
"Nona Cooke, sebaiknya kamu jangan banyak bicara dulu."
"Tidak dokter, aku harus bicara karena waktu tidak banyak lagi."
"Jangan berkata seperti itu lagi. Kamu pasti akan sembuh,"kata Miya.
"Kamu baik sekali Miya. Kamu mempunya hati yang lembut. Pantas saja Fabian begitu mencintaimu,’’katanya dengan suara yang masih lemah.’’Maafkan aku, Miya atas semua perbuatanku kepadamu. Seandainya waktu dapat diulang kembali "
"Nona Cooke, sudahlah jangan banyak bicara dulu."
"Tidak Miya, biarkan aku bicara. Kembalilah pada Fabian dan anak-anakmu, Rafael akan mengantarmu. Sampaikan maafku pada Fabian. Dokter Carson, maafkan aku telah merusak acara pernikahan Anda."
"Lupakan saja! Awalnya aku merasa kesal padamu, tapi setelah mendengar penjelasanmu, akj mengerti, mungkin Miya bukan jodohku."
"Terima kasih."
Tiba-tiba pintu terbuka, dan mereka bertiga terkejut. Dua orang polisi datang, lalu tidak lama nyonya Harper datang. Ia merasa sedih melihat keadaan Arya.
"Aku ingin memberitahu kalian, bahwa aku telah nembunuh Nancy dan mantan kekasihku."
Semua orang terkejut.
"Aku juga telah mencuri bahan makanan di panti asuhan untuk dijual kembali. Aku juga sudah mencuri cek yang diberikan oleh donatur."
"Arya, kenapa kamu melakukan semua ini?"tanya nyonya Harper sedih.
"Maafkan aku. Waktu itu aku terlalu dibutakan oleh harta. Sekarang aku sangat menyesalinya."
Arya juga memberitahu di mana ia mengubur mantan kekasihnya. Setelah itu Arya menghembuskan napas terakhirnya.
🧸🧸🧸
Miya dikejutkan dengan kedatangan orang yang tidak terduga. Fabian berdiri mematung melihat orang yang ada dihadapannya. Waktu seperti terhenti pada saat itu juga. Jantungnya berdebar dengan kencang antara percaya dan tidak apa yang dilihatnya. Mulutnya perlahan terbuka dengan gemetar. ’’Miya."
Miya hanya menatap bingung kepada pria di hadapannya. Dokter Carson yang sejak dari tadi melihatnya mulai mengerti siapa pria yang membuka pintu itu , ada perasaan sedikit tidak suka. Hatinya harus mengakui kalau ia cemburu.
"Benarkah itukah kamu, Miya,’’katanya dengan mata berkaca-kaca.
"Siapa kamu?"
"Apa maksudmu? Aku Fabian,"katanya dengan air mata yang mulai berjatuhan.
"Fabian."
Tanpa menunggu lagi Fabian langsung memeluknya dengan erat melepaskan segala kerinduannya pada Miya yang sudah tujuh bulan terpisah. Bagi Fabian selama tujuh bulan ini hidup tanpa Miya terasa sangat hampa. Ia membenamkan kepalanya di leher Miya dan menangis, membiarkan mereka saling melepas rindu walaupun dokter Carson sedih melihat Miya kembali kepelukan suaminya, tapi ini sudah keputusannya untuk membiarkan Miya pergi kepelukan suaminya.
Dokter Carson akhirnya menjelaskan kondisi Miya yang hilang ingatan. Fabian terkejut mengetahui istrinya hilang ingatan. Pintu kemudian terbuka lagi. Clarie dan Jonathan berlari masuk dengan menangis langsung memeluk ibunya.
"Ibuuuu,"seru mereka bersamaan.
Miya yang tidak ingat apa-apa memeluk kedua anaknya. Ia tidak menyangka bahwa ia sudah memiliki anak yang sudah tumbuh besar. Raina muncul dibalik pintu, lalu memeluk ibunya.
"Aku senang ibu baik-baik saja."
Fabian menyadari kebingungan Miya, lalu ia menjelaskan dan memberitahu nama anak-anaknya.
"Lalu anakku yang no.4 mana? Arya memberitahuku kalau aku punya anak 4."
"Caliope anak kita yang ke-4 telah diculik saat baru dilahirkan."
Mata Miya berkaca-kaca. "Diculik?"
"Iya. Sampai sekarang masih belum ditemukan."
Orangtua Fabian dan Miya akhirnya datang. Miya begitu senang bisa bertemu kembali dengan keluarganya. Ia sempat mengira tidak punya keluarga sama sekali ternyata ia memiliki keluarga besar.
