
Fabian masuk ke dalam kamarnya dan ia tidak menemukan Miya di sana. Ia mengulum senyum mengingat kebersamaan yang selalu mereka lewati bersama. Fabian membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Ia tersenyum melihat nama yang mengirimnya pesan.
Istriku tersayang:
Hari ini aku dan Raina pergi belanja. Aku akan pulang sore nanti.
Fabian kembali menyimpan ponselnya di nakas samping tempat tidur, lalu kembali tidur. Fabian terbangun dan ia terkejut melihat mantan istrinya, Clarissa ada di kamarnya sedang duduk di tepi tempat tidur. Fabian langsung menjauhkan diri.
"Halo Fabian!"sapanya dengan wajah tersenyum.
" Ini tidak mungkin. Kamu sudah meninggal."
Fabian masih belum mengatasi keterkejutannya.
" Aku belum meninggal, sayang."
"Tidak. Kamu sudah meninggal. Aku sendiri yang mengantarmu ke tempat peristirahatanmu yang terakhir."
Clarissa naik ke atas tempat tidur mencoba mendekati Fabian.
" Aku merindukanmu dan aku mencintaimu."
" Jika kamu memang benar-benar mencintaiku, kamu tidak akan pernah selingkuh dengan pria lain."
" Pria yang aku cintai hanya kamu. Kita akan bersama lagi seperti dulu."
" Cintamu palsu dan aku pria bodoh yang begitu saja percaya dengan ketulusan cintamu itu dan aku tidak akan tertipu lagi olehmu. Lagi pula aku sudah menemukan wanita yang benar-benar yang aku cintai, yaitu belahan jiwaku."
Clarissa mencoba mendekati Fabian.
"Jangan mendekat!"teriaknya.
Raut wajah Clarissa berubah menjadi sedih.
"Kita akan bersama lagi untuk selamanya."
" Pergilah! Kamu sudah meninggal. Jangan ganggu aku lagi!"
" Aku akan segera kembali untukmu."
Fabian terbangun dengan napas yang terengah-engah. Butiran keringat memenuhi dahinya. Ia tidak mengerti kenapa ia bisa memimpikan Clarissa setelah sekian tahun lamanya? Dan kenapa ia kembali hadir dalam mimpinya? Pikir Fabian. Ia turun dari tempat tidur dan mengambil minum.
Fabian kembali duduk di sofa memikirkan kembali mimpinya. Clarissa sudah meninggal tidak mungkin ia akan kembali lagi kecuali itu hantunya Clarissa.
Pintu kamar terbuka dan membuat Fabian terkejut. Ia melihat Miya masuk membawa banyak kantong belanjaan.
" Ternyata kamu," kata Fabian.
" Sepertinya kamu terkejut dengan kedatanganku. Ada apa? Apa kamu baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat."
Miya menyimpan belanjaannya di atas tempat tidur.
" Aku bermimpi buruk."
"Oh ya."
Miya duduk di samping Fabian, lalu mengecup pipinya.
" Tadi mimpi buruk apa?"
" Aku bertemu dengan Clarissa dimimpiku dan dia mengatakan dia akan datang untukku dan akan segera kembali."
" Clarissa sudah meninggal, jadi tidak mungkin akan kembali."
" Aku tahu itu. Mungkin saja jika aku meninggal aku akan dibawa pergi olehnya."
" Jangan bicara seperti itu. Aku tidak suka. Itu hanya mimpi tidak perlu kamu pikirkan dan itu hanya akan membuatmu cemas saja dan itu juga membuatku cemas."
" Maafkan aku. Kamu benar. Itu hanya mimpi. Tadi kamu beli apa?"
" Aku membeli beberapa pakian bayi bersama dengan Raina. Apa kamu ingin melihatnya?"
Miya beranjak dari sofa menuju tempat tidur membuka kantong belanjaanya dan memperlihatkan isinya yang berupa pakaian dan sepatu bayi kepada Fabian.
" Pakaian bayi ini sangat lucu. Apa kamu suka?"
" Aku sangat suka. Dan untuk kamar bayi, kita pakai bekas Clarie ketika bayi dan kita dekor ulang. Bagaimana?"
" Aku setuju."
" Oh ya di mana Clarie seharian ini aku belum melihatnya?"
" Dia ada di tempat les piano dan sebentar lagi pulang."
" Kapan Jonathan pulang dari sekolah asramsnya? Aku sudah merindukan anak itu."
