapatkannya.
Aku menemukan secarik kertas yang diselipkan disalah satu buku dongeng yang ada di laci meja belajar Leonard. Isi tulisan dikertas itu :
Temui aku di pinggir danau! Ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu.
Seseorang sudah mengundang Leonard ke sana.
Raina dengan cepat mencari-cari lagi halaman tentang Leonard. Ia menemukannya di halaman terakhir jurnal.
Aku memeriksa perahu yang digunakan Leonard kepadaku. Perahu itu telah dirusak sebelumnya, karena ada kayu yang bolong padahal aku sudah menyuruh seseorang untuk memperbaiki perahu itu. Aku yakin seseorang sudah merusaknya dan seseorang itu juga yang sudah memancing Leonard untuk naik ke perahu.
Aku menemukan sebuah mobil mainan dan mengira mobil mainan itu sebagai pancingan saja. Aku kembali kenkanar Leonard dan memperhatikan tulisan itu baik-baik dan aku menyadari telah mengenal tulisan itu. Pelakunya adalah orang terdekatku dan yang aku percayai. Aku sempat terkejut saat mengetahuinya dan pelakunya sudah mengakuinya kepadaku. Nama pelakunya adalah
Tulisan itu terpotong dan Raina mencari lanjutan tulisan itu, tapi tidak menemukannya di jurnal itu. Ada bekas robekan kertas di halaman terakhir. Seseorang telah merobeknya.
Raina mencari-cari di dalam kardus berharap ada sobekan kertas atau jurnal lainnya, tapi hasilnya nihil. Ia merasa kecewa dan penasaran siapa yang sudah mencelakain Leonard. Apakah pelakunya sudah tertangkap?
Theoden pulang tepat pada saat waktunya makan malam dan setelah makan malam, Raina menunjukkan jurnal milik Andre kepada Theoden.
Theoden terkejut melihat tulisan ayahnya tentang Leonard.
" Bagaimana menurutmu?"tanya Raina.
" Aku tidak mengira Leonard dicelakai seseorang, bahkan kakek William tidak sampai berpikir bahwa ada seseorang yang sudah mencelakai cucunya begitu juga dengan paman Daniel."
" Ayahmu mengenal siapa pelakunya. Apa dia pernah menyinggung soal siapa pelakunya kepadamu?"
__ADS_1
" Tidak. Ayahku tidak pernah mengatakan apa pun tentang hal ini, bahkan saat dia tahu aku bukan anaknya yang sebenarnya dia diam saja sampai ajal menjemputnya."
" Sayang sekali halaman terakhir jurnal ada yang merobeknya dan aku yakin nama pelakunya tertulis di sana."
" Mungkin pelakunya telah membaca jurnal ayahku, lalu merobeknya."
" Itu mungkin saja. Apa kamu ada bayangan siapa?"
" Aku tidak tahu."
" Menurut ayahmu pelakunya orang terdekat ayahmu. Apa mungkin pamanmu, Daniel?"
" Itu tidak mungkin. Paman Daniel baik dan lagi pula ia sudah lama meninggal."
"Apa pelaku yang sebenarnya juga sudah meninggal?"
" Entahlah. Mungkin iya mungkin tidak."
Mereka berdua terdiam.
" Kenapa kamu menyuruh Leonie membereskan barang-barang ayahmu?"
" Aku ingin memilah barang-barang ayahku yang masih terpakai untuk diberikan kepada orang lain. Aku tidak menyangka kalau ada jurnal ayahku yang berisi siapa orang yang sudah mencelakai Leonard. "
" Mengenai Bibi Charlotte apa kamu masih beranggapan kalau dia itu ibumu?"
" Tidak. Setelah aku pikir-pikir dia tidak mungkin ibuku."
" Bagaimana kalau itu memang ibumu?"
" Mungkin aku akan senang bisa melihat dan bertemu dengan ibuku yang sesungguhnya."
" Semoga saja detektif yang disewa ayahku busa segera menemukan anak Bibi Charlotte."
" Jadi ayahmu sudah menyewa detektif?"
" Iya. Ibuku yang memberitahuku. Dan mengenai Leonie."
" Ada apa dengannya?"
" Pasti kamu tahu kalau dia jatuh cinta kepadamu."
"Iya. Dia sudah memberitahuku sudah lama sekali. Waktu itu aku tidak menpedulikannya dan itu aku pikir hanya bercanda."
"Sampai sekarang dia masih mencintaimu."
"Aku tahu dan dia tahu aku mencintaimu."
" Rasanya aneh saja tinggal satu atap dengan wanita lain yang mencintai suamiku."
" Jangan pikirkan itu lagi. Leonie tidak akan berbuat macan-macam padaku dan aku juga tidak akan pernah memberikan harapan kepadanya."
Leonard memeluk Raina dan mengecup puncak kepalanya. " Aku akan selalu mencintaimu."
💔💔💔
Keesokan siangnya Charlotte membawa kopernya turun dan Miya terkejut melihatnya.
" Charlotte."
" Aku mau menemui kakekku untuk beberapa hari. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."
"Baiklah. Sampaikan salamku untuk kakekmu."
"Tentu. Aku pergi dulu."
"Hati-hati di jalan!"
Charlotte masuk ke dalam taxi yang sudah menunggunya di depan mansion. Selama dalam perjalanan ia sudah tidak sabar bertemu kembali dengan kakeknya.
Setalah satu jam perjalanan akhirnya Charlotte sampai di rumah kakeknya. Ia cepat-cepat keluar dari taxi. Keharuan menyeruak dalam diri Charlotte berada di rumah kakeknya lagi. Ia menekan tombol bel dan seorang wanita muda membukakan pintu. Wanita itu masih mengenakan celemek.
" Selamat siang!"sapa Charlotte.
"Siang!"
" Aku ingin bertemu dengan Kakek Hans."
"Anda siapa?"
" Aku Charlotte, cucu kakek Hans."
"Jadi Anda adalah Charlotte, saudara kembar Zelda."
"Benar."
" Aku Hannah, cucu angkat kakek Hans. Silahkan masuk!"
Charlotte masuk ke dalam rumah. Matanya langsung berkaca-kaca, karena begitu banyak kenangan indah di rumah ini. [ ]
__ADS_1