🧸🧸🧸
Suasana duka tengah menyelimuti keluarga Cooke seluruh kerabat dan keluarga berdatangan ke kediamannya. Rafael duduk di pojok ruangan wajahnya nampak sedih dan muram. Miya yang melihat semua itu merasa sedih. Kehadiran Miya dan Fabian di rumah Cooke membuat ayah Arya sangat berterima kasih. Apa lagi mereka sudah memaafkan Arya.
Setelah tiba kembali di Castalia mansion, pintu kamar terbuka dan Fabian tersenyum melihat istri dan anak-anaknya ada di sana. Ia diberitahu oleh salah satu pelayan kalau Maya dan berada di kamar. Fabian sangat senang keluarganya kecilnya telah kembali. Ia memeluk Mkya yang sedang tertidur dari belakang dan mengecup dahi dan juga pipinya. Miya menggeliat dan terbangun.’’Halo sayang! Maaf mengganggu tidurmu,’’ katanya sambil mengelus-elus wajah Miya dengan punggung tangannya. Miya tersipu merah, meskipun ingatannya belum pulih, tapi ia merasa bahagia bersama suami dan anak-anaknya.
"Fabian."
"Pasti kau sangat lelah."
"Kamu juga pasti lelah." Miya mengusap-usap wajah suaminya dengan rasa sayang.
"Rasa lelahku sudah hilang, karena ada kamu dan anak-anak di sini."
Fabian melonggarkan pelukannya, lalu menciumnya dan akhirnya bibir mereka menemukan kembali kepemilikannya masing-masing.’’Aku mencintaimu , sayang,’’bisiknya ketika bibir mereka terpisah.
Keduanya tersenyumnya .Miya begitu senang ia kembali berada dalam pelukan suaminya. Ia berjanji tidak akan pernah meninggalkan Fabian lagi dan anak-anak. Tidak seorang pun yang akan memisahkan mereka lagi.
🧸🧸🧸
Beberapa hari kemudian
Julius Rogers berada agak jauh di depan Castalia mansion. Ia terlihat berjalan mondar-mandir dan juga gelisah, berkali-kali ia menghela nafas. Di hatinya masih ada perasaan mengganjal, yaitu rahasia besarnya yang sudah ia simpan bertahun-tahun mengenai keberadaan Valentina. Selama ini ia sudah mencari-cari keberadaan keluarga dari bayi yang ia culik.
Sekarang Julius merasa takut kalau mereka akan marah besar padanya, karena telah menculik bayi mereka dan ia juga membayangkan akan segera di penjara.
’’Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku harus mengatakannya kepada mereka kalau anak perempuan mereka ada di rumah keluarga Roberts atau aku tetap diam dulu ?’’
Julius duduk disalah satu bangku taman sambil memikirkan langkah selanjutnya. Ia pun sudah memutuskan menemui mereka supaya perasaan bersalahnya menghilang.
Julius kembali berjalan menuju Castalia mansion dan ia sudah mengambil keputusan. Kedatangan Julius ke sana membuat Fabian terkejut. Fabian masih ingat dengan wajah penculik anaknya.
"Kamu,"seru Fabian kesal dan langsung mencengkeram pakaian Julius."Di mana anakku?"
"Fabian, aku mohon tenanglah!"ujar Miya.
"Pria ini yang sudah menculik anak kita."
"Apa?"
"Ingatanmu belum pulih, jadi wajar kamu tidak ingat."
Fabian melepaskan Julius, tapi pandangan matanya masih memancarkan kemarahan
"Aku tahu pasti kalian marah kepadaku. Aku sangat menyesal sudah menculik anak kalian."
"Kenapa kamu menculiknya?"tanya Fabian.
"Aku terpaksa melakukannya, karena aku terlilit hutang, jadi aku menculiknya dan menjualnya."
"Kau menjual anakku?"teriak Fabian." Berani-beraninya kamu menjual anakku."
__ADS_1
"Sekarang aku sangat menyesal."
"Sekarang katakan di mana anakku?"
"Pertama-tama aku ingin kalian memaafkanku. Aku tahu kalau selama ini aku telah bersalah pada kalian. Aku tahu di mana anak kalian. Aku menjualnya kepada seorang wanita bernama Emily Hunt."
Julius menulan ludahnya.
"Sekarang di mana wanita itu?"
"Wanita itu sudah meninggal, tapi aku tahu di mana anak kalian?"
"Di mana?"
"Aku akan mengantar kalian menemuinya."
Fabian dan Miya nampak ragu takut Julius membohonginya.
"Percayalah padaku!"
"Baiklah kami akan ikut denganmu."
Mereka bersama-sama masuk ke dalam mobil Fabian dan Julius duduk di depan memberikan petunjuk arah. Fabian mulai menyadari kalau ia mengenali jalanan ini. Jalanan ini mengarah ke rumah Gilbert. Ia pikir mungkin anaknya tinggal di dekat rumah Gilbert.
