
Menjelang sore hari kota Tokyo terlihat berwarna putih karena seharian salju turun dan walaupun tidak sebanyak kemarin malam. Adelina telah pulang kuliah. Sejak kakaknya Fabian menikah dengan Miya, Adelina memutuskan untuk kembali kuliah di Jepang. Dia sedang berjalan menuju apartemennya setelah melakukan latihan yang begitu melelahkan. Dalam perjalannya pulang tanpa sengaja dia melihat Edward, pria yg dicintainya berjalan bersama seorang wanita cantik dan anggun memasuki sebuah restoran. Adelina terpaku ditempatnya melihat kedua pasangan itu. Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang dan gelisah melihatnya bersama seorang wanita cantik. Saat itu Alana, temannya melihat Adelina yang sedang memperhatikan mereka berdua.’’Adelia, apa yang sedang kamu lakukan disini?’’
‘’Ah Alana, tadi aku kebetulan melihat Edward bersama dengan seorang wanita cantik. Siapa wanita itu? Aku rasa wanita itu bukan salah satu teman bisnisnya karena cara dia memperlakukan wanita itu sangat berbeda."
"Oh itu, wanita itu adalah tunangannya, Edward. Mereka berdua dijodohkan."
Seketika Alana sangat terkejut, dia merasakan hatinya hampa dan kosong seperti ada sesuatu yang mengantam hatinya dengan keras. Wajah Adelina terlihat pucat dan membuat Alana cemas.
"Adelina, kamu baik-baik saja?’’
"Ah i..iya, aku baik-baik saja,’’katanya setelah tersadar dari rasa terkejutnya.’’Dia wanita yang sangat cantik, sudah pasti Edward menyukainya."
"Perjodohan ini dilakukan demi kemajuan perusahaan keluarga milik Edward."
"Ternyata begitu.Sebaiknya aku pulang saja." Adelina berlalu pergi begitu saja dan Alana menatapnya dengan heran.’’
"Jangan-jangan Adelina....ah itu tidak mungkin, tapi reaksinya tadi tidak salah lagi, itu reaksi wanita yang sedang cemburu. Mungkinkah dia sekarang memiliki perasaan pada Tuan Edward ya,’’pikir Alana. Alana masuk kedalam restoran untuk menyerahkan beberpa dokumen penting kepadanya.
Salju turun semakin lebat ketika hari menjelang sore. Uap putih mengepul dari hidung Adelia dan angin berhembus membuat tubuhnta mengigil kedinginan. Tanpa dia sadari dia menitikkan air matanya.’’Ada apa denganku ya? Kenapa aku jadi merasa sedih begini mendengar Edward telah dijodohkan dengan seorang wanita. Ini bukan urusanku dia mau menikah dengan siapa pun juga. Iya ini sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Tapi kenapa aku jadi memikirkan ini?’’
‘’Aku pulang!’’
Suasana di apartemen masih sepi dan gelap, teman-temannya belum pulang. Adelina duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya disofa yang nyaman itu. Bayangan Edward dengan wanita cantik itu kembali memenuhi kepalanya.’’Hilanglah dari kepalaku...hilanglah dari kepalaku...’’.
Adelina terus mengucapkan itu berulang kali sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.’’Hah...’’
Adelina mendesah panjang.’’Kenapa aku harus memikirkan dia? Pria dingin dan si gila kerja itu . Aaaaargh...kalau terus-terusan seperti ini aku bisa dibuat gila olehnya, sebaiknya aku mandi dan mengguyur kepalaku dengan air dingin."
Naomi merasa tidak senang acara kencannya dengan Edward diganggu oleh Alana yang tiba-tiba datang.’’Nona Naomi , bagaimana kabar Anda?’’tanya Alana.
"Baik. Terima kasih,’’jawabnya seramah mungkin dan semanis mungkin.
"Huuuuhhh...dasar penganggu . Apa tidak lihat kami sedang berkencan, apa tidak bisa ditunggu sebelum aku dan Edward selesai kencan’."
"Nona Naomi, Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat pucat?’’
"Ah aku baik-baik saja. Aku memiliki anemia, jadi wajahku selalu terlihat pucat,’’jawabnya dan tersenyum manis pada Alana.
’’Dasar penganggu orang yang sedang kencan, cepat selesaikan urusanmu dengan Edward dan segeralah pergi dari sini!’’
"Terima kasih Tuan Edward. Maaf sudah menganggu kencan kalian berdua. Permisi!’’
Alana pergi meninggalkan restoran dan Naomi tersenyum pada Edward. Naomi terlihat senang dan hatinya mulai menari-nari kegirangan, karena akhirnya mereka dapat berduaan lagi.
