My Beloved Uncle ( Baskerville #1)

My Beloved Uncle ( Baskerville #1)
(S2) : Sikap dingin Leonard


__ADS_3

Raina sedang menikmati bulan madunya bersama Leonard di Paris. Ia merasa wanita paling bahagia di dunia dan sama sekali tidak menduga urusan asmaranya berjalan dengan lancar. Hari ini hari pertamanya mereka berbulan madu. Leonard mengajak Raina berkeliling kota Paris dan berfoto bersama. Tak henti-hentinya Raina menebar senyum sepanjang jalan.


" Hari yang sangat indah bukan?"


Leonard hanya mengangguk. Ia hanya memperhatikan istrinya yang terlihat sangat senang dan sebentar lagi senyuman itu akan hilang dari wajahnya yang cantik. Leonard duduk di bangku yang berada di pinggir jalan sambil menikmati angin sejuk yang berhembus.


Raina kemudian duduk di sampingnya dan memberikan kacang kastanye yang masih panas kepada suaminya.


" Hari ini kamu tidak banyak bicara," kata Raina.


" Aku sedang tidak ingin banyak bicara," jawab Leonard dengan suara ketus.


" Hmmm. Baiklah."


Raina kemudian mengajak Leonard berjalan lagi. Setelah menjelang malam, mereka makan malam disebuah restoran mewah dan Raina merasa kecewa suaminya hari ini sangat pendiam sekali.


Di hotel Raina ditinggal sendirian dan Leonard tidak mengatakan apa pun kemana ia akan pergi. Suasana kamar terasa sangat sepi. Raina menunggu kepulangan suaminya dengan hati gelisah. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi tidak ada tanda-tanda Leonard akan kembali padahal ini adalah malam pertamanya.


Setetes demi setetes air mata terjatuh membasahi wajahnya. Raina cepat-cepat menghapusnya. Ia pun jatuh tertidur. Keesokan paginya Raina menemukan suaminya tidur di sofa.


Raina menunggu Leonard bangun. Satu jam kemudian suaminya bangun.


" Selamat pagi!"sapa Raina dengan wajah tersenyum.


Leonard memandang dingin kepada Raina yang membuatnya heran dan bingung. Ia langsung menuju ke kamar mandi tanpa mempedulikan tatapan istrinya yang keheranan.


Raina merasa sedih. Ia tidak tahu apa sudah membuat kesalahan sehingga suaminya mendiamkannya.


" Semalam kamu pergi ke mana? Aku menunggumu sampai tertidur."


" Aku pergi ke bar."


" Jadi semalaman kamu berada di bar?"


" Iya."


" Tapi kenapa kamu lebih memilih menghabiskan waktu di sana bukannya di sini bersamaku?"


" Aku sedang tidak ingin bersamamu."


"Apa kamu marah kepadaku?"


"Menurutmu?"


"Mana aku tahu kamu marah padaku atau tidak . Jika aku sudah membuatmu marah tanpa aku sadari, maafkan aku."


Leonard membalasnya dengan tatapan dingin yang menusuk. Raina melihat ada rasa marah dalam sinar mata suaminya. Setelah berganti pakaian Leonard kembali pergi keluar dan Raina kembali ditinggalkan di kamar.


Raina kembali meneteskan air matanya. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa suaminya bersikap dingin kepadanya tidak sehangat sebelum mereka menikah. Suara deringan telepon mengejutkannya. Cepat-cepat ia menghapus air matanya dan mengatur suaranya setelah melihat nama ibunya di layar ponselnya.


" Raina, bagaimana kabarmu?"


"Aku baik. Bagaimana kabar kalian?"


"Kami semua baik-baik saja."


"Aku sangat merindukan kalian."


"Kami juga. Apa Ibu menganggumu?"


"Sama sekali tidak. Aku baru saja bangun dan sebentar lagi akan mandi."


" Apa bulan madumu menyenangkan?"


Raina terdiam sebentar. "Sangat menyenangkan."


" Sangat senang mendengarnya. Maaf Ibu meneleponmu padahal baru dua hari kamu pergi."


" Tidak apa-apa. Aku senang ibu meneleponku."


" Jaga dirimu baik-baik! Sampai jumpa!"


"Sampai jumpa!"


Raina memutuskan sambungan teleponnya, lalu menghembuskan napas panjang. Ia tidak ingin orangtuanya cemas bahwa bulan madunya tidak berjalan lancar seperti yang ia bayangkan.


Selama satu minggu bulan bulan madu, Leonard masih bersikap dingin dan sering kali meninggalkan Raina di kamar hotel dan itu membuat Raina sangat kesal. Ia pun memutuskan pergi jalan-jalan sendirian. Raina pun kembali ke kamar hotel dengan perasaan sedih. Ia tidak ingin terus-terusan diperlakukan oleh suaminya seperti ini.