" Jonathan baru akan pulang liburan sekolah bulan depan. Lagi pula dia akan baru pulang beberapa hari yang lalu."
" Masih lama. Aku kan sudah merindukannya lagi." Wajah Fabian berubah menjadi cemberut.
" Aku juga merindukannya dan sudah tidak sabar ingin kembali bertemu dengannya."
Fabian beranjak dari sofa, lalu memeluk istrinya. Miya bisa melihat wajah mesum Fabian, jika pria itu sudah menginginkannya.
" Pamanku tersayang, jangan sekarang."
Fabian semakin mengetatkan pelukannya.
" Sudah aku katakan berulang kali jangan panggil aku paman lagi."
" Paman tetaplah paman dan kenyataannya memang seperti itu." Miya memberikan senyuman lebar membuat Fabian semakin gemas dan saat itu juga ia ingin segera memperangkap istrinya di bawah tubuhnya.
Fabian mulai mengusap leher istrinya dengan hidungnya membuat Miya terhenyak. Hembusan napas hangat suaminya seakan menggelitik dirinya.
" Kamu sangat cantik sekali, " bisiknya.
Fabian mulai menciumi leher dan lidahnya mulai menggoda telinga istrinya. Miya masih berusaha menjaga konsentrasi pikirannya atas apa yang dilakukan suaminya sekarang. Tangan Fabian kini mengusap-usap bagian bawah payudaranya dan mulai membuka setiap kancing pakaian istrinya, kemudian menarik lepas melewati pundak istrinya.
Miya memejamkan mata menikmati semua perlakuan suaminya terutama saat tangan Fabian membelai-belai kulit sensitifnya di antara kedua paha istrinya dan Miya menggelinjang gelisah.
" Tenang, Miyaku sayang," bisik Fabian, lalu kembali melanjutkan siksaan nikmat itu. Jari-jari Fabian sangat terampil dan menuntut. Miya tidak dapat berpikir lagi selain berusaha mencapai puncak kepuasannya. Mereka kemudian membuka pakaiannya masing-masing dan melemparkannya ke sembarang tempat.
Mulut Fabian seketika menghujani bibir Miya dengan ciuman-ciuman panas dan mengendong istrinya ke tempat tidur dan tidak lama kemudian Miya dan Fabian meraih puncak kenikmatan.
Fabian memeluk pinggangnya, menariknya supaya lebih dekat lagi. " Aku mencintaimu," bisik Fabian di telinga Miya.
__ADS_1
💔💔💔
Clarie yang sedang menunggu jemputan di depan tempat les pianonya dihampiri oleh seorang wanita.
" Namamu Clarie, bukan?"
" Iya. Dari mana Anda tahu namaku?"
Wanita itu tersenyum. " Aku teman lama ayahmu."
"Benarkah?"
"Iya. Tolong berikan ini kepada Ayahmu ya !"
" Apa ini?"tanya Clarie sambil memperhatikan kotak panjang yang diterimanya.
" Berikan saja itu kepadanya!"
" Hmm. Baiklah."
Wanita itu segera pergi dan sebuah mobil sedan berhenti di depan Clarie.
" Maaf nona Clarie! Aku datang terlambat menjemput."
" Tidak apa-apa, Tom."
Sopir yang bernama Tom membukakan pintu mobil untuk Clarie. Menjelang malam Clarie telah tiba di Castalia mansion dan langsung mencari ayahnya di kamar.
"Ayah,"panggilnya sambil membuka pintu dan mata Clarie membelalak terkejut melihat Ayah dam ibunya sedang berbaring telanjang.
"AAAAAAAAA," teriak Clarie dan langsung membalikkan tubuhnya.
Fabian yang terkejut langsung menutupi tubuhnya dan tubuh Miya.
" Kalian menjijikkan," serunya.
" Se-seharusnya kamu mengetuk pintu dulu. Apa yang kamu lihat?"tanya Fabian.
" Semuanya."
Fabian mulai gelagapan putri kecilnya sudah menangkap basah sedang bermesraan dengan istrinya. Miya hanya tersenyum melihat Fabian yang terlihat panik.
Fabian cepat-cepat memakai kembali pakaiannya. " Ada apa mencari kami?"
" Aku mencari Ayah."
" Baiklah. Ada apa mencari Ayah?"
Clarie memberikan kotak panjang kepada Ayahnya.
" Apa ini?"