🧸🧸🧸
Terdengar canda tawa di apartemen Adelina, ketika hari sudah malam. Jude, Minami, Ayaka, dan Megumi, temab kuliahnya membicarakan semua tentang kegiatan masing-masing hari ini. Sementara itu di luar terlihat sebuah mobil mewah terparkir di dekat apartemen Adelina dan Edward berdiri diam melihat ke arah jendela dan menatapnya penuh kerinduan. Samar-samar dia dapat mendengar suara Adelina dari arah jendela itu.
"Edward, apa yang sedang kamu lakukan disini? Orang yang dingin dan gila kerja yang dipikirannya hanya ada pekerjaan berdiri disini demi seorang gadis yang usinya lebih muda sebelas tahun dariku. Aku tidak ingat sudah berlama aku berdiri disini,’’gumam Adelina, dan kemudian tersenyum pahit ke arah jendela itu.
Edward kembali ke mobilnya dan pergi dari sana. Bertepatan Minami membuka jendela, dia seperti melihat mobil Edward pergi.’’Bukannya itu tadi mobil Edward?’’
Adelina seketika terkejut.’’Mana-mana, ‘’kata Ayaka dan Megumi.
"Sudah pergi!’’kata Minami.
"Apa tadi benar-benar mobil Edward?’’tanya Megumi
"Benar, aku tidak salah lihat, aneh apa yang sedang dia lakukan tadi disini ’’kata Minami dengan wajah bingung.
"Mungkin dia ingin bertemu dengan Adelina, tapi tidak jadi dilakukannya,’’kata Ayaka.
"Kau tahu tentang ini, Adelina?’’tanya Minami. Adelia hanya diam dan terlihat seperti sedang melamun.
"Adelina..hei Adelina...’’kata Minami.’’Kamu baik-baik saja. Aku perhatikan dari tadi kamu melamun terus seperti ada yang kamu pikirkan."
"Aku baik-baik saja. Benar, aku baik-baik saja." Adeliakembali meminum susunya dan pergi ke kamarnya.
"Jude, ada apa dengan dia? Hari ini dia aneh."
"Aku juga tidak tahu."Tatapan mata Jude mengarah pada kamar Adelina.
Adelina menghempaskan dirinya ke tempat tidur dan memukuli kepalanya.’’Adelina, ada apa denganmu hari ini , kenapa aku terus memikirkan orang itu? Orang yang yang suka menganggu dan mencemoohkanku setiap kali aku bertemu dengannya?’’
Adelina bangun dan duduk sambil menekuk lututnya. ‘’Rasanya aku ingin memukul dia dan menendang dia dari kepalaku."
🧸🧸🧸
Edward pulang ke rumah dengan wajah lelah dan juga suram dan Andres, ayahnya menunggu kedatangannya hanya sekedar untuk mengetahui kencan pertama Edward dengan Naomi.
"Selamat datang Tuan Edward!’’sapa salah satu pelayan rumahnya.
Edward baru saja hendak menaiki tangga, Andres memanggilnya.’’Bagaimana kencanmu hari ini? Apa menyenangkan?’’
"Kencanku dengan Naomi berjalan lancar dan menyenangkan."
"Itu bagus. Aku ingin ini terus berlanjut. Ajaklah dia kencan lagi!’’
Itu pasti akan kulakukan. Ayah jangan khawatir."
__ADS_1
"Menurutmu dia bagaimana?’’
"Dia sangat cantik, baik dan lembut."
"Apa kamu menyukainya?’’
"Aku menyukainya, tapi bukan berarti aku mencintainya."
"Mungkin perlahan-lahan, kamu akan mencintainya."
"Mungkin,’’katanya dengan setengah hati.
"Apakah dihatimu sudah ada seseorang yang kau sukai?’’
Pikiran Edward melayang pada sosok Adelina.
"Tidak ada."
Sebenarnya aku menyukai Adelina sejak aku pertama kali melihatnya, tapi sayangnya dia membenciku dan sudah tidak ada harapan dia akan menyukaiku.
Mata Edward memancarkan kesedihan.’’Aku mau pergi ke kamarku dulu.Selamat malam ayah!’’
‘’Selamat malam!’’
Kamarnya gelap dan sunyi dia menyalakan lampunya dan melemparkan jasnya ke atas tempat tidurnya, lalu dia menuangkan cognac ke dalam gelasnya dan meminumnya secara perlahan-lahan.
’’Naomi Amamiya, mungkin dia akan menjadi istri yang baik dan sangat sesuai sebagai menantu keluarga Hilton."