Pintu kamar hotel terbuka saat menjelang tengah malam. Raina meloncat turun dari tempat tidurnya.


"Akhirnya kamu kembali juga. Kamu dari mana saja?"


Leonard berjalan melewati Raina tanpa mengatakan sepatah kata pun dan membuat Raina semakin kesal.


"Apa kamu tidak mendengarku? Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu mendiamkanku seperti ini? Kenapa sikapmu berubah,"desak Raina.


Leonard tetap diam. Raina menarik tangan suaminya dengan kesal. Tentu saja Leonard tidak ingin istrinya tahu, karena ia sendiri masih bimbang takut salah menuduh istrinya, tapi dibalik kebimbangannya itu ada bukti kuat kalau Rainalah penyebab kematian Oliver.


Apa lagi Leonard diam-diam telah jatuh cinta kepada Raina dan berulang kali pula ia menahan dirinya untuk tidak memeluk istrinya, tetapi keinginannya untuk membalaskan dendam adiknya sudah mengalahkan cintanya kepada Raina.


" Jawab aku!"serunya.


"Aku mau tidur."


Leonard menuju sofa dan tidur di sana tanpa menjawab semua pertanyaan Raina.


💔💔💔


Frank dan Raina telah kembali ke New York. Raina merasa sangat senang telah kembali dan tanpa membuang waktu lagi, Raina langsung pergi menemui Fabian di kantornya. Kedatangannya sempat ditolak, karena belum ada janji bertemu, tapi akhirnya ia diberi izin untuk menemui Fabian setelah Raina mengatakan bahwa ingin memberitahukan informasi penting tentang istrinya.


Gilbert, sekretaris Fabian menyambut kedatangan Raina seramah mungkin dan mempersilahkannya masuk. Riana tersenyum senang saat melihat Fabian sedang sibuk memeriksa tumpukan kertas di meja.


" Selamat sore!"sapa Raina.


Fabian mendongakkan kepalanya. " Selamat sore! Silahkan duduk!"


Raina duduk di sofa semanis mungkin, lalu Fabian mendekati Raina, lalu Raina langsung memperkenalkan dirinya.


" Nama saya Raina Astor ." Raina sengaja memperkenalkan dirinya menggunakan nama gadisnya. Ia tidak ingin Fabian tahu bahwa ia sudah menikah.


" Baiklah nona atau nyonya..."


" Panggil saja aku nona Raina!"


" Baiklah nona Raina. Informasi apa yang Anda ingin sampaikan tentang istriku."

__ADS_1


" Begini ada seorang temanku melihat bahwa istri Anda jalan bersama pria lain."


Fabian terkejut. " Itu tidak mungkin. Ini tuduhan yang sangat serius."


" Saya tahu, tapi saya percaya apa yang dikatakan oleh teman saya, Tuan Baskerville."


" Apa teman Anda itu punya buktinya?"


" Tentu saja."


Raina kemudian memperlihatkan foto Miya yang sedang dipeluk oleh pria lain di dekat sebuah taman bermain. Fabian terlihat terkejut.


" Aku tidak percaya."


"Terserah Anda mau percaya atau tidak yang penting saya sudah memberitahu perselingkuhan istri Anda."


" Kenapa nona mengatakan semua ini kepadaku?"


" Karena saya peduli pada Anda, karena Anda orang baik tidak pantas dikhianati oleh istri Anda sendiri."


" Ada yang ingin Anda sampaikan lagi, nona?"


" Tidak ada."


" Kalau begitu Anda boleh pergi sekarang."


Raina bangkit dari sofa, lalu pergi menuju pintu. Raina berpura-pura kepalanya pusing dan hampir terjatuh. Fabian sigap menahan tubuhnya.


" Nona tidak apa-apa?"


" Saya tidak apa-apa hanya saja kepalaku pusing mungkin karena anemia."


Fabian merangkul tubuh Raina dan menuntunnya kembali ke sofa.


" Terima kasih."


Fabian memberikan segelas air putih kepada Raina.


" Saya akan menyuruh sopir untuk mengantar Anda pulang."


" Tidak perlu. Saya biasa sendiri."


" Apa nona yakin bisa pulang sendiri?"


Raina mengangguk.


" Maaf sudah menganggu waktu Anda."


" Sama sekali tidak. Begini saja bagaimana kalau aku mengantarkan nona pulang kebetulan sebentar lagi aku akan pulang."


Hati Raina bersorak bahagia. " Apa itu tidak merepotkan Anda?"


