
Miya akhirnya tiba di kastil Baskerville pada malam hari pada empat hari kemudian dan mendapat sambutan yang hangat dari keluarga besar ibunya. Adelina langsung memeluknya dengan penuh kerinduan.''Selama datang Miya! Akhirnya kita bertemu kembali.''
"Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi, bibi Adelina.''
Miya melihat satu persatu orang-orang yang di hadapannya ada kakek neneknya, paman bibinya,kakek nenek Fabian, sepupu-sepupu dan orang tua Fabian. Mereka telah menyambut dirinya dengan penuh suka cita. Miya merasa kecewa, karena paman Fabian tidak ada di antara mereka padahal ia begitu ingin bertemu dengannya.''Sebaiknya kamu pergi ke kamarmu dan beristirahat. Pasti kamu sudah lelah menempuh perjalanan jauh,'' kata kakek Aldrige.Miya mengangguk pelan.
"Blinda, tolong antarkan Miya ke kamarnya!''
"Baik kakek Aldrige.''Blinda tersenyum.''Ayo ikuti aku! Aku akan menunjukkan kamarmu.''
"Kalau begitu selamat malam!''ucap Miya kepada keluarga besar ibunya.
"Selamat malam!''ucap mereka bersamaan. Miya kemudian mengikuti Blinda menuju kamarnya di lantai dua. Ia sungguh takjub dengan keadaan kastil Baskerville yang begitu besar dan mewah. Ia tidak percaya dulu ibunya pernah tinggal disini. Bagi Miya tempat ini seperti istana. Berbagai macam lukisan mahal terpasang disepanjang koridor menuju kamarnya dan lantainya di lapisi oleh karpet aubusson berwarna merah."Sebentar lagi kita sampai di kamarmu. Aku harap kamu akan senang tinggal disini selama beberapa hari.''
"Aku tidak tahu harus memanggilmu apa? Kamu adalah sepupu paman Fabian dan bibi Adelina dan juga sepupu ibuku. Berarti kamu adalah bibiku juga.''
Blinda tertawa."Itu benar. Aku adalah bibimu, tapi usia kita sama. Rasanya aneh kalau kamu memanggilku bibi. Panggil saja namaku.''
"Kamu benar. Rasanya akan sangat aneh kalau aku memanggilmu bibi.''Miya tersenyum , kemudian mereka berdua tertawa cekikikan.''Kamarmu ada di ujung koridor sana dan kamarku tepat di sebelahmu,''kata Blinda.
Tepat di depan mereka pintu kamar terbuka dan Fabian muncul dari balik pintu. Pria itu terkejut melihat Miya berada di sana.''Miya.''
Fabian tidak bisa menutupi rasa terkejutnya begitu pun juga dengan Miya."Se...selamat malam paman Fabian!''
__ADS_1
"Kamu sudah datang,''katanya dengan suara kikuk.
"I..iya.''
"Sebaiknya kamu pergi tidur. Kamu pasti lelah.''
"Aku akan pergi ke kamarku. Selamat malam!''
Miya cepat-cepat pergi menuju kamarnya dikuti oleh Belinda dari belakang. Ia dapat bernapas lega setelah Fabian sudah tidak terlihat lagi.
"Kita sudah sampai. Ini kamarmu. Aku akan ke kamarku. Kamu bisa memanggilku kapan saja kalau kamu membutuhkanku. Selamat malam!''
"Malam!''
Selama beberapa menit Fabian berdiri di dalam kamarnya menatap pintu kamarnya tanpa bergerak. Jelas ia terlihat begitu terkejut menemukan Miya disini pada saat yang tidak terduga. Tubuhnya menjadi lemas. Dalam hatinya ia menyebut nama gadis itu berkali-kali. Miya...Miya..Miya...Ia senang dapat melihat Miyanya lagi. Rasanya tadi ia ingin memeluknya dan tidak ingin melepaskannya lagi. Saat ini Fabian harus merasa puas hanya memandanginya dari kejauhan. Hanya menyebutkan namanya saja membuat hati Fabian bergetar. Rasanya seperti mimpi ketika melihat Miya tadi, tapi saat ia teringat foto itu hatinya terasa panas dan tanpa disadari kedua tangannya sudah terkepal sangat erat.