Wajah Adelina kemudian terlintas di pikirannya dan wajahnya melembut.’’Adelina, mungkin aku akan menjadi bayanganmu seumur hidupku hanya sebagai pengagum rahasiamu. Aku tidak berani mengatakannya padamu, karena aku takut akan penolakanmu padaku."
Edward sekali lagi meneguk minumannya dan dia berbaring di tempat tidurnya tanpa mengganti pakaiannya.
🧸🧸🧸
Pagi harinya Adelina telah bangun dan mencium bau aroma harum dari arah dapur.’’Pagi Adelina!’’
"Pagi Jude!"
"Sebentar lagi makanan sudah siap, sebaiknya kamu sekarang cepat berganti pakaian, bukannya sebentar lagi akan pergi latihan.Siapa yang akan menjadi lawan mainmu nanti?’’
"Aku belum tahu, tapi hari ini aku akan segera mengetahuinya."
Udara di luar sangat dingin dan jalanan terlihat licin. Angin musim dingin berhembus dengan kencang dan Adelina dapat merasakan dinginnya musim dingin sampai merasuk ke dalam tulang-tulang tubuhnya. Tempat latihannya telah terlihat di depannya dan segera masuk ke dalam. Para pemain piano dan juga pak Hiroshi sudah berada di sana.’’Kamu sudah datang,’’sapa Pak Hiroshi.
’’Selamat pagi pak Hiroshi!’’
"Aku harap kamu hari ini akan latihan lebih baik lagi dari yang kemarin."
"Sebentar lagi teman duetmu akan datang."
Disudut ruangan latihan, Adelina duduk dan wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.’’Adelina...Adeli aaaa,’’panggil Pak Hiroshi.
"Ah iya pak ada apa?’’tanyanya kaget sambil meloncat berdiri dari kursinya.
"Kau ini kenapa lagi? Seperti ada yang sedang menganggu pikiranmu,’’katanya sambil menggaruk belakang kepalanya dengan partitur yang sudah digulung.‘’ Aku harap hal ini tidak menganggumu untuk berkonsentrasi dalam latihan kali ini."
"Saya mengerti." Adelina menundukkan kepalanya. Selama ia mengambil kuliahan program master di Jepang, Adelina mengambil extrakulikuler pelajaran piano.
Pintu bergeser terbuka dan Adelina melihat Kazumi muncul.’’Kazumi."
Kazumi berjalan mendekati pak Hiroshi dan Adelia.’’Halo Kazumi, akhirnya kamu datang juga."
"Maaf, aku datang terlambat."
"Tidak apa-apa. Adelina, dia yang akan menjadi lawan mainmu."
Kazuni tersenyum pada Adelina.’’Adelina, akhirnya kita berdua dapat bermain bersama di panggung yang sama. Mohon kerja samanya."
Kazumi mengulurkan tangannya pada Adelina dan Adelia menyambutnya.
Plok..plok..plok..Pak Hiroshi menyuruh pemain untuk segera bersiap-siap untuk berlatih. Adelina berlatih dengan mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Ketika waktu istirahat makan siang tiba, Kazumi mengajak Adelina untuk makan siang bersama di luar dan saat yang bersamaan juga Edward pergi makan siang dengan Naomi. Tanpa sengaja Edward melihat Adelia berjalan bersama dengan Kazumi. Rasa cemburu terpancar dari wajahnya yang tampan dan dia mengepalkan salah satu tangannya.’’Edward, kamu baik-baik saja?’’
"Maaf. Aku baik-baik saja."
‘’Ayo!’’
Edward menawarkan lengannya dan Naomi bergelayut manja dilengan Edward. Edward masih saja menetap Adelina dan Kazumi dari belakang dan dia mendekati mereka berdua.’’Halo!’’
"Edward,’’katanya terkejut.’’
"Selamat siang!’’sapa Kazumi
"Selamat siang! Kenapa kalian bisa ada bersama di sini?"
"Kami akan makan siang bersama sebelum latihan kami di mulai lagi."
"Latihan?’’tanyanya heran.
__ADS_1
"Aku dan Kazumi akan bermain piano bersama."
Edward melirik tajam ke arahnya, lalu dia melirik Adelina.’’Hari ini kamu terlihat cantik."
Wajah Adelina langsung memerah dan langsung muncul rona-rona merah di wajahny .’’Ini Naomi Amamiya. Naomi ini Adelina dan..."
"Kazumi,"jawab Kazumi.
"Senang berkenalan dengan kalian berdua."
Adelina melihat Naomi dan dia sangat cantik dan juga anggun pikirnya.’’Huuuhh...pantas saja Edward menyukainya,"komentarnya dalam hati.Jauh di dalam lubuk hatinya ada rasa sedih yang merayapinya dan hal ini yang tidak di mengerti olehnya.