" Aku tidak tahu. Tadi ada seorang wanita cantik menyuruhku memberikan ini kepada Ayah?"
" Siapa wanita itu?
" Katanya teman lama Ayah."
" Teman lama?"
" Paman Fabian, bukalah! Aku penasaran apa isinya," kata Miya.
" Jangan panggil aku paman!"
Fabian membuka kota itu dan ia langsung melempar kotak itu ke lantai.
" Ada apa?"
Fabian tidak menjawab, karena masih terkejut. Miya bangun dan beranjak dari tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia mengambil kotak itu. Isinya adalah setangkai bunga Lily putih.
" Kenapa kamu takut dengan bunga ini?"
" Itu adalah bunga kesukaan Clarissa dan Mary Jane pernah menerorku dengan bunga itu."
" Jangan katakan kalau yang memgirim bunga ini salah satu diantara mereka, karena mereka sudah meninggal. "
" Aku tidak tahu siapa yang mengirimnya. Clarie hanya bilang teman lamaku."
" Sama sekali tidak ada kartu dan nama."
" Menurutmu siapa?"
" Aku tidak tahu. Coba ingat-ingat mungkin kamu punya kenalan yang suka dengan bunga ini."
" Tidak ada."
"Kamu yakin?"
" Sangat yakin."
" Mungkin mantan -mantan pacarmu."
"Mereka tidak suka bunga itu."
" Sebaiknya kita panggil Clarie untuk menjelaskan ciri-ciri wanita yang sudah memberikan ini."
Setelah berpakaian lengkap, Miya memanggil Clarie di kamarnya. Gadis kecil itu nampak malu-malu memandang orangtuanya.
" Apa kamu masih ingat ciri-ciri wanita yang memberikan kotak ini?"tanya Miya.
"Aku ingat."
"Seperti apa ciri-cirinya?"
" Wanita itu tinggi, anggun, cantik, rambutnya panjang berwarna pirang, matanya hijau, dan memakai baju merah."
Wajah Fabian menjadi kaku.
" Hanya itu saja?"
Clarie mengangguk.
" Kamu boleh kembali ke kamarmu."
Clarie keluar kamar.
__ADS_1
" Apa sudah ada gambaran siapa wanita itu?"
Fabian mengangguk lemah.
"Siapa?"
"Clarissa."
" Jangan bercanda! Clarissa sudah meninggal."
"Aku tahu, tapi ciri-ciri wanita itu sangat mirip dengan Clarissa."
" Aku tidak percaya Mungkin saja ada wanita lain yang kebetulan memiliki ciri-ciri yang sama dengannya."
" Aku tidak mengenal wanita lain yang memiliki ciri-ciri seperti itu, kecuali Clarissa.
Keduanya terdiam mencoba menenangkan hati mereka.
" Apa Clarissa sebenarnya masih hidup? Aku tahu ini gila, tapi itu bisa saja terjadi,"kata Miya.
" Itu tidak mungkin. Aku sendiri melihatnya terbaring di peti jenazah sebelum dikuburkan dan aku juga melihat saat peti itu dimasukkan ke tanah."
" Apa mungkin Mary Jane?"
" Dia juga sudah meninggal. Aku melihatnya jatuh dari balkon dan aku juga menghadiri pemakamannya."
"Lalu siapa?"tanya Miya frustasi.
" Entahlah. Sebaiknya kita lupakan saja dulu hal ini."
Fabian memasukkan kotak itu beserta isinya ke tong sampah."
💔💔💔
Gilbert, sekretaris Fabian yang baru saja keluar dari mini market sebelum pergi ke kantor tak sengaja ia melihat seorang wanita dari kejauhan yang membuatnya terkejut.
"Itu tidak mungkin."
Gilbert mempercepat langkahnya untuk memgejar wanita tersebut dengan menerobos kerumunan orang dan beberapa kali menabrak orang.
"Maaf...Maaf."
Wanita itu kemudian berbelok ke kanan jalan dan hampir saja ia kehilangan jejaknya. Rasa penasarannya yang begitu besar membuatnya ingin terus mengikuti kemana pun wanita itu pergi.
Tiba-tiba ponselnya berdering dan nama Fabian tertera di layar ponselnya
" Fabian."
" Sebenarnya kamu ada di mana? Jam segini kamu belum datang tidak biasanya."
" Maafkan aku. Aku akan datang terlambat, karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Aku akan menceritakannya nanti."
Terdengar hembusan panjang dari seberang telepon.
