
25 tahun yang lalu
Clarissa sedang membaca majalah fashion di ruang keluarga. Dia sedang asyik melihat-lihat pakaian-pakaian terbaru.
"Clarissa!"
"Ternyata kamu Christopher. Apa yang kamu inginkan dariku?’’
Christoper berjalan dengan kaki dirantai. Sudah bertahun-tahun ia menjadi tahanan Clarissa.
" Sekarang katakan apa yang kau inginkan dariku."
Christopher duduk di kursi dan menyilangkan jarinya di pangkuannya dan menatap tajam Clarissa.
"Aku hanya ingin mengajukan penawaran untukmu."
"Hah? Apa aku tidak salah dengar? Kamu ingin mengajukan penawaran apa?’’
"Mendapatkan Fabian seutuhnya."
"Bagaimana caranya?’’
"Aku akan membuatkanmu ramuan cinta, jika Fabian meminumnya dan orang pertama kali dia lihat itu kamu,maka dia akan jatuh cinta padamu. Efeknya cuma bertahan satu hari, jika kamu terus meminumkannya secara rutin efeknya akan bertahan lama. Kamu mau atau tidak? Kamu ingin merasakan cinta yang diberikan Fabian, bukan?’’
Clarissa menatap Christopher dengan serius dan berpikir.
" Sejak dari dulu aku memintamu untuk membuatkan ramuan itu untukku, tapi kamu selalu menolaknya. Tanpa bantuanmu aku sudah mendapatkan Fabian. Kami akan segera menikah dan dia mencintaiku."
" Tapi Fabian belum benar-benar mencintaimu. Dengan ramuan cinta ini akan membuat Fabian akan lebih mencintaimu. Dia akan berbuat apa saja untuk menenuhi keingananmu."
"Sepertinya menarik."
"Tentu saja ramuan ini tidak gratis?’’
"Maksudmu aku harus membayar padamu?’’
‘’Betul. Bayarannya adalah kebebasanku."
" Jangan harap aku akan membebaskanmu."
"Terserah kamu mau atau tidak. Aku akan memberikan satu botol penuh ramuan cinta."
Christopher memperlihatkan satu botol yang berisi setengah cairan berwarna merah. Clarissa sangat tergoda ingin memilikinya, lalu ia mendesah panjang dan menatap kesal Christopher.
"Baiklah. Kalau ramuan cinta itu tidak bagus hasilnya, kamu tidak akan aku bebaskan."
‘’Aku mengerti."
" Sekarang berikan botol itu kepadaku."
" Tidak sebelum kamu melepaskanku."
" Aku akan melepaskanmu, jika ramuan cinta itu berhasil. Berikan juga setengahnya lagi."
Christopher sempat ragu, tapi ia terpaksa harus mempercayai Clarissa. Ia memberikan botol itu kepadanya. Clarissa tersenyum senang.
" Kamu boleh pergi."
💔💔💔
Bunga apel tertiup angin musim gugur . Kelopak bunganya berjatuhan dan terbang ke segala arah. Miya yang baru menginjak umur 9 tahun duduk di halaman belakang villa sambil menikmati teh. Daun maple terjatuh di atas mejanya. Semilir angin berhembus, Miya kecil memejamkan matanya dan merasakan hembusan angin di tubuhnya. Matahari pagi begitu hangat tapi udara sangat dingin. Miya kembali berada di Los Angeles, karena ayahnya sedang melakukan perjalanan bisnis. Ini untuk kedua kalinya ia datang ke sini.
‘’Miya, sayang. Kamu sedang apa?"
" Sedang minum teh. Kapan ibu pulang?’’
"Baru saja. Aku senang kamu menikmati liburanmu di sini."
" Aku memang menikmatinya. Di sini pemandangannya sangat indah."
" Syukurlah kalau kamu menikmatinya."
Miya kembali meminum tehnya dan berdiri.
" Miya, kamu mau kemana?’’
"Aku mau jalan-jalan sebentar. Aku akan segera kembali."
"Hati-hati dijalan!’’
"Iya. Aku tahu."