"Bagaimana kalau kita makan bersama? ‘’saran Naomi.
Adelina, Kazumi, dan Edward langsung melihat ke arah Naomi.’’Sebaiknya kalian makan berdua saja, kami tidak ingin menganggu kalian,’’kata Adelina dan kata-katanya yang keluar hampir tercekat di tenggorokannya,’’aku ini bicara apa,’’batinnya.
"Kalau kalian tidak ingin makan siang bersama kami, itu tidak masalah. Semoga harimu menyenangkan,’’kata Edward sambil tersenyum pahit.
Tiba-tiba Naomi merangkul pinggang Edward dan Adelina melihat itu. Hatinya terasa sedih melihatnya dan matanya mulai berkaca-kaca hendak menangis.’’Ah Adelina kau ini kenapa? Biarkan saja mereka seperti itu mau berpelukan , mau berciuman itu terserah mereka dan semua itu bukan urusanku...huuuuhh...’’
"Adelina, kau kenapa?’’tanya Kazumi cemas.
"Aku tidak apa-apa. Kita mau makan di mana?’’
"Bagaimana kalau kita makan ramen saja? Di sekitar sini ada toko ramen yang enak. Kamu mau mencobanya?’’
"Hmm....baiklah. Ayo!’’
Mereka berdua akhirnya makan ramen. ‘’Kau benar, di sini ramennya enak, tapi ramen Pak Okami lebih enak lagi."
"Pak Okami?’’
"Waktu aku jalan-jalan di Yokohama aku makan ramen di sana. Kalau kamu pergi ke sana ,cobalah!’’
"Pasti."
🧸🧸🧸
Edward dan Naomi makan di salah satu restoran mewah. Sejak dari tadi Edward terlihat melamun dan Naomi terus menatapnya. Matanya berbinar-binar dan kedua tangannya di tangkupkan melihat kekasihnya yang tampan.’’Oh Edward, ternyata kamu memang sangat tampan. Aku beruntung sekali bisa menjadi kekasihku. Kau sudah membuatku jatuh cinta padamu. Selama ini belum ada pria yang berhasil merebut hatiku’."
Suara piring terjatuh dan mengangetkan mereka berdua.
"Membuat orang kaget saja,’’kata Naomi sambil kembali meminum winenya.
‘’Benar."
Fabian kembali memutar-mutar gelas winenya.’’Kau kenapa, kalau diperhatikan sejak tadi, sepertinya hati dan pikiranmu tidak ada disini bersamaku. Apa ada yang sedang kamu pikirkan?’’
"Ah, tidak ada. Aku hanya memikirkan tentang pekerjaanku saja."
"Apa hanya itu saja?’’
"Iya hanya itu saja."
Bayangan Adelina kemudian muncul di gelas winenya.’’Adelina," bisiknya dalam hati.
Beberapa hari kemudian
Sruk...sruk...sruk...Adelina dengan susah payah berjalan di atas salju setinggi 5 cm. Apartemennya sudah ada di depan mata, kemudian langkahnya dipercepat, karena sudah tidak sabar ingin segera ke tempat hangat sambil menikmati segelas susu coklat panas.
"Aku pulang!’’
"Selamat datang!’’jawab Jude.
Adelina melihat ke arah Ayaka yang bersikap berbeda dari biasanya.’’Kau kenapa?’’tanyanya pada Ayaka dan duduk di sampingnya.
"Oh Adelina, aku tidak tahu harus berbuat seperti apa sekarang ini."
"Memangnya ada apa?’’
"Aku juga sendiri tidak tahu. Tapi dia selalu berada dalam pikiranku."
"Dia siapa?’’
"Masaharu Tsugiyama."
"Siapa dia?’’
"Dia teman masa kecilku dan beberapa hari yang lalu, aku bertemu dia secara tidak sengaja di jalan. Kau tahu dia itu sampai sekarang orang yang sangat menyebalkan dan suka menjahiliku. Aku tidak suka dia, tapi ketika aku melihat dia lagi di mall bersama dengan seorang wanita cantik membuat hatiku sedih, aku tidak tahu kenapa itu bisa terjadi."
"Adelina, ini coklat susumu,’’kata Judemenyela pembicaraan mereka.
‘’Lalu?’’
Adelia meminum susunya.
‘’Dan sampai sekarang di kepalaku selalu ada dia dan tidak mau hilang."
"Itu artinya kamu telah jatuh cinta kepadanya dan kamu tidak meyadarinya,’’kata Jude.
__ADS_1
"Jatuh cinta?’’
"Itu tidak mungkin, aku tidak mungkin jatuh cinta pada pria seperti dia." [ ]