" Tentu saja tidak."


Fabian tersenyum dan membuat hati Raina meleleh. Setelah setengah jam menunggu, Fabian sudah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap-siap untuk pulang. Ia pun mengantarkan Raina pulang.


" Ini apartemennya?"


" Iya. Ini apartemen saya. Apa Anda mau masuk sebentar untuk minum teh?"


" Sayang sekali. Baiklah. Terima kasih sudah mengantar saya pulang."


Fabian kembali masuk ke dalam mobilnya dan setelah mobil Fabian tidak terlihat lagi, Raina cepat-cepat pergi dari apartemen menuju rumah suaminnya menggunakan taxi.


Sesampainya di rumah Fabian langsung mencari istrinya. Miya sedang merajut di kamarnya.


" Kamu sudah pulang?"


" Aku pulang lebih awal."


" Apa kamu sakit?"


" Aku baik- baik saja."


Miya merasa ada yang aneh dengan suaminya. " Sebenarnya ada apa?"


" Ada seseorang yang mengatakan bahwa kamu selingkuh."


Miya membelakakan matanya, lalu tertawa.


" Kenapa kamu tertawa?"


" Karena aku tidak berselingkuh. Siapa yang sudah mengatakan omong kosong itu?"


" Tadi ada seorang wanita bernama Raina. Aku tahu namanya sama dengan putri kita. Dia mengatakan kalau kamu telah selingkuh. Ada temannya yang melihatmu selingkuh bahkan dia memperlihatkan fotomu yang sedang dipeluk pria lain."


Miya menjadi terkejut, karena selama ini dia tidak pernah pergi dengan pria manapun kecuali dengan suami dan anak laki-lakinya.


" Apa kamu memiliki fotonya?"


Fabian menggelengkan kepalanya." Tidak. Aku tidak meminta foto itu."


" Di mana foto itu diambil?"


"Dekat taman bermain."


" Apa aku memakai celana jeans dan kemeja lengan pendek berwarna krem?"


" Iya dari mana kamu tahu?"


" Sekarang aku ingat. Dua hari yang lalu, ada pria asing yang tiba-tiba memelukku di depan taman bermain. Tentu saja aku marah."


"Apa kamu bilang?"


Fabian terlihat sangat kesal dan marah.


" Tenangkan dirimu. Pria itu tidak berbuat macam-macam padaku."


" Tapi dia sudah berani memeluk istriku."


Miya pun menceritakan kejadian dua hari yang lalu, saat ia mengantar Clarie pergi ke mini market untuk membeli alat-alat tulis. Setelah dari mini market, Clarie bermain sebentar di taman dan tiba-tiba ada pria asing mendekatinya. Pria itu menanyakan alamat, lalu tiba-tiba memeluknya.


" Kenapa kamu tidak menceritakannya kepadaku?"


" Karena aku pikir bukan hal yang penting. Aku sudah memarahinya dan pria itu juga sudah meminta maaf."

__ADS_1


" Apa kamu tahu kenapa pria itu tiba-tiba memelukmu?"


" Pria itu bilang kalau aku mirip dengan istrinya."


"Ada-ada saja. Pasti pria itu bohong dan ingin mengambil kesempatan untuk memelukmu," kata Fabian dengan nada suara kesal.


" Sudah jangan marah."


" Bagaimana aku tidak marah kalau ada pria lain yang memelukmu?"


" Aku tahu. Pasti aku juga akan marah kalau ada wanita asing memelukmu. Maafkan aku tidak menceritakannya kepadamu."


" Lain kali kalau sampai hal ini terjadi lagi kamu harus memberitahuku."


" Baiklah."


Fabian memeluk Miya dengan erat dan mengecup keningnya.


" Aku merasa heran kenapa ada orang yang memfotonya ya dan menuduhku telah berselingkuh."


" Kamu benar juga. Mungkin ada orang yang tak sengaja melihatmu dipeluk oleh pria lain dan kebetulan orang yang memfotomu itu mengenalmu sebagai istriku."


" Itu mungkin saja."


Fabian kembali memeluk Miya.


💔💔💔


Leonard terkejut melihat Raina yang sedang membereskan semua pakaiannya.


" Apa yang kamu lakukan?"


" Apa kamu tidak lihat aku sedang membereskan semua pakaianku. Aku ingin pulang."


" Pulang?"


" Iya. Percuma saja kita melakukan bulan madu kalau kamu sama sekali tidak peduli kepadaku lagi."


" Baiklah kalau itu maumu. Pulang saja sendiri."


Raina telah selesai membereskan semua pakaiannya ke dalam koper, lalu bersiap keluar kamar hotel dengan perasaan marah.