Miya mulai melangkahkan kakinya keluar dari villa. Ini pertama kalinya ia jalan-jalan selama berada di sini selama kurang lebih satu hari terkurung dalam villa. Miya mengambil kesempatan ini untuk melihat-lihat tempat ini sebentar. Udaranya sangat dingin dan ia menghirupnya dalam-dalam. Miya juga merasakan angin dingin di wajahnya. Tempat ini sangat indah dan juga tenang dan tidak banyak berubah sejak terakhir kali ia ke sini 3 tahun yang lalu, kecuali mansion putih di atas bukit yang sudah dibangun kembali
Miya melihat sebuah danau dan airnya tampak berkilau tertimpa sinar matahari. Ia melihat ada beberapa orang yang sedang memancing dipinggir danah. Miya duduk di kursi sambil memandangi keindahan danau itu. Ia selalu takjub dengan pemandangan disekitarnya.
Angin berhembus lagi dan Miya kembali berjalan mengelilingi danau dan melihat sebuah rumah berlantai dua yang halamannya di penuhi oleh bunga-bunga yang menarik perhatiannya. Rumah ini sangat sederhana dan juga manis. Ia kembali teringat dengan seorang kakak laki-laki yang menemaninya mainan ayunan di rumah itu, bahkan ia tidak tahu siapa namanya.
Selama beberapa saat Miya menatap rumah itu. Hatinya sangat tertarik dengan rumah itu, kemudian Miya dikagetkan oleh suara seorang laki-laki dan langsung menoleh ke belakang. Miya melihat seorang pria tua dan dikedua tangannya membawa ember.
"Ada yang bisa saya bantu nona kecil?’’
"Tidak ada."
Miya merasa mengenali pria itu dan ia teringat pria itu pria yang sama yang menyapanya tiga tahun yang lalu, ketika ia bermain ayunan.
" Kakek, ini aku. Dulu aku pernah bermainan ayunan bersama seorang kakak laki-laki."
Pria tua itu sedang mencoba mengingatnya.
" Ah aku ingat. Jadi kamu adalah gadis kecil itu?"
" Iya."
" Kamu datang sendirian?"
" Iya."
__ADS_1
" Sekarang kamu sudah besar. Aku hampir tidak mengenalimu."
" Aku juga tadi hampir tidak mengenali kakek."
" Senang bisa bertemu denganmu lagi."
"Aku juga, kakek. Rumah ini cantik. "
"Sudah banyak pengunjung yang datang dan mengatakan rumah ini cantik. Bahkan ada orang yang berniat membelinya."
"Benarkah?’’
‘’Iya. Tapi pemilik rumah ini tidak berniat untuk menjualnya."
"Apa Anda pengurus rumah ini?’’
"Iya. Aku pengurusnya."
‘’Taman di rumah ini juga sangat cantik. Pasti kalau musim semi akan tumbuh bunga bermekaran lebih banyak lagi."
"Nona benar. Kalau kamu mau kamu bisa melihat-lihat."
‘’Terima kasih."
Miya memasuki taman rumah itu. Ternyata taman rumah itu cukup besar dan sangat indah. Banyak pohon dam bunga tumbuh dengan subur. Di samping pohon cemara ada sebuah ayunan dan Miya duduk di sana di mana ia dulu pernah menaikinya.
Pantas saja orang-orang mengagumi rumah ini dan bahkan ada yang ingin membelinya. Setelah puas melihat-lihat Miya pergi dari taman itu dan melihat pria tua itu sedang menyirami pohon dan bunga di depan rumah.
‘’Terima kasih sudah mengijinkan aku melihat-lihat."
‘’Aku senang kalau kamu menyukainya."
‘’Pemandanganya juga sangat indah."
‘’Iya. Kamu memang benar. Pemandangan di sini memang sangat indah. Bertahun-tahun lalu pernah ada seorang anak laki-laki yang hampir tenggelam di danau. Gara-gara kakinya kram, ketika berenang. Untung saja ada seorang anak perempuan sekitar umur 6 tahun yang melihatnya dan menolongnya. Gadis kecil itu berani sekali masuk ke dalam air danau untuk menyelamatkannya."
" Gadis kecil itu adalah aku."
"Jadi itu kamu,"serunya terkejut.
" Kamu berani sekali."
" Aku tidak bisa membiarkannya mati tenggelam."
Miya tahu siapa pria yang hampir tenggelam di danau itu. Pria itu adalah kakak laki-lakinya yang kenal.
"Untung saja kamu menyelanatkannya, kalau tidak mungkin dia sudah meninggal. Laki-laki itu seorang pemuda yang sangat tampan. Kalau tidak salah dia datang kebsini bersama dengan teman-temannya berlibur. Hampir saja danau yang indah itu merenggut nyawa seseorang."