Sinar matahari yang masuk dari celah-celah tirai membangunkan Miya keesokan paginya. Ia terbangun di kamar yang asing baginya dan sedang berbaring di tempat tidur yang memiliki kanopi yang sangat tinggi, lalu ia menyadari bahwa ia berada di kastil Baskerville. Miya turun dari tempat tidurnya dan membuka tirai jendela. Dengan perasaan takjub dan hangat , dilihatnya pemandangan yang begitu indah. Angin segera masuk setelah Miya membuka jendela. Tirai-tirai jendela berkibar-kibar tertiup angin. Di kejauhan terdapat bukit-bukit hijau dengan bunga-bunga liar berwarna-warni, air danau yang berkilau tertimpa cahaya matahari pagi dan domba-domba yang sedang merumpun. Dikejauhan juga ada aliran sungai yang berkelok-kelok dan suasananya begitu hening dan tenang. Ia sudah tidak sabar ingin segera pergi berjalan-jalan.
Pintu kamar terbuka dan Mary Jane masuk sambil tersenyum ramah.''Sudah saatnya nona mandi dan berganti pakaian. Saya akan menyiapkan keperluan mandi Anda." Miya mengangguk, lalu ia kembali menatap ke luar. Miya memejamkan matanya menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus dan harumnya aroma bunga yang terbawa oleh angin.
"Air untuk mandi sudah siap,''seru Mary Jane. Miya dibantu Mary Jane melepaskan pakaiannya, lalu masuk kedalam bathtub yang penuh busa dengan sabun beraroma mawar. Pelayan itu membantu Miya menggosok punggungnya dan mencuci rambutnya.''Setelah sarapan pagi, aku ingin berjalan-jalan disekitar sini. Aku ingin kamu menemaniku.''
"Tentu saja. Kita bisa berkuda kalau nona Miya mau.''
__ADS_1
"Berkuda? Itu ide yang bagus. Sudah lama aku tidak berkuda pasti akan sangat menyenangkan.'' Miya tersenyum, lalu meniup-niupkan busa sabun ditangannya.
Miya tiba di ruang makan yang nampak begitu ramai. Pagi ini Miya mengenakan celana jeans dan kemeja berlengan pendek berwarna biru langit juga tidak lupa memakai sepatu bot dan rambut ikalnya yang panjang dibiarkan tergerai hanya memakai bando pita yang warnanya senada dengan pakaiannya. Blinda yang mengetahui kedatangan Miya segera memasang senyuman manisnya dan menepuk-nepuk kursi di sebelahnya. Miya pun duduk di sebelah Blinda. Semua anggota keluarga Baskerville lainnya memberikan senyuman untuk Miya, lalu Blinda memperkenalan Cedric, kakaknya kepada Miya. "Kamu gadis yang sangat cantik, my lady.'' Cedric mencium tangan Miya, seketika gadis itu wajahnya merona merah.
"Bagaimana kabar Sabrina ?''tanya seorang pria setengah baya yang umurnya sekitar 50 tahunan. Pria itu masih terlihat tampan meski sudah termakan usia. Pria itu adalah Andrew Bakerville, ayahnya Fabian. Ini pertama kalinya Miya bertemu dengan ayah pamannya dan di sebelahnya duduk seorang wanita yang nampak angggun dan cantik yang tidak lain adalah Rosalie Baskerville, ibu pamannya.''Ibuku baik-baik saja.''
"Syukurlah. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Waktu Sabrina datang ke New York aku tidak sempat menemuinya di sana.''
"Adikku sedang sakit, jadi ibu tidak bisa datang.''
"Sayang sekali. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Tolong sampaikan salamku kepadanya.''
"Baik.''
"Kamu juga sudah tumbuh besar. Terakhir aku melihatmu, ketika kamu masih bayi. Kamu gadis yang sangat cantik pasti sekarang kamu sudah memiliki seorang kekasih bukan?''kata Rosalie.
Wajah Miya merona merah.''Aku...'' Ucapan Miya terpotong ketika melihat Fabian masuk ke dalam ruang makan. Penampilannya begitu mempesona dan sangat tampan seperti biasanya dengan pakaian berkudanya. Fabian begitu senang melihat Miya sudah berada di sana. Tatapan matanya berubah dingin menusuk, ketika ia bertemu pandang dengan Miya. Saat ini ia tidak ingin menunjukkan perasaannya secara terang-terangan terhadap gadis itu dan juga di depan keluarganya.
"Aku tidak punya kekasih.''Kepalanya menunduk kembali memandangi makanannya.
"Itu sayang sekali.''
Miya hanya tersenyum hambar dan dengan hati-hati ia melihat pamannya yang sibuk dengan makanannya. Fabian terlihat tidak peduli dan tidak menunjukkan emosi apa pun. [ ]
__ADS_1