" Aku tidak tahu kenapa sikapmu jadi berubah padaku. Aku juga tidak tahu kenapa kamu marah padaku. Seharusnya aku tidak terburu-buru menikah dengannu. Aku pikir kamu adalah pria yang baik dan suami yang baik untukku tapi ternyata tidak. Selamat tinggal!"


Pintu kamar hotel terbuka, lalu tertutup dengan keras.


" Sial!"gumam Leonard.


Keesokan paginya Raina telah berada kembali di New York, tapi ia tidak bisa kembali ke rumah orangtuanya, karena mereka pasti bertanya- tanya tentang kepulangannya yang tiba-tiba tanpa Leonard. Raina pun memutuskan pulang ke rumah keluarga Clemonte.


Kedatangan Raina disambut oleh Owen, kepala pelayan keluarga suaminya. Owen terkejut melihat kedatangan Raina yang tiba-tiba dan lebih cepat dari jadwal kepulangan mereka dari bulan madu.


" Selamat datang nyonya!"


Raina tersenyum. "Terima kasih!"


Owen mencari seseorang dan ia nampak kebingungan.


" Leonard masih ada di Paris."


"Eh."


"Aku pulang lebih awal dari yang direncanakan."


"Saya mengerti."


Owen kemudian mengantarkan Raina ke kamar Leonard, lalu ia ditinggalkan sendirian di sana. Ini pertama kalinya ia melihat kamar suaminya. Kamarnya cukup luas. Dinding kamarnya dilapis kertas dinding bercorak garis-garis berwarna krem dan emas. Tempat tidurnya sangat besar dan ada kelambunya. Ia berjalan menuju balkon yang cukup luas. Ada meja dan dua kursi. Di bawahnya ada taman labirin dan ditengah-tengahnya ada air mancur berbentuk ikan lumba-lumba.


Di kejauhan Raina melihat beberapa domba yang sedang merumpun. Rumah keluarga Clemonte tidak berada di kota, tapi berada disebuah perkebunan yang dikelilingi oleh tanah yang luas. Raina menghirup udara yang segar dan hembusan angin sepoi-sepoi sedikit membantunya melupakan masalah dengan suaminya.


Raina berbaring di tempat tidur yang sepreinya terasa sangat lembut. Ketukan dipintu membuatnya terlonjak terkejut. Ia segera bangun dan merapikan rambutnya.


" Masuk!"


Seorang pelayan wanita masuk membawakan sepoci teh dan beberapa kue kering, lalu pelayan itu menyimpannya di atas meja.


" Terima kasih."


Pelayan wanita itu memperhatikan Raina secara terang-terangan dan menatap tidak suka kepadanya. Raina dibuat bingung olehnya, tapi Raina berusaha untuk tidak mempedulikannya.


Raina menuangkan teh ke cangkir dan memakan kue keju kering yang terasa sangat lezat, kemudian ia pun membersihkan dirinya dan berganti pakaian sambil menunggu makan malam tiba. Ia pun memutuskan untuk tiduran sebentar.


Ketukan dipintu membuat Raina terbangun dan hari sudah gelap.


" Masuk!"


Seorang pelayan wanita yang tadi sore mengantarkan teh dan kue untuknya masuk ke dalam kamar.


" Makan malam telah siap."


" Aku akan segera ke sana."


Pelayan itu pergi. Tiba-tiba Raina teringat sesuatu, bahwa ia belum tahu tahu ruang makan ada di mana. Ia pun kembali memanggil pelayan itu.


"Tunggu! Tunjukkan di mana ruang makannya!"


" Mari ikuti saya!"


Raina mengikuti pelayan itu menuju ruang makan. Ia terkejut melihat meja makan yang sangat panjang. Makan malamnya telah tersedia.


" Terima kasih! Siapa namamu?"


" Leonie." Nada suaranya terdengar sangat ketus.


" Leonie, bersikaplah sedikit sopan!"seru Owen.


"Tidak apa-apa."


"Selamat malam nyonya!"


" Malam!"


"Silahkan!"


Owen mendorong kursi dan Raina berjalan menuju meja makan dan duduk. Ia kembali ditinggal sendirian dan memakan makan malam yang sangat lezat. Ruang makan terasa lebih seram dan hanya terdengar suara jarum jam. Raina pun merindukan suasana makan di rumahnya yang selalu ramai.

__ADS_1


Setelah makan malam Raina kembali ke kamarnya memikirkan suaminya. Ia sangat merindukan Leonard dan menebak-nebak apa yang sedang suaminya lakukan di Paris. Ia berharap ketika suaminya pulang, sikapnya akan kembali berubah hangat. [ ]


__ADS_2