‘’ Ah, sepertinya aku harus segera pulang. Sekali lagi terima kasih.:
‘’Hati-hati dijalan nona!’’
Miya pun meninggalkan rumah cantik itu dan kembali ke villa. Di sana makan siang sudah terhidang. Ibunya sedang menunggunya di ruang makan.
‘’Maaf. Aku datang terlambat."
‘’Sangat menyenangkan. Tempat ini sangat indah. Aku menyukainya. Aku juga tadi diizinkan untuk bermain ayunan di halaman rumah kayu di dekat danau."
‘’Maksudmu rumah kayu itu?’’
‘’Iya. Ibu tahu tentang rumah itu?’’
‘’Tentu saja tahu. Semua orang di sini juga mengetahuinya. Yang ibu dengar rumah itu pemiliknya salah seorang nenek yang baik hati."
‘’Siapa?’’
‘’Rosemary namanya kalau tidak salah dan satu lagi salah satu bangunan yang terkenal di sini, yaitu rumah hijau yang berada di atas bukit tapi sekarang rumah itu sudah terbakar 3 tahun yang lalu dan menewaskan beberapa orang dan sekarang sudah dibangun lagi.
‘’Benarkah? Aku pernah mendengar tentang itu."
" Waktu itu kamu masih kecil. Tidak hanya itu menurut penduduk di sini mansion itu dipakai untuk melakukan berbagai macam praktek dan ritual sihir."
" Aku tadi melihatnya dari kejauhan."
Miya mendengarkan cerita ibunya dengan seksama dan di wajahnya terlihat dengan jelas rasa ingin tahu yang besar.
‘’Benarkah?’"
"Karena menurut cerita dari penduduk di sini selalu terdengar suara-suara aneh dan mansion itu penuh kejahatan dan terkutuk."
"Siapa pemilik mansion itu sebelumnya?’’
"Ibu tidak tahu nama keluarganya. Tapi namanya adalah Christopher si Pembuat boneka dan ia mengizinkan orang-orang untuk kegiatan dan ritual sihir."
‘’Seperti apa orangnya?’’
‘’Tidak tahu, karena dia tidak pernah meninggalkan mansion itu jadi penduduk di sini tidak terlalu mengenal wajahnya.
‘’Cerita yang sangat menarik. Apa ibu percaya dengan cerita penduduk di sini?’’
‘’Entalah Miya, tapi cerita penduduk sangat menyakinkan. Kamu jangan-jangan coba untuk pergi ke sana."
‘’Itu artinya ibu percaya."
‘’Kita hentikan saja pembicaraan kita sampai di sini."
‘’Baiklah,’’kata Miya sambil tersenyum kepada ibunya.
Setelah makan Miya duduk di ruang keluarga di depan perapian menyala sambil membaca buku. Ia memandang keluar jendela. Rintik-tintik hujan mulai turun.
Hari sudah malam dan udara sangat dingin membuat matanya cepat mengantuk. Akhirnya Miya pergi ke kamarnya dan terlelap tidur.
💔💔💔
Christoper menemui Clarissa di kamarnya dengan tertatih-tatih.
" Ada apa lagi?"
__ADS_1
" Aku mau memberikan setengah lagi ramuan ini."
Clarissa mengambil ramuan cinta dari tangan Christopher dengan cepat.
" Jangan lupa dengan penawaranku. Semoga nantinya kamu dapat hidup bahagia dengan Fabian."
" Sekarang pergilah!"
Besok siangnya Clarissa menelepon ke kantor Fabian dan mengajaknya makan siang di rumahnya. Fabian sebenarnya malas untuk datang ke rumah Clarissa. Akhirnya ia menyetujuinya, karena tidak ingin mengecewakan Clarissa.
Fabian ada di depan rumah Clarissa tepat lada saat jam makan siang. Ia selalu menjadi merinding tiap kali harus memasuki rumah Clarissa. Pelayan mengantarkan Fabian ke ruang Makan. Clarissa sudah berada di meja makan. Mereka mulai menyantap makan siang.
Fabian memperhatikan Clarissa. Apa dia tidak takut tinggal sendirian di rumahnya.
" Ada apa?"tanya Clarissa.
" Kenapa kamu tidak tinggal dengan keliarga angkatmu saja?"
" Aku lebih suka tinggal sendiri."
" Apa kamu tidak takut?"