Hari sudah mulai sore dan langit telah berubah menjadi warna jingga keemasan, lampu-lampu di sekitar halaman rumah-rumah sudah mulai dinyalakan. Akhirnya mereka sampai ditempat tujuan.
Fabian terkejut.
"Ini kan rumah Gilbert,"ucapnya tak percaya.
"Anda mengenal Tuan Roberts?"
"Aku sanga mengenalnya. Dia sekretarisku."
Sekarang giliran Julius yang terkejut. Fabian langsung menekan bel. Seorang wanita menjawabnya.
"Siapa?"
"Erika, ini aku Fabian."
"Fabian,"seru Erika terkejut.
Pintu gerbang langsung terbuka. Erika membuka pintu gerbang. Ia terkejut dengan kedatangan Fabian. Erika juga terkejut dengan kedatangan Miya.
"Miya, kamu masih hidup?"
"Miya, ini Erika istri Gilbert, sekretarisku."
Fabian memberitahu Erika kalau Miya hilang ingatan. Sesaat Erika menatap Miya, meskipun ia sedih Miya tidak mengenalinya. Ia juga terkejut melihat Julius yang datang bersama Fabian.
"Silahkan masuk!"
Mereka kemudian masuk dan duduk. Erika pergi ke dapur mengambil minuman. Gilbert yang baru menuruni tangga terkejut melihat Fabian dan Miya.
"Fabian, kamu ada di sini?"
"Iya. Maaf kedatanganku tidak memberitahumu."
"Miya, aku senang kamu masih hidup."
Fabian juga memberitahu Gilbert kalau Miya hilang ingatan. Gilbert pun mengerti. Erika datang dengan membawa minuman, lalu duduk bersama mereka.
"Aku ke sini untuk mencari Caliope,"kata Fabian.
"Apa maksudmu?"tanya Gilbert tidak mengerti.
"Julius mengatakan Caliope ada di sini."
"Siapa Julius?"tanya Erika.
"Aku Julius."
"Kamu,"seru Gilbert terkejut.
"Namaku sebenarnya Julius Roberts dan akulah yang sudah menculik Caliope."
"Jadi kamu penculiknya?"tanya Gilbert.
Julius mengangguk. Gilbert kemudian memperhatikan Julius.
"Selama ini aku mengganti namaku menjadi Archie Morgan dan bersembunyi selama bertahun-tahun. Aku menjual Caliope kepada seorang wanita bernama Emily Hunt."
"Emily Hunt?"seru Erika.
"Apa kamu mengenalnya?"tanya Fabian.
"Aku mengenal suaminya."
Erika kemudian menyadari sesuatu." Jangan katakan kalau Valentina itu adalah anak kalian."
"Valentina?"tanya Fabian.
"Benar. Valentina adalah Caliope,"kata Julius.
Erika dan Gilbert terkejut dengan pengakuan Julius.
"Aku akan memanggil Valentina,"kata Erika.
Erika pergi ke lantai dua, lalu tidak lama kemudian Erika kembali bersama Valentina. Fabian terkejut saat melihat Valentina yang dulu akan diadopsinya. Jantungnya seakan berhenti melihat Valentina yang ternyata adalah anaknya sendiri.
"Paman Fabian,"seru Valentina.
"Ternyata itu kamu."
Fabian langsung menggendongnya dan menciumi wajahnya.
"Aku senang bisa bertemu dengan paman lagi."
"Aku juga."
Miya sejak dari tadi memandangi Valentina. Bayangan anak perempuan yang mirip dengan Valentina memenuhi kepalanya.
"Apa kalian sudah saling mengenal?"tanya Gilbert.
"Aku dan Miya bermaksud mengadopsi Valentina, tapi Valentina kabur dari panti asuhan. Aku tidak percaya, jadi selama ini kalian sudah merawat anakku."
"Kami juga tidak percaya kalau Valentina itu adalah Caliope."
__ADS_1
Fabian menatap putrinya dengannya penuh cinta dan kasih sayang.
"Mulai sekarang kamu jangan panggil aku paman lagi, karena aku adalah ayahmu."
"Paman Fabian adalah ayahku?"
"Iya, sayang. Aku adalah ayahmu."
"Jadi paman benar-benar ayahku?"
"Iya."
Mata Valentina memerah dan berkaca-kaca.
"Ayaaah."
Valentina memeluk ayahnya dan menangis.
"Sudah jangan menangis."
"Aku senang ternyata paman Fabian benar-benar ayahku."
Sekali lagi Fabian mencium pipi Valentina.
"Ini ibumu."
"Bibi Miya benar-benar ibuku?"
"Iya."
"Ibuuuu."
Valentina turun dari pangkuan ayahnya, lalu naik kepangkuan Miya dan memeluknya. Miya akhirnya menangis memeluk Valentina, anak yang selama ini tidak dikenalnya. Miya dan Fabian memeluknya. Berkali-kali menciumi wajahnya.