" Baiklah."
Gilbert menutup teleponnya dan masih mengikuti wanita itu dari belakang.
" Siapa sebenarnya kamu? Kenapa kamu mirip sekali dengannya,"gumam Gilbert.
Setelah beberapa menit mengikuti wanita itu, Gilbert kehilangan jejaknya, karena banyaknya kerumunan manusia di jalan. Ia sangat kesal dan memutuskan untuk segera pergi ke kantor.
Gilbert segera menemui Fabian begitu sampai di kantor.
" Kamu dari mana saja? Kamu datang sangat terlambat."
" Maafkan aku. Tadi aku melihat seorang wanita yang sangat mirip Clarissa, mantan istrimu."
Fabian langsung berdiri."Apaaa?"serunya terkejut.
" Ini memang sulit dipercaya, tapi aku melihatnya dengan mataku sendiri. Itu sebabnya aku datang terlambat ke kantor, karena aku mengikutinya, tapi aku kehilangan jejaknya. Terserah jika kamu tidak percaya."
Wajah Fabian menjadi pucat dan membuat Gilbert cemas.
" Kemarin aku mendapatkan kiriman bunga Lily dari seorang wanita yang tidak dikenal dan Clarie menyebutkan cici-ciri wanita yang sudah memberikan bunga itu kepadanya dan ciri-cirinya sangat mirip dengan Clarissa. Aku sudah membahas ini dengan Miya. Ia berpikiran mungkin saja Clarissa masih hidup."
" Kemungkinan itu sangat kecil. Aku juga menghadiri pemakamannya dan sempat melihatnya untuk terakhir kalinya sebelum peti ditutup dan dikuburkan."
" Apa mungkin Clarissa memiliki saudara kembar?"tanya Fabian.
"Itu mungkin saja. Kita tidak tidak pernah tahu siapa keluarganya yang sebenarnya. Kita hanya tahu, Clarissa anak angkat keluarga Kenndrick."
Fabian nampak berpikir sebentar, lalu menyuruh Gilbert keliar dan kembali kepada pekerjaannya. Pada jam istirahat makan siang, Fabian menuju perusahaan Kenndrick. Ia menemui James di kantornya. Kedatangan Fabian yang tiba-tiba membuat pria itu terkejut.
Sekarang mereka sudah menjadi teman dan James sudah menikah dan memiliki 4 orang anak.
" Fabian, ini suatu kejutan kamu datang ke sini dan sudah lama kita tidak bertemu."
" Maaf kalau kedatanganku menganggumu, tapi ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu."
" Sepertinya sangat penting sampai kamu harus datang menemuilu di sini."
" Benar. Ini mengenai Clarissa."
" Clarissa? Kenapa kamu bertanta tentang dua lagi setelah sekian tahun lamanya."
" Tadi pagi sekretarisku meligat wanita yang sangat mirip dengan Clarisaa dan putriku, Clarie bertemu dengan wanita yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan Clarissa."
" Itu tidak mungkin. Clarissa sudah meninggal."
" Apa Clarissa mempunyai saudara kembar?"
" Aku tidak tahu apa ia punya saudara kembar atau tidak. Seperti yang kita tahu saudara Clarissa dan keluarganya meninggal dalam kebakaran."
" Aku tahu itu."
" Mungkin itu hanya wanita yang kebetulan yang mirip dengan Clarissa."
" Entahlah. Aku tidak yakin. Terima kasih sudah meluangkan waktu untukku. Aku pergi dulu."
James duduk melamun memikirkan perkataan Fabian tentang Clarissa. Ia pun mau tak mau merasa penasaran tentang wanita yang mirip dengan adik angjatnya itu.
Fabian kembali ke kantornya dan perasaannya menjadi tidak tenang. Ia takut keluarganya kembali berada dalam bahaya, meskipun hal itu belum tentu terjadi. Seandainya itu Clarissa atau bukan, Fabian tidak akan membiarkan wanita itu menganggu keluarganya.
Dulu Fabian mengira Clarissa itu seorang wanita baik saat mereka bertemu di sekolah. Sejak keluarganya terkena musibah mereka putus kontak dan akhirnya mereka dipertemukan kembali saat dewasa. Fabian memang tidak terlalu mengenal sifat mantan istrinya itu.
__ADS_1
Fabian menyakinkan dirinya sendiri kalau Clarissa sudah meninggal dan orang yang sudah meninggal tidak bisa hidup lagi. [ ]