" Kenapa aku harus takut? Lanjutkan makanmu."
Fabisn kembali memakan makanannya. Setelah selesai makan mereka berbincang-bincang di ruang keluarga. Clarissa pergi ke dapur untuk membawakan Fabian minuman.
Clarissa menuangkan jus jeruk ke dalam gelas dan dari saku pakaiannya dia mengeluarkan satu botol kecil berisi cairan berwarna merah, lalu menuangkan satu tetes ke dalam minuman Fabian
"Maafkan aku, Fabian. Aku terpaksa melakukan ini. Aku ingin kamu mrncintaiku leboh dari apa pun. Setelah kamu meminum jus jeruk ini kamu akan jatuh cinta kepadaku.Biar pun efeknya hanya satu hari, tapi itu sudah cukup bagiku,’’sambil menatap botol kecil yang dipegangnya.
Fabian kembali ke ruang keluarga dengan membawa segelas jus Jeruk dan memberikannya pada Fabian.
" Fabian, minumlah !’’.
Fabisn mengambil minumannya dan arissa memperhatikan Fabian dengan gelisah.
‘’Ayo minum....minum,’’kata Clarissa dalam hati.
Bibir gelas sudah berada di bibirnya dan jus jeruk perlahan masuk ke dalam mulutnya.Tiba-tiba seekor kucing loncat dan mencakar tangan Fabian sampai berdarah. Secara refleks ia menjatuhkan gelasnya. Kepingan pecahan gelas jatuh berserakan. Clarissa kaget melihat itu.
"Aaaawww...’’
"Aku ambilkan obat untukmu."
Seorang pelayan datang dan membereskan pecahan gelas, lalu Clarissa datang membawa kotak obat dan mulai mengobati luka Fabian.
"Kenapa bisa tiba-tiba ada kucing menyerangmu? Mungkin kucing itu tidak suka padamu."
"Mungkin juga. Apa tadi itu kucingmu?’’
"Bukan .Aku tidak punya kucing."
Fabian melihat ke sekeliling ruangan dan kucing itu tidak ditemukan di manapun, tapi Fabian yakin kucing itu adalah kucing yang sama yang pernah menolongnya.
"Sepertinya kucing itu telah pergi."
"Untunglah lukamu tidak parah hanya beberapa goresan kecil saja."
"Terima kasih sudah mengobatiku."
"Aku akan mengambilkan kamu minuman lagi."
"Tidak perlu. Aku sebaiknya pulang saja."
"Tapi kamu baru berada sebentar di sini."
"Masih ada banyak pekerjaan yang sedang menungguku. Nanti aku akan menghubungimu lagi."
Clarissa merasa sangat kesal, karena rencananya gagal total membuat Fabian meminum ramuan cinta. Fabian masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi dari rumah Clarissa. Sementara itu ada seorang wanita tua yang berkerudung sedang memperhatikan rumah Clarissa
‘’Meeoooongg....meeeoooonggg."
" Kamu sudah berhasil membuat Fabian tidak jadi meminum ramuan cinta. Kamu kucing yang sangat baik. Ayo kita pergi dari sini."
‘’Meoooonngg."
💔💔💔
Fabian terlihat sangat sibuk di kantornya. Hari ini dia mengadakan rapat sebanyak dua kali. Rapat pertama membahas mengenai masalah pembangunan hotel dan rapat kedua membahas masalah membuka cabang retail.
Setelah menghadari rapat selama 4 jam Fabian kembali ke kantornya dengan raut lelah di wajahnya. Di kantornya pun Fabian terus membaca dan mendatangani beberapa dokumen yang sudah menumpuk di mejanya.
Tok...tok...
‘’Masuk!’’
Gilbert membawakan secangkir kopi dan kue kering untuk Fabian.
" Aku sudah mengosongkan semua jadwalmu untuk besok dan beberapa hari kedepan. Besok kamu bisa pergi dengan tenang ke Los Angeles.
"Terima kasih."
Gilbert menangkap keresahan di wajah Fabian.
" Kamu baik-baik saja?"
" Sebenarnya aku tidak baik-baik saja."
"Apa yang terjadi?"
"Aku mencemaskan keselamatan keluargaku terutama istri dan anak-anakku."
" Memangnya kenapa?"
" Aku sudah bertemu dengan Clarissa kemarin sore bersama Tuan Graham."
Gilbert terkejut mendengar perkataan Fabian. [ ]
__ADS_1