" Anakku,’’panggil Miya berulang-ulang. Keduanya tidak berhenti memandangi Valentina. Mereka merasa takjub melihatnya . Anak yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya.
"Aku senang orangtuaku masih hidup."
‘’Benar, kami masih hidup’’jawab Maya lembut sambil mengusap bagian belakang kepalanya.
"Kalian jangan tinggalkanku lagi."
"Kami tidak akan meninggalkanmu lagi. Mulai sekarang kita akan selalu bersama’’jawab Masumi dan sekali lagi mereka bertiga berpelukan. "Aku sayang kalian."
"Kami juga sangat sayang kamu."
"Ini seperti mimpi dapat bertemu dengan Ayah dan Ibu."
"Ini bukan mimpi sayang,’’jawab Miya.
"Ayah, Ibu coba cubit aku."
"Awwww. Ternyata ini bukan mimpi."
Valentina tersenyum senang. Erika menitikkan air mata merasa terharu melihat Valentina yang sudah bertemu dengan orangtuanya, meskipun ia sedih, tapi ia senang.
"Aku senang kalian bisa bertemu lagi. Sekarang aku akan menyerahkan diri kepada polisi, karena sudah menculik anak kalian."
"Terima kasih sudah mau memberitahu kami tentang Valentina."
"Ini sudah menjadi tanggung jawabku untuk mengembalikan anak kalian."
Mereka memutuskan pulang. Erika menyiapkan semua barang-barang Valentina untuk dibawa pulang. Ia sedih harus berpisah dengan Valentina yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.
Erika menyerahkan satu koper kecil dan tas ransel milik Valentina kepada Fabian.
"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih sudah merawat anakku."
"Kami menyayangi Valentina,"kats Gilbert.
"Apa nanti aku bisa berkunjung menemui Valentina?"tanya Erika.
"Tentu saja,"kata Miya.
Sebelum pergi Erika memeluk Valentina. "Sampai jumpa!"
"Sampai jumpa lagi Bibi Erika!"
Giliran Gilbert memeluk Valentina.
"Sampai jumpa paman Gilbert!"
Erika dan Gilbert memandang sedih kepergian Valentina.
"Pasti Logan akan sedih Valentina sudah pergi,"kata Erika.
"Logan akan mengerti. Ayo masuk!"
🧸🧸🧸
Orangtua Fabian terus menatap pintu depan rumahnya, ia sudah tidak sabar menanti kedatangan anak, menantu, dan juga cucunya perempuannya yang telah lama hilang. Jonathan, Clarie, dan Raina pun sudah tidak sabar menanti kedatangan mereka.
"Kenapa mereka belum datang juga?’’tanya Andrew.
"Mereka pasti datang mungkin sekarang mereka masih berada dijalan,"kata Rosalie, ibu Fabian.
Suara mobil terdengar memasuki halaman.’’Mungkin itu mereka. Coba kamu lihat!’’
Andrew segera kembali merapikan diri meski sudah terlihat sangat rapi sejak dari tadi. Pintu terbuka dan orang yang dinantikan mereka telah tiba.
"Valentina, ini kakek Andrew,’’kata Miya.
"Halo Valentina! Akhirnya kita berdua dapat bertemu."
"Aku juga senang berkenalan dengan kakek Andrew."
Miya juga memperkenalkan kepada anggota keluarga yang lain. Valentina begitu senang bertemu dengan kakak-kakaknya. Ia tidak menyangka selama ini ia memiliki keluarga besar. Sekarang ia tidak sendirian lagi setelah ditinggal pergi orangtua angkatnya.
"Selamat datang, Valentina!"kata Clarie dan Jonathan.
Raina kemudian berjongkok dan mengusap rambutnya. "Kamu sudah tumbuh besar. Terakhir kali aku melihatmu, kamu masih bayi."
Raina memeluk Valentina, lalu mencium pipinya. Raina melihat kalung yang tersembunyi dibalik pakaian Valentina. Ia pun memgeluarkan dan menangis terharu. Ternyata itu adalah kalung yang ia berikan kepadanya.
Raina pun memanggil orangtuanya dan memperlihatkan kalung pemberiannya. Merka sangat senang, karena kalung itu memperjelas siapa Valentina sebenarnya.
Seorang pelayan datang untuk memberitahukan kalau makan malam telah siap. Suasana makan malam kembali ceria. Kebahagian Fabian pelan-pelan mulai kembali lagi kepadanya, meskipun ingatan isyrinya belum kembali itu tidak masalag baginya yang penting Miya ada disisinya lagi.
__ADS_1
Setelah mereka makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga. Miya duduk diantara Valentina dan Fabian mendengarkan cerita Valentina. Beberapa pelayan lainnya juga ikut merasa senang, karena sudah sekian lama akhirnya rumah ini kembali ceria lagi. [ ]